NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu Kehangatan Dulu

Vandini memperhatikan Satura saat pria itu berjongkok mengancingkan jaket Cia. Tangannya bergerak mantap, sementara suaranya tenang mendengarkan ocehan Connan soal pertandingan sepak bola.

Belakangan ini, Satura hampir datang setiap pagi. Dia mengurus banyak hal, mulai dari menyiapkan bekal hingga memastikan keperluan anak-anak dengan lengkap.

Vandini tak bisa menyangkal bahwa pria itu sangat cepat beradaptasi. Perhatiannya pada anak-anak begitu totalitas, sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya.

"Aku berangkat dulu," ucap Vandini. Ia mengecup ubun-ubun Cia lalu memeluk Connan yang langsung membalas dengan erat.

Tanpa sadar, Vandini mendekat dan mencium pipi Satura. Kebiasaan lama itu muncul begitu saja, semudah ia bernapas.

Sentuhan itu membuatnya tertegun. Vandini mundur perlahan, jantungnya berdebar tak karuan. Aroma wangi khas Satura masih tercium, mengingatkannya betapa besar pengaruh pria itu padanya.

Ia berbalik menuju pintu, namun sensasi itu tak kunjung hilang, membangkitkan perasaan yang sudah lama ia matikan.

Vandini menoleh ke belakang, mendapati Satura sedang menatapnya. Pria itu tetap tampan seperti dulu, tubuhnya adalah bentuk yang sangat ia kenal. Ia buru-buru memalingkan wajah saat kenangan lama bermunculan. Hangatnya tubuh yang saling menempel, kedekatan di keheningan malam, dan detak napas yang teratur di sampingnya saat pagi tiba.

Rasa tertarik itu kembali muncul, sebuah gairah yang dulu begitu wajar namun kini ia coba kubur dalam-dalam. Vandini mengangkat wajah, kembali bertemu tatapan Satura. Jantungnya berpacu kencang. Mata pria itu tampak intens, menyiratkan hasrat yang membuat denyut nadinya makin cepat.

Vandini memaksakan senyum tipis, berharap Satura tak menyadari lamunannya.

"Sampai nanti," ucapnya berusaha terdengar tenang, meski pipinya terasa memanas.

Begitu pintu tertutup, Vandini menghela napas panjang yang ternyata selama ini ia tahan. Bukan ini yang ia inginkan, ia tak boleh merasakan hal ini lagi. Namun percikan api itu nyata, sebuah bisikan dari masa lalu yang sulit ia pungkiri.

Vandini memakirkan mobil di depan rumah orang tua Satura. Ia mematikan mesin lalu menengok ke bangku belakang.

Connan sibuk membaca buku, sementara Cia bergumam pelan sambil memeluk boneka kesayangannya.

Anak-anak tampak sangat antusias. Mereka memang sangat menyayangi kakek dan neneknya. Setiap berkunjung, mereka pasti dimanja, diberi camilan enak, dan mendengar cerita-cerita lucu.

Namun bagi Vandini, kunjungan ini terasa rumit. Ini adalah pengingat akan masa lalu yang tak bisa ia lepaskan, namun juga tak ingin ia pegang erat lagi.

Vandini menarik napas panjang, lalu merapikan rambut anaknya. Ia keluar dari mobil, melepaskan sabuk pengaman Cia, dan membantu Connan turun. Pintu depan terbuka. Marria, ibu Satura, muncul dengan wajah ceria sambil melambai.

"Halo, cucu kesayangan Nenek!" seru Marria sambil tersenyum lebar dan membuka kedua tangan. Ia berjongkok menyambut Cia yang langsung berlari memeluknya, lalu mengangkat tubuh Connan. "Wah, kalian makin besar saja ya!"

Vandini tersenyum melihat interaksi itu. Marria memang sosok yang hangat dan membuat siapa saja merasa nyaman. Wanita itu tidak pernah menekan Vandini soal perpisahannya dengan Satura. Ia juga tidak pernah mempertanyakan keputusan yang diambil Vandini.

"Vandini, senang sekali melihatmu," sapa Marria sambil berdiri dan memeluknya singkat namun tulus. Tatapannya lembut namun seolah ingin bertanya banyak hal.

