Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintip
“Ah!” teriak Vera saat dia merasakan sensasi cubitan keras di dalam dirinya. Dia diam, menatap ke arah Sean, matanya cerah penuh kemenangan yang meluap. Mulutnya terbuka sedikit, dan napasnya mendengus. Lalu dia tersenyum penuh arti.
“Kamu sempit sekali, Sayang. Padahal kita udah sering main, tapi kamu masih tetap sempit.”
Vera mengangguk, matanya melebar, tangannya mencengkeram seprei. Dia merasa begitu penuh. Sean tetap diam, membiarkan Vera menyesuaikan diri terhadap rasa mengganggu yang luar biasa dari dirinya dalam diri Vera.
“Demi Tuhan, Sean. Cepat bergerak. Aku udah nggak tahan. Uh!”
Sean terkekeh. “Astaga, kamu ini benar-benar nggak sabaran, ya.”
“Cepat sedikit, Sean.”
Sambil masih terkekeh Sean kemudian mulai bergerak maju lalu mundur dengan kelambatan yang halus. Dia melakukannya secara berulang-ulang dengan irama yang bertambah cepat. Saat gerakan Sean semakin cepat, dia pun menutup matanya dan mengerang sambil mengentak lebih dalam lagi. Vera pun seketika menggeliat-geliat sambil meneriakkan kenikmatan.
“Bagaimana, nikmat, bukan?” Sean berbisik, suaranya kasar.
“Ya. Nikmat sekali. Uh!” Vera bernapas. Sean pun melakukannya sekali lagi, dan berhenti lagi.
“Mau lagi?”
“Ya, tentu saja.” Vera mengerang. Tubuhnya tidak ingin Sean berhenti menyentuhnya.
“Lagi?” Sean kembali bertanya pada Vera untuk menggodanya.
“Ya,” sahut Vera serak. “Tolong agak sedikit lebih lama, Sean. Aku masih belum puas.”
“Kamu memang pintar, Sayang. Tahu saja yang nikmat,” ujar Sean sambil tersenyum penuh kemenangan. Tanpa mengatakan apa pun lagi dia kembali bergerak, tapi kali ini dia tak berhenti. Dia bergeser ke siku sehingga Vera dapat merasakan berat badannya menahan dari bawah. Dia bergerak perlahan pada awalnya, menggerakkan dirinya sendiri keluar dan masuk ke dalam diri Vera. Dan saat Vera mulai menjadi tidak sabar, pinggulnya secara naluriah bergerak untuk mengimbangi Sean.
“Emh!”
Sean mempercepat geraknya. Vera mengerang, dan dia bergerak terus, menambah kecepatan sesuai yang Vera inginkan, tanpa ampun terus bergerak maju mundur.
Vera mengikuti, mengimbangi dorongan dari dalam dirinya. Sean menggenggam kepala Vera dengan kedua tangannya dan mencium kekasihnya dengan cukup keras. Giginya yang putih dan rapi menarik bibir bawah Vera lalu menghisapnya kuat-kuat seolah sedang memerah madu.
Sean mendorong dan terus menerus bergerak. Kecepatannya bertambah lebih cepat. Tubuh Vera bergetar, perutnya mengejang, butir keringatnya keluar.
“Uh!”
“Keluarlah untukku, Sayang. Ayo, cepat keluar,” bisik Sean terengah-engah.
“Ah!” Vera berseru saat mencapai puncak kenikmatannya. Dia seperti pecah berkeping-keping di bawah tubuh Sean. Dan saat Sean mencapai puncak kenikmatannya juga dia memanggil nama Vera,mendorong dengan keras, kemudian menegang saat dia mengosongkan dirinya ke dalam diri wanita itu.
Vera masih terengah-engah, mencoba untuk mengatur napasnya, jantung berdebar, dan pikirannya kacau tak beraturan.
Sean membuka mata, dan dahinya menekan dahi Vera, matanya tertutup, napasnya memburu. Dia masih berada dalam diri Vera. Condong ke bawah, dia dengan lembut menekan ciuman di dahi Vera lalu perlahan-lahan menarik keluar dari dalam dirinya.
“Bagaimana, Sayang? Kamu menikmatinya?” tanya Sean.
“Sangat. Nikmat sekali,” jawab Vera. Tapi nada bicaranya menyiratkan jika dirinya masih belum puas. Dan hal itu disadari oleh Sean yang memang sangat peka.
“Apa kamu masih belum puas?” Sean langsung bertanya.
