Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Yudha sudah kehilangan kesabaran sejak ia dikurung dalam ruangan gelap itu. Tiba-tiba, pintu terbuka lebar dan cahaya lampu yang menyilaukan merangsek masuk, membuat matanya terasa perih dan tidak nyaman. Polisi yang membawanya tadi melangkah masuk bersama Gerry. Melihat senyum jemawa di wajah mereka, Yudha langsung tahu ada niat busuk yang sedang direncanakan.
"Apa maksudnya ini?" tanya Yudha dengan suara berat dan dalam.
Polisi itu menarik sebuah meja ke depan Yudha, lalu meletakkan selembar kertas Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Dengan nada kasar, ia memerintah, "Tanda tangani ini sekarang."
Yudha mengernyitkan dahi, matanya menyipit tajam. "Kamu bercanda? Sesuai prosedur, bukankah kalian harus mengambil keteranganku dulu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi? Aku bahkan belum bicara sepatah kata pun untuk BAP, jadi dari mana draf ini berasal? Kalian sedang mengarang bebas? Jangan harap aku akan menandatanganinya."
Polisi itu menatap Yudha dengan pandangan dingin, lalu tersenyum tipis yang menyebalkan. "Aku tidak menyangka kamu paham soal prosedur kepolisian. Tapi sekarang situasinya sudah jelas, kamu cukup bubuhkan tanda tanganmu saja."
"Hmph! Membacanya saja belum, bagaimana mungkin aku tanda tangan?" Yudha tahu polisi ini sudah bulat tekadnya untuk membela Gerry sampai mati, jadi ia pun tidak merasa perlu bersikap sopan lagi.
"Oh! Kalau begitu, baca saja sekarang! Masih sempat, kok." Polisi itu melemparkan kertas BAP tersebut ke hadapan Yudha dengan santai.
Yudha membaca setiap baris tulisan di sana, dan semakin ia membaca, semakin mendidih darahnya. Apa yang disebut sebagai memutarbalikkan fakta dan mengubur kebenaran benar-benar dilakukan secara total oleh orang-orang ini.
Dia yang pergi menyelamatkan korban, malah dituduh melakukan pengrusakan, penganiayaan, hingga percobaan perampokan.
"Luar biasa! Kalian benar-benar sudah melangkah sejauh ini. Kalian benar-benar sudah mempermalukan seragam yang kalian pakai. Apa kalian sudah tidak peduli lagi dengan hukum atau aturan institusi?" Yudha bertanya dengan nada penuh amarah, matanya menatap lurus ke arah polisi di depannya.
Polisi tersebut sempat merasa ciut mendengar kata-kata Yudha yang begitu tegas dan penuh kebenaran, namun ia segera menenangkan diri begitu teringat sosok kuat yang menjamin posisinya di belakang sana.
"Jadi, kamu tetap tidak mau mengaku bersalah?" tanya polisi itu sambil mencibir.
"Aku tidak bersalah, kenapa harus mengaku? Dia yang bersalah, kenapa bukan dia yang kalian suruh mengaku?" sahut Yudha tenang. Ia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang berada dalam kesulitan besar.
Gerry sudah kehilangan kesabarannya. Menatap musuhnya dengan penuh dendam, ia berkata dingin kepada polisi di sampingnya, "Karena dia sangat tidak tahu diuntung, sepertinya kita harus memberinya sedikit pelajaran. Kalau tidak, dia tidak akan tahu setinggi apa langit di atas kepalanya."
Polisi itu ragu-sejenak sebelum akhirnya berkata, "Hati-hati, jangan sampai meninggalkan luka yang terlihat di tubuhnya. Kalau tidak, akan jadi urusan panjang saat kita menyerahkannya nanti."
Mendengar itu, Gerry mencibir ke arah si polisi dengan acuh tak acuh. "Tenang saja! Aku sudah sering melakukan ini, aku sangat paham prosedurnya. Aku tidak akan merepotkanmu, Bro. Kamu bisa tunggu di luar!"
"Baiklah! Aku tunggu di luar. Berhati-hatilah, anak ini sepertinya bukan orang sembarangan!" Setelah berkata demikian, polisi bernama Lutfi itu melangkah keluar.