"Aku juga senang bertemu Ibu," jawab Vandini membalas pelukan itu. Ia merasakan kenyamanan yang familiar.

Di dalam rumah, anak-anak langsung berlari menemui Kakek Dannur yang sudah memanggil dari ruang tengah. Suara tawa mereka menggema memenuhi ruangan. Vandini mengikuti Marria ke dapur. Di sana, wanita itu mulai menyiapkan camilan sambil mengobrol santai.

"Bagaimana kabar kalian semua?" tanya Marria dengan nada lembut.

Vandini terdiam sejenak, tangannya terhenti di atas gelas di lemari. "Mereka... baik-baik saja. Anak-anak sehat. Kehadiran Satura setiap pagi ternyata sangat membantu. Dan aku juga..." Ia berhenti sejenak. "Jujur, aku jadi bingung," akunya sambil menatap meja dapur.

Marria menatapnya dengan tatapan penuh pengertian. Ia meraih dan menggenggam tangan Vandini.

"Nenek mengerti rasanya. Sebagai istri dan ibu, kadang kita rela berkorban demi orang yang disayang. Kita memberi lebih dari yang kita sadari, dan seringkali tanpa sadar kita justru kehilangan diri sendiri."

Dada Vandini terasa sesak mendengarnya. Kata-kata itu benar adanya. Dulu ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk keluarga hingga hampir tak ada sisa waktu untuk dirinya sendiri.

Kini saat mencoba bangkit, ia bertanya-tanya sudah berapa banyak bagian dari dirinya yang hilang tanpa imbalan.

"Apapun pilihanmu, Vandini," Marria menepuk pelan tangan Vandini, "ingatlah bahwa kamu juga berhak bahagia. Berhak menjaga diri sendiri. Mencintai itu indah, tapi bukan berarti harus mengorbankan semua keinginanmu. Kadang kita perlu belajar menyeimbangkan antara memberi untuk orang lain dan menyisakan sesuatu untuk diri sendiri."

Vandini merasa terharu. Ia tak menyangka mendapat dukungan sebesar ini. Awalnya ia pikir akan didesak untuk baikan, tapi justru Marria mengingatkannya untuk tidak memaksakan diri.

Vandini mengangguk pelan dengan senyum tipis. "Makasih, Bu. Ini... sangat membantu," ucapnya lirih.

Saat mereka duduk di meja makan, suasana terasa sangat hangat. Marria memasak banyak makanan, seolah sedang merayakan hari besar.

Vandini melihat Connan dan Cia lahap menyantap makanan sementara Dannur terus melucu. Perasaan hangat yang lama hilang perlahan kembali menyelinap.

Satura masuk tanpa suara. Ia menyapa ibunya singkat lalu tersenyum ke arah Vandini.

Pria itu duduk di kursi kosong di sebelahnya, mengacak rambut Connan dan menepuk bahu Cia dengan penuh kasih sayang. Kehadirannya terasa menenangkan.

Untuk sesaat, Vandini merasa rileks. Seakan semua beban dan ketegangan selama berbulan-bulan ini sirna begitu saja.

Tanpa sadar, pandangan Vandini tertuju pada wajah Satura. Pikirannya kembali ke pagi tadi, saat ia mencium pipi pria itu tanpa sengaja.

Kenangan itu terus menghantuinya, lembutnya kulit Satura dan tatapan pria itu yang terlihat penuh harap. Rasa ingin menyentuh dan bersandar padanya kembali muncul.

Vandini ingin sekali dipeluk olehnya, ingin merasa aman dan nyaman seperti dulu. Sebuah rasa hangat bermekaran di dadanya, membuatnya ingin semakin mendekat. Namun, secepat itu pula perasaan itu lenyap, digantikan oleh rasa mual dan dingin yang menusuk.

Ingatan itu kembali terbayang jelas di kepalanya, momen saat ia melihat Satura bersama wanita lain di hotel. Rasa kaget dan hancur itu masih terasa sangat perih.

Ia tak bisa melupakan bagaimana hatinya remuk melihat pria yang ia percaya setia ternyata mendua. Luka lama itu terbuka kembali, memadamkan secercah harapan yang baru saja muncul.

1
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!