"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: LABIRIN RAHASIA DAN MATA YANG MENCARI
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Hujan di Jakarta malam ini bukan sekadar air yang jatuh dari langit; itu adalah tirai akustik yang sempurna. Melalui monitor di depanku, aku melihat tetesan air yang menghantam sensor inframerah di perimeter luar mansion, menciptakan pola gangguan yang justru memudahkan unit 'Ghost' milikku untuk bergerak tanpa terdeteksi radar satelit mana pun.
Aku duduk di kursi kebesaran di dalam pusat komando bawah tanah yang baru saja selesai kubangun—sebuah labirin teknologi yang kusembunyikan di balik gudang anggur tua milik Papa. Di sini, udara berbau seperti ozon dan logam dingin, sebuah aroma yang jauh lebih menenangkan jiwaku daripada bau bedak bayi atau susu formula.
"Unit satu, geser posisi tiga derajat ke arah jam dua. Kalian meninggalkan jejak panas yang terlalu besar di dekat pipa pembuangan. Sangat tidak efisien untuk sebuah operasi senyap," ucapku datar melalui mikrofon yang terpasang di kerah kaus hitamku.
Di layar raksasa, dua belas siluet hitam bergerak dengan presisi yang mulai mendekati standar pasukanku di kehidupan lama. Mereka bukan lagi sekadar preman mafia; mereka bertransformasi menjadi hantu.
"Leo," suara berat menyela konsentrasiku.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu siapa. Langkah kakinya berat, namun ritmenya sudah mulai menyesuaikan dengan protokol keamanan yang kutanamkan. Damian Xavier—Papa—berdiri di ambang pintu baja, menatap barisan server yang berkedip biru dengan ekspresi yang merupakan campuran antara bangga dan ngeri.
"Kau membangun garnisun militer di bawah rumah kita, Jenderal kecil," ucap Damian, melangkah mendekat. Ia meletakkan sebotol air mineral di mejaku, sebuah gestur kecil yang menunjukkan sisi 'ayah' yang mulai tumbuh di balik kulit pembunuhnya.
"Ini bukan sekadar garnisun, Papa. Ini adalah jaring laba-laba," aku memutar kursi, menatapnya lurus ke mata. "Baron sedang mengumpulkan sisa-sisa tentara bayaran 'Black Crow' di perbatasan. Dia tahu Vipera Corp sedang melakukan transisi legal, dan dia mengira itu adalah kelemahan kita. Dia mengira kita sedang menumpulkan pedang kita, padahal kita hanya sedang menyembunyikannya di balik jas mahal."
Damian menyandarkan punggungnya pada dinding beton, menyilangkan tangan di depan dada. "Dan apa rencana 'Marsekal' selanjutnya? Menyerang mereka di hutan?"
"Menyerang musuh di medan yang mereka kuasai adalah kebodohan logistik," jawabku sambil kembali menatap monitor. "Aku akan membiarkan Baron merasa dia punya peluang. Aku akan memberinya 'celah' palsu dalam sistem pengiriman logistik baru kita. Saat dia masuk ke celah itu, unit Ghost akan menutup pintu dari belakang. Sederhana, bersih, dan tanpa jejak di media massa."
Aku melihat Damian terdiam. Ia menatap tanganku yang masih sangat kecil, yang kini sedang mengoperasikan sistem navigasi drone tempur mikro. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Dia sedang melihat monster yang dia ciptakan sendiri—atau lebih tepatnya, monster yang takdir kirimkan ke pelukannya.
“Kak, Mama sedang menuju lift rahasia. Dia membawa baki berisi kue kering. Dia curiga karena Papa tidak ada di ruang kerja selama tiga jam,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.
Aku menegang sesaat. Jantungku yang berusia delapan tahun ini berkhianat, berdetak sedikit lebih cepat.
“Gunakan protokol 'Lego-Distraction', Lea! Pastikan lift itu terkunci di lantai dasar!” perintahku lewat pikiran.
“Sudah kucoba, tapi Mama menemukan kunci manual di laci meja Papa. Dia mulai belajar menjadi detektif, Kak. Sepertinya Mama mulai menyadari bahwa anak-anaknya tidak benar-benar bermain 'petak umpet' di bawah tanah,” balas Lea dengan nada yang sedikit cemas.
