NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

POV: WAHYU

Sabtu pagi pukul enam, Wahyu mengemas tas kecilnya dengan cara yang efisien—dua kaos, satu celana jeans, perlengkapan mandi, charger, dan buku Hukum Acara yang belum selesai dibaca. Semua muat dalam satu tas ransel ukuran sedang.

Perjalanan ke rumah—di daerah Bekasi Timur—sekitar satu jam dari kostnya, kalau tidak macet. Dengan motor, lebih mudah menghindar dari kemacetan pagi.

Wahyu keluar kost pukul enam setengah, sebelum matahari terlalu tinggi. Udara pagi masih sejuk, jalanan belum terlalu ramai. Dia melajukan motor dengan kecepatan konstan, melewati jalan tol bukan sebagai pilihan—terlalu mahal untuk jarak ini—tapi melalui jalur alternatif yang sudah dia hapal sejak dulu.

Selama perjalanan, dia tidak memutar musik.

Hanya membiarkan suara angin dan deru motor mengisi telinganya, berpikir tentang apa yang menunggunya di rumah.

Dira pasti sudah bangun—adiknya itu tidak pernah bisa tidur sampai siang. Mungkin sedang nonton kartun atau bermain di halaman. Naya pasti masih tidur—bayi tiga tahun dan jadwal tidurnya yang masih tidak konsisten.

Ayahnya...

Wahyu tidak tahu bagaimana kondisi ayahnya sekarang. Ibu bilang lebih baik dari sebulan lalu, tapi "lebih baik" adalah standar yang sudah terlalu diturunkan selama delapan tahun ini.

Dia berharap hari ini ayahnya bisa makan pagi dengan nafsu makan yang wajar.

Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah dia pikirkan sekarang jadi barometer tentang bagaimana keluarganya.

Pukul tujuh lewat dua puluh, Wahyu memarkir motor di depan rumah.

Rumah kontrakan dua lantai di gang kecil—bukan besar, tapi cukup untuk empat orang. Cat dindingnya sudah agak kusam, pagar besinya berkarat di sudut-sudut, tapi halaman depannya selalu bersih karena ibu orangnya tidak bisa melihat halaman berantakan.

Sebelum Wahyu sempat mengetuk, pintu terbuka.

Dira muncul—rambut berantakan, memakai piyama bergambar dinosaurus, matanya yang masih setengah mengantuk langsung membesar begitu melihat Wahyu.

"KAK WAHYU!!!"

Dira melompat—satu gerakan yang tidak diberi aba-aba—dan Wahyu refleks membuka tangan, menangkap adiknya yang menabrak dia dengan semua energi seorang anak delapan tahun.

"Hei." Wahyu menggendong Dira, meskipun adiknya itu sudah cukup besar dan lumayan berat. "Kenapa belum mandi?"

"Baru bangun!" Dira memeluk leher Wahyu dengan kedua tangan. "Kak Wahyu kenapa lama banget nggak pulang? Dira kangen."

Wahyu merasakan sesuatu yang hangat di dadanya—sesuatu yang sederhana dan dalam.

"Sibuk," jawabnya. "Sekarang sudah pulang."

"Lama nggak?"

"Sampai besok sore."

Dira melepaskan pelukan, menatap Wahyu dengan muka serius yang lucu karena kontras dengan piyama dinosaurusnya. "Besok sore sudah harus balik?"

"Iya. Ada kuliah Senin."

Dira cemberut. Tapi tidak protes lebih jauh—sepertinya sudah cukup mengerti bahwa kakaknya selalu punya alasan yang valid untuk tidak bisa lama.

Ibu muncul dari dalam rumah, mengeringkan tangan dengan kain lap dapur. Begitu melihat Wahyu, senyumnya langsung muncul—senyum yang kelelahan tapi tulus.

"Yu, baru sampai? Sudah makan?"

"Belum, Bu."

"Masuk. Ibu masak nasi goreng. Kesukaanmu."

Wahyu mengikuti ibunya masuk, masih menggendong Dira yang menolak turun.

Rumah itu terasa sama—tata letaknya tidak berubah, furniturnya tidak berubah, bahkan aroma khasnya tidak berubah—tapi ada sesuatu yang berbeda dari dua bulan lalu. Sesuatu yang lebih sulit diidentifikasi.

Mungkin atmosfernya.

Lebih ringan.

Bukan ringan dalam artian bahagia sepenuhnya—tapi ringan dalam artian ada harapan yang tidak lagi harus disembunyikan sepenuhnya.

"Bapak sudah bangun?" tanya Wahyu ke ibunya sambil meletakkan Dira di kursi makan.

"Sudah. Lagi di teras belakang. Minta tolong sambangi ya. Dia pasti senang."

Wahyu menaruh tasnya di sudut ruang tamu, lalu berjalan melewati dapur ke teras belakang.

