Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Chen Ping, Song Jia, dan Lin Fan berbalik serempak.
"Ugh! Mereka ada di belakang kita!" teriak Song Jia mundur merapat ke arah tebing.
Lin Fan menelan ludah. Dia mengangkat pedangnya dengan tangan gemetar. Berhadapan dengan monster buas yang tidak bisa berpikir adalah satu hal, tetapi berhadapan dengan kultivator gelap pembunuh manusia adalah hal yang sama sekali berbeda.
"Hah... Jangan mendekat! Aku adalah Lin Fan, pahlawan Kelas Biasa!" ancam Lin Fan dengan suara yang dipaksakan lantang.
Kedua anggota sekte itu tertawa meremehkan.
"Pahlawan Kelas Biasa? Lucu sekali. Potong kaki mereka dan lempar ke bawah sebagai tambahan tumbal," perintah anggota sekte yang satu lagi.
Keduanya melesat maju ke arah Lin Fan dengan kecepatan sangat tinggi.
"Uwaaa!" Lin Fan memejamkan mata dan mengayunkan pedangnya secara horizontal ke arah depan tanpa melihat musuhnya.
"Merepotkan," batin Xiao Yan yang masih berdiri di belakang Lin Fan.
Xiao Yan hanya memiliki waktu satu milidetik sebelum pedang anggota sekte itu memotong leher Lin Fan.
Xiao Yan memfokuskan pikirannya. Dia mengambil sebutir batu seukuran kacang hijau dari saku celananya. Dengan jentikan jari manisnya yang tersembunyi di balik badan Lin Fan, Xiao Yan menembakkan kerikil itu.
"Wusss!"
Kerikil kecil itu melesat memecah kecepatan suara tanpa menghasilkan suara ledakan sonik karena Xiao Yan mengendalikan gesekan udaranya.
"Tuk! Tuk!"
Batu itu mengenai dahi anggota sekte pertama, langsung melubanginya, lalu tembus dan mengenai pelipis anggota sekte kedua.
Kedua pria berjubah merah itu kehilangan nyawa mereka di udara bahkan sebelum tubuh mereka sempat menyelesaikan lompatan. Momentum tubuh mereka membuat mereka menabrak pedang Lin Fan yang sedang diayunkan mendatar.
"Cras! Cras!"
Pedang Lin Fan memotong dada kedua pria yang sudah mati itu. Tubuh mereka jatuh terjerembap ke tanah tepat di depan sepatu Lin Fan. Tidak bergerak lagi.
Lin Fan membuka matanya perlahan. Napasnya terengah-engah. Dia melihat dua kultivator pembunuh itu sudah mati berlumuran darah di depannya.
"Ugh... Hah?" Lin Fan menatap pedangnya sendiri dengan rasa tidak percaya yang sangat besar.
"Luar biasa!" bisik Chen Ping dengan mata berbinar. "Lin Fan! Kau membunuh mereka berdua dalam satu tebasan silang! Kecepatanmu tadi tidak terlihat oleh mata telanjang!"
"Hah... Kau hebat, Lin Fan," tambah Song Jia sambil mengusap dadanya lega.
Xiao Yan yang berdiri di belakang memasukkan kembali tangannya ke dalam saku.
"Ya. Potensi pahlawanmu sangat besar," puji Xiao Yan datar.
Lin Fan menatap kedua tangannya.
"Hahahaha! Tentu saja! Sudah kubilang aku ini sangat kuat!" seru Lin Fan dengan kepercayaan diri yang meluap-luap. "Mereka ternyata lebih lemah dari beruang semalam! Kalau begitu, aku akan turun ke bawah dan menghabisi sisanya!"
"Tunggu," Xiao Yan menarik kerah jaket Lin Fan dari belakang.
"Ugh! Kenapa kau menahanku, Xiao Yan?" protes Lin Fan.
"Kau membunuh mereka karena serangan mendadak," jawab Xiao Yan datar. "Jika kau melompat turun ke lembah, sepuluh orang di bawah sana akan menyerangmu bersamaan. Pemimpin mereka memakai topeng hitam. Dia pasti jauh lebih kuat."
"Lalu? Apa kita akan membiarkan Su Xue mati?" tanya Lin Fan kesal.
"Tidak. Kita gunakan sebuah taktik," jawab Xiao Yan. Dia menunjuk ke arah tebing berbatu di sisi berlawanan lembah. "Kau lihat batu-batu besar di tebing seberang sana? Kita bagi tugas."
"Taktik apa?" tanya Chen Ping mendekat.
"Chen Ping dan Song Jia, kalian cari jalan memutar yang tertutup semak untuk turun mendekati tepi formasi cahaya. Tunggu aba-aba dariku," perintah Xiao Yan.
"B-Baik," jawab Chen Ping mengangguk.
"Lin Fan, kau adalah petarung terkuat kita," kata Xiao Yan dengan ekspresi sangat meyakinkan. "Kau berdirilah di atas batu tebing yang paling menonjol itu. Saat aku melempar batu kecil ke arah bawah, kau teriak dengan suara yang sangat keras untuk mengalihkan perhatian semua sekte itu ke arahmu."
"Ugh... Hanya berteriak? Aku tidak ikut bertarung?" tanya Lin Fan kecewa.
"Teriakanmu adalah senjata utama. Mereka akan ketakutan melihat pembunuh beruang ada di sini," ucap Xiao Yan bohong. "Saat mereka fokus padamu, Chen Ping dan Song Jia akan berlari menarik Su Xue dan yang lainnya keluar dari batas formasi. Setelah mereka aman, kita semua lari ke dalam kabut."
"Hah... Strategi pengalihan," Lin Fan mengangguk-angguk paham. "Baiklah. Masuk akal. Lalu apa tugasmu, Xiao Yan?"
"Tugasku adalah melempar batu sebagai aba-aba. Aku tidak bisa bertarung," jawab Xiao Yan datar.
"Baiklah! Kalau begitu ayo kita bergerak!" perintah Lin Fan bersemangat.
Chen Ping dan Song Jia segera merangkak menjauh, menuruni sisi lereng yang lebih landai dan tertutup bayangan pohon. Lin Fan berlari mengendap-endap menuju batu besar di tebing tertinggi.
Xiao Yan berdiri sendirian di tepi lereng asalnya. Dia menatap ke arah lembah di bawah. Formasi merah itu semakin terang. Su Xue sudah terlihat sangat lemas, wajahnya memucat karena kehabisan darah.
"Waktu tersisa sebelum segel terbuka adalah Empat puluh detik," batin Xiao Yan menghitung aliran energi di tanah.
Xiao Yan melihat Lin Fan yang sudah bersiap di atas batu tinggi di seberang sana. Lin Fan memberikan isyarat ibu jari ke arah Xiao Yan.