Aku menoleh pada Damian. "Papa, Mama sedang menuju ke sini. Lakukan sesuatu. Gunakan variabel 'romansa' atau apa pun itu untuk menghentikannya. Ruangan ini belum siap untuk matanya yang murni."
Damian tersentak, wajahnya berubah panik. Lucu sekali melihat sang Raja Mafia ketakutan hanya karena seorang wanita membawa baki kue. Ia segera berlari menuju pintu lift, mencoba menghalangi jalan masuk sebelum Qinanti melihat teknologi penghancur massa yang ada di balik punggungku.
POV: QINANTI (Mama)
Lantai di koridor bawah tanah ini terasa jauh lebih dingin daripada bagian rumah lainnya. Aku memegang nampan perak berisi biskuit jahe hangat, mencoba menenangkan debaran jantungku. Sejak pameran seni itu, ada sesuatu yang terasa... ganjil.
Damian selalu menghilang di jam-jam tertentu. Dan Leo... Leo tidak lagi bermain dengan mainan kado ulang tahunnya. Aku menemukannya sedang membongkar sebuah radio saku dan merakitnya kembali menjadi sesuatu yang tampak seperti alat penyadap. Saat aku bertanya, dia hanya menjawab, "Ini hanya proyek sains untuk efisiensi komunikasi, Ma."
Sains? Anak delapan tahun bicara tentang efisiensi komunikasi?
Aku memasukkan kunci manual ke pintu lift tua yang tersembunyi di balik rak anggur. Pintu itu terbuka dengan suara desis hidrolik yang berat—suara yang tidak seharusnya ada di sebuah gudang anggur biasa. Saat lift mulai bergerak turun, aku merasakan tekanan udara yang berubah.
Ting.
Pintu terbuka, dan hal pertama yang kulihat adalah dada bidang Damian. Dia berdiri di sana, menghalangi pandanganku sepenuhnya. Dia mengenakan kaus hitam yang sedikit berkeringat, dan napasnya tampak sedikit terengah-engah.
"Qinanti? Apa yang kau lakukan di sini?" suaranya terlalu cepat, terlalu defensif.
"Aku membawakan camilan untukmu dan Leo. Lea bilang kalian sedang bermain di bawah," aku mencoba mengintip ke balik bahunya, namun Damian bergeser mengikuti gerakanku. "Damian, apa yang ada di belakangmu? Kenapa ada suara dengungan mesin?"
"Hanya... sistem pendingin udara baru untuk koleksi anggurku, Sayang," jawab Damian sambil tersenyum canggung. Ia mengambil nampan itu dari tanganku. "Ayo kita ke atas. Di sini terlalu dingin untukmu."
"Damian, jangan berbohong padaku," aku menatap matanya dalam-dalam. "Leo ada di dalam, kan? Dan tempat ini... ini bukan gudang anggur. Aku melihat kabel fiber optik yang membentang di langit-langit lobi tadi. Sejak kapan koleksi anggur butuh koneksi internet kecepatan tinggi?"
Damian terdiam. Aku melihatnya melirik ke arah ruangan di belakangnya, seolah sedang meminta izin pada seseorang. Dan saat itulah, aku melihat bayangan kecil di dinding. Bayangan Leo.
"Mama, masuklah," suara Leo terdengar dari dalam. Dingin, jernih, dan tidak memiliki sedikit pun nada manja khas anak-anak.
Damian menghela napas panjang, akhirnya menyingkir dari jalanku. Aku melangkah masuk, dan duniaku serasa jungkir balik.
Layar monitor raksasa, peta digital dengan titik-titik yang bergerak, rak-rak server yang menderu pelan, dan di tengah semua itu, putraku duduk di atas kursi tinggi, menatapku dengan mata abu-abunya yang tajam. Dia tampak seperti seorang kaisar kecil di atas takhta teknologi.
"Leo... apa ini?" suaraku nyaris hilang.
"Ini adalah asuransi masa depan kita, Ma," ucap Leo. Ia turun dari kursi, berjalan mendekatiku dengan langkah yang begitu teratur, begitu dewasa. "Papa membangun ini agar tidak ada lagi orang jahat yang bisa menyentuh Mama. Ini adalah benteng kita."
Aku menjatuhkan piring biskuit di tanganku. Bunyi keramik yang pecah terasa seperti hatiku yang baru saja retak. "Benteng? Leo, kau masih delapan tahun! Kau seharusnya bermain bola, kau seharusnya belajar matematika dasar, bukan memantau satelit!"
Aku menoleh pada Damian dengan air mata yang mulai mengalir. "Damian, kau membiarkan anak kita melakukan ini? Kau menyeretnya ke dalam duniamu yang kotor?"
"Qin, dengarkan aku—" Damian mencoba memegang bahuku, tapi aku menepisnya.
"Tidak! Aku kabur sembilan tahun lalu agar mereka tidak menjadi monster sepertimu!" teriakku. "Tapi lihat ini! Kau mendidik Leo menjadi panglima perang di ruang bawah tanah kita sendiri!"
Suasana menjadi sangat hening. Dengungan server terasa sangat memekakkan telinga. Leo berdiri di sana, menatap biskuit yang hancur di lantai, lalu menatapku. Tidak ada rasa takut di wajahnya. Hanya ada kesedihan yang sangat tua—kesedihan yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang anak kecil.
"Mama," suara Lea terdengar dari pintu lift. Dia masuk dan langsung memeluk kakiku. "Jangan marahi Papa. Jangan marahi Kak Leo. Mereka melakukan ini karena mereka mencintai Mama. Karena duniaku dan Kak Leo... tidak pernah benar-benar aman jika kami hanya menjadi anak-anak biasa."
Aku menunduk, menatap Lea. "Apa maksudmu, Lea? Duniamu?"
Lea mendongak, dan untuk pertama kalinya, aku melihat 'topeng' imutnya retak. Matanya yang jernih kini memancarkan kecerdasan yang mengerikan. "Mama, orang-orang seperti Baron tidak akan berhenti hanya karena kita menjadi orang baik. Mereka hanya akan berhenti jika kita menjadi lebih berbahaya daripada mereka. Kak Leo hanya sedang memastikan... bahwa kita tidak akan pernah kalah dalam permainan ini lagi."
Aku terduduk di lantai dingin koridor itu, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri. Aku merasa dikelilingi oleh rahasia yang begitu besar hingga aku tidak sanggup memikulnya.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku merasakan disonansi emosional Mama meledak. Kadar kortisolnya berada di titik yang sangat berbahaya. Dia sedang mengalami guncangan realitas. Sebagai profiler, aku tahu ini adalah momen paling krusial. Jika kami tidak menanganinya dengan benar, Mama akan pergi lagi, dan kali ini, Papa tidak akan bisa menemukannya karena luka emosionalnya akan menjadi kabut yang tak tertembus.
“Kak, lakukan sesuatu. Jangan hanya berdiri di sana seperti patung batu! Gunakan variabel emosi, bukan logika militer!” desisku lewat Shadow Talk.
Leo memejamkan mata sejenak. Aku tahu dia sedang berjuang. Jiwa Marsekal-nya tidak tahu cara menangani air mata seorang ibu. Baginya, tangisan adalah tanda kekalahan. Namun, di dalam tubuh kecil ini, ada residu emosi anak delapan tahun yang sangat mencintai wanita yang sedang menangis di lantai itu.
Leo melangkah maju, perlahan, lalu berlutut di depan Mama. Dia mengambil satu keping biskuit yang masih utuh di tengah reruntuhan keramik.
"Ma," ucap Leo, suaranya sedikit goyah. "Matematika dasar itu membosankan. Aku lebih suka menghitung cara untuk membuat Mama tetap aman. Jika itu membuatku menjadi monster di mata Mama... aku tidak keberatan. Selama Mama tetap bisa melukis di galeri atas dengan tenang."
Mama mengangkat wajahnya, menatap Leo dengan pandangan yang penuh luka. "Kenapa kau bicara seperti itu, Leo? Kenapa kau tidak pernah menangis saat jatuh? Kenapa kau selalu tahu apa yang kupikirkan sebelum aku mengatakannya?"