Ayahnya duduk di kursi rotan yang sudah setengah rusak—satu kaki kursinya disangga kayu kecil agar tidak goyang. Dia memegang secangkir teh yang kelihatannya sudah hangat, menatap tanaman-tanaman kecil di pot yang ibu rawat di sudut teras.

Mendengar langkah Wahyu, ayahnya menoleh.

Dan Wahyu melihat sesuatu di mata ayahnya yang tidak selalu ada: ketenangan.

Bukan ketenangan yang sudah sampai di tujuan—tapi ketenangan seseorang yang sudah bisa melihat bahwa perjalanan ini ada ujungnya.

"Yu." Ayahnya berdiri, sedikit lambat karena lututnya sudah tidak begitu baik. "Kapan sampai?"

"Baru. Tadi naik motor."

Ayahnya menepuk bahu Wahyu—tepukan yang solid, seperti memastikan anaknya benar-benar ada dan bukan hanya bayangan.

"Duduk. Temenin Bapak sebentar."

Wahyu duduk di kursi plastik di seberang ayahnya. Teras belakang yang menghadap ke tembok tetangga dan beberapa pot tanaman—tidak ada pemandangan istimewa, tapi ada ketenangan di sini yang tidak ada di tempat lain.

"Pak Hendra sudah hubungi Bapak tentang perkembangan terakhir?" tanya Wahyu.

Ayahnya mengangguk. "Sudah. Kemarin sore." Dia menyeruput tehnya. "Bapak sudah tidak expect terlalu banyak. Tapi... ini terasa berbeda dari sebelumnya."

"Berbeda bagaimana?"

"Sebelumnya setiap sidang terasa seperti berjalan di tempat. Maju sedikit, mundur lagi. Tapi kali ini..." Ayahnya berhenti sebentar. "Kali ini rasanya seperti benar-benar ada ujungnya."

Wahyu menatap ayahnya.

Pria enam puluh tahun yang delapan tahun hidupnya tersita oleh kasus yang bukan kesalahannya. Yang sudah kehilangan karir, aset, dan sebagian besar kawan-kawannya. Yang sekarang duduk di teras rumah kontrakan dengan secangkir teh hangat dan ekspresi yang—untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama—tidak sepenuhnya ditekan.

"Bapak tidak perlu khawatir soal biaya pengacara," ujar Wahyu. "Aku sekarang dapat proyek yang lebih stabil. Bisa cover."

Ayahnya menatap Wahyu. "Kamu tidak perlu—"

"Aku mau, Pak."

Hening sebentar.

"Kamu terlalu banyak tanggung untuk usiamu," ujar ayahnya pelan—kalimat yang sudah pernah dia katakan sebelumnya.

"Bapak juga," jawab Wahyu—juga bukan pertama kalinya.

Ayahnya tersenyum tipis. "Nanti kalau semua ini selesai, Bapak mau cari kerja lagi. Apapun. Bapak tidak bisa terus bergantung—"

"Pak." Wahyu memotong, tapi lembut. "Selesaikan dulu. Satu hal satu hal."

Ayahnya mengangguk. Kembali menatap pot-pot tanaman di sudut teras.

"Wahyu," ayahnya bersuara lagi setelah beberapa saat.

"Iya, Pak."

"Bapak dengar dari Om Ridwan, katanya kamu... ada perubahan. Terlihat lebih—apa kata Om Ridwan—'hidup' belakangan ini."

Wahyu tidak langsung menjawab.

"Om Ridwan terlalu memperhatikan."

"Mungkin." Ayahnya tersenyum lagi—lebih lebar kali ini. "Tapi Bapak perhatikan juga. Dua bulan lalu waktu kamu ke sini, matamu... berat. Seperti orang yang sudah sangat lama tidak tidur nyenyak, bukan cuma secara fisik."

Wahyu menatap tanamannya ibunya di pot—daun-daun hijau kecil yang entah bagaimana bisa tumbuh meskipun tidak selalu disiram dengan teratur.

"Ada sesuatu yang berubah," ujar Wahyu akhirnya. "Beberapa hal."

"Baik atau buruk?"

"Baik."

Ayahnya mengangguk—tidak bertanya lebih jauh, tidak mendesak. Hanya menerima jawaban itu dengan cara yang membuat Wahyu merasa tidak perlu menjelaskan lebih.

"Bapak senang."

Mereka duduk dalam diam yang nyaman sampai ibu memanggil bahwa sarapan sudah siap.

Sore harinya, Wahyu menghabiskan waktu dengan Dira.

Adiknya itu sudah menyiapkan agenda—ada PR matematika yang "susah banget" yang perlu bantuan, ada cerita tentang teman-temannya di sekolah yang sepertinya tidak ada habisnya, dan ada permintaan untuk main kartu yang Wahyu tidak bisa tolak karena Dira sudah menyiapkan kartunya dengan sangat serius di meja.

Wahyu membantu PR matematika lebih dulu—soal-soal penjumlahan dan pengurangan bilangan dua digit yang seharusnya mudah tapi entah kenapa Dira selalu salah di bagian yang sama.

