NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persinggahan Para Iblis

Pesawat kargo militer tak bertanda itu menderu menembus badai salju Siberia, meninggalkan jejak panas yang segera tertutup oleh kabut putih abadi. Di dalam kabin yang temaram, Kenzo duduk diam sambil membersihkan bercak darah di lengan jaket taktisnya. Di seberangnya, Aara bersandar pada tumpukan peti logistik, wajahnya tampak pucat namun matanya tetap menyala dengan intensitas yang mengerikan.

Pertempuran melawan The Reapers baru saja berakhir beberapa jam yang lalu, namun bau kematian seolah masih menempel di pori-pori kulit mereka.

"Kau harus makan, Aara," suara Kenzo memecah kesunyian, lebih berupa perintah daripada saran. Ia menyodorkan sebotol suplemen nutrisi cair tingkat militer yang telah disiapkan Dr. Aris.

Aara menerima botol itu, menyesapnya perlahan. Rasa mual sempat menyerangnya efek samping dari janin "parasit" yang menguras energinya namun ia menekannya dengan kemauan keras. "Dr. Aris benar, Kenzo. Aku bisa merasakan dia... anak ini... dia tidak hanya tumbuh. Dia seolah-olah sedang bersiap untuk perang di dalam sana."

Kenzo berlutut di depan Aara, meletakkan tangan besarnya di atas perut istrinya. Kehangatan yang tidak biasa merambat ke telapak tangannya. "Biarkan dia bersiap. Karena saat dia lahir nanti, ayahnya sudah akan memastikan tidak ada lagi musuh yang tersisa untuk mengganggunya."

Tujuan mereka adalah sebuah vila tersembunyi di lereng Monte Rosa, Alpen. Tempat itu adalah properti milik Leo, informan yang membantu mereka menghilang dari radar. Leo bukan hanya seorang peretas; dia adalah arsitek bayangan di balik sistem keamanan FBA sebelum akhirnya membelot karena mengetahui rahasia kotor Project Valkyrie.

Saat pesawat melakukan pendaratan darurat di sebuah landasan pacu ilegal yang tertutup es, seorang pria kurus dengan jaket tebal dan kacamata berbingkai tipis sudah menunggu.

"Kalian terlihat seperti baru saja merangkak keluar dari neraka," sambut Leo sambil melemparkan tas berisi paspor baru dan kunci kendaraan.

"Kami membawa neraka itu bersama kami, Leo," jawab Kenzo dingin.

Leo menatap Aara, matanya terpaku pada tangan Aara yang secara refleks melindungi perutnya. "Jadi rumor itu benar... subjek Valkyrie generasi kedua telah terbentuk. Miller dan The Collector sedang mempertaruhkan seluruh aset mereka untuk mendapatkan kalian."

"Bawa kami masuk, Leo. Kami butuh data Level 7 itu," potong Aara, nada centilnya hilang, digantikan oleh otoritas seorang ratu yang sedang dalam misi pembersihan.

Di dalam vila Leo yang dipenuhi monitor berkedip, pencarian kebenaran dimulai. Leo menyambungkan drive eksternal yang dibawa Kenzo dari Siberia ke superkomputer miliknya.

"Data ini terenkripsi dengan kunci biometrik Miller," Leo menjelaskan sambil mengetik cepat. "Tapi dengan protokol yang Aara paksa dari agen-agen di Alpen sebelumnya, aku bisa melakukan bypass pada lapisan kelima."

Layar besar di dinding menampilkan diagram yang jauh lebih mengerikan dari apa yang mereka lihat di laboratorium Dr. Aris.

"Dengarkan ini," kata Leo, suaranya bergetar. "Project Valkyrie bukan hanya tentang super-prajurit. Ini tentang kontrol populasi biologis. Anak yang kau kandung, Aara... dia memiliki kemampuan untuk memancarkan feromon frekuensi rendah yang bisa memengaruhi sistem limbik orang-orang di sekitarnya. Secara teori, dia bisa membuat orang menjadi sangat patuh atau sangat agresif hanya dengan kehadirannya."

Aara terpaku. "Maksudmu... anakku adalah sebuah senjata pengendali massa?"

"Bagi Miller, ya. Dia ingin menjadikan anak ini sebagai 'pusat' dari sistem pemerintahan baru yang berbasis kontrol biologis," lanjut Leo. "Itulah sebabnya The Collector begitu terobsesi. Bayangkan seorang mafia yang memiliki kemampuan untuk membuat musuh-musuhnya berlutut tanpa melepaskan satu peluru pun."

Kenzo berdiri, aura membunuh di sekelilingnya begitu pekat hingga Leo secara tidak sadar mundur selangkah. "Anakku tidak akan menjadi pusat dari eksperimen gila siapa pun."

Meskipun dalam persembunyian, Kenzo tetaplah Kenzo. Ia meminta Leo menyiapkan makan malam mewah sebuah momen singkat untuk memberikan normalitas bagi Aara. Di meja makan kayu ek yang menghadap ke lembah salju, mereka duduk berhadapan.

Aara mengenakan gaun sutra merah yang disediakan Leo, sebuah pilihan warna yang mengingatkan Kenzo pada pertama kali mereka bertemu di The Obsidian.

"Kau cantik malam ini, Nyonya Arkana," puji Kenzo, menuangkan segelas air mineral berkualitas tinggi untuk Aara.

