NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Langkahku terasa berat saat melintasi lobi kantor yang berlapis marmer dingin. Meski kacamata hitam sudah bertengger di hidungku, aku masih merasa setiap orang bisa melihat keretakan di balik zirahku. Aku hanya ingin tenggelam dalam tumpukan berkas dan menghindari interaksi manusia apa pun hari ini. Ruangan lobi yang luas ini biasanya terasa megah, namun hari ini ia terasa seperti penjara kaca yang siap pecah kapan saja.

Setiap denting sepatu hak tinggiku di atas lantai marmer seolah menghitung mundur waktu menuju ledakan yang belum kutahu bentuknya. Aku mencoba mengatur napas, namun udara pagi ini terasa begitu tipis, seolah oksigen menolak masuk ke paru-paruku.

Harapan untuk bersembunyi hancur saat pintu lift terbuka di lantaiku. Maya sudah berdiri di sana dengan raut wajah yang luar biasa tegang, memegang tabletnya seperti sedang memegang bom waktu yang siap meledak dalam hitungan detik. Keringat dingin terlihat di pelipisnya, menandakan situasi di dalam sana jauh dari kata baik-baik saja.

"Mbak Rana! Akhirnya Mbak sampai," ucapnya setengah berbisik, mengikuti langkahku menuju ruangan dengan ritme yang terburu-buru. "Aku sudah mencoba menghubungi Mbak berkali-kali, tapi ponsel Mbak tidak aktif."

"Ada apa, May? Kamu terlihat seperti baru melihat hantu," jawabku datar sembari terus berjalan, mencoba mempertahankan topeng ketenanganku. Aku tidak ingin ia tahu bahwa semalam aku hampir kehilangan akal sehatku di dalam mobil Farez.

"Lebih buruk dari hantu, Mbak. Pak Hanan baru saja mengumumkan rapat besar mendadak. Seluruh petinggi proyek harus hadir di ruang rapat utama sepuluh menit lagi. Pihak Abiwangsa Group dan Wira Pratama Holdings sudah dalam perjalanan ke sini," jelas Maya dengan suara yang semakin mengecil, namun terdengar sangat mendesak.

Aku menghentikan langkah tepat di depan pintu ruanganku. Jantungku berdegup kencang, memukul rongga dadaku dengan keras hingga terasa nyeri. Nama itu—Wira Pratama Holdings—selalu menjadi pemicu trauma yang berusaha kukubur dalam-dalam. "Kenapa mendadak sekali? Bukankah jadwalnya baru minggu depan?"

"Katanya ada revisi besar dalam kontrak kerja sama logistik dan branding yang harus disepakati hari ini juga. Pak Farez sendiri yang akan memimpin dari sisi Abiwangsa, dan dari Wira Pratama... kabarnya Pak Bagaskara akan membawa dewan direksi mereka," lanjut Maya pelan, matanya menatapku dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus cemas.

Dewan direksi. Nama itu membuat ujung jemariku mendingin seketika. Sebuah kecurigaan liar muncul di benakku, namun segera kutepis. Tidak mungkin dia ada di sini. Dunia tidak mungkin sekejam itu dengan mempertemukan kami dalam situasi seperti ini.

"Mbak Rana, Mbak baik-baik saja?" Maya menyentuh lenganku pelan. "Wajah Mbak pucat sekali di balik kacamata itu. Kalau Mbak tidak kuat, saya bisa bilang ke Pak Hanan kalau Mbak mendadak sakit."

Aku menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali aroma nasi goreng Ibu di dapur tadi pagi untuk menenangkan sarafku yang mulai tegang. Aku harus kuat. Untuk Ibu. "Aku baik-baik saja, May. Siapkan bahan presentasi terakhir. Masukkan data revisi gudang yang kita kerjakan kemarin. Kita tidak punya waktu untuk gemetar."

Aku masuk ke ruanganku hanya untuk meletakkan tas dan mengganti kacamata hitamku dengan kacamata baca berbingkai tipis. Aku memulas ulang gincu merahku dengan tangan yang dipaksakan stabil. Di cermin, aku melihat seorang wanita yang terlihat siap berperang, meski di dalamnya ia sedang berteriak ingin pulang dan bersembunyi di bawah selimut.

