NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:27.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29 Penyakit Kelebihan Uang

Mobil mewah itu melaju pelan menembus jalanan malam yang mulai lengang. Leo mencengkeram kemudi dengan perasaan campur aduk. Separuh lega karena mendapat informasi krusial, separuh lagi muak karena harus terus bersandiwara.

Di sampingnya, Bianca menyandarkan kepala pada jendela, menatap kosong lampu-lampu jalan yang berpendar.

"Kita sudah sampai di depan mansion mu, Bianca. Mau ku antar sampai halaman depan?" tanya Leo, berusaha menjaga nada suaranya tetap lembut.

"Tidak mau," gumam Bianca tanpa menoleh. "Jangan masuk ke sana."

Leo mengernyit. "Kenapa? Ini sudah larut. Kau butuh istirahat."

"Untuk apa? Masuk ke rumah besar yang terasa seperti kuburan?" Bianca tiba-tiba tertawa sinis, matanya yang sembab karena alkohol menatap Leo. "Percuma aku pulang. Dante akan tetap di sana, duduk diam seperti patung es. Dia tidak akan menyapaku, tidak akan bertanya aku dari mana, bahkan melirikku pun tidak. Apalagi sekarang, dia terus mendesak ku menandatangani surat cerai itu setiap hari."

Leo menghela napas, menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi.

"Kalau dia sudah sedingin itu, kenapa kau masih bertahan? Bukankah kau bilang kau adalah ratu yang ingin dipuja?"

"Karena aku tidak suka kalah!" pekik Bianca tiba-tiba, suaranya pecah. "Aku sudah memberikan tujuh tahun hidupku untuknya! Aku yang merawatnya saat dia koma! Tapi dia... dia masih saja memimpikan wanita itu!"

Leo menatap Bianca dengan tatapan dingin yang tersembunyi di balik topengnya.

"Wanita yang kau maksud adalah kakak iparku, dan dia jauh lebih mulia darimu," batinnya geram.

Namun, Leo harus tetap pada perannya.

"Dengar, Bianca. Kenapa kau harus menyiksa dirimu sendiri? Jika seorang pria tidak lagi melihat harganya, maka pria itu tidak layak memilikimu. Saranku, lebih baik kau tanda tangani surat cerai itu. Cari lelaki lain yang benar-benar bisa melihatmu," ucap Leo, memutar tubuhnya menghadap wanita itu.

Bianca terdiam, menatap Leo dengan pandangan sayu yang penuh selidik. Ia merangkak mendekat, jemarinya yang dingin menyentuh rahang Leo.

"Cari lelaki lain, katamu? Bagaimana kalau lelaki yang aku mau adalah kau?"

Leo hampir saja tersedak ludahnya sendiri. "Aku?"

"Iya. Kau misterius dan kau satu-satunya yang mendengarkan racauan ku malam ini," bisik Bianca, wajahnya mendekat ke arah Leo. "Kau mau denganku? Jika aku bercerai dari Dante, apa kau mau menjadi raja di sampingku?"

Leo merasa perutnya mual seketika. Membayangkan hidup bersama wanita yang hampir menghancurkan keluarganya adalah mimpi buruk yang paling mengerikan. Namun, ia memaksakan sebuah senyum miring yang terlihat menggoda.

"Aku bukan pria yang suka berbagi, Bianca," sahut Leo cerdik, menghindari jawaban langsung. "Dan aku tidak suka menjadi ban serep bagi seorang pria bernama Dante Carson. Jika kau ingin aku melihatmu, jadilah wanita bebas terlebih dahulu. Tunjukkan padaku bahwa kau punya nyali untuk meninggalkan masa lalu mu."

Bianca tersenyum tipis, nampak terpengaruh oleh kata-kata Leo.

"Kau benar. Aku harus bebas dulu, kan? Agar aku bisa memiliki pria yang lebih berbahaya darinya."

"Tepat sekali. Sekarang, turunlah. Masuk dan tanda tangani berkas perceraian itu," ucap Leo tegas.

"Kau sangat memerintah," gumam Bianca sembari membuka pintu mobil dengan langkah gontai. "Tapi aku suka. Sampai jumpa besok, Leo."

Begitu pintu mobil tertutup dan sosok Bianca menghilang di balik gerbang, Leo langsung meludah ke luar jendela. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa perlu mandi dengan air suci untuk membersihkan sisa-sisa kehadiran Bianca.

"Najis," umpat Leo parau. Ia segera menginjak gas dalam-dalam, ingin segera pulang dan melaporkan rahasia tentang brankas di ruang sauna itu kepada Venus. Perang ini harus segera berakhir sebelum ia benar-benar gila karena harus meladeni rayuan sang ratu ular.

******

"Astaga! Apa-apaan ini? Kita mau buka toko elektronik atau sedang jadi gudang penampungan barang rongsokan mahal?"

Pekikan Venus menggema di ruang tamu saat ia baru saja melangkah masuk ke rumah. Matanya membelalak menatap sofa kesayangannya yang kini lenyap di balik tumpukan kardus berlogo apel digigit dan berbagai merek teknologi mutakhir lainnya.

Tumpukan itu begitu tinggi hingga hampir menyentuh lampu gantung.

Sean, yang duduk terjepit di sudut sofa yang masih tersisa, hanya melirik ibunya sekilas sebelum kembali fokus pada tablet baru di tangannya.