Aara memberikan kerlingan nakal, mencoba kembali ke karakternya yang ceria meski beban di rahimnya semakin berat. "Hanya cantik? Aku pikir setelah menghabisi tiga belas Reaper, aku setidaknya pantas mendapatkan gelar 'mematikan'."

"Kau selalu mematikan bagi kewarasanku," jawab Kenzo lembut, meraih tangan Aara dan mencium buku jarinya.

Momen romantis itu terputus ketika tablet keamanan Leo berbunyi nyaring.

"Sial! Mereka menemukanku!" teriak Leo dari ruang kerja. "Pihak ketiga yang Madam Vora bicarakan... itu jebakan! Mereka bukan faksi pembelot, mereka adalah tim penjemput Miller!"

Lampu vila mendadak mati. Suara helikopter militer terdengar menderu rendah di atas atap. Kaca-kaca jendela pecah saat tim taktis FBA meluncur turun menggunakan tali.

"Leo, ambil datanya dan lari ke safe room!" perintah Kenzo. Ia membalikkan meja makan sebagai perlindungan darurat dan menarik pistol Desert Eagle miliknya.

Aara tidak menunggu. Ia menendang kaki meja, mengambil pistol cadangan yang disembunyikan di bawah kursi, dan melepaskan tembakan presisi ke arah agen pertama yang masuk melalui balkon.

"Jangan sentuh gaun baruku, Brengsek!" seru Aara.

Pertempuran di dalam vila berlangsung sengit. Ini bukan lagi tentang bertahan; ini adalah pesan. Kenzo bergerak dengan kebrutalan yang terukur, mematahkan tulang dan menembus jantung setiap agen yang berani mendekati Aara. Sementara itu, Aara menggunakan kelincahannya untuk memancing musuh ke arah jebakan listrik yang sebelumnya dipasang Leo di lantai marmer.

ZAP!

Dua agen tersungkur dengan tubuh bergetar hebat. Aara berdiri di atas mereka, menatap dengan dingin. Ia merasa janin di dalam dirinya berdenyut—sebuah dorongan adrenalin yang terasa sinkron dengan detak jantungnya sendiri.

"Mereka lemah, Kenzo," bisik Aara, suaranya terdengar sedikit berbeda, lebih tajam dan penuh otoritas.

Kenzo menyadari perubahan itu. Ia segera menghampiri Aara setelah musuh terakhir tumbang. "Aara, kendalikan dirimu. Jangan biarkan serum itu mengambil alih emosimu."

Aara mengerjap, matanya kembali normal. Ia tampak sedikit bingung namun segera menguasai diri. "Aku baik-baik saja. Kita harus pergi. Sekarang."

Sebelum mereka meninggalkan vila yang kini bersimbah darah, sebuah proyektor hologram di ruang tengah menyala secara otomatis. Muncul sosok pria tua berambut putih dengan seragam militer lengkap yang sangat rapi. Direktur Miller.

"Agen Cherry. Tuan Arkana," Miller menyapa dengan nada kebapakan yang memuakkan. "Kalian telah menyebabkan banyak kerusakan aset. Tapi aku bersedia memaafkan semuanya jika kalian menyerahkan diri sekarang. Aara, tubuhmu tidak akan sanggup membawa anak itu sampai sembilan bulan tanpa teknologi kami. Kau akan mati, dan anak itu akan mati bersamamu."

Kenzo melangkah di depan proyektor, menghalangi pandangan Miller terhadap Aara. "Miller. Aku sudah melihat data Level 7. Aku tahu apa yang ingin kau lakukan."

"Maka kau tahu betapa pentingnya anak ini bagi kemanusiaan, Kenzo," sahut Miller.

"Anak ini bukan milik kemanusiaan. Dia milik ibunya," Kenzo tersenyum dingin. "Dan jika dia harus lahir di atas reruntuhan kantormu, maka biarlah begitu. Aku akan datang untukmu, Miller. Bukan sebagai mafia, tapi sebagai ayah yang akan merobek duniamu."

Kenzo menghancurkan proyektor itu dengan tumit sepatunya.

Leo keluar dari safe room dengan wajah pucat, memegang sebuah flash drive emas. "Aku berhasil mengekstrak lokasi koordinat laboratorium utama Miller. Itu ada di sebuah pangkalan bawah laut di lepas pantai Islandia. 'The Abyss'."

Aara menatap Kenzo. Ada kesepakatan tanpa kata di antara mereka. Pelarian sudah berakhir. Sekarang adalah waktunya untuk menyerang jantung dari konspirasi yang ingin menghancurkan keluarga mereka.

"Siapkan pesawatnya, Leo," kata Aara sambil mengusap perutnya. "Putraku ingin melihat di mana dia seharusnya 'diciptakan', agar dia tahu apa yang harus dia hancurkan pertama kali saat dia dewasa nanti."

Di tengah badai Alpen yang menderu, Kenzo dan Aara berjalan menuju kendaraan pelarian mereka. Mereka bukan lagi sekadar dua orang yang saling mencintai; mereka adalah kekuatan alam yang sedang bergerak menuju pertempuran terakhir.

Target: The Abyss.

Tujuan: Pemusnahan Total.

Perang yang sesungguhnya baru saja mencapai puncaknya, dan dunia tidak akan pernah sama lagi setelah bayi ini lahir ke dunia yang haus akan darahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!