“Aku emang masih belum puas bercinta sama kamu, Sean. Akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk bekerja, sampai-sampai kamu nggak punya cukup waktu buat aku,” jawab Vera jujur. “Karena itu, aku ingin kita melakukannya lagi. Sampai puas. Agar kerinduanku terbayar tuntas.”
“Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini aku terlalu sibuk sama pekerjaanku,” kata Sean. “Baiklah, mari kita tuntaskan kerinduan ini sampai kamu puas.”
Sean mengembuskan napas lalu mulai menciumi Vera di sekitar telinga dan turun ke bawah ke leher. Tangannya juga ikut bergerak ke bawah, membelai pinggang Vera di atas pangkal paha, dan ke bawah paha ke bagian belakang lutut. Dia mendorong lutut Vera sampai lebih tinggi.
Sean bergeser di antara kedua kaki Vera, menekan punggungnya, dan tangannya bergerak ke atas paha sampa ke pinggul. Dia membelai dengan pelan, dan kemudian menjalankan jari-jarinya di antara kedua kaki Vera.
“Sekarang kita bermain dari belakang seperti yang kamu sukai,” bisiknya, dan dengan tangannya yang lain, dia mencengkeram rambut Vera di tengkuk menggenggam dan menarik lembut, menahan di tempat. Vera pun tidak bisa menggerakkan kepala. Dia terikat di bawahnya, tak berdaya.
“Kamu adalah milikku, Vera,” bisik Sean. “Sekarang dan selamanya kamu milikku. Jangan lupakan itu.”
Suaranya memabukkan, kata-katanya memabukkan, merayu. Vera merasakan ereksi kekasihnya menekan di paha. Jari yang panjang berputar memijat lembut titik sensitif Vera, berputar-putar dengan perlahan tapi teratur. Napas Sean yang lembut menerpa wajah Vera saat dia perlahan menggigitnya di sepanjang rahang.
“Kamu benar-benar cantik, Sayang. Cantik dan nikmat.”
Sean bergerak mencium belakang telinga Vera. Tangannya menggesek, berputar-putar. Karena refleks, pinggul Vera berputar, mengikuti gerakan tangan Sean saat lonjakan kenikmatan menyiksa melalui darah seperti adrenalin.
“Emh!”
“Kamu sudah siap?”
“Ya.”
“Mari kita bercinta sampai pagi tiba,” gumam Sean. Suaranya lembut tapi mendesak, dan perlahan-lahan dia memasukkan ibu jarinya ke dalam diri Vera, berputar-putar, membelai dinding depan. Efeknya intens mempengaruhi pikiran. Semua energi Vera berkonsentrasi pada satu ruang kecil di dalam tubuhnya. Dia pun mengerang. Dan pada saat yang bersamaan Sean memasukinya dari belakang tanpa aba-aba.
“Ah!”
“Yang belakang ternyata jauh lebih ketat lagi,” gumam Sean. “Nikmat sekali, Sayang.”
Vera hanya bisa mengerang sambil menggigit bibir bawahnya karena Sean mempermainkannya dari depan dan belakang. Jarinya masih aktif memijit dan berputar-putar, sementara dia bergerak maju mundur dari belakang. Napasnya memburu semakin cepat saat dia merasakan dirinya akan segera mencapai puncak kenikmatan.
Begitu juga dengan Sean. Dia bergerak semakin cepat, lebih cepat lagi. Dan, pada saat ledakan kenikmatan itu mulai mengalun, Vera melengkung sambil berteriak keras meneriakan nama Sean.
Beberapa saat kemudian, Sean juga akhirnya mencapai klimaks. Akan tetapi, dia hanya berhenti sebentar. Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat dia menarik dirinya dan langsung melumat bibir Vera dengan rakus. Sebelum akhirnya mereka melanjutkan bercinta kembali untuk menghabiskan malam.
Sementara itu, Christaly yang ternyata masih belum pergi dan sekarang sedang mengintip Sean dan Vera yang sedang bercinta dari celah pintu, membekap mulut dan hidungnya sendiri. Agar napasnya yang tersengal-sengal tidak sampai terdengar oleh Sean dan juga Vera.
Meskipun perempuan yang berada di dalam sana, yang sedang bercinta dengan Sean bukanlah dirinya, akan tetapi, Christaly bisa merasakan kenikmatan yang Vera rasakan. Bagian tubuhnya juga ikut berkedut, ikut menegang saat Vera mencapai puncak kenikmatan. Seolah-olah Christalylah yang sedang bercinta dengan Sean di dalam.