NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Istri Sang Mafia

Bab 11 – Calon Istri Sang Mafia

“KAU AKAN JADI ISTRIKU.”

Kalimat itu meluncur begitu santai dari bibir Kael, namun suaranya bergema keras di seluruh aula besar itu, meledak seperti bom atom yang menghancurkan segala logika Alya.

Alya menatap pria di depannya itu seolah melihat orang gila. Mata bulatnya membelalak lebar, mulutnya terbuka sedikit tak percaya.

“Tidak.”

Kael tetap berdiri tegap, wajahnya tenang dan yakin seratus persen.

“Ya.”

“Aku bilang TIDAK! Kamu tuli apa apa?!” teriak Alya kesal setengah mati.

“Aku mendengarmu dengan jelas.”

“Terus kenapa jawabannya tetap YA?! Itu namanya nggak logis!”

Beberapa bodyguard yang berdiri berjaga di sudut ruangan langsung menundukkan kepala dalam-dalam, bahu mereka bergetar hebat menahan tawa melihat interaksi bos mereka yang aneh tapi manis ini.

Ayah Kael menyilangkan tangan di dada, wajahnya masih dingin namun ada sedikit kilat puas di matanya.

“Lihat? Bahkan gadis itu sendiri menolakmu, Kael. Kau memalukan.”

Serena yang masih berdiri di sana langsung menyeringai puas, seakan menemukan harapan baru.

Alya segera menunjuk wajah Kael dengan jari telunjuknya gemetar.

“Benar! Aku menolak! Tolong catat itu di kertas besar, kasih stempel basah, dan tempel di mana-mana! AKU MENOLAK!”

Namun bukannya mundur, Kael justru melangkah maju. Dengan gerakan cepat, ia menarik pergelangan tangan Alya dan mendekatkan gadis itu ke dalam pelukannya.

Terlalu dekat. Hawa tubuh pria itu langsung menyelimuti Alya.

“Masalahnya…” bisik Kael tepat di telinga Alya, suaranya rendah dan berat, “aku tidak menolak. Aku mau.”

Jantung Alya berdegup kacau tak karuan. Rasanya mau copot.

“Kael, lepaskan aku! Ini gila!” serunya berusaha meronta.

Kael mengabaikan perlawanan gadis itu. Ia menatap lurus ke arah ayahnya.

“Tujuh hari itu terlalu lama. Buang-buang waktu.”

Ayah Kael mengangkat sebelah alisnya, terkejut.

“Lalu?”

“Tiga hari. Acara pernikahan selesai dalam tiga hari.”

GLEK!

Seluruh ruangan seakan kehabisan oksigen.

Serena memekik kaget, wajahnya pucat pasi.

“KAEL!!! APA YANG KAU BICARKAN?!”

Alya rasanya ingin pingsan saat itu juga.

“TIGA HARI?! KAMU GILA TOTAL YA?!” pekiknya nyaris putus suaranya.

Kael menoleh ke arah Alya dengan wajah santai dan sedikit jail.

“Kau kan suka yang cepat-cepat dan praktis?”

“Aku suka KEBEBASAN!!!”

“Sayangnya stok kebebasan sudah habis. Habis diborong sama aku,” jawab Kael datar.

Alya ingin sekali mengambil vas bunga mahal di dekatnya dan melemparnya ke kepala tampan itu. Rasanya sangat ingin!

Ayah Kael tertawa pendek, suara tawanya berat dan puas.

“Bagus. Aku suka keputusan cepat. Baiklah, tiga hari. Persiapkan segalanya.”

“INI TIDAK ADIL!” Serena melangkah maju dengan wajah merah padam menahan amarah. “AKU TUNANGAN RESMINYA! KITA SUDAH BERSAMA TIGA TAHUN!”

Kael menatap wanita itu dengan tatapan dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Kau hanya tunangan di atas kertas, Serena. Hanya tinta dan perjanjian bisnis.”

“TAPI AKU MENCINTAIMU!” teriak Serena histeris, air matanya mengalir.

Kael mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Itu masalahmu. Selesaikan sendiri dengan perasaanmu sendiri. Jangan libatkan aku.”

Rasa sakit di wajah Serena begitu jelas. Ia seperti ditampar berkali-kali oleh kenyataan pahit. Ia menoleh ke arah Alya, tatapannya penuh dengan kebencian yang membara.

“Ini belum selesai, gadis kampungan. Kau belum menang.”