"Tanyakan saja pada paman yang ada di dapur. Dia sedang mencoba menjadi koki atau semacamnya," jawab Sean dengan nada datar.

"Paman Udang? Siapa—"

Venus menggantung kalimatnya saat hidungnya menangkap aroma bawang putih dan mentega yang sangat akrab. Ia melangkah cepat ke dapur dan hampir saja jatuh pingsan melihat sosok pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku sedang sibuk mengayunkan spatula di depan kompor.

"Dante?! Apa yang kau lakukan di dapurku? Dan barang-barang di depan itu... jangan bilang kau merampok toko elektronik?" seru Venus dengan tangan di pinggang.

Dante menoleh, memberikan senyum paling menawan yang biasanya sanggup meluluhkan klien bisnisnya.

"Hanya hadiah kecil untuk putraku, Sayang. Dia bilang butuh laptop, jadi aku membelikan semua yang memiliki layar dan kabel di toko tadi."

"Kecil katamu? Itu bisa untuk membiayai satu tahun sekolah, Dante!"

Sean muncul di ambang pintu dapur, menyandarkan bahunya di kusen dengan tatapan menghakimi.

"Sudah kubilang, Ma. Pria ini menderita penyakit kelebihan uang. Dia pikir dia bisa membeli restuku dengan tumpukan gadget itu. Padahal aku hanya butuh satu yang speknya bagus, bukan sepuluh yang fungsinya sama."

Dante mematikan kompor, lalu membawa sepiring steak yang aromanya luar biasa ke meja makan.

"Sean, kau tidak bisa menyalahkan seorang ayah yang ingin memberikan yang terbaik. Anggap saja itu kompensasi karena Papa tidak memberimu hadiah selama tujuh tahun."

"Tujuh tahun dikali sepuluh laptop per tahun... Ya, hitungannya hampir masuk akal jika Paman tidak punya otak," sahut Sean pedas, membuat Dante memegang dadanya seolah terkena serangan jantung mendadak.

"Venus, tolong! Anakmu ini benar-benar cabai rawit. Kenapa dia tidak mau memanggilku Papa?" keluh Dante pada Venus.

Venus memutar bola matanya, ia mengambil sepotong daging dari piring dan mengunyahnya.

"Karena kau datang-datang langsung memborong toko, Dante. Kau membuatnya malu. Tetangga pasti mengira aku baru saja memenangkan lotre atau menjual organ tubuh."

"Atau mereka mengira Mama simpanan kakek-kakek kaya," tambah Sean tanpa dosa.

"Sean! Mulutmu!" tegur Venus, meski ia hampir meledak menahan tawa.

Dante mendekati Venus, mencoba merayu dengan suara rendahnya yang berat.

"Dengar, Venus. Aku hanya ingin memulai dari awal. Aku memasak makan malam, aku membelikan Sean peralatan sekolah—"

"Peralatan sekolah? Paman, itu server data, bukan buku tulis," potong Sean dari meja makan.

Dante mengabaikan gangguan itu dan tetap menatap Venus.

"Beri aku kesempatan. Malam ini saja, biarkan aku menjadi pria di rumah ini."

Venus mendengus, namun ia tidak bisa menolak aroma masakan Dante yang sangat menggoda selera sekaligus masakan yang ia rindukan.

"Baiklah. Kau boleh tinggal untuk makan malam. Tapi setelah itu, bawa kembali setengah dari kardus-kardus di depan. Rumah ini bukan cabang toko komputer!"

"Tidak bisa, Sayang. Kebijakan tokonya tidak menerima pengembalian dari pria tampan," goda Dante sambil mengerlingkan mata.

"Sombong sekali. Aku benar-benar curiga otaknya tertukar dengan udang rebus saat dia koma," gumam Sean sambil mulai menyantap steak-nya dengan lahap, meski mulutnya tetap pedas.

Dapur kecil Venus dipenuhi dengan perdebatan absurd antara seorang ayah yang terlalu kaya, seorang anak yang terlalu jenius, dan seorang ibu yang hanya ingin hidup tenang namun berakhir terjebak di antara dua pria yang sama-sama keras kepala.

"Ini baru satu hari mereka bersama bagaimana kalau setiap hari?" gumam Venus sembari memijat pelipisnya.

1
tinie
ingat Leo ini hanya sebuah kesepakatan perjanjian antara kau sean dan venus
jangan coba coba untk jatuh hati pada biawak rawa itu
tinie
good job Leo
semuanya akan terkuak
setelah racauan biawak rawa mulai luluh padamu leo
Nice1808
Dante sangking kayanya ntah mau di kemanain uang2 nya🤭🤣🤣
Nice1808
korek trus leo rahasia dr bianca🤣🤣kasi lagi 1botol dia akn kluarkn semua rahasia klurga nya🤭🤣🤣
Tiara Bella
sabar ya venus.....
tia
makin seru ,,, moga mereka cepat berkumpul
Jungkookieeeeeee97🐰
huwekkkkkk,
ogah banget jangan sampe si Leo ada anu inu Ngada Ngadi sama wanita ular itu deh 🙎
Jungkookieeeeeee97🐰
selalu Leo yg gercep, entah si Dante tu fungsi nya apa buat Sean 🤐
🅰️Rion bee 🐝
👍👍👍👍👍..
Kinara Widya
😂😂😂😂😂
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Nice1808: 🤣🤣iya kak
total 4 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!