NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Dua hari berlalu di rumah sakit dengan suasana yang penuh kecanggungan namun perlahan mencair.

Luka memar di wajah Xena mulai menguning, meski perban tipis masih menempel di tulang pipinya.

Setelah pemeriksaan terakhir, dokter akhirnya memberikan izin bagi Xena untuk pulang.

Prabu sudah bersiap di samping ranjang, tangannya sigap mengemasi tas kecil berisi perlengkapan selama di rumah sakit.

Ia berharap Xena akan memintanya pulang ke rumah mereka, ke tempat di mana ia bisa mulai menebus kesalahannya setiap hari.

"Kita pulang ke rumah, ya?" tanya Prabu hati-hati.

Xena menggeleng pelan. Matanya menatap lurus ke arah luar jendela, ke arah langit yang mulai cerah.

"Tidak, Pra. Kita kembali ke vila pantai. Aku sudah berjanji pada Ayah untuk menyelesaikan pengobatanmu sampai kamu bisa terbang lagi. Aku tidak suka meninggalkan pekerjaan setengah jalan."

Prabu tertegun. Ia tahu, kembalinya mereka ke pantai bukan karena Xena sudah memaafkannya, melainkan karena profesionalitasnya sebagai seorang dokter yang memegang teguh janji.

Di lobi rumah sakit, kedua orang tua Prabu sudah menunggu dengan mobil yang terisi penuh. Rupanya, mereka sudah menyiapkan segalanya.

"Ayah dan Ibu sudah menyiapkan semua bahan makanan segar di bagasi. Ada dada ayam, daging sapi, dan sayuran sesuai daftar yang Xena berikan," ucap Ibu Prabu sambil mengusap lembut lengan menantunya.

"Pakaian bersih kalian juga sudah Ayah rapikan di sana."

Ayah Prabu berdiri di samping mobil, menatap Xena dengan sorot mata yang penuh rasa haru sekaligus bangga. Beliau tahu betapa besarnya hati wanita di hadapannya ini.

Xena melangkah mendekat, mengabaikan rasa nyeri yang masih tersisa saat bergerak.

Ia memeluk tubuh Ayah mertuanya dengan erat, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria yang sudah ia anggap seperti ayah kandungnya sendiri.

"Terima kasih, Ayah. Terima kasih sudah menyiapkan semuanya untuk kami," bisik Xena tulus.

Ayah Prabu menepuk-nepuk punggung Xena, matanya berkaca-kaca.

"Ayah yang berterima kasih, Nak. Maafkan putra Ayah yang bebal ini. Jaga dirimu baik-baik di sana."

Setelah berpamitan, Prabu membantu Xena masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju pantai terasa jauh lebih sunyi dibandingkan sebelumnya.

Prabu menyetir dengan sangat hati-hati, sesekali melirik ke arah Xena yang lebih banyak diam dan menatap jalanan.

Sesampainya di vila pantai, suara deburan ombak kembali menyambut mereka. Namun, kali ini suasananya berbeda.

Tidak ada lagi tawa paksa atau kepura-puraan. Yang ada hanyalah seorang dokter yang berusaha profesional dan seorang suami yang sedang berjuang memunguti serpihan hati istrinya yang telah ia hancurkan sendiri.

"Ayo masuk, Xen. Kamu harus istirahat sebelum kita mulai sesi terapimu besok," ucap Prabu sambil membawakan tas-tas mereka.

Xena hanya mengangguk pelan, melangkah masuk ke dalam vila yang akan menjadi saksi bisu, apakah cinta mereka akan benar-benar sembuh di tepian pantai ini, atau justru akan tenggelam bersama matahari terbenam.

Xena menaruh kopernya dan setelah itu ia menuju ke dapur untuk memasak.

Ia berdiri di depan kompor, gerakannya masih sedikit kaku namun cekatan.

Aroma gurih dari kaldu sapi rendah lemak mulai memenuhi dapur vila.

Meski wajahnya masih terbalut perban tipis, ia tidak bisa membiarkan Prabu makan sembarangan.

Tangannya dengan telaten memotong sayuran, memastikan semuanya higienis dan sesuai dengan takaran gizi yang dibutuhkan suaminya.

