NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: TEROR STROBERI DI BIBIR ANAYA

Matahari baru saja terbit, memancarkan sinar hangat yang menembus kaca-kaca gedung pencakar langit Jakarta.

Di kubikelnya\, Anaya menguap lebar sambil meregangkan kedua tangannya ke atas. Efek lembur gila-gilaan semalam*—ditambah drama rok sobed dan ritual es batu Pak Bima—*sukses membuat jam tidurnya terpangkas habis. Beruntung\, pagi ini suasana kantor masih cenderung sepi karena jam kerja belum resmi dimulai.

Untuk mengusir rasa kantuk yang menggelayuti matanya, Anaya menyalakan tablet kerja, membuka aplikasi memo yang berisi coretan resep pastry terbarunya. Membuat kue adalah satu-satunya pelarian terbaik dari kenyataan hidup bahwa dia punya bos super narsis.

Sambil membaca resep strawberry tartlet, tangan Anaya merogoh sebuah kotak bekal transparan di atas mejanya. Kotak itu berisi buah stroberi segar berukuran besar-besar yang merah merona, oleh-oleh dari ibunya yang baru pulang dari Lembang.

Anaya mengambil satu buah stroberi yang paling besar dan ranum. Dengan gerakan santai dan mata yang masih fokus membaca layar tablet, dia memasukkan buah asam-manis itu ke dalam mulutnya. Ibu jarinya sedikit menekan sudut bibirnya untuk menahan tetesan sari buah stroberi yang pecah di dalam mulut, meninggalkan kilau basah yang alami di atas pulasan lip balm tipisnya.

Anaya mengunyah perlahan, matanya berkedip-kedip menikmati sensasi segar yang langsung menendang rasa kantuknya. "Hmm... manis banget. Ini kalau dibikin isi croissant kayaknya mantap deh," gumam Anaya sendiri, tidak sadar bahwa aktivitas sarapan buahnya sejak semenit lalu sudah menjadi tontonan gratis yang menyiksa batin seseorang.

Di balik celah pintu ruangannya yang sengaja dibuka sedikit, Bima berdiri tegak dengan secangkir kopi hitam di tangan kanannya. Niat awalnya adalah keluar untuk meminta berkas agenda mingguan, tapi langkah kakinya mendadak terkunci di lantai begitu melihat pemandangan di kubikel sekretarisnya.

Deg.

Bima menahan napas. Matanya yang tajam langsung terpaku pada bibir ranum Anaya yang bergerak perlahan mengunyah buah stroberi tersebut. Di bawah siraman cahaya pagi, bibir wanita itu terlihat sangat merah, basah, dan... luar biasa menggoda.

Otak genius Bima yang semalam baru saja diredam pakai satu ember es batu, mendadak kembali mengalami overheating. Visualisasi renda hitam semalam belum hilang sepenuhnya, dan sekarang Anaya malah menambah daftar panjang pikiran kotornya dengan cara memakan buah stroberi secara estetik di depan matanya.

Bima menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun dengan cepat. Kehangatan kopi hitam di tangannya mendadak kalah panas dengan gejolak yang kembali membakar dadanya. Dia memperhatikan bagaimana lidah kecil Anaya sempat muncul sedikit untuk menjilat sisa sari buah di bibirnya sendiri.

Sialan. Ini cewek sengaja memancing saya pagi-pagi atau gimana sih? umpat Bima dalam hati, merasa frustrasi karena fokus kerjanya hari ini terancam hancur berantakan lagi sebelum jam sembilan pagi.

Gengsi tingginya menolak untuk keluar begitu saja dan menegur Anaya secara langsung. Dengan langkah kaki yang sengaja dibuat tenang, Bima mundur, menutup pintunya kembali, lalu berjalan cepat menuju meja kerjanya. Pria itu menyambar gagang intercom dengan gerakan tidak sabaran.

Drrrtt... Drrrtt...

Suara dengung intercom di meja Anaya berbunyi nyaring. Anaya yang baru saja mau memasukkan stroberi kedua ke dalam mulutnya langsung tersedak ludah sendiri. Dia menghela napas, menekan tombol speaker. "Ya, Pak Bima? Selamat pagi. Jadwal pagi ini baru dimulai jam sepuluh—"

"Anaya, masuk ke ruangan saya sekarang," potong Bima, suaranya terdengar sangat datar namun ada nada berat yang tidak bisa dibantah. "Bawa juga kotak bekal stroberi yang sedang kamu makan itu."

Anaya melongo, menatap gagang stroberi di tangannya dengan bingung. "Eh? Stroberi saya, Pak? Buat apa?"

"Bawa saja. Saya mau mengadakan sidak kualitas makanan yang masuk ke lingkungan area kerja CEO. Cepat," klik. Sambungan diputus secara sepihak.