Setelah melontarkan ancaman itu, Serena berbalik badan dan berjalan pergi dengan langkah kaki yang keras dan marah.

Tok. Tok. Tok.

Pintu besar aula tertutup keras.

Alya menghela napas panjang, bahunya turun merasa lega setidaknya satu masalah sudah pergi.

Tapi…

Ia menoleh ke samping. Masalah utamanya masih berdiri di sana, menatapnya dengan senyum miring.

“Kita bicara. Serius.”

“Oke. Tapi kita pulang dulu.”

“SEKARANG JUGA!”

Kael menatap mata Alya yang berapi-api selama beberapa detik, lalu akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Ayo.”

 

Lima belas menit kemudian, Alya sudah duduk di kursi penumpang mobil mewah itu lagi.

Suasana di dalam mobil sangat hening. Sangat sunyi. Hanya terdengar suara mesin yang menderum halus.

Kael tampak sangat santai. Ia bahkan melepas jas hitamnya dan melipatnya rapi di kursi belakang, lalu membuka dua kancing atas kemejanya agar terlihat lebih longgar. Pria itu terlihat sangat tampan dan rileks.

Berbanding terbalik dengan Alya yang wajahnya masam mencuka dan tangannya mengepal kuat.

“Kalau kau terus menatap jendela seperti itu,” ujar Kael memecah keheningan, “kacanya bisa retak tau. Tatapanmu tajam banget.”

Alya langsung menoleh tajam.

“Kamu sadar nggak sih kamu lagi ngapain? Kamu gila ya?”

“Sering dibilang begitu sih. Jadi sudah biasa,” jawab Kael santai.

“Kamu baru saja setuju menikahiku! Tanpa tanya izin! Tanpa basa-basi! Seenak jidat sendiri!”

“Aku tahu. Aku yang ngomong.”

“TERUS KAMU TENANG-TENANG SAJA SEPERTI TIDAK ADA APA-APA?!”

“Karena aku sedang bersamamu. Jadi aku tenang,” jawab Kael mudah, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.

Alya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, frustrasi luar biasa.

“Ya Tuhan… kenapa aku bisa ketemu orang kayak dia sih…”

Tiba-tiba tangan hangat Kael menarik tangan Alya perlahan dari wajahnya. Memaksa gadis itu untuk menatapnya.

“Lihat aku.”

“Aku nggak mau!”

“Lihat. Sini.”

Dengan terpaksa dan wajah manyun, Alya menatapnya.

Mata Kael tampak gelap dan sangat serius saat ini. Tidak ada senyum jail sama sekali.

“Aku tidak bercanda soal pernikahan itu, Alya.”

“Bagus. Karena aku juga sangat serius menolak. Seratus persen menolak!”

“Kau akan berubah pikiran. Tunggu saja.”

“MIMPI!”

Kael mendekatkan wajahnya sedikit, jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter saja.

“Kau suka sekali menantangku ya?”

“Aku suka melawan orang aneh dan sok kuasa!” sanggah Alya.

Sudut bibir Kael perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang sangat mematikan.

“Aku suka itu. Aku suka saat kau melawanku. Itu bikin aku makin penasaran.”

Alya mendengus kesal dan cepat-cepat memalingkan wajah lagi.

Kenapa sih pria ini selalu sulit dibenci sepenuhnya? Kenapa jantungku selalu berkhianat? batinnya menggerutu.

 

Sesampainya di mansion pribadi Kael, Alya langsung turun dan berjalan cepat-cepat masuk ke dalam rumah, berniat mengunci diri di kamar.

“Alya.”

“Pergi sana! Jangan ikut aku!”

“Alya, dengar dulu.”

“Aku mau ketemu ibuku! Aku kangen Ibu!”

Kael berjalan cepat menyusul langkah kaki Alya yang kecil tapi cepat.

“Ibumu aman di safe house. Dia baik-baik saja, dijaga ketat. Besok pagi aku janji akan antar kau bertemu dia.”

Alya berhenti berjalan dan menoleh tajam.

“Kau janji? Kalau bohong, sumpah aku bakar rumah mewah ini habis-habisan!”

Kael melirik sekeliling mansion megahnya dengan santai.

“Oke. Kalau mau bakar, bakar bagian kiri saja ya. Bagian kanan baru selesai direnovasi, sayang kalau rusak.”

Alya menatapnya tak percaya.

“Kamu… kamu bercanda di saat begini?”

“Sedikit saja kok.”