"Pra, jangan cuma duduk. Lakukan olahraga ringan di teras. Gerakkan tangan dan kakimu supaya aliran darahmu lancar," seru Xena dari arah dapur, suaranya terdengar sedikit sengau namun tetap tegas.

Prabu yang sedang melakukan pemanasan di teras belakang tertawa kecil.

Ia menghentikan gerakannya sejenak, lalu menoleh ke arah dapur dengan senyum yang sudah lama tidak ia tunjukkan—senyum yang tulus, bukan paksaan.

"Jangan lupa minum obat sebelum makan, ya!" ucap Prabu dengan nada bicara yang sengaja dibuat-buat, menirukan suara lembut namun berwibawa milik Xena.

Xena menghentikan kegiatannya mengaduk sayur.

Ia menoleh ke arah pintu penghubung teras, menatap Prabu yang sedang nyengir ke arahnya.

"Aku sudah hapal, Xen. Semua aturanmu, semua jadwal obatku, sampai pantangan makananku... semuanya sudah terekam di sini," lanjut Prabu sambil mengetuk pelan pelipisnya.

Xena terdiam sejenak, menatap mata Prabu yang kini tampak lebih jernih.

Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di hatinya melihat perubahan sikap pria itu, namun ia segera menepisnya. Ia kembali fokus pada masakannya.

"Bagus kalau hapal. Itu demi kesehatanmu sendiri, bukan demi aku," balas Xena datar, meski sudut bibirnya hampir saja tertarik membentuk senyuman.

Prabu kembali melanjutkan gerakannya, menghirup udara pantai yang segar dalam-dalam. Ia tahu perjalanan untuk mendapatkan kembali kepercayaan Xena masih sangat jauh, tapi setidaknya di bawah aroma masakan istrinya dan suara deburan ombak, ia merasa memiliki alasan untuk berjuang sembuh—bukan hanya untuk terbang kembali ke langit, tapi untuk menjadi pria yang pantas berdiri di samping Xena.

"Selesai olahraga, langsung mandi. Air hangatnya sudah aku siapkan," tambah Xena lagi.

"Siap, Dokter Istri!" sahut Prabu lantang, membuat Xena akhirnya tak bisa menahan tawa kecilnya di balik kepul asap masakan.

Xena duduk di meja makan kayu yang menghadap langsung ke arah laut, semilir angin pantai memainkan ujung rambutnya yang terurai.

Ia baru saja menata piring-piring di atas meja saat Prabu keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah dan aroma sabun yang segar.

Prabu mendekat ke meja makan, perutnya sudah keroncongan. Namun, langkahnya terhenti saat matanya memindai dua piring yang tersaji di atas meja.

Di depannya, tersedia semangkuk besar sayuran kukus warna-warni, sop dan beberapa iris dada ayam panggang tanpa kulit yang dibumbui minimalis.

Sangat sehat, sangat proporsional untuk seorang pilot yang sedang dalam masa pemulihan.

Namun, di piring Xena, terdapat semangkuk tongseng sapi yang mengepulkan aroma rempah yang kuat.

Kuah santannya yang kuning kemerahan dengan irisan kubis dan cabai rawit utuh seolah memanggil-manggil indra penciuman Prabu.

"Kamu curang, Xen," gumam Prabu sambil menarik kursi, matanya masih tak lepas dari mangkuk tongseng itu.

Xena mengerutkan kening, ia baru saja hendak menyuap nasi merahnya.

"Curang?"

Prabu menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang dibuat memelas, persis seperti anak kecil yang dilarang membeli permen.

"Iya, curang. Kamu makan tongseng yang baunya sampai ke teras, sedangkan aku cuma dikasih sayuran dan irisan dada ayam hambar begini," keluh Prabu.

Ia melirik dadanya sendiri, lalu kembali melirik piring Xena.

"Ini diskriminasi menu namanya."

Xena meletakkan sendoknya, ia menatap Prabu dengan tatapan dokter yang tak bisa dibantah, meski ada binar geli di matanya yang sayu.

"Ingat tensimu, Pra. Ingat kadar kolesterolmu yang terakhir kali diperiksa. Tongseng ini pakai santan, bumbunya tajam. Kamu harus clean eating dulu sampai traumamu stabil dan metabolisme tubuhmu normal," jelas Xena tenang.