Tepat sepuluh menit kemudian, aku melangkah masuk ke ruang rapat utama. Ruangan itu sudah penuh dengan aroma maskulin yang kaku, campuran antara parfum mahal dan ketegangan profesional. Di ujung meja, Pak Hanan tersenyum menyambutku, namun matanya memancarkan kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Dan di sana, di barisan kursi tamu, mataku langsung bertabrakan dengan mata Farez. Dia duduk dengan tegak, kemeja hitamnya membuatnya terlihat sangat berwibawa sekaligus misterius. Matanya langsung mengunci mataku, penuh selidik, seolah ingin memastikan apakah aku benar-benar sudah 'sembuh' dari kehancuran di mobil semalam. Ada kilat tipis di matanya—mungkin rasa kasihan, atau mungkin sesuatu yang lebih gelap.

Tak jauh dari Farez, Bagaskara melambaikan tangan kecil dengan senyum ramah yang kini terasa seperti sayatan sembilu bagiku. Namun, perhatianku tersedot pada kursi kosong di sebelah Bagas yang masih menunggu tuannya. Kursi yang terasa seperti singgasana maut bagiku.

"Mari kita mulai," suara Pak Hanan memecah keheningan. "Kita masih menunggu satu perwakilan lagi dari Wira Pratama yang kabarnya sedang melakukan pembicaraan telepon penting di koridor."

Pintu ruang rapat terbuka perlahan. Suara langkah kaki yang sangat kukenal—langkah kaki yang dulu selalu kunantikan kepulangannya di depan pintu rumah—kini terdengar mendekat. Iramanya tetap sama, berat di tumit, sebuah tanda kepercayaan diri yang angkuh.

Seorang pria paruh baya masuk dengan setelan jas seharga satu unit mobil mewah. Rambutnya sudah memutih di bagian samping, namun auranya masih sekuat dulu. Begitu ia duduk, tatapannya menyapu ruangan dengan gaya predator yang menilai mangsanya, dan akhirnya berhenti tepat di wajahku.

Duniaku seolah berhenti berputar. Oksigen di ruangan itu seolah tersedot habis. Laki-laki yang kemarin merangkul Bagas di persimpangan itu kini duduk di hadapanku sebagai klien utama. Pria yang menghancurkan masa kecilku. Ayah.

Suara pintu yang menutup di belakang pria itu terdengar seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Seketika, hiruk-pikuk suara di ruang rapat itu meredup, terganti oleh dengingan nyaring yang memekakkan telinga. Ingatanku terbang ke masa lalu, ke malam hujan di mana koper-koper dilempar ke luar rumah.

"Siapa mereka, Mas?!" Suara teriakan Ibu lima tahun lalu kembali bergema, memantul di dinding kepalaku dengan kekuatan yang menghancurkan. Aku bisa merasakan noda air mata Ibu yang dulu membasahi bajuku kini terasa panas kembali di pipiku, meski secara fisik aku sedang berdiri tegak.

Dadaku terasa menguap, hampa sekaligus sesak secara bersamaan. Aku mencoba menarik napas, namun paru-paruku seolah membeku. Aku ingin lari, tapi kakiku seperti tertanam ke lantai marmer yang dingin ini.

Tanganku yang tadinya memegang map dokumen mulai bergetar hebat—getaran yang tidak bisa lagi kusembunyikan di bawah meja. Kursi di belakangku terasa begitu jauh, sementara lantai di bawahku seolah bergerak goyah. Pandanganku mulai berbayang, dan bintik-bintik hitam mulai muncul di sudut mataku.

"Ibu Rana? Anda tidak apa-apa?" suara Pak Hanan terdengar samar, seperti berasal dari balik dinding air yang tebal.

Aku tidak sanggup menjawab. Aku hanya menatap pria itu—Ayah. Namun, yang membuat jantungku benar-benar hancur adalah tatapannya. Ia menatapku dengan kerutan di dahi—tatapan orang asing yang mencoba mengenali wajah seorang staf rendahan. Dia tidak mengenalku. Setelah lima tahun, dia benar-benar menghapus wajah anak perempuannya dari ingatannya.

