NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: DUA DUNIA, SATU CINTA

Enam bulan telah berlalu sejak kasus Pak Hendra mengguncang Tebet. Rina kini bukan lagi gadis yang ketakutan di pojokan. Dengan beasiswa penuh dari yayasan Aris, ia kini menjadi mahasiswi semester dua jurusan Psikologi di salah satu universitas ternama di Jakarta. Wajahnya telah kembali berseri, meski ada kedewasaan baru yang terukir di matanya—bekas luka jiwa yang telah sembuh menjadi kekuatan.

Namun, ketenangan hidup Rina terusik oleh kehadiran dua pria yang sama-sama ingin melindunginya, dengan cara yang sangat berbeda.

Di satu sisi, ada Aris. Sang miliarder yang menyamar sebagai ustadz. Cintanya tenang seperti samudra dalam; ia memberi ruang, menghormati privasi, dan memastikan masa depan Rina aman secara finansial dan sosial. Ia tidak pernah memaksa, hanya selalu ada saat dibutuhkan. Baginya, mencintai Rina berarti membiarkannya terbang tinggi, bahkan jika itu berarti Rina akan pergi jauh darinya.

Di sisi lain, muncul Dimas.

Dimas adalah pemuda kampung asli Tebet. Usianya 24 tahun, bekerja sebagai mekanik bengkel motor "Sumber Rejeki" di ujung gang. Tubuhnya kekar karena sehari-hari mengangkat besi dan ban mobil, kulitnya sawo matang terbakar matahari, dan tangannya selalu berbau oli. Dimas tidak punya uang miliaran, tidak punya gedung pencakar langit. Tapi Dimas punya sesuatu yang tidak dimiliki Aris: Keberanian untuk terang-terangan.

Sore itu, di teras rumah kontrakan sederhana tempat Rina tinggal bersama ibunya (yang kini sudah bertobat total dan bekerja sebagai penjaga kantin sekolah), suasana terasa panas bukan karena cuaca.

Dimas datang dengan motor Honda Supra tua yang knalpotnya sedikit bising. Ia membawa sebuah bungkus plastik berisi gorengan hangat dan es teh manis dalam gelas plastik.

"Rin!" panggil Dimas lantang, senyumnya lebar hingga menampilkan gigi putih yang kontras dengan wajahnya yang kusam terkena debu bengkel. "Pulang kuliah ya? Capek nggak? Nih, gue belikan bakwan favorit lo. Masih anget."

Rina tersenyum tipis, menerima gorengan itu. "Makasih, Mas Dimas. Repot-repot banget sih."

"Ah, nggak repot! Gue kan lewat depan kampus lo tadi siang, sengaja mampir," jawab Dimas santai, lalu duduk di kursi plastik sebelah Rina, terlalu dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan. "Gimana kuliahnya? Ada cowok yang macerin nggak? Kalau ada, bilang gue. Gue ajak duel gulat di bengkel!"

Rina tertawa kecil. "Nggak ada, Mas. Aku fokus belajar aja."

"Baguslah," Dimas menatap Rina lekat-lekat, tatapannya berani dan penuh api. "Soalnya, kalau nanti lo udah siap, gue udah niat mau ngelamar lo, Rin. Gue tahu gue cuma montir, rumah gue juga masih ngontrak. Tapi gue janji, seumur hidup gue, nggak bakal ada satu orang pun yang nyakitin lo lagi. Gue bakal jadi perisai lo. Beneran, bukan pakai uang."

Ibu Rina yang sedang menyapu halaman terdengar berhenti sebentar, mendengarkan dengan antusias. Bagi Ibu Rina, Dimas adalah pilihan yang lebih "masuk akal". Pemuda sekampung, paham kondisi mereka, dan yang terpenting: tidak mengintimidasi seperti Aris.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mengkilap tanpa logo berhenti di depan pagar. Kaca jendela turun perlahan. Aris terlihat di dalamnya, memakai kemeja linen putih yang sederhana namun tetap memancarkan aura elegan. Tidak ada pengawal yang turun kali ini; ia menyetir sendiri.

"Assalamualaikum," sapa Aris lembut saat keluar dari mobil. Ia membawa sebuah tas kertas besar dari toko buku internasional.

"Waalaikumsalam," jawab Dimas cepat, berdiri menghadang Aris dengan dada bidang. Tatapannya menantang. "Eh, Tuan Aris. Datang lagi nih? Sibuk banget ya sama urusan kampung kami?"

Aris tersenyum ramah, tidak terpancing provokasi. Ia berjalan mendekat, mengabaikan sikap defensif Dimas. "Waalaikumsalam juga, Mas Dimas. Saya hanya ingin menjenguk Rina, menanyakan kabar kuliahnya. Dan saya bawa beberapa buku referensi psikologi edisi terbaru yang mungkin berguna untuk tugas akhirnya."

Aris menyerahkan tas itu pada Rina. "Ini, Rin. Saya dengar dosen kamu meminta literatur bahasa Inggris. Semoga membantu."

Rina menerima tas itu dengan kedua tangan, matanya berbinar. "Wah, terima kasih banyak, Kak Aris. Ini susah dicari di toko biasa."

"Sama-sama," balas Aris. Lalu ia menoleh pada Dimas. "Oh, Mas Dimas juga ada? Bagus sekali. Rina memang butuh dukungan dari banyak pihak, termasuk teman-teman sekampung yang peduli."

