*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 1: Hari Pertama Alya di Kafe Senja*
Hujan rintik-rintik sudah turun sejak pagi di Kota Jogja.
Alya berdiri di depan kafe kayu tua dengan papan nama cat hijau yang udah agak pudar: _Kafe Senja_.
Ia narik napas panjang.
“Oke, Alya. Kerjaan baru. Hidup baru. Nggak usah mikirin Jakarta dulu. Fokus fokus ”
Pintu kaca berderit pelan waktu ia dorong. Bau kopi, kayu basah, dan buku tua langsung nyambut hidungnya. Hangat. Tenang. Kayak pelukan.
“Selamat datang di Kafe Senja. Mau pesan apa?”
Suara itu datar, tapi nggak ketus.
Alya mendongak. Di balik meja bar, ada cowok tinggi dengan kaos hitam polos dan celemek cokelat. Rambutnya acak-acakan, matanya tajam tapi nggak menakutkan.
“Ehh… aku Alya. Barista baru.”
Cowok itu mengangguk sekali.
“Revan. Pemiliknya.”
Gitu doang. Nggak ada basa-basi, nggak ada senyum. Tapi anehnya, Alya nggak merasa nggak nyaman. Kayak dia ngerti, Revan emang orangnya begitu.
“Meja 3 kotor, meja 7 ada surat lagi. Bersihin dulu. Nanti aku ajarin cara bikin cold brew.”
Revan udah balik ngaduk susu, seolah obrolan selesai.
Alya menghela napas. _Oke, bos dingin. Challenge accepted._
---
Jam 11 siang, kafe mulai ramai. Mahasiswa, pekerja lepas, nenek-nenek bawa cucu. Semua kayak punya tempat sendiri di sini.
Alya baru selesai ngepel lantai waktu matanya tertangkap sesuatu di meja nomor 7.
Amplop cokelat tua, nggak ada nama pengirim. Di atasnya cuma ada tulisan tangan:
_Untuk yang butuh didengar hari ini_.
Alya berhenti. Jantungnya deg-degan nggak jelas.
Kemarin malam, sebelum tidur, ia nulis di notes HP:
_Aku capek jadi orang yang pura-pura kuat._
Dan isi surat itu… persis begitu.
> _Kepada kamu yang malam ini ingin menyerah,
> Kuat itu bukan berarti nggak boleh jatuh.
> Kuat itu berarti kamu bangun lagi, meski pelan.
> Hari ini kamu udah bangun. Itu cukup._
Tangan Alya gemetar waktu ngelipat suratnya lagi.
“Siapa yang nulis ini?” gumamnya pelan.
“Jangan dibuka kalau bukan buat kamu.”
Alya kaget. Revan udah berdiri di sampingnya, bawa lap dan ember.
“Eh, aku nggak—aku cuma—”
“Meja 7 emang gitu. Suratnya datang sendiri tiap Senin. Nggak ada yang tahu siapa penulisnya. Kalau bukan buat kamu, biarin aja.”
Revan lewat begitu saja, ninggalin Alya yang masih mematung.
_Datang sendiri?_
Alya nggak percaya hal kayak gitu. Tapi waktu ia ngeliat tanggal di sudut surat—14 Oktober 2024—dadanya sesak.
Itu tanggal ia kirim naskah terakhirnya ke penerbit. Dan ditolak lagi.
Kebetulan? Atau…
---
Sore menjelang tutup, hujan makin deras.
Pelanggan udah pulang semua. Tinggal Alya, Revan, dan Mas Bayu, penjual buku bekas yang biasa nongkrong di pojok.
“Suratnya dibaca ya, Nduk?” tanya Mas Bayu sambil ngopi.
Alya menoleh. “Mas tahu?”
Mas Bayu cuma ketawa.
“Kafe ini aneh, Nduk. Orang yang datang ke sini biasanya lagi nyari jawaban. Dan anehnya, jawaban itu sering datang sendiri.”
Alya diem. Ia ngeliat ke arah meja 7 yang udah kosong lagi.
“Kalau… kalau aku mau bales surat itu, kemana aku kirimnya?”
Revan yang dari tadi diam di belakang tiba-tiba ngomong, tanpa nengok.
“Meja 7. Surat yang dibales, nggak pernah kembali.”
Alya mengerutkan kening. Misterius banget orang ini.
Malam itu, waktu pulang, Alya nggak langsung tidur.
Ia buka laptop, buka file kosong. Jarinya ragu-ragu di atas keyboard.
Terus ia ngetik satu kalimat:
> _Kepada penulis surat di meja 7,
> Terima kasih. Untuk pertama kalinya, aku merasa didengar._
Ia print, lipat, dan simpan di tas.
Besok Senin.
Ia penasaran. Surat apa yang akan datang untuknya kali ini?
---
****[Bersambung]
---