Tepat saat aku merasa tubuhku akan luruh ke lantai, sebuah tarikan tegas di lenganku menahan tubuhku agar tidak jatuh. Sebuah tangan yang besar dan hangat mencengkeramku, memberikan tumpuan yang sangat kubutuhkan.

"Ibu Rana sepertinya sedang tidak enak badan akibat kelelahan mempersiapkan data semalam," suara Farez terdengar dingin, tenang, dan sangat berwibawa, memotong kekhawatiran yang mulai riuh di ruangan itu.

Farez sudah berdiri di sampingku. Dia tidak hanya memegang lenganku, tapi badannya yang tegap sengaja diposisikan sedemikian rupa untuk menutupi pandanganku dari Ayah. Ia menjadi tembok kokoh di depanku, menghalangi dengingan suara masa lalu yang masih berputar di kepalaku.

"Pak Bagas, Pak Wira, mohon maaf. Mbak Rana baru saja pulih dari sakit. Saya rasa saya yang akan mendampingi beliau untuk mempresentasikan bagian teknis awal agar tidak ada detail yang terlewat," ucap Farez lagi. Suaranya mengandung otoritas yang membuat Pak Hanan hanya bisa mengangguk patuh tanpa berani membantah.

Aku mencengkeram lengan kemeja Farez dengan sisa tenaga yang kupunya. Jemariku yang dingin menusuk kain bajunya, memohon perlindungan tanpa suara. Di tengah ketakutan yang mencekik ini, hanya aroma kayu cendana dari tubuh Farez yang membuatku sadar bahwa aku belum sepenuhnya hilang ditelan masa lalu.

Ayah—atau pria bernama Pak Wira itu—berdeham pelan. "Tentu, silakan. Kesehatan tim adalah yang utama dalam proyek besar ini. Kita tidak ingin ada kesalahan kecil hanya karena fisik yang tidak fit."

Mendengar suaranya yang begitu tenang, begitu tanpa dosa seolah ia tidak pernah menghancurkan hidup dua orang wanita, membuat kemarahan yang pahit kembali naik ke tenggorokanku. Aku ingin berteriak di depan wajahnya, ingin memaki ketidaktahuannya, tapi yang kulakukan hanyalah duduk perlahan di kursi yang ditarikkan oleh Farez.

Rapat dimulai, tapi pikiranku melayang. Farez mempresentasikan bagianku dengan sangat sempurna, seolah dia sudah mempelajari isi kepalaku. Namun, di tengah sesi tanya jawab, aku melihat sesuatu yang janggal.

Pak Wira terus menatap cincin di jari manis Farez, lalu melirik ke arahku dengan tatapan yang mendadak berubah tajam. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan terburu-buru, dan tak lama kemudian, ponsel Farez di atas meja bergetar.

Aku melirik sekilas ke layar ponsel Farez yang menyala. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal muncul: "Kau membawa wanita itu ke sini untuk memeras saya, Farez?"

Napas seakan berhenti lagi. Farez membaca pesan itu tanpa ekspresi, lalu ia menatap Pak Wira dengan senyum tipis yang paling mengerikan yang pernah kulihat. Ia kemudian menggenggam tanganku di bawah meja—di depan mata Ayahku sendiri—dan menekannya dengan kuat.

"Pertemuan hari ini bukan hanya soal logistik, Pak Wira," suara Farez terdengar berat dan penuh teka-teki. "Ada utang lama yang harus segera dilunasi sebelum proyek ini benar-benar berjalan."

Pak Wira menegang. Wajahnya yang semula tenang kini memucat. Bagaskara yang duduk di sampingnya tampak bingung melihat ketegangan yang tiba-tiba muncul di antara kedua pria itu.

Apa yang diketahui Farez? Dan mengapa Ayah tampak begitu ketakutan saat Farez memegang tanganku? Apakah ini alasan Farez mendekatiku sejak awal?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!