NovelToon NovelToon
POSESIF

POSESIF

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga / LGBTQ
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Na_1411

Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.

"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"

suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.

"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."

kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.

"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."

Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan dan penjelasan.

Suasana rumah sakit yang begitu tenang membuat pikiran Steve seakan berkelana, dia menatap ranting dan dedaunan yang sesekali bergoyang karena hembusan angin malam. Taman yang terlihat sunyi dan sepi menjadi tempat Steve merenung, di sebuah bangku taman Steve terduduk sambil menikmati nikotin di tangannya.

Hembusan asap putih mengepul sesekali, sudah lama Steve tidak menikmati batangan nikotin berwarna coklat tersebut. Sudah hampir tiga tahun dia berhenti untuk menikmati benda yang menjadi candu beberapa orang yang sangat suka menikmatinya, Steve kembali menghembuskan asap putih ke udara.

Helaan nafas Steve terdengar, dia memutar kejadian tadi saat dokter menjelaskan akan kondisi yang di alami Liona.

“Maaf tuan, kondisi nona Liona saat ini sedang kritis. Darah yang terlalu banyak keluar, dan kepalanya yang mengalami gagar otak membuat nona Liona semakin kritis. Kami sudah semaksimal mungkin melakukan pertolongan untuk nona Liona, jadi kita hanya bisa menunggu hasilnya setelah beliau melewati masa kritisnya.”

Penjelasan dokter yang menangani Liona membuat pikiran Steve semakin berat, pernikahan yang akan mereka jalani harus beberapa hari lagi akan Steve batalkan. Melihat kondisi Liona saat ini, Liona yang tertidur lelap dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya.

Steve menyugar rambutnya kasar, dia merasa benar benar sangat frustasi saat ini. Ponsel yang bergetar membuat atensi nya teralihkan, dengan segera Steve mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya.

Nama mama terlihat jelas saat ponsel Steve menyala, tanpa menunggu lama Steve segera mengangkat telpon dari aura. Saat ini Steve benar benar membutuhkan seseorang untuk tempat mencurahkan keluh kesahnya.

“Halo ma…” ucap Steve setelah mengangkat panggilan aura.

“Halo sayang… bagaimana kondisi Liona…?” Tanya aura dengan suara lembutnya.

Steve menghela nafasnya berat, dia merasakan seakan ada batu yang menghimpit dadanya saat dia akan menjawab pertanyaan aura.

“Ma, Liona kritis. Saat ini kemungkinan hidup Liona sangat tipis, dan hanya keajaiban yang dapat membantu Liona segera sadar.” Steve merasa semakin sesak saat menjelaskan kondisi wanita yang dulu pernah mengisi hatinya.

“Kamu yang sabar ya sayang, Tuhan pasti punya rencana lain untuk kalian berdua. Oh iya, lalu bagaimana bayi Liona…? Apa dia masih di apartemen Liona…?”

Ucapan aura membuat Steve tersadar jika masih ada bayi Liona yang saat ini di apartemen Liona, Steve meraup wajahnya kasar, bagaimana dia bisa seceroboh ini mengkawatirkan kondisi Liona. Sednagkan masih ada seorang bayi kecil yang juga harus dia pikirkan keadaannya.

“Bayi Liona ada di apartemen Liona, dia bersama baby sister yang menjaganya ma…”

Steve dapat mencegat helaan nafas aura, pasti aura saat ini juga tengah mengkawatirkan kodisi bayi Liona.

“Sebaiknya bawa bayi itu ke mention kita, di sini mama akan merawatnya. Kasihan dia, mama tidak tega melihat bayi sekecil itu harus menanggung semuanya sendirian.”

Steve mengangukan kepalanya lemah, dia tahu pasti aura tidak akan tega dengan anak Liona.

“Iya ma, nanti Steve akan ke apartemen Liona sebentar. Aku akan mengantarkan mereka ke mention, dan setelah itu aku akan menemani Liona.”

Steve tahu pasti aura menyetujui ucapannya, walau Steve tidak dapat melihatnya.

“Baiklah, kamu segera bawa mereka ke sini.” Pinta aura memberikan perintah ke Steve,

Saat aura mematikan telponnya, Steve segera memasukan ponselnya kedalam saku celana. Belum juga Steve beranjak, getaran ponsel milik Steve membuatnya kembali mengambil benda pintar tersebut di dalam saku celananya.

Nama yang tertera di layar ponselnya, membuat Steve terkejut. Kebingungan dan rasa kawatir mulai Steve rasakan, tangannya terasa bergetar. Dia perlahan mengeser tombol hijau, suara hening terdengar.

Steve samar mendengar suara helaan nafas dari ujung telpon, jantung Steve terasa berdetak cepat. Steve merasa takut juga kawatir, jika orang tersebut marah dan kesal dengan Steve.

“Setidaknya berartinya aku buat kamu Steve, sampai kamu pergi hanya meninggalkan selembar surat buat aku. Atau kamu masih marah dengan ucapanku waktu itu…?”

