Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Di Atas Langinmt Masih Ada Arlan
Setelah keluar dari ruangan Arlan dengan hati yang hancur, Kinara kembali ke kantor Bright Media dengan langkah gontai.
Ia sudah siap untuk mengemasi barang-barangnya dan pergi menjauh agar Devan tidak menjadi korban kemarahan Arlan.
Namun, di kantor, ia justru mendapati Devan sedang tersenyum penuh kemenangan di depan layar komputernya.
"Kinara, jangan khawatir. Aku sudah melakukan serangan balik," ujar Devan dengan nada bangga.
"Aku sudah memerintahkan keluarga Aditama untuk memutus semua suplai bahan baku ke perusahaan Arlan. Dia pikir dia penguasa tunggal? Dia tidak tahu siapa keluargaku sebenarnya."
Kinara tertegun. Ada sedikit rasa lega, namun juga kecemasan yang mendalam.
"Devan, apa kau yakin? Arlan bukan orang yang mudah menyerah."
"Percayalah padaku," jawab Devan yakin.
Sementara itu, di kantor pusat Arlan Group, suasana sangat mencekam.
Laporan tentang pemutusan suplai dari keluarga Aditama sudah sampai ke meja Arlan. Namun, alih-alih panik atau marah seperti yang dibayangkan Devan, Arlan justru duduk dengan tenang di kursi kebesarannya sambil menyesap cerutu mahal.
Maya, sekretarisnya, masuk dengan wajah pucat.
"Pak, keluarga Aditama benar-benar serius. Jika suplai tidak kembali dalam dua puluh empat jam, kita akan kehilangan ratusan miliar."
Arlan terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat mengerikan di dalam ruangan yang sunyi itu.
"Devan Pratama Aditama... anak muda yang terlalu sombong karena merasa punya tameng keluarga. Dia pikir dia sudah menyentuh nadiku?"
Arlan membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam legam tanpa merek yang tersambung ke jaringan satelit pribadi. Ia menekan satu nomor singkat.
"Aktifkan protokol 'Vulture'. Aku ingin semua pelabuhan logistik yang dikelola keluarga Aditama dihentikan izin operasionalnya melalui jalur pusat. Sekarang," ucap Arlan dengan nada dingin yang belum pernah didengar Maya sebelumnya.
Maya gemetar. Selama ini ia tahu Arlan kaya, tapi ia tidak tahu bahwa Arlan memiliki koneksi ke "Konsorsium Global"
organisasi yang jauh di atas kekuatan keluarga konglomerat lokal mana pun.
Dua jam kemudian, kejayaan Devan runtuh seketika. Ponselnya berdering tanpa henti. Wajah Devan yang tadinya penuh percaya diri kini berubah menjadi sangat pucat, bahkan lebih pucat dari saat ia kehilangan kontrak kemarin.
"Apa?! Bagaimana mungkin semua pelabuhan kita dibekukan oleh otoritas pusat?! Alasan apa?!" teriak Devan ke ponselnya.
Kinara yang melihat hal itu mulai merasa ketakutan. "Ada apa, Devan?"
"Kinara... aku tidak mengerti," suara Devan bergetar. "Ayahku menelepon, katanya ada kekuatan besar yang tiba-tiba menekan seluruh bisnis logistik keluarga kami. Jika ini tidak berhenti dalam satu jam, keluarga Aditama bisa dinyatakan bangkrut secara nasional. Mereka bilang... ini karena aku menyentuh seseorang bernama Arlan."
Tepat saat itu, pintu kantor Bright Media terbuka lebar. Bukan Arlan yang datang, melainkan dua pria berseragam hitam dengan ekspresi kaku. Mereka meletakkan sebuah tablet di depan Kinara.
Di layar tablet itu, muncul wajah Arlan melalui panggilan video. Ia tampak sangat santai di kantornya yang mewah.
"Devan, anak muda yang malang," ucap Arlan dengan nada mengejek. "Kau pikir dengan marga Aditama, kau bisa melawanku? Kau hanya bermain di kolam kecil, sementara aku adalah pemilik samudra tempat kolammu itu berada."
Arlan mengalihkan pandangannya pada Kinara, matanya yang tajam seolah menembus layar. "Kinara, lihatlah. Pria yang kau bangga-banggakan ini sedang menyeret seluruh keluarganya ke jurang kehancuran hanya karena ingin melindungimu. Apakah kau setega itu melihat ratusan orang di keluarga Aditama kehilangan segalanya?"
Kinara menutup mulutnya, air matanya jatuh. "Berhenti, Arlan! Cukup!"
"Pilihannya ada padamu, Sayang," lanjut Arlan dengan suara lembut yang mematikan. "Kembalilah ke mansion dalam tiga puluh menit, atau aku akan memastikan nama 'Aditama' hanya akan menjadi sejarah dalam buku kebangkrutan besok pagi."
Klik. Sambungan terputus.
Kinara menatap Devan yang kini terduduk lemas di kursinya, tak berdaya. Devan yang tadinya adalah pahlawan, kini hanya seorang pria yang hancur oleh kekuatan yang jauh di luar jangkauannya.
"Maafkan aku, Devan," bisik Kinara pelan. "Aku harus pergi."
"Jangan, Kinara! Dia iblis!" teriak Devan, tapi suaranya sudah tidak memiliki kekuatan lagi.
Kinara melangkah keluar kantor dengan hati yang mati. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Arlan bukan sekadar pria dingin yang angkuh. Arlan adalah monster yang memiliki dunia di telapak tangannya. Dan kali ini, tidak ada lagi jalan untuk lari.
Malam itu, gerbang mansion terbuka lebar menyambut kedatangan sebuah taksi tua. Kinara keluar dari taksi, berdiri di depan pintu besar yang kini terasa seperti mulut raksasa yang siap menelannya.
Di lobi, Arlan berdiri menunggunya. Ia tidak tersenyum kemenangan, ia hanya menatap Kinara dengan tatapan posesif yang gelap.
"Selamat datang kembali di rumahmu, Nyonya Arlan," ucapnya sambil melangkah mendekat dan mencengkeram dagu Kinara dengan lembut namun kuat. "Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari pintu ini lagi, karena dunia di luar sana... adalah milikku."