NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Semburat merah fajar baru saja muncul di ufuk timur saat mobil hitam mengkilap milik Emirhan berhenti di depan rumah makan Maria.

Suasana masih sangat sepi, hanya ada suara kicauan burung dan kepulan asap tipis dari dapur Maria yang sudah mulai beraktivitas.

Emirhan turun dari mobil, tampak segar meski ia hampir tidak tidur semalaman.

Belum sempat ia mengetuk pintu, Maria sudah keluar dengan wajah yang tegang.

Ia seolah sudah menunggu kedatangan pria itu untuk memberikan peringatan terakhir.

"Emirhan, dengarkan aku," ucap Maria tanpa basa-basi, suaranya rendah namun penuh penekanan.

"Jauhi Aliya. Bawa dia kembali ke sini dan jangan pernah temui dia lagi sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua."

Emirhan terdiam sejenak, lalu sebuah tawa kecil yang terdengar meremehkan keluar dari bibirnya.

Ia merapikan jam tangan mahalnya dengan gerakan santai.

"Menjauhi Aliya? Itu tidak mungkin, Ibu Maria," sahut Emirhan dengan nada bicara yang tenang namun dingin.

"Aku tidak takut pada ancaman siapapun, termasuk ancaman yang Ibu buat. Aliya adalah pilihanku, dan aku punya cara sendiri untuk melindunginya dari apa pun yang Ibu khawatirkan."

Maria menggelengkan kepalanya dengan rasa frustrasi yang memuncak.

Dadanya terasa sesak, rahasia besar itu seolah sudah berada di ujung lidahnya.

Ia ingin sekali berteriak di depan wajah Emirhan bahwa ia adalah mantan kekasih Onur, bahwa ia tahu persis betapa gelap dan kejamnya darah keluarga Karadağ jika sudah menyangkut ambisi.

Ia ingin memperingatkan bahwa sejarah berdarah itu bisa terulang pada Aliya.

Namun, sebelum kata-kata itu terucap, pintu rumah terbuka.

Aliya muncul dengan seragam sekolah yang rapi, wajahnya tampak lebih segar setelah tidur di rumahnya sendiri.

"Ibu? Emir?" Aliya menatap keduanya bergantian, merasakan ketegangan yang menggantung di udara.

Ia mendekat ke arah Maria, mencium tangan ibunya dengan takzim.

"Aku berangkat sekolah dulu ya, Bu. Aku akan langsung pulang ke sini nanti kalau ujian sudah selesai," pamit Aliya.

Maria hanya bisa terdiam, menatap putrinya dengan pandangan sendu.

Ia tahu, peringatannya kepada Emirhan sama sekali tidak mempan.

"Ayo, Aliya. Kita harus segera sampai di sekolah," ajak Emirhan sambil membukakan pintu mobil dengan sopan, namun matanya tetap melirik Maria dengan tatapan penuh kemenangan.

Saat mobil itu perlahan menjauh, Maria berdiri mematung di teras.

Ia tahu bahwa diamnya justru akan membawa bahaya yang lebih besar.

Di sisi lain, Emirhan melirik Aliya dari kaca spion, bersumpah dalam hati bahwa tak akan ada seorang pun—bahkan Maria—yang bisa memisahkan mereka.

Pagi itu, suasana di dalam kabin mobil yang mewah terasa begitu mencekam.

Hanya ada suara deru mesin yang halus, namun di dalamnya, badai emosi sedang berkecamuk.

Aliya menggenggam tali tas sekolahnya dengan erat, matanya menatap lurus ke depan, mencoba mengumpulkan keberanian.

"Emir," suara Aliya memecah keheningan. "Setelah dipikirkan lagi, aku memutuskan untuk tinggal di rumah Ibu sampai ujianku selesai minggu depan. Aku butuh ketenangan yang tidak bisa kudapatkan di mansion itu."

Keputusan itu seperti menyulut sumbu pendek di kepala Emirhan.

Ia menginjak rem secara mendadak, membuat ban mobil berdecit keras di pinggir jalan yang sepi.

"Apa kamu bilang?!" Emirhan menoleh, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak.

"Aku sudah menjagamu seharian, mengurus dokumen kita, dan melindungimu dari Laura! Sekarang kamu mau kembali ke sana?"

"Aku hanya butuh fokus untuk ujian, Emir! Di rumahmu, aku merasa diawasi oleh semua orang," bela Aliya, suaranya mulai bergetar.