Kael berjalan mendekat, lalu membuka pintu kamar tamu yang selama ini ditempati Alya.

“Masuk. Istirahat.”

“Aku bukan tahanan lagi lho! Aku punya hak!”

“Benar.”

“Bagus.”

“Sekarang kau bukan tahanan. Sekarang kau calon istriku. Bedanya tipis tapi fatal.”

PLAK!

Alya memukul lengan kokoh pria itu sekuat tenaga.

“BERHENTI BILANG ITU! AAAA UDAH GILA!”

Kael dengan sigap menangkap tangan kecil Alya sebelum gadis itu memukul untuk kedua kalinya. Genggamannya hangat, kuat, dan tidak menyakiti.

“Aku suka saat kau menyentuhku. Lembut sekali,” godanya lagi.

“Aku sedang MEMUKULMU! Bukan menyentuh manja-manja!”

“Masih termasuk sentuhan. Tetap aku suka.”

Alya menarik tangannya dengan kasar, wajahnya memerah padam bukan main karena malu dan marah bercampur jadi satu.

“Mesum! Gatal!”

Kael tertawa pelan. Tawa rendah yang keluar dari dadanya itu terdengar sangat dalam, sangat maskulin, dan anehnya… sangat tampan di telinga Alya.

Tanpa permisi, Kael justru melangkah masuk ke dalam kamar Alya.

“HEI! KELUAR! ITU KAMAR SAYA!”

“Tidak mau.”

“Kenapa sih?! Keluar sekarang!”

Kael berjalan santai menuju sofa empuk yang ada di dekat jendela besar. Ia duduk dengan nyaman, bersandar malas sambil menyilangkan kakinya.

“Mulai malam ini aku tidur di sini.”

Alya membeku. Seluruh darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir.

“Apa?! Kamu ngomong apa?! Gila ya?!”

“Untuk menjagamu. Ini demi keamanan.”

“Di luar banyak penjaga bersenjata lengkap! Mereka bisa jaga aku!”

“Aku tidak percaya kemampuan mereka. Aku lebih percaya diriku sendiri.”

“AKU JUGA NGGA PERCAYA KAMU! KAMU KAN MESUM!”

Kael tak peduli. Ia mulai melepas jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja kecil di samping sofa, seolah sudah betah di sana.

“Biasakan diri, Sayang. Ini cuma awal.”

Alya menunjuk pintu dengan tangan gemetar.

“KELUAR SEKARANG JUGA! ATAU AKU TERIAK!”

Kael menatapnya datar, lalu perlahan menepuk pahanya sendiri pelan-pelan dengan tangan besarnya.

“Kalau kau ingin aku keluar dan pindah tempat tidur…”

Napas Alya tercekat di tenggorokan.

“Datang dan paksa aku sendiri. Atau… tidur di sini sama aku.”

“KAAAAAAAAAAAAAAAAAEL!!!”

Wajah Alya merah total seperti kepiting rebus. Ia mengambil bantal guling di atas kasur dan melemparnya sekuat tenaga ke arah wajah menyebalkan itu.

BRUK!

Bantal itu tepat mengenai wajah Kael, tapi pria itu dengan mudah menangkapnya hanya dengan satu tangan.

“Serangan lemah. Kurang kuat,” ejeknya santai.

“MASIH ADA AMUNISI LAIN!” Alya siap mengambil bantal kedua.

Namun sebelum perang bantal yang seru itu dimulai, tiba-tiba…

WIIIIUUUU! WIIIIUUUU! WIIIIUUUU!

Suara alarm keamanan yang sangat keras dan mencekam berbunyi memekakkan telinga di seluruh penjuru mansion. Lampu-lampu di kamar berubah warna menjadi merah menyala berkedip-kedip.

Suasana santai seketika lenyap dalam sekejap mata.

Kael langsung berdiri tegak. Wajah santainya hilang berganti dengan ekspresi dingin dan mematikan.

“Apa itu?!” tanya Alya panik, jantungnya berdegup kencang karena takut.

Kael dengan gerakan cepat menarik laci meja samping tempat tidur. Di dalamnya tersimpan sebuah pistol hitam mengkilap yang siap pakai. Ia mengambilnya dan memeriksa peluru dengan gerakan terlatih.

“Musuh. Mereka masuk ke dalam rumahku.”

Kael menatap lurus ke mata Alya, sorot matanya tajam dan berbahaya.

“Dan kali ini… target utamanya bukan aku. Tapi kau."

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!