NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 Tukar Permintaan

Nandini mengusap kasar wajahnya. Ia mengetuk kepala dengan tangannya yang terkepal.

Kok bisa tidur di dada Gus Taka? Padahal aku sudah ndak copot beha lagi walaupun sesek, biar ndak kejadian kayak waktu itu. Eh sekarang malah pelukan sama dia.

Santaka tersenyum tipis. Matanya yang berpura memejam, mengintip sedikit. Ia teringat tengah malam, udara Tawangmangu memang begitu dingin. Dinding tenda seperti merembeskan dinginnya malam. 

Santaka menggeser tidurnya. Merapat ke arah Nandini, menjaga kehangatan. Jaket tebal dan selimut dirasa kurang. 

Tetap ada jarak, sekitar setengah centimeter. Tetap jarak tho?

Tiba-tiba Nandini mengubah posisi menjadi miring. Jarak itu pun hilang. Menempel membuat nyaman di udara demikian. 

Nandini yang dalam kondisi tak sadar, menarik tubuh Santaka, seakan suaminya itu guling. Guling yang ia rindukan.

Santaka semakin menggeser tubuhnya. Tak diduga, kepala Nandini naik ke atas dadanya. Santaka menahan napas. 

Senyum kecil terbit di bibir Santaka. Ia rengkuh sang istri. Nandini tampak semakin nyaman. Santaka pun akhirnya ikut lelap dalam posisi lekat mereka.

Ketika tiba-tiba ada pergerakan cepat, Santaka ikut terbangun. Ia memang tipe yang mudah terdistraksi jika sedang tidur. 

Santaka tahu jika ia ikut langsung terbangun dan disadari sang istri, ada kemungkinan Nandini mereog. Tak terima kenyataan. Menyalahkan dirinya. Padahal Santaka hanya merespons inisiatif Nandini.

Nandini bergerak, bersiap bangkit dari duduknya. Santaka terkejut. Bagaimana ini? Mau kemana istrinya itu? Tak mungkin kan mau kabur karena tidurnya dipeluk? 

Santaka menggeliat, suara khas orang menggeliat ia keluarkan, agar terasa nyata. Matanya perlahan membuka. Ia berpura terkejut melihat Nandini. “Eh Mbak...”

Nandini menoleh. “Eh Gus, hhmm...” Santaka mengulum senyum. Lucu melihat ekspresi kaget istrinya.

“Sudah bangun?” Suara Santaka terdengar parau, ciri orang baru bangun tidur. Membuat Nandini merinding, apalagi mengingat adegan bangun tidurnya.

Si Gus sadar ndak ya sama posisi tadi? Siapa yang mulai sih? Kalau aku di atas, berarti aku ya? Kalau dia maksa, aku pasti kebangun. Dini... bodhonya ndak hilang-hilang. Bisa-bisanya nyosor duluan.

Wis, ndak usah dibahas. Apalagi kayaknya ini salah aku. Hhh, bahaya ini lama-lama...

“Iya... Mau buang air...” Nandini meringis.

“Saya antar.” Santaka sontak berdiri. 

“Ndak perlu Gus, saya bisa sendiri.”

“Bahaya Mbak, gelap. Ayo, sekalian kita wudu, kita tahajud. Masih sempat.” Santaka mengambil senter di lantai tenda.

Nandini menggigit bibirnya. Ia berjalan tertunduk. Merasakan rumput basah yang mengenai kakinya. 

Santaka berjalan di sisinya sambil mengarahkan senter ke jalan di depannya. Sesekali memperingatkan jika ada lubang.

“Hati-hati Mbak. Takut kesandhung, nggelundhung. Susah dipungutnya.”

“Ya Allah Gus, dipungut. Memang sampah?” Nandini mencibir.

“Hehehe, becanda Mbak.”

“Gus, saya ndak pernah liat Gus becanda sama orang sebelumnya. Kalau ke bengkel. Apa aslinya begini?”

“Ndak Mbak. Aslinya yang Mbak liat dulu di bengkel.”

“Lah, ini Gus Taka palsu? Dhuh, saya belum hafal ayat ruqyah lagi. Baru ayat kursi saja.” 

Nandini menghentikan langkahnya. Matanya menelisik sang suami. Santaka terkekeh. Kenapa istrinya semakin lama semakin lucu?