"Cukup, Aliya! Jangan membantahku!" bentak Emirhan dengan suara menggelegar yang memenuhi ruang sempit mobil itu.

"Kamu adalah tanggung jawabku! Kamu tidak tahu apa yang sedang kuhadapi untuk mempertahankanmu di keluarga Karadağ!"

Aliya tersentak. Ini adalah pertama kalinya Emirhan membentaknya dengan begitu kasar.

Rasa takut dan sakit hati seketika bercampur menjadi satu.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini ia menolak untuk terlihat lemah.

"Jika melindungiku artinya harus membentakku seperti ini, maka aku lebih memilih untuk tidak dilindungi sama sekali," ucap Aliya lirih namun tajam.

Tanpa menunggu jawaban, Aliya membuka pintu mobil dengan kasar.

Ia turun ke pinggir jalan, mengabaikan teriakan Emirhan yang memanggil namanya.

Ia melangkah pergi menjauh, membiarkan angin pagi menghapus air matanya, meninggalkan kemewahan yang mulai terasa seperti penjara.

Di dalam mobil, Emirhan terengah-engah. Melihat punggung Aliya yang semakin menjauh, rasa frustrasi dan ketakutan akan kehilangan gadis itu meledak seketika.

Brak! Brak! Brak!

Emirhan memukul-mukul setir mobilnya dengan kepalan tangan berkali-kali. "Sial!! Sial!!" teriaknya penuh amarah pada dirinya sendiri.

Ia membenci kenyataan bahwa ia tidak bisa mengendalikan Aliya, dan ia lebih membenci fakta bahwa separuh dari amarahnya lahir karena ia tahu Maria benar—bahwa dunia Karadağ memang terlalu gelap untuk gadis seputih Aliya.

Sementara di kejauhan, Aliya terus berjalan tanpa menoleh, meninggalkan Emirhan yang terjebak dalam emosinya sendiri di dalam mobil yang kini terasa sangat kosong.

Langkah kaki Aliya terasa berat saat menyusuri koridor sekolah.

Dunianya seolah runtuh setelah bentakan Emirhan tadi pagi.

Sesampainya di kelas, ia langsung menuju bangkunya, menenggelamkan wajah di antara kedua tangannya, dan berusaha meredam isak tangis yang mulai pecah.

Dengan jemari yang gemetar, ia berkali-kali menghapus air mata yang membasahi pipinya, namun rasa sesak di dadanya tak kunjung hilang.

Tiba-tiba, sebuah pelukan hangat melingkar di bahunya. Leyla, sahabat karibnya, sudah berdiri di sampingnya dengan wajah penuh empati.

Tanpa perlu bertanya, Leyla tahu bahwa Aliya sedang berada di titik terendahnya.

"Sudah, hapus air matamu, Aliya," bisik Leyla lembut sambil mengusap punggung sahabatnya.

"Jangan biarkan masalah ini menghancurkan harimu. Hari ini adalah hari terakhir kita di sekolah sebelum ujian besar. Anggap saja ini penutupan masa remaja kita."

Aliya mendongak dengan mata sembab, menatap Leyla yang sedang tersenyum mencoba menghiburnya.

"Dengarkan aku," lanjut Leyla dengan nada yang lebih bersemangat.

"Nanti setelah pulang sekolah, kita pergi ke tempat biasa. Kita menari seperti dulu lagi, melupakan semua beban, tanpa aturan keluarga besar atau tekanan siapa pun. Hanya kita, musik, dan kebebasan."

Mendengar kata "menari", sepercik cahaya kembali muncul di mata Aliya.

Menari adalah satu-satunya pelarian di mana ia merasa benar-benar memiliki dirinya sendiri, jauh sebelum ia terjebak dalam pusaran konflik keluarga Karadağ.

Aliya menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan wajah marah Emirhan dari pikirannya.

Ia perlahan menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan Leyla.

"Ya, mari kita menari sekali lagi," jawab Aliya lirih dengan suara serak.

Sementara itu, jauh di luar gerbang sekolah, sebuah mobil hitam masih terparkir di sudut jalan.

Emirhan duduk di sana dalam diam, menatap ke arah gedung sekolah dengan tatapan penuh penyesalan, tidak menyadari bahwa hari ini, Aliya berencana untuk kembali menjadi gadis remaja biasa yang bebas—meskipun hanya untuk beberapa jam saja.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!