Suara berat yang saat ini membuatnya sedikit tenang, walau tadi sempat Steve merasa kawatir akan kemarahan seseorang yang kini tengah menghubunginya.

“Maaf kak…” jawab Steve lirih.

“Oke jika itu keputusanmu, dan aku sudah tidak dibutuhkan. Aku akan menghilang dari kehidupanmu, dan aku tidak akan mengganggumu setelah telpon ini aku akhiri.”

Entah kenapa hati Steve merasa sangat takut jika ucapan laki laki di ujung telpon terealisasikan, dia selama tidak rela jika Leon menghilang dari kehidupannya.

Ya… saat ini yang menghubungi Steve adalah Leon, selama beberapa hari ini Leon sengaja tidak menghubungi Steve. Tapi entah karena apa, pikiran dan hati Leon sekaan merasa tidak tenang memikirkan Steve.

Steve menggeleng cepat, dia serasa tidak bisa mengeluarkan suaranya menjawab ucapan Leon.

“Steve… kamu mendengarkan ku…?” Tanya Leon.

Steve mengangukan kepalanya, tenggorokannya terasa tercekat. Dia tidak bisa mengeluarkan suaranya karena rasa sesak dai dadanya yang menghalangi ucapannya.

“Baiklah, maaf jika aku menggangu malammu di sana. Aku akan mematikan telponnya, kamu bisa menikmati harimu di sana, dan maaf jika selama kamu bersama ku, aku Selalu membatasi pergaulanmu dan terlalu protectif dengan semua tindakan dan pergaulanmu. Terima kasih juga karena selama ini kamu sudah menemaniku.” Ucap Leon panjang lebar.

Tiba tiba tubuh steve bergetar hebat, tanpa sadar kini Steve terisak menangis setelah mendegar ucapan Leon. Seakan di sini Steve adalah satu satunya orang yang telah melukai Leon, dia tahu jika dia salah. Tapi rasa sakit yang dia rasakan mendengar pertunangan Leon dan dias, membuat dia juga harus pergi.

Janji Steve yang akan menikahi Liona dna menjaga bayinya, tidak dapat Steve indahkan. Steve terisak dan semakin terisak dengan tangisannya, sedangkan Leon yang ada di ujung telpon dapat mendengar jelas isakan dari Steve.

Leon terdiam, dia tidak bisa mengatakan apapun mendengar isakan Steve, Leon yang tadinya merasa sangat kesal kini hatinya menjadi luluh mendengar Steve juga merasakan kesedihan yang sama dengan Leon saat ini.

“Tuan Steve…!!” Panggil perawat dari ujung ruangan icu.

Steve yang merasa namanya di panggil segera berlari mendekati perawat tersebut, Steve yang terlihat panik sampai lupa mematikan telponnya.

“Iya sus, ini saya Steve.” Ucap seteve terlihat gugup.

“Maaf kan saya tuan Steve, anda di tunggu dokter di dalam.” Perawat tersebut segera mengajak Steve masuk ruang icu, di sudut ruangan terlihat dokter sudah menunggu Steve datang.

“Tuan Steve silahkan duduk.” Ajak dokter tersebut menyambut kedatangan Steve.

Sedangkan Leon masih menyimak obrolan yang Steve lakukan di balik telpon, dia merasa jika Steve saat ini tidak baik baik saja.

Steve terduduk lemas, dia menatap tajam ke arah dokter yang menangani Liona.

“Tuan Steve, saya memohon maaf. Karena melihat kondisi nona Liona, sepertinya kemungkinan untuk sadar hanya sepuluh persen. Kita hanya bisa menunggu keajaiban Tuhan, saya harap tuan Steve bersiap menerima jika ada ke jadian yang tidak kita harapkan.”

Steve terdiam, dia tahu apa maksud dari dokter di depannya.

“Baik dok, saya bisa mengerti. Saya akan berusaha menerima apapun yang terjadi nanti dengan Liona.” Steve menundukkan kepalanya lemah menatap meja di depannya.

“Oke baiklah, kita akan terus memantau kondisi nona Liona.”

Dokter tersebut segera berdiri di ikuti dengan Steve, kini Steve memilih kembali keluar dari dalam ruang icu. Tiba tiba Steve teringat jika dia tadi sedang melakukan panggilan dengan Leon, Steve menatap layar telpon yang memperlihatkan jika obrolan di ponselnya masih terhubung.

Dengan segera Steve menempelkan ponsel miliknya, tadinya dia memilih akan mematikan ponselnya. Tapi dia paham akan karakter yang dimiliki Leon, jadi dengan berat hati dia kembali berbicara dengan Leon.

“Halo kak…” ucap Steve dengan suara pelan.

“Siapa itu Liona, Steve…!!!” Seru Leon yang membuat Steve terdiam.

1
Vanni Sr
deemi???? ini crta Gay?? kek gni lolosss?? astgaaa bner² gila
Reichan Muhammad: mengerikan,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!