NovelToon NovelToon
POSESIF

POSESIF

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga / LGBTQ
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Na_1411

Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.

"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"

suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.

"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."

kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.

"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."

Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan.

Ruangan apartemen yang tampak sepi, dan masih tertata rapi seperti saat Leon meninggalkan untuk berangkat kerja. Pandangan mata leon mengendar menatap pintu kamar Steve yang terbuka lebar, Leon yang merasakan perasaan yang tidak tenang segera berjalan mendekat dan masuk kedalam kamar Steve.

Rapi, dan semua tertata rapi. Tapi ada satu barang yang Leon cari, yaitu koper Steve yang tergeletak di samping tempat tidur kini sudah tidak ada. Leon menatap lemari pakaian milik Steve, dengan gerakkan secepat kilat Leon segera membuka pintu lemari.

“Kosong… Shit…!! Apa dia benar benar pergi tanpa berpamitan denganku…? Apa dia marah dan memilih pergi karena masalah sepele tadi malam.” Gumam Leon sambil menutup pintu lemari dengan kasar.

Leon membalikkan badan dan tak sengaja melihat secarik kertas putih di atas nakas, Leon yang penasaran segera mengambil dan membaca setiap huruf yang tertulis rapi di sana.

[ untuk kak Leon…

kak… maaf, aku pergi tanpa berpamitan denganmu.

Aku tidak ingin jika kamu mendengar kepergianku maka kamu akan menghalangiku, jadi dengan surat ini aku berpamitan.

aku akan meneruskan pendidikan ku di Singapura, jadi aku minta maaf jika selama beberapa tahun ini aku sudah menyusahkan mu.

Dan untuk semuanya, aku ucapkan terima kasih, kamu adalah seorang kakak yang terbaik untuk ku.

oh iya satu lagi, selamat untuk pertunangan mu dengan kak dias. Semoga kalian bahagia sampai pernikahan kalian nanti, aku minta maaf jika di hari pertunanganmu aku tidak bisa hadir.

Dari Stevanus.]

Leon mengepalkan tangannya erat, dia kesal dengan cara Steve yang berpamitan dengan sepucuk surat yang dia tinggalkan.

Leon meremas kertas berwarna putih di tangannya, rasa kesal dan sedih bercampur jadi satu yang kini di rasakan Leon.

“Begini caramu berterima kasih Steve, oke… aku akan melakukan apa yang kamu katakan. Aku akan bahagia setelah menikah dengan dias, aku akan membuktikan nya.” Geram Leon sambil melempar surat yang ada di tangan Leon.

Sedangkan di negara lain, Steve yang baru saja pulang di mention milik Alexander. Berjalan gontai, entah kenapa rasa berat akan kepergiannya tanpa berpamitan dengan Leon, membuat hati Steve sedih.

“ hai son….” Sapa aura melihat Steve yang akan berjalan ke arah kamarnya di lantai atas.

“Hai ma…” Steve segera meletakkan koper miliknya, dia segera bergegas menghampiri aura yang berdiri menatapnya.

“Kamu sudah pulang…? bagaimana…? Semua baik baik saja…?” Tanya aura sambil menatap Steve.

Pelukan hangat segera Steve berikan ke aura, rasa hangat dan nyaman Steve rasakan seketika. Kesedihan yang sempat terasa kini telah menghilang, Steve merasa jika obat termanjur nya saat ini adalah pelukan wanita yang telah melahirkan dan menjadi cinta pertamanya.

“Aru you okey boy…?” Tanya aura melihat Steve seakan tidak baik baik saja.

“I’m okey ma… papa kemana ma…?” Sudah menjadi kebiasaan Steve jika melihat aura selalu dia menanyakan alex, begitu juga sebaliknya.

“Papamu sedang ada urusan penting di luar, oh iya… kamu sudah makan…?” Aura menatap Steve yang terlihat sangat kelelahan.

“Hmm… sudah tadi di bandara, sepertinya aku akan istirahat dulu ma. Rasanya capek banget.” Steve merenggangkan tubuhnya agar aura percaya jika saat ini dia sangat lelah.

“Istirahatlah, biar koper milikmu pelayan yang membawakan ke atas.”

Steve menganguk lemah, dia segera meninggalkan aura yang berdiri menatap kepergiannya. langkah Steve tampak teratur, dia berjalan gontai menuju di mana kamarnya berada.

Pintu yang tertutup rapat segera Steve buka, dan tanpa berpikir panjang Steve segera merebahkan dirinya melihat tempat tidur berukuran king size yang tampak menunggu kedatangannya.