“Yang sekarang mode khusus sama istri. Ndak ada yang tau.” Santaka tersenyum. Senyum yang terlihat mengerikan di mata Nandini.

“Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum...” Mulut Nandini komat-kamit. Santaka tergelak.

Nandini mencium tangan Santaka. Mereka baru saja menyelesaikan salat tahajud. 

Satu aktivitas yang kini rutin Nandini jalankan, sejak menjadi istri Santaka. Dulu boro-boro melakukan, terpikirkan saja tidak.

“Mbak, masih ingat kan soal tukeran permintaan.” Santaka mengulum senyum.

Nandini memejamkan matanya. Dhuh, kirain dia lupa. Ternyata inget.

“Apa ya, Gus?” Nandini menipiskan bibirnya.

Santaka tersenyum simpul. “Saya punya penawaran. Mbak Dini boleh panasin mobil saya setiap hari.”

Mata Nandini berbinar mendengar ucapan Santaka. Dahaganya akan mesin seperti diakomodasi oleh Santaka. “Serius Gus?”

“Iya... motor saya juga boleh sekalian dipanasin sama Mbak.” Santaka kembali tersenyum. 

Mata Nandini makin bersinar. “Tapi... ini ada tapinya ya?” Mata Nandini jadi memicing.

“Iya lah... namanya juga tukeran permintaan. Tadi itu tawaran dari saya, sesuai permintaan Mbak kemarin. Permintaan saya... ini...” Santaka mengarahkan mata ke pangkuannya. Nandini mengikuti pergerakan mata sang suami. Dahinya berkerut.

“Apaan? Ojo aneh-aneh ya Gus! Saya sudah bilang, belum siap! Jangan maksa, jangan karena Gus tau saya suka kegiatan maen mobil, motor, Gus paksa saya.” Nandini mendelikkan matanya pada Santaka.

Santaka tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Mbak Dini, kayaknya pikirannya ke sana terus. Bagus sih, suami suka kalau istrinya ke arah situ terus. Pengertian sama suami.”

“Hihh, Gus jangan ngalor ngidul! Apa permintaan Gus?” Hati Nandini kebat-kebit, takut akan apa yang suaminya inginkan.

“Hhmm... Mbak kan tau, selepas solat, saya suka tilawah, baca Qur’an. Saya mau setiap sehabis solat, Mbak Dini tidur di pangkuan saya. Dengerin saya tilawah.” Santaka tersenyum kalem. 

“Ndak mau!” jawab Nandini spontan.

“Yo wis, ndak apa-apa. Berarti penawaran saya soal panasin mobil dan motor, batal.” 

Santaka mengambil mushaf kecil di dalam koper. Ia kembali duduk di atas sajadah. Masih ada waktu 15 menit menuju Subuh.

Nandini menggigit bibir. Penawaran Santaka sangat menggiurkan namun haruskah ia meletakkan kepalanya di pangkuan sang suami. Itu intim sekali bukan? Tapi kapan lagi bisa bebas mengotak-ngatik mesin. Passion dan hobinya.

Piye iki? Aku harus gimana? Ambil ndak ya? Aarrgh, kenapa hidup aku mesti begini? Pengen ngutak ngatik mesin saja, bayarannya tidak-tidak begitu. Ndak mau, enak saja!

Suara Santaka terdengar merdu. Sejujurnya, Nandini suka mendengar cara mengaji suaminya. Tipe-tipe suara murottal—rekaman suara pembacaan ayat Al Qur’an yang disukai ayahnya dan kerap diputar di rumah mereka. Akhirnya, kesukaan itu menular pada Nandini. 

Walaupun slebor dan belum berpenampilan sempurna sebagai muslimah, dari dulu Nandini suka mendengar murottal. Dan ternyata Santaka memiliki cara mengaji yang ia sukai.

Nandini tiduran di kasur. Ia membelakangi suaminya. Masih kesal akan ide tukar permintaan dari Santaka. Gadis itu bahkan tak melepas mukenanya. Tanggung juga sudah dekat Subuh.

Kenapa hal yang menjadi kesukaannya harus diberikan secara pamrih? Tak inginkah Santaka menyenangkan hati Nandini? Senang hati itu, hak istri bukan? Katanya suaminya itu mau adil dalam hak dan kewajiban suami istri. Cih, teori doang si Gus Roti!

Santaka melirik ke arah istrinya. Ia tersenyum. Ternyata sulit juga menawari Nandini menukar permintaan, padahal sudah diiming-imingi hal yang menjadi kesukaan gadis itu, mesin.

Sang Gus bertekad tak akan menyerah. Batu saja bisa berlubang, jika terus ditetesi air, apalagi hati manusia yang mudah terbolak-balik. Ia yakin dengan kesabaran, istrinya akan luluh, menerima pernikahan mereka.

“Mbak Dini, masih ada wudu? Yuk, solat Subuh. Mau berjamaah ndak?”

Nandini membalikkan badan. Ia sebal Santaka tapi mau pahala salat berjama’ah. Lebih tinggi 27 derajat dari salat sendiri. “Iya...”

“Mbak, sebelum subuhan, solat sunnah qobliyah dulu, dua rokaat. Nilainya lebih baik dari dunia dan segala isinya.”

“Iya, Pak Ustad. Bawel.”

“Hhmm, sopan ndak kayak gitu?”

“Nanya mulu, kapan solatnya? Keburu terang.” Nandini memiringkan bibirnya. Santaka tersenyum simpul.

Setelah salat Subuh, Santaka menawarkan permintaan tidur di pangkuannya lagi. Nandini masih menolak. 

Santaka hanya tersenyum. Ia kembali mengaji. Minimal memang sekitar 10 lembar tiap setelah salat. Terbiasa sejak kecil. 

Nandini melipat mukenanya. Bibirnya mengerucut. Ia kembali rebahan di kasur. Mau keluar tenda, masih gelap dan amat dingin. Nandini jadi mager alias malas gerak. 

Niat awalnya bermain ponsel, tak seru. Lebih baik mendengarkan suara mengaji suaminya. Karena nyamannya mendengar Santaka mengaji, Nandini pun tertidur. Tak tahu berapa lama ia tertidur, ia merasa hidungnya ada yang memencet.

Tak perlu diselidiki siapa pelakunya. Tentu saja Santaka. Nandini tepis tangan sang suami di hidung bangirnya.

“Ih, ndak ada cara bangunin yang bagusan apa?” Mata Nandini mendelik. Santaka suka melihat delikan itu.

“Mau dicium, takut marah.” Santaka mengulum senyum. Nandini bergidik. Suaminya jadi terkekeh.

“Sarapan yuk, saya sudah buat scrambled egg. Lumayan buat ganjel perut sebelum kita jalan lagi.” Santaka, sang chef in action. Melembutkan hati via jalur perut.

Nandini langsung bangun. Enak juga jadi istri dia, bangun-bangun dikasih makan, hasil masakan dia lagi. Eh tapi pamrih. Sebel!

“Mau disuapin?” tanya Santaka. Nandini menggeleng.

Nawarin nyuapin terus, memangnya aku bayi!

“Suka kan, scrambled egg? Mau nanya suka apa buat sarapan, Mbak Dininya tidur.”

“Suka... Saya penyuka hampir semua makanan, Gus.”

“Alhamdulillah, cocok. Suami tukang masak, istri tukang makan.” Santaka tersenyum simpul. Senang ada satu kecocokan lagi.

Nandini tak memberi respons. Asyik mengunyah. Masakan Santaka seenak itu, ia juga malas membalas ucapan manis suaminya.

“Mbak, gimana udah dipikirin belum soal tuker permintaan? Yakin, ndak akan nyesel?” Santaka mengerlingkan mata.

Nandini berdecak. Mau ndak ya?

1
Nanik Arifin
jangan jatuh hati ma Syifa, Boy. sama Fiona aj. Syifa muna. Ning tapi suka munafik, bungkusnya doang yg baik. 11, 12, ma Gus Ahsan. cocok deh.
Inna Kurnia: kita jodohin aja apa ya, Syifa ama Ahsan 🤔🤔😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
Nanik Arifin
baby blues ini Ning Rini. harusnya Gus Agam berperan agar baby blues g berlanjut, kasihan bayinya
Inna Kurnia: betul bgt Kak Nanik, ning rini depresi abis lahiran ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!