Leo terdiam. Aku bisa melihat dia sedang mempertimbangkan untuk mengungkap jati diri kami. Tapi itu terlalu berisiko. Mama adalah manusia murni; dia tidak akan bisa menerima kenyataan bahwa anak-anaknya adalah reinkarnasi jiwa yang sudah kenyang dengan darah dan kebohongan.
"Karena aku adalah anak Papa," Leo akhirnya menjawab, memberikan alasan paling logis yang bisa diterima Mama. "Darah Xavier mengalir di tubuhku, Ma. Dan Papa bilang, pria Xavier tidak menangis. Mereka melindungi."
Damian berlutut di samping Mama, merangkulnya dengan protektif. "Maafkan aku, Qin. Aku akan menutup tempat ini jika kau mau. Aku akan mematikan semua monitor ini sekarang juga jika itu bisa membuatmu berhenti menangis."
Aku melihat Leo menegang. Dia tahu, jika pusat komando ini dimatikan, pertahanan klan Vipera akan buta terhadap serangan Baron yang sudah di ambang gerbang. Namun, Leo hanya diam, menunggu keputusan Mama. Dia bersedia mempertaruhkan nyawanya dan strateginya demi setetes air mata ibunya.
Itulah kelemahan terbesar seorang Marsekal. Dan itulah kekuatan terbesar seorang anak.
Mama menatap monitor-monitor itu, lalu menatap Leo dan aku. Dia menghapus air matanya, menarik napas panjang yang gemetar. "Jangan matikan."
Kami semua tertegun.
"Jangan matikan," ulang Mama, suaranya kini lebih stabil, meski masih ada kesedihan di sana. "Tapi berjanjilah padaku satu hal, Damian. Leo, Lea... di atas lantai ini, saat kita berada di meja makan, kalian harus menjadi anak-anakku. Kalian harus bermain, kalian harus membuat keributan, dan kalian tidak boleh bicara tentang strategi atau perang. Bisakah kalian melakukannya?"
Leo mengangguk perlahan. "Janji, Ma."
"Janji, Mama!" aku memeluknya lebih erat, merasakan kehangatan tubuhnya kembali normal.
Mama berdiri, dibantu oleh Damian. Dia melihat sekeliling ruangan itu dengan tatapan yang kini lebih berani. "Kalau begitu, bersihkan keramik pecah ini. Dan Leo... biskuit jahe itu harus dimakan habis. Itu adalah perintah dari ibumu, bukan dari bawahanmu."
Leo tersenyum tipis—senyum tulus yang sangat jarang terlihat. "Diterima, Ma. Melaksanakan perintah."
Saat mereka naik kembali ke atas, aku dan Leo tertinggal sejenak di pusat komando.
“Kak, variabel 'Suspicion' Mama belum hilang sepenuhnya. Dia hanya menekannya demi kedamaian keluarga. Kita harus lebih hati-hati,” lapor kuku lewat pikiran.
“Aku tahu, Lea. Tapi setidaknya sekarang kita tidak perlu bersembunyi di balik gudang anggur lagi,” Leo kembali ke kursinya, wajahnya kembali menjadi dingin. "Aktifkan protokol 'Normal-Child Camouflage'. Besok kita akan pergi ke taman bermain. Dan sementara itu... pastikan unit Ghost menghabisi mata-mata Baron yang sedang mengintai di luar gerbang. Tanpa suara. Tanpa noda darah di atas lantai Mama."
Aku menatap monitor. Di luar sana, di bawah hujan deras, bayangan musuh mulai mendekat. Tapi di bawah sini, di labirin rahasia Xavier, sang Marsekal dan sang Profiler baru saja mendapatkan izin dari satu-satunya orang yang paling mereka takuti di dunia: Ibu mereka.
Checkmate, Baron. Kau pikir kau bisa menghancurkan keluarga ini dari luar? Kau bahkan tidak tahu bahwa 'Ratu' kami baru saja memberikan restunya pada pedang-pedang yang akan memenggal kepalamu.