"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Begitu Runa turun dari mobil, Mama Azel—Mama Sofia—langsung menghambur dan memeluk Runa dengan erat. Bukan pelukan formal yang kaku, melainkan pelukan hangat seorang ibu yang seolah sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun.
"Runa! Ya ampun, sayang... kamu apa kabar? Kamu makin cantik, tapi kok kurus sekali?" Mama Sofia melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Runa sambil menatapnya dengan penuh kasih sayang.
Runa terpaku, lidahnya mendadak kelu. "Tante... eh, Mama... kabar saya baik."
"Azel! Kamu kasih makan apa istrimu ini? Kenapa pipinya sampai tirus begini?" semprot Mama Sofia sambil menoleh tajam pada putranya yang baru saja menutup pintu mobil.
Azel mendengus, memasukkan tangan ke saku celananya. "Dia baru sampai, Ma. Jangan langsung disidang di halaman rumah. Dia lelah."
"Oh, iya! Benar. Ayo masuk, sayang. Mama sudah siapkan makan malam. Banyak sekali, ada rendang, sop buntut, semua kesukaan... eh, pokoknya makanan enak!" Mama Sofia menarik tangan Runa masuk ke dalam rumah yang megah itu.
Ruang makan keluarga Zelbarra terasa sangat mewah namun anehnya tetap terasa homey. Ayah Azel, Papa Bram, sudah duduk di sana sambil membaca koran digital. Begitu melihat Runa, ia meletakkan tabletnya dan tersenyum bijak.
"Selamat datang di rumah, Runa. Akhirnya si keras kepala ini membawa kamu pulang juga," ujar Papa Bram dengan nada bercanda yang menenangkan.
"Terima kasih, Om... eh, Pa," jawab Runa canggung. Ia duduk di kursi yang ditarikkan oleh Azel.
"Ayo dimakan, Runa. Jangan malu-malu," ucap Mama Sofia sambil menyendokkan nasi yang cukup banyak ke piring Runa. "Azel bilang kamu sibuk sekali mengajar di sekolah ya? Guru itu pekerjaan mulia, Mama bangga sekali punya menantu guru."
Runa menunduk, matanya panas mendengar pujian itu. "Saya cuma guru honorer di sekolah kecil, Ma. Nggak sehebat keluarga ini."
"Hush! Bicara apa kamu ini?" potong Mama Sofia lembut. "Keluarga ini jadi hebat karena pendidikan. Tanpa guru, Azel nggak akan bisa jadi CEO, dia cuma bakal jadi anak nakal yang hobi main gim."
Azel yang sedang menyesap air putih hampir tersedak. "Ma, fokus ke makanannya saja."
"Kamu juga, Azel! Lihat piring Runa. Ambilkan dagingnya, ambilkan sayurnya. Punya tangan kok cuma dipakai buat pegang berkas kantor," perintah Mama Sofia.
Azel terdiam sejenak, lalu dengan gerakan canggung namun pasti, ia mengambil sepotong daging empuk dan sayuran, meletakkannya di piring Runa.
"Makan yang banyak. Jangan cuma diaduk-aduk nasinya," bisik Azel pelan di telinga Runa, membuat bulu kuduk wanita itu merinding.
"Aku nggak bisa habiskan sebanyak ini, Zel," balas Runa berbisik, menatap piringnya yang menggunung.
"Habiskan. Atau aku yang suapi di depan Mama," ancam Azel dengan wajah datar.
Runa melotot, tapi akhirnya ia mulai menyuap nasi itu pelan-pelan. Di tengah suasana hangat itu, pikiran Runa kembali melayang pada ayahnya, adik kecilnya, dan kosannya yang sepi. Perbedaan ini terlalu mencolok. Di sini, semuanya begitu melimpah, sementara di sana...
"Runa, sayang? Kok melamun?" tanya Mama Sofia lembut. "Makanannya nggak enak ya?"
"Eh, nggak kok, Ma. Enak banget. Cuma... Runa kaget aja. Semuanya baik banget sama Runa," jawab Runa jujur, suaranya sedikit bergetar.
Papa Bram berdehem kecil. "Runa, Azel mungkin orangnya kaku dan susah bicara. Tapi dia sudah cerita semuanya soal keinginan kalian untuk menikah cepat. Kami tidak keberatan. Justru kami senang Azel akhirnya memilih orang yang benar-benar dia kenal."
Runa melirik Azel. Pria itu tampak sibuk dengan makanannya, seolah tidak peduli dengan pembicaraan itu. Tapi Runa melihat telinga Azel sedikit memerah.
"Iya, Pa. Azel... Azel memang baik," bohong Runa demi menjaga formalitas kontrak mereka.
"Baik?" Mama Sofia tertawa kecil. "Azel itu menyebalkan, Runa. Kalau dia macam-macam, kamu lapor Mama. Oh iya, besok Mama mau ajak kamu belanja ya? Baju kamu di koper tadi... sepertinya butuh teman baru di lemari."
"Nggak usah, Ma. Baju Runa masih bagus-bagus kok," tolak Runa minder.
"Nggak ada penolakan. Itu hadiah dari Mama," sahut Mama Sofia final.
Setelah makan malam yang panjang dan penuh tawa dari sisi Mama Sofia, Azel mengajak Runa naik ke lantai atas.
"Ayo. Aku tunjukkan kamarmu," kata Azel.
Runa mengikuti langkah Azel menuju sebuah kamar luas dengan balkon yang menghadap ke taman belakang. Di dalamnya terdapat tempat tidur king size dengan sprei sutra yang terlihat sangat nyaman.
"Ini... kamar kita?" tanya Runa ragu.
"Kamar aku. Dan sekarang jadi kamar kamu juga. Mama nggak boleh tahu kalau kita tidur pisah, itu bakal bikin dia curiga soal kontrak kita," Azel menjelaskan sambil membuka lemari besarnya, menyisakan ruang kosong yang cukup luas di satu sisi. "Taruh barangmu di sini."
Runa duduk di pinggir ranjang, menatap koper tuanya yang terlihat sangat kontras di tengah kemewahan kamar itu. "Zel... kenapa keluargamu baik banget? Aku merasa... aku merasa seperti penipu."
Azel berhenti merapikan bajunya. Ia berbalik dan menatap Runa yang tampak rapuh di atas ranjang besarnya.
"Karena bagi mereka, kamu bukan penipu, Runa. Kamu itu Runa yang dulu sering kirim bekal buat aku saat aku lembur di kantor lama. Mereka nggak lupa itu," jawab Azel, suaranya melembut tanpa dia sadari.
"Tapi itu dulu, Zel. Sekarang semuanya sudah beda. Aku punya GERD, aku pelupa, aku... aku kurus kering begini. Aku bukan menantu idaman siapapun."
Azel berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Runa. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu mengusap puncak kepala Runa dengan kaku.
"Memangnya siapa yang bilang aku cari menantu idaman? Aku cuma mau kamu di sini. Sudah, jangan overthinking. Mandi sana, lalu tidur. Aku tahu kamu capek."
"Tapi aku belum—"
"Jangan bawel. Mandi, atau aku yang seret kamu ke kamar mandi?" ancam Azel lagi dengan gaya tsundere-nya.
Runa mendengus, bangkit berdiri sambil mengomel kecil. "Dasar CEO otoriter. Suka banget maksa-maksa."
Azel hanya menatap punggung Runa yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Begitu pintu tertutup, Azel menghela napas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, dan mengetik satu baris kalimat baru:
’Hari pertama: Dia menangis saat makan sop buntut. Sepertinya dia merindukan rumahnya. Pastikan besok Mama tidak terlalu memaksanya belanja berlebihan agar dia tidak makin minder.’
Azel mematikan ponselnya, menyandarkan tubuhnya ke dinding, dan menunggu suara gemericik air dari dalam kamar mandi, memastikan bahwa "beban" paling berharganya itu baik-baik saja di bawah atapnya.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