Kini hanya tersisa Gerry dan Yudha di dalam ruangan. Senyum sinis yang mengerikan merekah di wajah Gerry. Ia mengambil sebuah tongkat kayu taktis yang tergeletak di samping meja, lalu menatap Yudha dengan penuh kemenangan.
"Bocah, kamu tidak pernah menyangka akan berakhir di tanganku seperti ini, kan?"
Melihat tampang jemawa Gerry, hati Yudha justru mendingin. Tak ada rasa takut, hanya ada kemuakan yang mendalam.
"Mau apa kamu?" tanya Yudha dingin, menatap lurus ke bola mata Gerry.
"Mau apa? Kenapa? Kamu takut, ya?" sahut Gerry dengan senyum miring yang meremehkan.
Yudha membalas senyuman itu dengan lebih sinis. "Aku takut? Kamu sepertinya terlalu tinggi menilai dirimu sendiri."
"Oh, ya? Akan kutunjukkan padamu harga yang harus dibayar karena sudah meremehkanku!" Amarah Gerry meledak seketika melihat tatapan menghina dari Yudha. Tanpa peringatan, ia mengayunkan tongkat taktis itu sekuat tenaga ke arah tubuh Yudha.
Namun, sesuatu yang di luar nalar terjadi. Hantaman itu meleset jauh seolah menebas angin. Gerry terperangah, dan sebelum ia sempat bereaksi, kaki Yudha bergerak secepat kilat, menghantam tubuhnya dengan kekuatan penuh. Gerry langsung terjungkal ke lantai dengan keras.
"Kamu..." Gerry meringis kesakitan, dadanya terasa sesak. Ia mendongak menatap Yudha dengan ekspresi syok yang tak tertutupi.
Yudha menyipitkan mata. Dengan gerakan kasar, ia mencengkeram pengunci kursi besi itu. Terdengar suara logam yang berderit nyaring saat Yudha menarik paksa kunci tersebut hingga jebol, lalu ia menyentak borgol di tangannya sampai terlepas seolah benda itu hanya terbuat dari plastik. Pemandangan mengerikan itu membuat Gerry yang masih tergeletak di lantai gemetar hebat.
"A-apa... apa yang mau kamu lakukan?" teriak Gerry histeris, tubuhnya mundur menyeret lantai karena ketakutan.
Mendengar keributan di dalam, pintu ruangan itu langsung terpelanting terbuka. Para petugas polisi di luar merangsek masuk dengan wajah beringas.
Melihat para petugas itu menerjang dengan tangan terjulur ke arahnya, Yudha tahu jika ia membiarkan dirinya ditangkap lagi, mereka tidak akan memberinya ampun. Ia memutuskan untuk tidak menyerah. Seorang petugas mencoba melakukan teknik kuncian, tangannya menyambar bahu Yudha.
Yudha mendengus dingin. Ia menghentakkan kakinya ke lantai, menyentakkan tubuhnya ke belakang, lalu meluncur gesit di depan lawannya. Dengan hantaman bahu yang presisi, ia membuat keseimbangan petugas itu runtuh seketika.
Melihat rekan mereka diserang, amarah para polisi itu memuncak. Mereka mengayunkan tongkat pemukul ke arah Yudha. Namun, meski mereka terlatih, di mata Yudha gerakan mereka tak jauh berbeda dengan orang biasa yang sedang kalap. Mereka bukan tandingan baginya.
Dengan dua tendangan samping yang akurat, Yudha melontarkan tongkat-tongkat itu dari genggaman para petugas. Tanpa memberi celah, ia melompat dan melancarkan dua tendangan berputar di udara yang menghantam telak dada mereka. Kedua petugas itu mengerang kesakitan dan jatuh terjengkang.
Melihat mangsanya berani melawan balik, polisi bernama Lutfi yang membawa Yudha tadi langsung naik pitam. Ia mencabut pistol dari pinggangnya, mengarahkannya tepat ke arah Yudha. "Jangan gerak, atau kutembak!"
Menyadari pengunci pengaman senjata itu belum dibuka, Yudha bergerak lebih cepat dari tarikan picu. Ia menyambar kerah baju Gerry yang ada di lantai, menyeretnya hingga berdiri di depannya sebagai perisai manusia. Dengan tangan mencengkeram erat leher Gerry, Yudha menatap tajam ke arah pemimpin regu itu.