Sedangkan di tempat lain, Liona yang baru saja keluar dari kampusnya bersama kedua sahabatnya tampak saling bersenda gurau satu sama lain.

“Lio… bagaimana baby boy, apakah dia selalu rewel waktu malam hari…?” Tanya sila yang ada di samping Liona.

“Yah… begitulah, namanya juga bayi. Dan kamu tahu, jika asi ku sampai saat belum keluar banyak.” Liona berdecak kesal, dia merasa belum sempurna menjadi seorang ibu.

“Sabar, jangan pesimis. Mungkin kamu perlu suplemen untuk memperbanyak keluarnya asi mu.” Ucap vivi menangkan Liona.

“Hmm… semoga saja…” lirih Liona masih dengan wajah yang tampak sedih.

“Lio… kamu mau pulang denganku…? Atau kamu mau pulang sendiri.” Tawar vivi agar Liona menerima ajak kan nya.

“Aku mau ke mini market sebentar, susu bayiku sudah hampir habis.” Liona manatap Vivi, dia merasa tidak enak menolak tawaran vivi.

“Oh… That’s okey… kamu hati hati di jalan ya, atau biar aku antar kan kamu ke mini market.”

Entah kenapa perasaan vivi tidak enak, melihat Liona yang dulu selalu bersama dengan Patrick dan kini dia harus apapun sendiri.

“Tidak perlu vi, aku bisa sendiri.” Tolak Liona merasa segan.

“Atau perlu aku antar…? Entah kenapa aku merasa tidak enak jika kamu pergi sendiri.” Ucap sila berharap sila memperbolehkannya untuk menemaninya.

“Tidak sila, aku akan pergi sendiri. Kalian tenang saja, aku akan baik baik saja.” Ucapan Liona terdengar mantap, dia tidak ingin menjadi beban untuk kedua sahabatnya.

“Oke baiklah, kabari aku jika terjadi sesuatu. Entah kenapa aku merasa tidak ingin membejatkan mu sendiri.” Vivi memegang tangan Liona, dia merasa semakin berat melepaskan Liona.

“Kamu terlalu posesif dengan ku, aku baik baik saja. Ya sudah, aku pergi dulu ya… aku tidak enak meninggalkan bayiku bersama baby sister di rumah.”

Seperti biasa liona akan berpamitan dengan kedua sahabatnya sebelum pergi, langkahnya menjauh meninggalkan sahabatnya yang berdiri masih menatap kepergian Liona.

Jalan raya yang tidak tampak begitu ramai, memudahkan Liona segera melangkahkan kakinya menyebrang. Saat langkah Liona berada di tengah tengah jalan, tiba tiba terlihat mobil yang melaju begitu kencang melaju ke arah Liona.

Vivi dan sila yang melihat mobil yang melaju kencang menuju ke arah Liona segera berteriak memanggil Liona, tapi karena Liona yang sedang asik memegang handphone nya. Teriak kan vivi dan sila tidak dapat dia dengar.

“Braaak….”

Bunyi benturan keras terdengar jelas, Liona yang tertabrak mobil sampai terlempar beberapa meter ke bahu jalan. Kedua sahabat Liona sampai menjerit histeris memanggil Liona yang tertuju bersimbah darah.

“Ya Tuhan…!! Liona…?!!” Teriak sila.

Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut segera berlari mendekati Liona yang bersimbah darah, vivi dan sila yang sudah ada di samping Liona menangis tersedu melihat kondisi Liona yang terbilang sangat parah.

“Sila, telpon ambulans…!!” Teriak vivi menyuruh sila.

Kerumunan mahasiswa terlihat begitu terkejut, sedangkan mobil yang menabrak Liona memanfaatkan kesempatan untuk kabur.

Bunyi sirene menarik atensi beberapa orang yang tengah berkerumun, tangisan vivi dan Liona juga beberapa teman Liona terdengar. Dua orang para medis keluar dengan tergesa dari dalam mobil ambulans, tampak brangkar di turunkan segera untuk membawa tubuh Liona yang terluka parah.

Tubuh lemah Liona tampak terbujur di atas brangkar, terdengar kembali sirene saat Liona sudah di masukkan ke dalam mobil ambulans.

“Lio, kamu harus kuat, demi bayimu yang sedang menunggu kedatangan mu.” Lirih sila.

Sedang vivi memilih mengendarai mobilnya, dan mengikuti mobil ambulans yang membawa Liona.

1
Vanni Sr
deemi???? ini crta Gay?? kek gni lolosss?? astgaaa bner² gila
Reichan Muhammad: mengerikan,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!