NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun dalam Rahim

Rasa mual itu datang menyentak seperti gelombang pasang yang menghantam karang. Di tengah hiruk-pikuk pesta yang memuakkan di penthouse Neovault, Asha Valeska merasa dunianya seolah terbalik. Bau alkohol, asap cerutu, dan parfum menyengat para tamu undangan mendadak berubah menjadi aroma yang paling menjijikkan di dunia. Ia menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar, mencoba menahan gejolak yang naik dari perutnya yang terasa kosong dan melilit. Wajahnya yang semula sudah pucat di balik riasan tebal, kini berubah menjadi seputih kertas mayat.

​"Kenapa kau diam saja di sana? Tamu-tamu mulai haus, Asha. Cepat isi kembali gelas mereka," suara Arlan terdengar seperti petir yang menyambar di dekat telinganya.

​Asha tidak sanggup menjawab. Ia meletakkan nampan perak yang dibawanya ke atas meja marmer dengan gerakan yang limbung. Ia harus segera pergi ke toilet sebelum mempermalukan dirinya sendiri di depan kolega-kolega bisnis Arlan yang bengis. Dengan langkah yang goyah dan nyaris terjatuh, ia menerobos kerumunan orang yang menertawakan penampilannya yang terbuka dan menyedihkan.

​Sesampainya di dalam bilik toilet yang mewah namun terasa mencekik, Asha memuntahkan cairan kuning yang pahit ke dalam wastafel porselen. Tubuhnya bergetar hebat. Ia meraba perutnya yang terasa aneh. Denyutan di sana bukan sekadar rasa sakit akibat terjatuh dari tangga, melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa sangat asing namun sangat nyata. Di tengah napasnya yang tersengal, sebuah kesadaran mengerikan menghantam pikirannya seperti palu godam.

​"Tidak... ini tidak mungkin terjadi sekarang. Tidak di saat aku sedang sekarat di tangan pria itu," bisik Asha pada pantulan dirinya di cermin yang kini tampak sangat ketakutan.

​Asha menghitung siklus bulanannya di dalam kepala. Terlambat dua minggu. Gejala mual yang muncul setiap pagi di gudang dingin distrik Rust, yang semula ia kira sebagai dampak gegar otak akibat didorong Arlan, kini memiliki penjelasan yang jauh lebih masuk akal dan mematikan. Ia sedang mengandung benih dari pria yang baru saja menyeretnya di atas marmer dan membiarkan selingkuhannya menyulutkan cerutu ke bahunya.

​"Ada apa dengan wajahmu itu? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," sebuah suara yang sangat ia benci menggema dari arah pintu toilet.

​Elena berdiri di sana, menyilangkan tangan di bawah dada, menatap Asha dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kecurigaan. Ia melangkah mendekat, aroma parfum mawar yang menyengat seolah memenuhi setiap sudut ruangan kecil itu. Elena tidak sebodoh yang dipikirkan Asha. Wanita itu sudah terbiasa hidup di antara intrik dan manipulasi Neovault.

​"Kau mual, bukan? Berapa lama kau sudah mengalami ini?" tanya Elena dengan nada yang menuntut.

​Asha mencoba berdiri tegak, menghapus sisa muntahan di bibirnya. "Itu bukan urusanmu, Elena. Aku hanya merasa pening karena luka di kepalaku."

​"Jangan berbohong padaku, Jalang! Aku tahu tanda-tanda itu. Kau sedang hamil, bukan?" teriak Elena sambil menjambak lengan Asha, memaksa wanita itu menghadapnya.

​"Lepaskan aku!" Asha meronta, namun tubuhnya yang lemah tidak mampu memberikan perlawanan yang berarti.

​Elena menyeret Asha keluar dari toilet menuju ruang kerja pribadi Arlan yang terletak di bagian belakang penthouse tersebut. Di sana, Arlan sedang duduk bersama dokter pribadinya, Dr. Silas, yang dikenal sebagai tangan kanan Arlan untuk urusan-urusan yang tidak boleh diketahui publik. Arlan sedang menyesap wiskinya saat pintu dibanting terbuka oleh Elena yang penuh amarah.

