Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.
Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.
Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Tanah Misterius
Sore itu, Aureliana Virestha kembali memasuki ruang miliknya dengan langkah yang lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Perpindahan antara dunia nyata dan tempat ini tidak lagi membuatnya tegang seperti awal-awal, justru terasa semakin alami, seolah tubuh dan kesadarannya mulai beradaptasi dengan sesuatu yang dulunya terasa mustahil.
Ia berdiri di tengah ruang itu, membiarkan pandangannya menyapu setiap sudut yang ada. Cahaya samar yang bercampur dengan kegelapan tetap sama, tidak berubah, tetapi perasaannya terhadap tempat ini sudah berbeda.
Sudut tempat ia menyimpan barang masih seperti terakhir kali ia tinggalkan. Ponsel, kotak buah, roti, dan botol susu tersusun rapi tanpa satu pun bergeser. Tidak ada tanda pembusukan, tidak ada perubahan warna, bahkan tidak ada aroma yang berubah.
Semua diam dalam keadaan yang sama.
Waktu di sini berjalan dengan cara yang berbeda, dan ia sudah mulai memahami bagian itu sedikit demi sedikit. Hal yang awalnya terasa aneh kini menjadi sesuatu yang bisa ia prediksi.
Namun kali ini, ia tidak langsung menuju sudut tersebut.
Ada dorongan kecil dalam dirinya, sesuatu yang tidak ia rasakan sebelumnya. Bukan sekadar ingin memastikan barang-barangnya masih ada, melainkan keinginan untuk mencoba sesuatu yang lebih.
Sesuatu yang belum pernah ia lakukan.
Aureliana melangkah perlahan ke arah lain, bagian ruang yang jarang ia perhatikan. Meskipun tidak luas, selama ini ia hanya memanfaatkan sebagian kecil dari tempat ini.
Fokusnya sederhana.
Masuk.
Menyimpan.
Keluar.
Namun sekarang, pola itu terasa terlalu sempit untuk sesuatu yang memiliki potensi sebesar ini.
Langkahnya berhenti di satu titik.
Alisnya sedikit mengernyit.
Di sana, di bagian yang sebelumnya ia anggap sama seperti area lain, ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan karena terlihat mencolok, melainkan karena sensasinya tidak sama.
Permukaan di bawah kakinya tidak lagi terasa dingin dan halus seperti lantai transparan yang biasa ia pijak.
Melainkan lebih kasar.
Aureliana menunduk, lalu berjongkok perlahan. Tangannya terulur dengan hati-hati, menyentuh permukaan itu seolah takut bahwa benda tersebut akan menghilang jika ia terlalu cepat bergerak.
Jari-jarinya menyentuh butiran halus.
Tanah.
Ia terdiam beberapa detik, mencoba memastikan bahwa apa yang ia rasakan bukan sekadar ilusi. Ia mengusapnya perlahan, merasakan teksturnya dengan lebih jelas.
“Ini…”
Suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang tertahan.
Ia yakin sebelumnya tempat ini tidak memiliki bagian seperti ini. Semua permukaan terasa seragam, tidak ada perbedaan, tidak ada variasi.
Namun sekarang, ada area kecil yang benar-benar berbeda.
Tidak luas, mungkin hanya beberapa langkah saja, tetapi cukup untuk mengubah cara pandangnya.
Aureliana duduk di dekat area itu, matanya tidak lepas dari tanah yang baru ia temukan.
“Kenapa ada ini di sini…”
Ia mencoba mengingat kembali setiap kunjungan sebelumnya, mencoba mencari apakah ia pernah melewatkan hal ini.
Tidak.
Ia yakin tidak pernah melihatnya.
Artinya, sesuatu telah berubah.
Dan perubahan itu terjadi setelah ia mulai menggunakan ruang ini lebih sering, setelah ia mulai membawa dan menyimpan benda, setelah ia mulai berinteraksi lebih dalam.
Pikirannya berhenti di sana sejenak.
Sebuah kemungkinan muncul, tetapi ia tidak langsung menerimanya.
Ia mengulurkan tangan lagi, kali ini menggali sedikit tanah itu. Tidak terlalu dalam, hanya untuk memastikan bahwa ini benar-benar nyata.
Butirannya terasa lembap.
Seperti tanah sungguhan.
Aureliana menarik tangannya kembali, menatap jari-jarinya yang kini sedikit kotor. Perasaan aneh muncul di dalam dirinya, bukan rasa takut, melainkan rasa ingin tahu yang semakin kuat.
Ia berdiri perlahan, lalu menoleh ke arah sudut tempat ia menyimpan makanan. Di sana, buah-buahan masih tersisa dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya.
Aureliana berjalan ke sana, mengambil satu potong apel. Ia memutar potongan itu di tangannya, menatapnya dengan ekspresi berpikir.
Sebuah ide muncul.
Sederhana.
Hampir terasa tidak masuk akal.
Namun entah kenapa, ia ingin mencobanya.
Ia kembali ke area tanah itu, lalu berjongkok lagi.
“Apa ini bisa…” gumamnya pelan.
Ia tidak langsung bertindak. Tangannya masih memegang potongan apel, pikirannya mempertimbangkan kemungkinan yang ada.
Menanam sesuatu di tempat seperti ini terdengar aneh.
Ini bukan dunia nyata.
Ini bukan tempat yang seharusnya memiliki kehidupan.
Namun di sisi lain, semua yang terjadi di sini sudah melampaui batas yang bisa dijelaskan dengan logika biasa.