Anaya mendengus sebal, menatap kotak bekalnya dengan pandangan tidak rela. "Dasar bos aneh! Masa stroberi dari Lembang mau disidak juga? Jangan-jangan dia cuma mau malak sarapan saya karena malas ke kafetaria!"

Dengan langkah malas, Anaya menutup kotak bekalnya, lalu berjalan menuju ruangan CEO. Pagi ini dia sengaja memakai celana kulot longgar berwarna krem, trauma dengan insiden rok span semalam. Dia mengetuk pintu sekali, lalu mendorongnya terbuka. "Pagi, Pak Bima. Ini stroberinya. Mau disidak bagian mananya ya?"

Bima sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya, kemeja navy-nya terkancing rapi sampai atas, mencoba menampilkan citra profesional yang sangat bertolak belakang dengan isi kepalanya. Matanya langsung tertuju pada kotak bekal yang diletakkan Anaya di atas meja marmernya.

"Taruh di situ," ujar Bima tenang, meski matanya diam-diam kembali menyapu bibir merah Anaya yang masih terlihat sedikit basah. "Perusahaan kita kan sedang mengembangkan lini bisnis Bimantara Food untuk sektor buah organik. Jadi, saya perlu memastikan setiap buah yang dikonsumsi di area ring satu ini punya standar kualitas yang setara."

Anaya melipat tangannya di depan dada, menatap Bima dengan pandangan sangat skeptis. "Pak, ini stroberi dipetik langsung dari kebun rakyat di Lembang sama saudara saya. Bukan buah impor dari luar negeri. Kualitasnya dijamin aman, gak ada racunnya kok."

"Saya gak bisa percaya begitu saja sebelum membuktikannya sendiri," sahut Bima santai. Pria itu membuka tutup kotak bekal Anaya, lalu mengambil satu buah stroberi yang paling merah. Namun, bukannya langsung memakannya, Bima justru memutar-mutar buah itu di depan matanya, sebelum pandangannya kembali beralih mengunci mata Anaya.

Jarak di antara mereka yang hanya dibatasi oleh meja marmer lebar itu mendadak terasa menyusut ketika Bima mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Kamu tadi makannya kelihatan enak banget, Anaya. Sampai belepotan begitu," bisik Bima dengan suara rendah yang mendadak terdengar begitu intim di telinga Anaya.

Anaya refleks memegang sudut bibirnya dengan panik. "Eh? Emang ada sisa buahnya ya, Pak? Serius?"

Bima terkekeh rendah, suara tawa seksi yang langsung membuat bulu kuduk Anaya meremang halus. Pria itu menggigit setengah buah stroberi di tangannya, mengunyahnya dengan gerakan yang lambat, sengaja memamerkan ketampanannya yang di atas rata-rata.

"Gak ada kok. Bersih," bohong Bima, padahal dia hanya ingin melihat reaksi salah tingkah sekretarisnya. Bima menelan buah itu, lalu menjilat bibirnya sendiri, meniru gerakan Anaya di kubikel tadi. "Hmm... rasanya manis. Tapi sepertinya masih kalah manis sama yang saya lihat di luar tadi."

Deg!

Anaya langsung mematung di tempatnya. Otaknya butuh waktu tiga detik untuk memproses arah pembicaraan bosnya. Begitu dia sadar bahwa Bima ternyata mengintipnya saat makan buah tadi, wajah Anaya langsung meledak menjadi merah padam dalam sekejap.

"Pak Bima... Bapak ngintipin saya ya?!" tuduh Anaya dengan suara yang tertahan, menunjuk Bima dengan jari telunjuknya yang gemetar karena malu.

Bima tidak membantah, dia justru menumpu dagunya dengan satu tangan, menatap Anaya dengan pandangan mata predator yang sangat puas melihat korbannya mulai terpojok dalam permainan slow burn mereka. "Saya gak ngintip, Anaya. Pintu saya kan terbuka. Kamu saja yang makannya terlalu... tidak hati-hati, sampai bikin kepala bos kamu ini mendadak pusing lagi pagi-pagi."

"Bapak beneran menyebalkan banget ya!" desis Anaya, buru-buru menyambar kotak bekal stroberinya kembali ke dalam pelukannya. "Udah ah! Sidaknya selesai kan? Saya mau lanjut kerja di luar!"

"Silakan keluar, Anaya Sandriana," ujar Bima dengan senyuman jahil yang sangat menawan terpahat di wajahnya. "Tapi tolong, sisa stroberinya ditinggal di sini. Anggap saja sebagai pajak keamanan karena kamu sudah mengacaukan pikiran saya pagi ini."

Anaya hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal, menaruh kasar tiga butir stroberi ke atas meja Bima sebelum melesat keluar ruangan dengan jantung yang berdegup kencang seperti tabuhan genderang perang. Pagi baru saja dimulai, namun Anaya tahu, pertahanan hatinya hari ini akan kembali diuji habis-habis oleh pesona sang bos narsis.

Tunggu kelanjutannya ya kakak, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!