Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Topeng Lepas.(2020)
Pandemi itu datang pelan lalu tiba-tiba.
Satu hari sekolah masih buka, besoknya tutup. Satu minggu pasar masih ramai, minggu berikutnya sepi seperti habis dikosongkan. Orang-orang berhenti keluar. Orang-orang yang biasanya beli cilok di depan sekolah tidak ada karena sekolahnya tidak ada yang masuk. Pelanggan tetapku yang biasa mampir siang sudah tidak muncul karena kantornya tutup atau karena mereka sendiri tidak keluar rumah.
Penghasilanku jatuh.
Bukan jatuh pelan-pelan. Jatuh seperti orang yang sedang berdiri lalu tiba-tiba lantainya tidak ada.
Minggu pertama aku masih dapat seratus ribu lebih sehari. Cukup.
Minggu ketiga turun jadi enam puluh ribu. Mulai ketat.
Bulan kedua ada hari-hari di mana aku pulang dengan tiga puluh ribu. Kadang dua puluh lima. Satu kali bahkan delapan belas ribu karena hampir tidak ada yang keluar dan yang keluar tidak beli cilok karena sedang susah juga.
Aku tidak cerita ke Nirmala berapa persis setiap harinya. Bukan karena sengaja menyembunyikan, tapi karena setiap kali aku mencoba menjelaskan situasi ini, menjelaskan bahwa ini bukan salahku, bahwa semua orang sedang susah, yang aku dapat bukan pemahaman.
Yang aku dapat adalah tatapan.
Tatapan yang lebih menyakitkan dari kata-kata karena tidak bisa dibantah.
Hari itu aku pulang dengan tiga puluh ribu. Tiga lembar sepuluh ribu yang sudah agak lembab karena seharian di saku celana yang basah keringat. Aku taruh di meja makan. Bukan dilempar, bukan dengan gaya, cuma ditaruh seperti biasa karena memang itu yang ada.
"Segini doang?"
Nirmala berdiri di sisi meja dengan Aini di gendongan, Aini yang baru setahun lebih umurnya, yang belum bisa jalan sendiri dengan benar tapi sudah bisa berdiri pegang-pegang perabot.
"Iya. Hari ini sepi banget, orang-orang pada—"
"Tiga puluh ribu."
Dia mengulang angkanya dengan nada yang aku tidak bisa deskripsikan. Bukan marah yang meledak. Lebih ke penghinaan yang sangat dingin, yang justru lebih menusuk dari kalau dia berteriak.
"Buat makan apa tiga puluh ribu."
"Nir, aku tahu ini kurang, tapi situasinya memang—"
Uang itu direbut dari meja.
Dan sebelum aku sempat merespons, sebelum tanganku sempat bergerak, tiga lembar itu dilempar tepat ke mukaku.
Menghantam. Berserakan. Satu lembar jatuh di bahuku, satu di lantai dekat kakiku, satu terbang agak jauh ke sebelah kanan.
Ruangan itu diam.
Lalu Aini menangis.
Kaget. Tangisan bayi yang kaget karena ada gerakan tiba-tiba dan suasana yang tiba-tiba berubah, bukan karena mengerti apa yang terjadi, tapi tubuhnya merasakan sesuatu yang tidak beres dan merespons dengan satu-satunya cara yang dia bisa.
"Suami macam apa kamu."
Kalimat itu keluar datar. Sangat datar. Seperti fakta. Seperti sesuatu yang sudah lama menjadi keyakinan dan baru sekarang dianggap perlu diucapkan keras-keras.
Aku tidak bergerak.
Di pojok ruangan, Wida berdiri.
Sudah sebelas tahun. Cukup besar untuk tidak menangis kaget seperti Aini. Cukup besar untuk memahami apa yang baru saja terjadi. Tapi dia tidak takut. Tidak panik. Hanya berdiri dan menatap dengan ekspresi yang susah aku baca tapi yang lebih menyedihkan dari ekspresi takut sekalipun.
Ekspresi orang yang sudah pernah melihat ini sebelumnya.
Yang sudah hafal polanya.
Yang sedang mempelajari sesuatu dari apa yang dilihatnya, dengan cara yang anak-anak lakukan waktu mereka menyimpan sesuatu ke dalam bagian diri mereka yang akan dibawa jauh ke depan.
Nirmala masuk ke kamar dengan Aini yang masih menangis di gendongannya. Pintu tidak dibanting. Hanya ditutup.
Aku berdiri sendirian di ruang tengah.