​"Arlan! Lihat wanita ini! Dia menyembunyikan sesuatu darimu!" seru Elena sambil mendorong Asha hingga jatuh berlutut di hadapan Arlan.

​Arlan meletakkan gelasnya perlahan, matanya yang dingin menatap Asha dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa yang dia sembunyikan, Elena?"

​"Dia hamil, Arlan! Istrimu yang malang ini sedang mencoba mengikatmu dengan seorang ahli waris agar kau tidak bisa menceraikannya tanpa memberikan sepeser pun hartamu!" Elena berteriak histeris, wajah cantiknya kini tampak sangat mengerikan karena dendam.

​Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya suara detak jam dinding mewah yang terdengar. Arlan berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju Asha yang masih bersimpuh di lantai. Ia membungkuk, mencengkeram dagu Asha dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya membenam ke dalam kulit Asha.

​"Benarkah itu, Asha? Kau sedang hamil?" tanya Arlan dengan suara yang sangat tenang, namun ketenangan itu justru jauh lebih menakutkan daripada teriakan Elena.

​Asha menatap mata Arlan dengan keberanian yang tersisa. "Ya. Aku baru saja menyadarinya. Aku mengandung anakmu, Arlan."

​Arlan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ia tertawa. Sebuah tawa yang kering dan tanpa sedikit pun rasa bahagia. Ia melepaskan dagu Asha seolah-olah wanita itu adalah sesuatu yang sangat kotor. Ia berbalik menatap Dr. Silas yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan.

​"Silas, apakah kau membawa peralatanmu? Aku ingin kau memastikannya sekarang juga," perintah Arlan tanpa emosi.

​"Tentu, Tuan Arlan. Saya selalu siap," jawab Dr. Silas dengan suara yang datar dan profesional.

​Dr. Silas mendekati Asha, memaksanya duduk di sofa kulit yang dingin. Dengan gerakan cepat dan tanpa belas kasihan, ia melakukan pemeriksaan fisik singkat namun menyakitkan. Asha memejamkan mata, merasakan penghinaan yang semakin dalam. Setiap sentuhan Dr. Silas terasa seperti racun yang merayap di kulitnya.

​"Hasilnya positif, Tuan. Usia kandungannya sekitar enam minggu," lapor Dr. Silas setelah beberapa menit.

​Elena memekik tidak terima. "Kau tidak boleh membiarkannya, Arlan! Anak itu akan merusak rencana kita! Dia akan menuntut hak waris yang besar jika anak itu lahir!"

​Arlan kembali ke meja kerjanya. Ia mengambil sebuah map cokelat yang sudah tersiapkan di sana. Ia tidak terlihat terkejut atau ragu. Sebaliknya, ia tampak seolah-olah sudah menyiapkan skenario ini sejak lama. Pria itu menyodorkan selembar kertas dan sebuah pulpen perak ke hadapan Asha.

​"Kau benar, Elena. Anak ini adalah kesalahan. Sebuah kecelakaan yang tidak pernah masuk dalam kontrak kita," ujar Arlan sambil menatap tajam ke arah Asha.

​Asha menatap kertas itu dengan pandangan yang kabur oleh air mata. "Apa ini, Arlan?"

​"Ini adalah surat cerai kita yang sudah disempurnakan. Di bawahnya, ada surat persetujuan tindakan medis. Kau akan menggugurkan janin itu malam ini juga, di ruangan ini, oleh Dr. Silas," jawab Arlan dengan nada yang sangat datar, seolah ia sedang memesan makanan.

​Asha terkesiap, dadanya terasa sesak seolah-olah oksigen di ruangan itu telah dihisap habis. "Apa? Kau ingin aku membunuh anakku sendiri? Anakmu juga, Arlan!"

​"Itu bukan anakku. Itu hanyalah parasit yang mencoba memeras kekayaanku. Kau punya dua pilihan, Asha. Tanda tangani ini dan laksanakan prosedur itu dengan tenang, atau aku akan meminta para penjaga untuk melakukannya secara kasar di gudang Rust," ancam Arlan sambil mengetukkan pulpennya di atas meja.