"Dira, kalau ada yang minta kamu pinjam dari puluhan, itu bukan dikurangi. Itu berarti satuannya jadi sepuluh lebih."

Dira mengerutkan kening, menatap soal dengan ekspresi yang sangat serius untuk anak delapan tahun. "Jadi satuannya jadi lebih banyak?"

"Iya."

"Tapi kenapa? Kan harusnya dikurangi?"

"Karena kamu meminjam dari kolom yang lebih besar. Coba lagi."

Dira mencoba.

Salah lagi.

Wahyu bersabar—sesuatu yang dulu tidak selalu mudah baginya tapi sekarang lebih bisa dia kelola. Dia menjelaskan ulang dengan cara yang berbeda, menggunakan contoh konkret dengan koin yang Dira bawa dari celengannya.

Lima belas menit kemudian, Dira berhasil menyelesaikan empat soal berturut-turut dengan benar.

"KAK WAHYU AKU BISA!!!"

Wahyu mengangguk. "Bagus."

"Kakak bangga nggak?"

"Bangga."

Dira tersenyum lebar—senyum yang mewarisi senyum ibu, lebar dan tulus. "Kak Wahyu nggak bilang 'bagus' aja dong. Kata Ibu, kalau Dira berhasil sesuatu harus diapresiasi."

Wahyu menatap adiknya.

Lalu, dengan usaha yang tidak perlu terlalu besar sekarang, dia berkata: "Kamu pintar, Dira. Bukan karena selesai dengan cepat, tapi karena mau coba terus sampai ngerti. Itu lebih penting."

Dira terlihat sangat puas.

"Sekarang main kartu ya, Kak!"

Mereka main kartu sampai Naya bangun dari tidur siang dan langsung menuntut perhatian penuh—merangkak ke pangkuan Wahyu dengan cara yang tidak meminta izin, memegang jari Wahyu dengan kedua tangannya yang mungil, menatap Wahyu dengan mata besar yang belum sepenuhnya mengerti siapa ini tapi sudah memutuskan bahwa dia aman.

Wahyu tidak bergerak.

Membiarkan adik bungsunya duduk di pangkuannya, memegang jarinya, menatap sekelilingnya dengan mata yang masih sangat baru untuk dunia.

Tiga tahun.

Naya baru tiga tahun. Berarti ketika kasus ayah mulai, Naya bahkan belum ada di dunia ini.

Anak ini tidak pernah mengenal keluarganya dalam kondisi yang tidak tertekan. Tidak pernah melihat ayahnya sebagai orang yang bebas dari beban besar. Tidak pernah tahu versi sebelumnya dari kehidupan ini.

Tapi Naya tersenyum di pangkuan Wahyu—tanpa beban, tanpa tahu apa-apa tentang sidang dan pengadilan dan delapan tahun ketidakpastian—dan sesuatu di dalam dada Wahyu terasa seperti bergerak ke tempatnya.

Malam nanti, setelah Dira dan Naya tidur, Wahyu duduk di ruang tamu bersama ayah dan ibu. Tidak banyak yang dibicarakan—mereka menonton berita sebentar, ibu bercerita tentang tetangga, ayah bercerita tentang jadwal sidang yang sudah dikonfirmasi ulang oleh Pak Hendra.

Normal.

Sangat normal.

Sesuatu yang keluarga ini belum bisa sepenuhnya nikmati dalam waktu yang terlalu lama.

Sebelum tidur, Wahyu mengirim pesan ke Riani.

Wahyu: "Sudah di rumah. Semua baik."

Riani: "Syukurlah. Bagaimana ayahmu?"

Wahyu: "Lebih baik dari yang aku bayangkan."

Riani: "Aku lega. Nikmati waktu di sana ya."

Wahyu: "Iya. Kamu apa?"

Riani: "Lagi ngerjain tugas. Seperti biasa. Tapi baik-baik aja 😊"

Wahyu: "Jangan begadang."

Riani: "Kamu yang bilang? Yang tidur jam 2 pagi?"

Wahyu hampir tersenyum.

Wahyu: "Itu pengecualian."

Riani: "Aku juga pengecualian. Sekarang tidur sana, besok pasti Dira minta perhatian penuh dari pagi."

Wahyu: "Sudah pasti."

Riani: "Selamat malam, Wahyu."

Wahyu: "Selamat malam."

Wahyu meletakkan ponsel.

Berbaring di kasur kamarnya yang dulu—kasur yang lebih empuk dari kasur kost, di kamar yang lebih besar meskipun sudah banyak barang-barangnya dipindah ketika dia pindah ke Jakarta.

Di luar, suara jangkrik. Di dalam, suara napas Dira yang tidur di kasur sebelah—adiknya itu memaksa tidur satu kamar dengan Wahyu malam ini.

Wahyu menutup mata.

Dan tidur datang lebih cepat dari malam mana pun dalam waktu yang sangat lama.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!