Tiga lembar uang di lantai.
Aku berjongkok. Memungutnya satu per satu. Tangan gemetar. Bukan gemetar karena marah, atau mungkin iya marah tapi ada sesuatu di atas amarah yang lebih dominan dan lebih melelahkan dari amarah.
Sesuatu yang tidak punya nama yang bagus.
Aku masuk dapur. Tidak makan di meja makan malam itu. Duduk di lantai dapur dengan punggung di lemari bawah, piring nasi di tangan, dan Aini yang berhasil aku minta dari Nirmala setelah bayinya berhenti menangis dengan alasan aku mau gendong supaya Nirmala bisa istirahat.
Aini tidur di gendongan dengan kepala di dadaku.
Aku makan dengan satu tangan.
Nasi putih, tahu goreng satu, sambal sedikit. Itu yang ada. Aku makan pelan-pelan karena tidak benar-benar lapar tapi harus makan karena besok masih harus berangkat dan tubuh tidak bisa diajak bekerja tanpa makan.
Di dapur yang sunyi itu, dengan lampu yang agak remang karena bolanya sudah mulai minta diganti dari minggu lalu, dengan Aini yang napasnya teratur dan hangat di dadaku, untuk pertama kalinya aku membiarkan kalimat yang sudah berbulan-bulan aku hentikan di tengah itu akhirnya selesai.
Aku melakukan kesalahan.
Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk semua yang ada di belakangnya. Tapi itulah yang paling jujur. Itulah yang sudah dari lama mau selesai tapi aku potong terus di bagian tengahnya karena kalau dibiarkan selesai berarti harus mengakui sesuatu yang tidak mau aku akui.
Aku melakukan kesalahan. Aku menikahi orang yang salah. Aku mengabaikan semua tanda yang sudah bicara keras-keras sejak lama. Aku tidak mendengarkan Ibu. Dua kali. Dan sekarang aku duduk di lantai dapur dengan tiga puluh ribu yang tadi dilempar ke mukaku dan anak bayi yang sedang tidur di dadaku dan tidak ada jalan yang mudah ke depan.
Aini bergerak sedikit di gendongan. Mulutnya bergerak. Reflek mencari sesuatu yang tidak ada, lalu berhenti, lalu napasnya kembali teratur.
Aku menatap wajahnya.
Pipinya yang gembul. Bulu matanya yang panjang untuk bayi seusianya. Tangan kecilnya yang menggenggam kain gendongan di sisi dagunya.
Dan di dalam dadaku ada sesuatu yang berperang dengan sangat keras.
Bagian yang mau pergi. Yang mau mengambil Aini dan Wida dan keluar dari rumah ini dan tidak kembali. Yang sudah tidak punya tenaga untuk bertahan lebih lama di tempat yang setiap harinya mengikis sesuatu dari dalam dirinya.
Dan bagian yang tahu kalau pergi tidak semudah itu. Yang tahu ada Aini yang butuh ayahnya di rumah yang sama. Yang tahu Wida yang sudah terlanjur belajar bahwa laki-laki pergi dan tidak kembali tidak perlu belajar itu lagi dari orang yang kedua.
Dua bagian itu berbenturan dan tidak ada pemenangnya malam itu.
Aku taruh piring yang sudah kosong di samping. Membenarkan posisi Aini di gendongan supaya kepalanya lebih nyaman.
Di luar dapur, rumah sunyi.
Di dalam dada, tidak.
Tapi aku tidak berdiri. Tidak ke mana-mana.
Hanya duduk di lantai dapur itu sampai lampu luar kamar Nirmala mati dan suara televisi berhenti dan rumah benar-benar sunyi.
Baru kemudian aku berdiri. Menidurkan Aini di kasurnya yang kecil. Menyelimutinya pelan-pelan. Berdiri di samping kasurnya beberapa menit.
Lalu aku gelar sajadah di sudut kamar.
Shalat. Lama. Tidak ada kata-kata yang rapi. Hanya ada dahi yang menempel di sajadah Bapak dan napas yang masuk keluar masuk keluar sampai sesuatu yang tadi berbenturan keras di dalam dada itu sedikit mereda.
Hanya sedikit.
Tapi cukup untuk tidur.
Cukup untuk bangun besok.
Cukup untuk masih ada di sini besok pagi ketika Aini terbangun dan matanya mencari wajah yang dia kenali dan wajah yang dia temukan adalah wajahku.
Itu yang penting malam ini.
Itu saja dulu.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain