NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

you're mine 11

*Keesokan paginya. Rumah Nara.*

Terdengar pintu rumahnya diketuk tiga kali dari luar. Ketukan yang sopan, tapi cukup membuat Nara menghentikan aktivitasnya pelan-pelan. Firasatnya mulai tidak enak.

Begitu pintu dibuka, berdiri di sana Sandra dan Mamanya Devan dengan raut muka serius dan tidak sabar, tapi tetap terlihat tenang. Terlalu tenang untuk sebuah kunjungan tanpa undangan.

"Tante... Bu Sandra," Nara mengangguk tetap bersikap sopan. Tubuhnya siaga, tapi suaranya datar. Nara yang sekarang bukan gadis belasan tahun seperti lima tahun lalu. Mungkin kalau Nara yang dulu, dalam situasi seperti ini dia sudah ketakutan setengah mati. Tapi sekarang berbeda. Nara yang sekarang adalah perempuan dewasa yang mandiri dan kuat. Meski keadaan lah yang memaksanya menjadi Nara yang sekarang.

"Boleh kami masuk, Nara?" Mama berbicara terlebih dulu, sopan dan anggun layaknya wanita kelas atas.

Nara menghela napas, lalu minggir memberi jalan. "Silakan."

Belum sempat mereka duduk, sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti di halaman rumah Nara yang tidak seberapa luas itu. Mama langsung mengenali pemilik mobil itu meski dia belum keluar—itu putra keduanya, Nathan.

"Mau apa anak itu ikut-ikutan ke sini?" gumam Mama dengan suara pelan, hampir tidak terdengar.

"Ma, Sandra," sapa Nathan tenang begitu masuk. Matanya lalu berhenti di Nara. Tidak ada tatapan kosong atau panik seperti dulu. Hanya... sorot mata bingung yang terbaca jelas di wajahnya.

Nara mengangguk. Dadanya terasa sesak sebab udara di sekitar tiba-tiba terasa panas, tapi dia tidak menunduk. Dia tetap bersikap setenang mungkin. "Kamu ke sini juga?"

"Aku tahu mereka akan ke sini. Jadi aku sengaja menyusul," Nathan tersenyum tipis, getir. "Biar tidak ada yang bermain kotor di sini."

Sandra mengerutkan dahi. Rencananya sedikit meleset. _Tapi bagus juga kalau Nathan ada di sini. Jadi Nara bisa lihat sendiri. Kalau Dia masih belum sembuh—_ gumamnya dalam hati.

Mama meremas tasnya. "Nathan, kedatangan Mama ke sini tidak ada maksud jahat sama sekali," jelasnya.

"Tapi aku tidak percaya dengan ucapan Mama."

"Mama hanya ingin..."

Nathan memotong perkataan Mamanya. "Ingin membuat Nara pergi seperti lima tahun lalu, iya, kan, Ma?"

"Sepertinya kamu sudah salah paham. Mama bahkan belum mengatakan apa-apa pada Nara. Kamu dapat kesimpulan itu dari mana?"

"Memangnya apa tujuan Mama datang ke sini kalau bukan karena itu? Apalagi Mama ke sini dengan Sandra!"

Hening. Masing-masing terdiam.

"Nath, jangan begitu sama Mama kamu sendiri. Mama kamu tuh cuma ingin yang terbaik buat kamu dan Devan," ucap Sandra mencoba menjelaskan dan mencari pembenaran.

"Tidak salah. Semua yang kalian lakukan itu cuma menguntungkan buat kamu sendiri. Kamu pikir aku tidak tahu isi kepala kamu, San?" ucapnya sinis.

"Kamu sepertinya memang belum _move on_ dari perempuan ini. Lihat, kan? Siapa yang dari tadi pasang badan buat dia!" ucap Sandra sambil menunjuk ke arah Nara. "Kamu belum selesai, Nath. Kamu masih sakit!"

Nara tercekat mendengar ucapan kejam yang keluar dari mulut Sandra. Dia tidak mengira Sandra harus menjatuhkan Nathan hanya demi ambisinya.

"Cukup. Kejadian yang menimpaku itu murni karena perbuatan aku sendiri, Ma. Bukan karena Nara." Nathan mengusap wajahnya kasar sambil menoleh ke arah Mamanya yang dari tadi diam. "Dan kalau Mama mau melihat kenyataan yang sesungguhnya, yang paling sakit selama ini bukan aku. Tapi Kak Devan sama Nara. Mereka yang dipaksa berpisah. Di sini aku penjahatnya, Ma. Aku yang egois. Jadi jangan hukum Nara. Karena dia tidak bersalah."

Nara menggigit bibir. Dia ingin pergi saja rasanya dari keributan ini. pergi jauh kalau perlu untuk menghindar dari masalah. Tapi dia bukan Nara yang dulu. Lari tidak akan menyelesaikan apa-apa.