Aureliana menghela napas pelan.
“Cuma coba saja.”
Ia menggali sedikit tanah dengan tangannya, membuat lubang kecil. Tidak terlalu dalam, hanya cukup untuk menaruh sesuatu.
Namun ia berhenti lagi.
“Kalau pakai apel… terlalu besar.”
Ia berpikir sejenak, lalu berdiri dan kembali ke sudut. Dari kotak buah, ia mencari bagian yang tersisa, lalu menemukan biji kecil dari potongan apel sebelumnya.
Ia memperhatikannya sebentar.
Lebih masuk akal.
Ia kembali ke area tanah itu, lalu dengan hati-hati menaruh biji tersebut ke dalam lubang kecil yang ia buat. Tangannya bergerak pelan saat menutup kembali tanah itu, memastikan semuanya tertutup dengan rapi.
Selesai.
Aureliana duduk di depannya, menatap tempat kecil itu tanpa bergerak. Tidak ada perubahan, tidak ada tanda reaksi.
Semua tetap sama.
Ia tersenyum tipis, merasa sedikit bodoh dengan apa yang baru saja ia lakukan.
“Ya jelas saja…” gumamnya pelan.
Namun ia tidak langsung pergi. Ia tetap duduk di sana, membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan apa pun. Entah kenapa, ada bagian dalam dirinya yang masih berharap sesuatu akan terjadi.
Namun tidak ada perubahan.
Aureliana akhirnya berdiri, menghela napas pelan.
“Sudahlah.”
Ia memutuskan untuk kembali ke dunia nyata.
Kesadarannya berpindah dengan cepat.
Cahaya berubah.
Dan ketika ia membuka mata, ia kembali ke kamar rumah sakit.
Ia menyandarkan tubuhnya ke bantal, mencoba mengalihkan pikirannya dari hal yang baru saja ia lakukan. Menanam sesuatu di ruang aneh terasa seperti ide yang tidak masuk akal, tetapi juga tidak sepenuhnya bisa ia abaikan.
Beberapa menit berlalu.
Ruangan tetap tenang.
Namun rasa penasaran itu kembali muncul, perlahan tetapi pasti.
Aureliana membuka mata, menatap langit-langit.
“Kalau memang tidak terjadi apa-apa… harusnya sama saja.”
Kalimat itu seperti dorongan kecil yang tidak bisa ia abaikan.
Ia menutup mata lagi.
Masuk.
Kesadarannya kembali berpindah ke ruang itu.
Ia langsung membuka mata, langkahnya cepat menuju area tanah.
Dan saat ia melihatnya—
napasnya tertahan.
Di sana, di titik kecil tempat ia menanam biji itu, ada sesuatu yang berbeda.
Sangat kecil.
Namun jelas.
Tunas.
Aureliana mendekat perlahan, berjongkok dengan gerakan hati-hati. Matanya fokus, mencoba memastikan bahwa apa yang ia lihat bukan kesalahan.
Benar.
Tunas kecil berwarna hijau muncul dari permukaan tanah.
Masih rapuh.
Masih sangat kecil.
Namun nyata.
“Itu…”
Suaranya hampir tidak terdengar.
Pikirannya langsung berputar, mencoba memahami apa yang terjadi. Ia baru saja menanam biji itu, belum lama berlalu sejak saat itu.
Tidak mungkin sesuatu bisa tumbuh secepat ini.
Kecuali…
Tempat ini memang berbeda secara mendasar.
Aureliana mengulurkan tangan, hampir menyentuh tunas itu, tetapi ia berhenti di tengah jalan. Ia tidak berani mengambil risiko, takut sentuhan kecil saja bisa merusaknya.
Ia hanya menatap.
Memperhatikan setiap detail.
Warna hijaunya.
Bentuknya yang masih kecil.
Dan keberadaannya di tempat yang seharusnya tidak mendukung kehidupan.
Aureliana perlahan duduk di depan tanah itu, matanya tidak lepas dari tunas kecil tersebut. Perasaan yang muncul bukan hanya terkejut, tetapi sesuatu yang lebih dalam.
Kesadaran.
Ruang ini bukan hanya tempat untuk menyimpan benda atau bersembunyi dari dunia luar.
Tempat ini bisa mempengaruhi sesuatu.
Bisa mempercepat proses yang seharusnya membutuhkan waktu lama.
Aureliana menelan ludah, pikirannya mulai bergerak lebih jauh dari sebelumnya. Jika tanaman bisa tumbuh di sini, maka kemungkinan yang terbuka tidak berhenti di situ.
Seberapa cepat pertumbuhannya.
Seberapa besar yang bisa dicapai.
Dan apa lagi yang bisa ia lakukan dengan ini.
Ia mengangkat kepala perlahan, menatap ruang di sekelilingnya dengan pandangan yang berbeda. Tidak lagi melihat kehampaan yang membingungkan, melainkan sesuatu yang memiliki potensi besar.
Sesuatu yang bisa ia pelajari.
Sesuatu yang bisa ia manfaatkan.
Aureliana kembali menatap tunas kecil itu.
Hijau.
Hidup.
Dan tumbuh di tempat yang tidak seharusnya memiliki kehidupan.
Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Senyum tipis muncul di wajahnya, bukan karena kegembiraan yang berlebihan, tetapi karena pemahaman yang mulai terbentuk.
Ruang ini bukan cuma penyimpanan.
Ini adalah sesuatu yang jauh lebih berharga.