​Asha menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak! Aku tidak akan melakukannya! Kau tidak bisa memaksaku membunuh janin ini!"

​"Di Neovault, aku bisa melakukan apa saja, Asha. Ingat klausul penyerahan hak asasi manusia dalam kontrakmu? Secara hukum, kau tidak punya otoritas atas tubuhmu sendiri, termasuk apa yang ada di dalam rahimmu," balas Arlan dengan senyuman yang sangat tipis dan kejam.

​Elena mendekat, ia mengambil botol kecil berisi cairan bening dari tas medis Dr. Silas. "Ini akan sangat cepat, Asha. Hanya sedikit rasa sakit, dan semuanya akan kembali normal. Arlan akan bebas dari bebannya, dan kau... kau akan segera menjadi sejarah."

​Asha menatap Dr. Silas yang mulai menyiapkan sebuah jarum suntik besar. Cairan di dalam jarum itu berkilau dingin di bawah cahaya lampu ruang kerja. Ia merasa seperti dikepung oleh iblis-iblis yang haus akan nyawa. Racun itu tidak hanya akan mengalir ke dalam rahimnya, tapi juga akan menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan yang ia miliki.

​"Silas, lakukan. Sekarang," perintah Arlan tanpa ragu.

​"Arlan, aku mohon! Jangan lakukan ini! Aku akan menandatangani apa pun, aku akan pergi dari Neovault, tapi tolong biarkan aku menjaga anak ini!" teriak Asha sambil mencoba merangkak menjauh.

​Namun, dua penjaga berbadan besar yang sejak tadi berjaga di pintu segera masuk dan memegangi tangan serta kaki Asha di atas sofa. Arlan hanya berdiri di sana, memperhatikan dengan tatapan yang sangat dingin sambil meminum wiskinya hingga tandas. Elena berdiri di sampingnya dengan senyum kemenangan yang sangat lebar, seolah ia sedang menonton pertunjukan komedi yang sangat lucu.

​"Berhentilah meronta, Asha. Ini demi kebaikanmu sendiri. Kau tidak akan mampu menghidupi anak itu di jalanan distrik Rust," ejek Elena.

​Dr. Silas mendekati paha Asha dengan jarum suntik yang sudah siap. Asha berteriak sekuat tenaga, suaranya memenuhi seluruh penthouse, namun musik pesta yang sangat keras di luar sana menenggelamkan jeritannya. Ia bisa merasakan ujung jarum yang dingin menyentuh kulitnya, bersiap untuk menyuntikkan racun yang akan mengakhiri kehidupan kecil di dalam dirinya.

​"Jangan... aku mohon... jangan..." rintih Asha dengan air mata yang mengalir deras, membasahi sofa kulit yang mahal itu.

​Tepat saat jarum itu mulai menembus kulitnya, Arlan melemparkan surat cerai itu ke atas tubuh Asha. "Tanda tangani itu setelah Silas selesai. Besok pagi, kau bukan lagi Nyonya Valeska. Kau adalah sampah Neovault yang paling hina."

​Pandangan Asha mulai menggelap karena tekanan mental dan rasa sakit yang luar biasa. Ia melihat Arlan berbalik badan, berjalan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Neovault, sama sekali tidak peduli pada penderitaan wanita yang telah mengandung darah dagingnya. Di tengah keputusasaan yang absolut, Asha menyadari bahwa di rumah ini, tidak ada satu pun ruang bagi kasih sayang, hanya ada racun yang mengalir di setiap sudut kemewahan yang dibangun Arlan. Janin di dalam rahimnya kini menjadi sasaran kemurkaan seorang pria yang lebih mencintai kekuasaan daripada nyawa manusia.

​"Ini adalah akhir dari segalanya," batin Asha saat ia merasakan cairan dingin dari suntikan itu mulai merasuk ke dalam aliran darahnya, membawa kegelapan yang lebih pekat dari malam mana pun yang pernah ia lalui di Neovault Metropolis.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!