NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Suasana di dalam ambulans begitu mencekam, hanya suara raungan sirine yang membelah jalanan kota.

Zaidan mendekap tubuh Sulfi yang kian melemah, tangannya gemetar mencoba menahan pendarahan di dada istrinya dengan kain yang sudah bersimbah darah.

Sulfi memandang wajah suaminya dengan tatapan sayu.

Napasnya pendek dan tersengal, namun matanya tetap fokus pada wajah pria yang sangat ia cintai itu.

"Jangan tidur, Sayang. Aku mohon. Tetaplah terjaga, pandang mataku," ucap Zaidan dengan suara serak, air mata kini tak terbendung lagi membasahi pipinya.

Ia terus memanggil nama Sulfi, seolah takut jika ia diam sedetik saja, istrinya akan pergi menjauh.

Sulfi mencoba tersenyum, meski rasa sakit yang luar biasa menghujam dadanya.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggerakkan tangannya yang dingin untuk menyentuh pipi Zaidan.

"A-aku, minta maaf...." ucap Sulfi terbata.

Suaranya nyaris menyerupai bisikan. Ia merasa bersalah karena di saat mereka baru saja memulai kebahagiaan, ia justru harus membuat suaminya kembali berada dalam ketakutan akan kehilangan.

Zaidan menggelengkan kepalanya ke arah istrinya.

"Tidak, Sayang. Jangan minta maaf. Kamu tidak salah apa-apa. Kamu bidadariku, kamu penyelamatku. Bertahanlah, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kita sudah berjanji untuk bersama, ingat?"

Zaidan mencium telapak tangan Sulfi yang mulai terasa dingin, sambil terus membisikkan doa dan kata-kata penyemangat di telinga istrinya.

Di tengah guncangan ambulans yang melaju kencang, ia terus memohon pada Tuhan agar tidak mengambil kembali kebahagiaan yang baru saja ia rasakan.

Sulfi menutup matanya perlahan karena rasa kantuk yang luar biasa, namun Zaidan terus mengguncang bahunya lembut, berjuang melawan takdir yang kembali menguji cinta mereka di ambang maut.

Raungan sirine ambulans itu akhirnya berhenti di depan lobi darurat.

Petugas medis bergerak secepat kilat, menurunkan tandu dan mendorongnya masuk melintasi lorong-lorong putih yang dingin.

Sesampainya di rumah sakit, mereka membawa Sulfi ke ruang operasi dengan penjagaan ketat.

Lampu merah di atas pintu seketika menyala, menandakan perjuangan hidup dan mati sedang berlangsung di dalam sana.

Zaidan duduk di depan ruang operasi, masih dengan seragam kebesarannya yang kini ternoda oleh darah istrinya sendiri.

Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, kepalanya tertunduk dalam sementara kedua tangannya saling tertangkup, gemetar hebat.

Doa-doa tak putus ia bisikkan dalam hati, memohon agar bidadari yang baru saja ia peluk malam itu tidak diambil darinya.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang terburu-buru memecah kesunyian lorong. Yuana dan Kompol datang dengan gurat kecemasan yang luar biasa di wajah mereka.

Yuana tampak menangis, langkahnya limbung hingga ia harus bersandar pada dinding sebelum mendekati Zaidan.

"Bagaimana keadaannya, Zaidan?" tanya Kompol Hendrawan dengan suara berat, mencoba menahan emosinya sendiri.

Ia meletakkan tangan di bahu anak buahnya itu, memberikan dukungan moral yang sangat dibutuhkan.

Zaidan hanya mendongak sedikit, matanya merah dan kosong.

"Dia kehilangan banyak darah, Komandan. Peluru itu, tepat di dadanya."

Yuana menutup mulutnya dengan tangan, isakannya pecah.

"Ini salahku, seharusnya aku lebih waspada di ruang sidang tadi."

"Tidak ada yang menyangka Maya senekat itu, Yuana," potong Kompol Hendrawan tegas.

"Sekarang fokus kita adalah keselamatan Sulfi. Maya sudah diamankan kembali di sel dengan pengamanan berlapis, dia tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi sebagai orang bebas."

Zaidan kembali menunduk, tidak memedulikan nasib Maya lagi.