"Mama bingung, Nath. Mama tidak tahu harus bagaimana. Mama hanya ingin kedua anak Mama bahagia," ucapnya lesu.

"Lihat aku, Ma. Aku baik-baik saja sekarang. Aku sudah sembuh, dan aku akan terus baik-baik saja demi Mama." ucap Nathan mencoba menenangkan Mamanya. Sejatinya Nathan tahu Mamanya melakukan semua itu hanya karena rasa takut yang terlalu besar—rasa takut kehilangan anak-anaknya. Tapi Nathan tidak akan membiarkan Sandra memanfaatkan kelemahan Mamanya demi mewujudkan keinginan pribadinya.

"Baiklah, anggap saja kamu kali ini benar, Nath. Tapi ingat, keadaan sudah tidak sama lagi. Kamu boleh melepas Nara, tapi jangan lupa, aku yang menjadi tunangan Devan sekarang. Dan jangan harap aku akan menyerah, apalagi mengalah. Tidak akan!" ucap Sandra dengan berapi-api. "Dan untuk kamu, Ra, jangan harap kamu bisa menang sendiri," Sandra menyela, sinis. "Dengan merusak pertunangan aku sama Devan?"

"Aku tidak merusak apa-apa, Sandra. Bahkan tanpa kehadiranku pun hubunganmu dengan Pak Devan tidak akan pernah baik-baik saja. Jujur saja pada diri kamu sendiri," jawab Nara. Tetap tenang. "Pertunangan kalian retak bukan karena aku. Tapi karena dari awal Pak Devan tidak pernah menerima kamu sepenuhnya. Kamu tahu itu."

Sandra menghampiri Nara dan mendorongnya dengan kasar. Nara tidak terjatuh, tapi dorongan yang kuat cukup membuat dirinya goyah. "Kamu—" Sandra melotot menatap Nara.

"Cukup, San." Kali ini Mama yang bicara. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia menatap Nara lama, lalu ke Nathan. Anaknya yang dulu rapuh, sekarang berdiri tegak membela perempuan yang sama.

"Kita pergi dari sini. Kamu juga, Nathan. Kita pulang sekarang. Mama lelah dengan semua ini. Mama ingin menenangkan diri dulu."

Hening.

Sandra mengepalkan tangan. Dia kalah narasi. "Tapi, Tante, kita belum selesai."

Nara menatap Sandra. Tidak ada dendam atau marah. Hanya perasaan lelah. "Kalau begitu selesaikan. Lakukan sekarang juga apa yang menurut kamu belum selesai."

"Aku belum selesai dengan kamu. Akan aku pastikan kamu menyerah!" ucapnya dengan keras dan mengintimidasi.

Mama mengusap dengan sapu tangan keringat yang menetes di pelipisnya. Dia menatap Nara. Lama. Lalu mengangguk sekali. Anggukan yang beda dari kemarin. Anggukan menyerah, tapi juga merelakan.

"Kita pulang dulu, San. Masalah ini tidak akan selesai hari ini. Tante akan bicara dengan Devan terlebih dahulu."

"Tapi, Tan..."

"Tenang saja, Tante tetap di pihak kamu," ucapnya mencoba menenangkan Sandra.

Nara tercekat mendengar ucapan Mama Devan. Seperti ada pisau tajam yang sengaja ditusuk tepat di jantungnya. Lima tahun lalu Mamanya yang memisahkan mereka, maka tidak heran jika saat ini pun Mama tetap tidak berada di pihaknya. Dia mengangguk pelan, tapi tidak sanggup bicara.

Sandra tertawa sinis ke arah Nara. Melihat raut wajahnya yang pucat cukup membuat Sandra puas. "Baik, Tante. Aku tahu Tante pasti tidak akan mengecewakanku." Sandra meraih tasnya. "Kita lihat saja, Ra. Lihat saja Devan bakal milih siapa kalau Mamanya sudah turun tangan," bisiknya pelan di samping telinga Nara sebelum akhirnya mereka bertiga keluar dari rumah Nara.

"Kita pulang dulu, Ra. Kalau ada apa-apa jangan sungkan kabari aku... atau Kak Devan," ucap Nathan sebelum pergi.

Nara mengangguk lesu dan sedikit menyunggingkan bibirnya.

Baru setelah pintu tertutup, lututnya lemas. Dia melorot duduk di lantai. "Aku harus bagaimana...?" Nara terisak. Baru kali ini hatinya benar-benar hancur sejak lima tahun lalu. Dia sendiri. Merasa kosong. Dia tidak tahu harus ke mana dan bagaimana. Seandainya Ibunya masih ada, mungkin dia tidak akan merasa sehancur ini. Setidaknya ada Ibunya yang akan menguatkannya. Tapi sekarang dia sendiri... hanya sendiri.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!