Kalimat itu halus, tapi bagi Dimas terdengar seperti sindiran bahwa ia hanya "teman sekampung", sementara Aris adalah "penyedia kebutuhan intelektual".

Dimas mengeratkan rahangnya. "Iya, Tuan. Kami di sini memang saling peduli. Saling jaga. Nggak perlu tunggu orang kaya dateng bawa mobil mewah buat ngerasa peduli. Cukup dengan hati tulus dan kehadiran nyata tiap hari."

Suasana menegang. Ibu Rina tampak gelisah melihat dua pria alpha ini saling adu pandangan. Satu mewakili dunia materi dan kekuasaan yang stabil, satunya mewakili dunia jalanan yang keras namun nyata.

"Mas Dimas," ucap Aris tiba-tiba, suaranya tetap tenang namun tegas. "Saya menghargai ketulusan Mas. Itu hal yang mahal. Tapi izinkan saya bertanya: Jika besok Rina butuh biaya operasi spesialis di luar negeri, atau butuh perlindungan hukum dari ancaman mafia yang tidak bisa dilawan dengan otot bengkel, apa yang Mas berikan? Cinta saja cukup?"

Wajah Dimas memerah. "Cinta itu aksi, Tuan! Bukan cuma transferan bank! Gue bakal kerja banting tulang demi dia! Gue nggak bakal bikin dia merasa kecil karena utang budi sama orang kaya! Lo pikir lo bisa beli kebahagiaannya dengan buku-buku mahal itu? Dia butuh suami yang sejajar, bukan bapak asuh!"

"Cukup!" suara Rina tiba-tiba meninggi, membuat keduanya terdiam.

Rina berdiri, wajahnya serius. Ia menatap Dimas, lalu menatap Aris.

"Mas Dimas, Kak Aris..." suara Rina bergetar. "Terima kasih kalian berdua peduli sama aku. Tapi tolong dengarkan aku baik-baik."

Ia menarik napas panjang.

"Aku bukan benda rebutan. Aku bukan piala yang bisa dimenangkan oleh siapa yang paling kuat atau paling kaya. Aku manusia yang baru saja belajar berdiri lagi setelah dihancurkan."

Rina menatap Dimas. "Mas, aku hargai keberanianmu. Aku suka caramu melindungi aku seperti kakak kandung. Tapi... cintaku padamu belum sampai ke sana. Bagiku, kamu adalah sahabat, saudara seperjuangan. Jangan paksa aku dengan janji-janji pernikahan yang justru membuatku takut."

Dimas terpaku. Bahunya merosot. Kepalanya menunduk, topi bengkelnya menutupi matanya yang mulai berkaca-kaca.

Lalu Rina menoleh pada Aris. Matanya melembut, namun ada jarak yang sengaja ia buat.

"Kak Aris... kau penyelamatku. Kau alasan aku masih bernapas. Tapi justru karena itu... aku takut. Jarak kita terlalu jauh. Duniamu terlalu besar untuk ukuranku yang kecil. Jika aku menerima cintamu, aku akan selalu merasa berhutang budi. Aku ingin dicintai karena aku Rina, bukan karena kasihan atau karena misi menyelamatkan korban."

Aris terdiam. Kalimat itu menamparnya lebih keras daripada tuduhan Pak Hendra dulu. Ia menyadari kesalahannya: Terlalu banyak memberi hingga membuat Rina merasa kecil.

"Jadi..." Rina menatap keduanya bergantian. "Tolong beri aku waktu. Jangan bersaing. Jangan saling menjatuhkan. Biarkan aku tumbuh dulu. Biarkan aku menemukan diriku sendiri tanpa bayang-bayang kalian. Jika nanti takdir berkata kami harus bersama, maka jalan akan terbuka sendiri. Tapi jika dipaksa... aku akan kehilangan kalian semua."

Hening panjang menyelimuti teras itu. Angin sore menerbangkan daun kering di halaman

Dimas mendongak, mengusap sudut matanya kasar. "Oke, Rin. Gue ngerti. Gue mundur dulu. Gue bakal tetap di bengkel, jadi tetangga lo. Kalau lo butuh apa-apa, teriak aja. Gue nggak bakal maksa."

Aris mengangguk pelan, senyum sedih terukir di wajahnya. "Kamu benar, Rin. Maafkan aku. Aku akan memberimu ruang. Tidak ada lagi hadiah mahal, tidak ada lagi intervensi. Aku akan menunggu, sejauh apapun kau pergi, doaku selalu menyertaimu."

Rina tersenyum lega, meski hatinya perih harus memilih jalan tengah yang sepi ini.

Malam itu, Dimas pulang dengan motornya yang bising, membawa serta ego yang terluka namun harga diri yang utuh. Aris pergi dengan mobilnya yang sunyi, membawa renungan bahwa cinta sejati kadang berarti melepaskan kendali.

Dan Rina? Ia duduk sendirian di teras, memegang buku pemberian Aris dan membayangkan wajah tulus Dimas. Di hatinya, perang kecil masih berkecamuk. Siapa yang sebenarnya ia tunggu? Pria yang bisa memberinya dunia, atau pria yang rela memberikan seluruh hidupnya meski tanpa dunia?

Pertanyaan itu belum terjawab. Tapi satu hal yang pasti: Persediaan cinta di hati Rina masih terkunci rapat, menunggu kunci yang tepat dari Tuhan, bukan dari persaingan manusia.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!