Baginya, dunia di luar ruang operasi ini seolah berhenti. Ia hanya ingin pintu itu terbuka dan dokter mengatakan bahwa Sulfi baik-baik saja.

Di lorong rumah sakit yang sepi itu, seorang detektif hebat yang biasanya tak kenal takut, kini tampak begitu rapuh, menunggu sebuah keajaiban untuk wanita yang telah menyerahkan seluruh hidup dan cintanya demi membelanya.

Pintu ruang operasi terbuka dengan sentakan cepat, memecah kesunyian lorong yang mencekam.

Seorang perawat keluar dan membutuhkan darah O+ dengan raut wajah yang sangat mendesak.

"Pasien mengalami pendarahan hebat dan stok darah O positif di bank darah kami sedang menipis. Apakah ada anggota keluarga yang memiliki golongan darah yang sama?" tanya perawat itu dengan nada bicara yang cepat.

Zaidan langsung berdiri tegak, seolah rasa lelahnya menguap seketika. Tanpa keraguan sedikit pun, ia melangkah maju.

"Saya golongan darah O," ucap Zaidan dengan suara yang mantap. Ia menyingsingkan lengan seragamnya yang masih bercak darah, menunjukkan kesiapannya.

"Ambil sebanyak yang dibutuhkan. Tolong, selamatkan istri saya."

Perawat itu mengangguk cepat. "Mari ikut saya ke ruang pengambilan darah, Pak. Kita harus bergerak cepat."

Zaidan menoleh sekilas ke arah Kompol dan Yuana, memberikan isyarat agar mereka tetap menjaga di depan pintu operasi, lalu ia mengikuti perawat itu masuk ke dalam.

Baginya, menyumbangkan darah adalah hal terkecil yang bisa ia lakukan.

Jika jantungnya bisa memberikan detak tambahan untuk Sulfi, ia akan memberikannya tanpa berpikir dua kali.

Di dalam ruang pengambilan darah, Zaidan berbaring dengan mata yang tak lepas menatap ke arah ruang operasi.

Ia merasakan jarum menusuk kulitnya, namun ia justru merasa lega.

Sebagian dari dirinya kini mengalir menuju tubuh Sulfi, sebuah ikatan hidup yang kembali menyatukan mereka di saat-saat paling kritis ini.

Proses pengambilan darah berjalan lancar, meski wajah Zaidan tampak sedikit pucat karena kelelahan fisik dan batin yang luar biasa.

Setelah selesai, perawat meminta Zaidan untuk istirahat sejenak di bangku panjang dan memberikan segelas air serta biskuit untuk memulihkan tenaganya.

"Anda harus duduk dulu, Pak. Jangan langsung berdiri karena tekanan darah Anda bisa turun," pesan perawat itu sebelum kembali masuk ke dalam ruang operasi membawa kantong darah yang akan menjadi penyambung nyawa bagi Sulfi.

Zaidan menurut dengan lemas. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit yang dingin.

Tak lama kemudian, Yuana dan Kompol menemani Zaidan, duduk di sisi kiri dan kanannya.

Kehadiran mereka memberikan sedikit rasa tenang di tengah badai kecemasan yang sedang ia hadapi.

"Makanlah sedikit, Zaidan. Kamu harus tetap kuat untuk Sulfi. Dia butuh kamu saat dia bangun nanti," ucap Kompol Hendrawan dengan nada kebapakan, menepuk pelan bahu pria itu.

Yuana mengusap air matanya dan mencoba memberikan senyum tipis.

"Sulfi itu wanita yang sangat kuat, Mas Zaidan. Aku mengenalnya sejak kuliah. Dia tidak akan menyerah semudah itu, apalagi sekarang dia punya alasan terbesar untuk kembali, yaitu kamu."

Zaidan hanya mengangguk pelan, memandangi gelas di tangannya.

"Darahku sekarang mengalir di tubuhnya, Yuana. Aku bisa merasakannya. Dia harus bertahan. Kami baru saja memulai semuanya."

Ketiganya terdiam dalam keheningan lorong, menjaga satu sama lain dalam doa yang sama.

Di tengah aroma karbol dan dinginnya AC rumah sakit, mereka menunggu dengan setia, berharap lampu operasi segera padam dan membawa kabar baik bagi mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!