Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan
"Aurel ... Aurellia!" panggil Rayga saat masuk dalam apartemennya.
Di ruang tamu terlihat kosong tanpa ada tanda-tanda Aurellia ada di sana.
Rayga memutar handle pintu dan mendorongnya.
Dia berdiri di ambang pintu, melihat sekeliling isi ruangan kamar.
Namun, dia juga tidak menemukan Aurellia.
Rayga begitu cemas dengan kepergian Aurellia, karena Aurellia sedang mengandung anaknya.
Dia membanting pintu kamar mandi, lalu keluar dengan langkah cepat.
Sedangkan di tempat lain ada anak buahnya yang diperintahkan Xander untuk menyisir jalanan dan memburu ke mana arah kendaraan yang membawa Aurellia pergi.
Di waktu bersamaan juga, Aurellia berada di dalam sebuah mobil dengan mulut terikat dan tangan terikat juga.
Ada seorang pria dan seorang wanita yang mengapit duduknya.
Tadi saat Aurellia dapat teror dan ancaman, dia begitu ketakutan.
Karena saat itu ada pilihan yang diberikan, Aurellia memilih keluar dari apartemen Rayga karena merasa aman.
Saat sudah berada di loby apartemen, Aurellia bertemu dengan seorang perempuan yang tak dikenalnya.
Ya, dia adalah orang yang kini berada di sisi kanan Aurellia.
"Non Aurellia," panggilnya, Aurellia menoleh pada sumber suara dan disambut dengan senyuman oleh wanita itu agar Aurellia tak curiga.
"Saya Bela, diutus Tuan Rayga untuk menjemput Anda," ujarnya sambil mendekat pada Aurellia.
Aurellia mengangguk percaya saja, karena gerak-geriknya tidak mencurigakan.
Makanya Aurellia ikut saja ajakan wanita itu yang mengaku bernama Bela.
"Mari ikut saya sebelum terlambat.," ajaknya yang kembali dijawab dengan anggukan oleh Aurellia.
Aurellia di bawa masuk ke dalam mobil Van berwarna hitam.
Tanpa kecurigaan apapun, masuk saja ke dalam mobil saat pintu mobil itu dibukakan untuknya.
Awalnya tidak ada kecurigaan, tetapi ketika mobil itu telah melaju, mulai kecurigaan muncul.
Seorang pria yang tadinya duduk di sebelah sopir, pindah ke kursi belakang dekat Aurellia tanpa mobil itu berhenti terlebih dahulu.
Saat dia telah duduk di dekat Aurellia, dia langsung membekap mulut Aurellia dengan tangannya.
Aurellia langsung histeris dan ketakutan.
Namun, karena mulutnya di begitu erat sehingga dia pun tak bisa berteriak agar didengar oleh orang-orang di jalanan.
Sedangkan wanita yang membawa Aurellia dari awal, dia mengambil sehelai kain lalu mengikat tangan Aurellia dengan kain tersebut.
Setelah tangan Aurellia terikat, wanita itu kembali mengambil sehelai kain yang lain lalu mengikat mulut Aurellia sehingga dia benar-benar tidak lagi bisa bersuara.
"Ya Tuhan, lindungi aku. Tiada tempatku berlindung dan memohon pertolongan saat ini selain pada-Mu. Semoga ada seseorang yang nanti jadi utusanmu untuk menyelamatkanku." Aurellia terus berdoa di dalam hatinya dan dia hanya bisa berteriak juga dari dalam hatinya dia tidak bisa ngapa-ngapain saat ini.
"Aku menyesal, kenapa aku tadi langsung percaya pada wanita laknat ini," sesal Aurellia dalam hatinya.
Ketakutan makin menyerang Aurellia ketika mobil yang membawanya memasuki jalanan yang begitu lengang.
Tidak ada lagi kendaraan yang berlalu Lalang di jalanan itu, hanya ada pepohonan di kiri maupun di kanan sisi jalan.
"Tuan Rayga..," jerit Aurellia dalam hatinya.
Tiba-tiba saja Aurellia teringat pria yang telah menikahinya, berharap pria itu datang menjemputnya saat itu juga.
"Tolong aku," batin Aurellia menangis membayangkan wajah Rayga.
Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, tidak peduli pada Aurellia dengan air mata menghujam keluar.
Tak ada rasa kasihannya sama sekali.
"Kamu mungkin tak berharga di mata pria brengsek itu, tetapi janin yang kau kandung adalah darah dagingnya. Dia akan gila kalau kamu berada di tangan bos kami," ucap wanita di samping Aurellia dengan tawanya yang tanpa belas kasihan sama sekali.
Aurelia menoleh pada wanita yang masih saja tertawa.
Walau Aurellia tak bisa berbicara karena mulutnya tertutup, tetapi sorot matanya sudah cukup mewakili.
"Mau nantang? Silahkan!" ujarnya meledek Aurel yang menatapnya tajam.
Tidak ada hal yang bisa dilakukan Aurellia selain terus berdoa dan memohon perlindungan dan berharap ada keajaiban.
Mobil terus melaju, tetapi tiba-tiba saja mobil itu direm mendadak dan berhenti dibarengi decitan rem dan ban mobil yang bergesekan dengan aspal.
"Siapa yang berulah?!" umpat supir memukul stir mobil.
"Apa kita dalam bahaya?" tanya wanita yang tadi mengaku bernama Bela kepada Aurellia.
Sedangkan pria yang berada di dekat Aurellia sedari tadi hanya diam saja.
Sekarang dia turun dari mobil tanpa berkata apa-apa.
Dia melihat sekeliling memantau keadaan, saat dia rasa tidak ada yang mencurigakan, dia mendekat pada jendela mobil di dekat supir.
"Pohon tumbang biasa, tidak ada yang mencurigakan. Pohonnya juga tak besar, bisa lah itu kita singkirkan," ujarnya pada supir.
Supir dan Bela melihat ke depan, di mana ada sebuah pohon yang tidak terlalu besar menghalangi jalan mereka.
Supir turun dari mobil dan berjalan bersisian dengan pria yang sudah memeriksa keadaan menuju pohon yang menghalangi jalan mereka.
Mereka tampak kesusahan untuk menyingkirkan pohon itu, hanya bisa bergeser sedikit saja dari jalan, sedangkan rantingnya masih saja menutup jalan mereka.
Melihat itu wanita yang berada di samping Aurellia ikut turun berniat ingin membantu dua rekannya.
Di dalam mobil Aurellia dia tinggal sendiri dengan keadaan pintu mobil terkunci, otomatis Aurellia tidak bisa kabur ke mana-mana.
"Aku bantu," ucap wanita itu menolong menggeser pohon yang ditari rekannya.
Namun, situasi tak seperti yang mereka pikirkan.
Saat mereka bertiga fokus pada pohon yang harus mereka singkirkan, suara tembakan bertubi mendekati mereka.
Tak ada waktu untuk menghindar, beberapa timah panas bersarang di tubuh mereka hingga cairan merah segar dari tubuh mereka masing-masing pun membanjiri tempat mereka sekarang sudah tak bernyawa.
Bahkan ketika mereka tak lagi bernafas, timah itu tetap menyerang mereka dengan membabi buta.
Aurellia yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri jadi ketakutan, tetapi dia juga berharap itu adalah sebuah pertolongan padanya.
"Tuan Rayga," ucap Aurellia dalam hati ketika pria yang sangat brutal menembakkan timah panasnya tadi berbalik bada mengarah pada Aurellia.
"Sekali lagi kau jadi penyelamatku, Tuan Rayga. Aku kembali menambah hutang budiku padamu," batin Aurellia menatap lekat pria di depan sana yang mendekat ke arahnya.
Pintu mobil dibuka oleh anak buah Rayga yang tadi juga ikut menembakkan timah panas pada orang yang telah menyekap Aurellia.
Saat pintu terbuka, Rayga langsung menyela anak buahnya untuk melihat kondisi Aurellia.
Dia begitu marah saat melihat Aurellia diikat seperti itu.
Ikat tangan Aurellia dibukanya dan disusul ikat di mulut Aurel.
Saat Aurellia sudah bebas dari ikatan di mulut dan tangannya, dia langsung menghambur memeluk Rayga.
"Aku takut..." Isak tangisnya pecah, dia memeluk Rayga begitu erat.