"Aku memasak ini karena aku butuh asupan lebih setelah dua hari cuma makan bubur rumah sakit."

"Tapi baunya, Xen. Satu suap saja, boleh ya?" rayu Prabu, mencoba meraih sendok untuk mencicipi kuah tongseng itu.

Xena dengan sigap menggeser mangkuknya menjauh dari jangkauan Prabu.

"Tidak boleh. Makan dada ayammu. Itu protein bagus untuk ototmu yang kaku karena jarang olahraga."

Prabu menghela napas panjang, akhirnya menyerah dan mulai menusuk irisan dada ayamnya dengan garpu.

"Galak sekali dokterku ini."

"Aku galak supaya kamu tidak gagal tes kesehatan lagi, Pra. Aku mau melihat kamu kembali ke kokpit, bukan kembali ke UGD," balas Xena lirih.

Mendengar kalimat itu, Prabu terdiam. Rasa lapar dan keinginannya mencicipi tongseng mendadak hilang, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dadanya.

Ia menatap istrinya yang mulai makan dengan tenang, menyadari bahwa setiap sayuran hambar yang disiapkan Xena adalah bentuk cinta yang paling nyata, meski sang istri belum mau mengakuinya.

Prabu mengunyah potongan dada ayamnya perlahan, matanya sesekali melirik ke arah Xena yang masih tenang menikmati tongsengnya.

Pertanyaan itu sudah lama bersarang di kepalanya, namun baru sekarang ia memiliki keberanian—dan suasana yang cukup tenang—untuk menanyakannya.

"Xena, kenapa kamu menjadi dokter jiwa? Bukan dokter yang lain?" tanya Prabu memecah keheningan.

Xena menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia tertegun, seolah pertanyaan itu menariknya kembali ke memori masa lalu yang cukup dalam. Ia meletakkan sendoknya dan menatap lurus ke arah deburan ombak di luar jendela vila.

"Karena luka yang paling sulit disembuhkan itu bukan luka yang kelihatan, Pra," jawab Xena lirih.

Ia menyentuh pinggiran perban di wajahnya sendiri dengan ujung jari.

"Luka di wajah ini, mungkin seminggu lagi akan hilang bekasnya. Tapi luka di dalam sini..." ia menunjuk ke arah dadanya, "...bisa butuh waktu seumur hidup untuk pulih."

Prabu terdiam, merasa jawaban itu adalah sindiran halus bagi dirinya. Namun, Xena melanjutkan penjelasannya dengan nada yang lebih profesional.

"Dulu, waktu SMA, aku sering melihat orang-orang yang terlihat baik-baik saja di luar, tapi sebenarnya hancur di dalam. Termasuk aku. Aku belajar bahwa pikiran manusia itu seperti mesin pesawat yang rumit. Kalau satu sekrup saja goyang karena trauma, seluruh sistem bisa jatuh."

Xena menatap Prabu dengan tatapan yang dalam.

"Aku ingin menjadi orang yang memegang senter di tengah kegelapan pikiran seseorang. Aku ingin membantu mereka menemukan jalan pulang saat mereka merasa tersesat dalam ketakutan mereka sendiri. Termasuk kamu."

Prabu menelan makanannya dengan susah payah. Kerongkongannya terasa tercekat.

Ia menyadari bahwa Xena memilih spesialisasi ini bukan hanya karena panggilan karier, tetapi karena ia memang memiliki empati yang sangat luas—bahkan untuk pria yang berulang kali menyakitinya.

"Kamu adalah dokter yang hebat, Xen," bisik Prabu tulus. "Dan aku adalah pasien yang paling keras kepala, ya?"

Xena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini mencapai matanya.

"Pasien yang paling keras kepala, tapi juga yang paling ingin aku lihat terbang tinggi lagi. Sekarang, habiskan makananmu. Jangan melirik tongsengku terus."

Prabu tertawa kecil dan kembali menyantap dada ayamnya.

Kali ini, makanan hambar itu terasa jauh lebih enak karena ia tahu, di balik setiap suapannya, ada doa dan harapan dari seorang wanita yang jiwanya jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah ia temui di langit.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!