Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bareng Aida
"Loh Jay, kamu dari mana?" Sapa Aida setelah Jay memasuki ruang keluarga.
"Abis ketemu temen bi, di jalan dekat lembah tadi kita ketemuan." Jawab Jay sembari duduk di single sofa sisi kiri tempat Aida duduk.
Sofa yang di tempati Aida adalah sofa panjang yang menghadap ke televisi berukuran besar di ruang keluarga tersebut. Sofa itu muat untuk tiga orang dewasa duduk berjejer, dan kebetulan Aida di sisi paling kiri saat ini di temani dengan dua putri nya bersantai di sana, Shilla di tengah dan Shitta di sisi paling kanan, mereka bertiga sedang bersantai menonton televisi sembari menunggu waktu makan malam.
"Shiva barusan masuk kamar." Aida menggeser sedikit duduknya menghadap Jay. "Apa tadi dia bareng kamu?" Imbuhnya bertanya dengan penuh selidik.
Jay menghela nafas berat. kemudian menganggukkan kepalanya. "Tadi nggak sengaja ketemu. Untung kak Shiva nggak kenapa-kenapa." Jawab Jay dengan jujur.
"Kenapa-kenapa gimana Jay?" Tanya Aida penasaran.
Jay menatap Aida sesaat, merasa kejadian tadi tak perlu di tutupi lagi. "Hampir saja Kak Shiva jadi korban pembegalan perampokan bi." Ucap nya dengan suara sedikit berat.
"Kok bisa?" Pekik Shitta tiba-tiba menimpali obrolan mereka. Matanya tajam menatap Jay dengan lekat-lekat. Ingin mengetahui kebenaran dari ucapan pemuda itu.
Aida pun menampilkan wajah yang penuh keingin tahuan nya.
Jay pun akhirnya menjelaskan semua kejadian tadi serinci-rincinya, tak ada sedikit pun yang di tutupi sama sekali, Kecuali proses ciuman.
Shilla yang juga mendengarkan ikut kaget dengan ucapan Jay. "Pantesan mobil polisi tadi di depan rumah." Ucapnya memberi argumen alasan mobil polisi berkunjung ke kediaman mereka tadi.
"Hah polisi? Kapan? Kok mamah nggak tau?" Sela Aida yang keheranan.
"Aku tadi minta tolong sama Pak Dirga buat nganterin motor kak Shiva yang mogok kerumah, bi." Jawab Jay dengan cengiran sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa canggung telah melakukan hal yang sedikit tak masuk akal itu pada aparat negara.
"Iya, beruntung banget anak manja ini dateng di waktu yang tepat. Kalau nggak, nggak tau deh, apa yang akan terjadi." Celetuk Shiva tiba-tiba di ruang keluarga. Rambutnya masih sedikit basah, kemungkinan baru selesai mandi. Dia kemudian menghempaskan tubuh nya di sofa sisi kanan, berhadapan dengan Jay. Menatap pemuda itu dengan pandangan yang penuh arti.
Di tatap seperti itu, Jay hanya menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Shiva secara langsung.
"Dek, ambilin kotak obat dong!" Ucap Shiva meminta bantuan pada Shitta sambil memperlihatkan kedua lengannya yang banyak terdapat banyak nya goresan-goresan kecil.
"Ya ampun, kak? Ini kok bisa begini?" Shilla menimpali sambil memegang dan memperhatikan lebih dekat pergelangan tangan Shiva yang tergores.
Shitta yang juga melihat sekilas pun langsung bergegas mengambil kotak peralatan obat-obatan.
Aida, sebagai orang tua menjadi cemas. "Memang kamu tadi nggak ngelawan nak?" Tanya Aida penasaran. Biasanya anak sulung nya itu bukan gadis yang lemah. Banyak sedikit nya Shiva memiliki teknik bela diri.
"Udah mah, tapi nggak tau kenapa, aku tadi jadi lemah. Mereka berhasil mengikat tangan dan kaki aku. Malah di bawa ke semak-semak lagi. Jadinya gores-gores gini." Keluh Shiva menjelaskan sedikit kejadian yang di alami nya tadi.
Kemudian, Shitta pun kembali dengan membawa peralatan obat-obatan. "Tahan ya kak, ini mungkin sedikit perih." Ucapnya sembari mulai membersihkan goresan dan memar di pergelangan tangan Shiva.
"Lanjut aja, kakak udah biasa nerima rasa sakit, malah di bibir kakak!" Dengus Shiva melirik sekilas ke arah Jay.
Jay yang mendengar, pura-pura menyibukkan diri melihat-lihat ponselnya.
"Makasih loh Jay, kamu udah selamatin Shiva." Ucap Aida memandang lembut pada Jay.
Jay menoleh pada Aida. "Itu udah kewajiban aku bi. Sebagai anak laki-laki di rumah ini, aku bertanggung jawab atas keselamatan kalian." Timpal Jay menanggapi ucapan Aida.
Semua orang yang mendengar tertegun sejenak, terenyuh mendengar kata-kata yang cukup percaya diri dari pemuda itu. Entah mengapa, mereka semua merasa kata-kata itu benar-benar tulus di ucapkan Jay. Ada rasa kenyamanan tersendiri yang tersirat dari ucapan itu.
Cukup lama mereka mengobrol di ruang keluarga, walaupun Jay hanya sesekali menimpali obrolan mereka, dan selalu Aida yang meminta pendapat pemuda itu.
Setelah makan malam, giliran Shitta dan Shilla yang mencuci peralatan makan yang kotor bekas makanan mereka.
Jay dan Shiva masuk kamar masing-masing, sementara Aida seperti biasa menyimpan makan sisa di lemari penyimpanan.
- Hadiahi Jay karena telah menyelamatkan Shiva. Sebagai wanita pertama nya, Host berkewajiban untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan pada pria nya yang telah berjasa. Hadiah misi menguarkan bau wangi pada area kerang abalon.
Aida terpana melihat layar hologram yang baru muncul ketika dia telah selesai dengan pekerjaannya. Dilihat nya Shitta dan Shilla pun sudah menyelesaikan pekerjaan mereka, dan masuk ke dalam kamar.
"Hadiah? Hadiah apa yang akan ku berikan untuk Jay?" Gumam Aida. Memikirkan benda apa yang harus di berikan nya pada keponakan nya itu.
Sementara itu, di dalam kamar bernuansa biru Jay tengah merapikan buku-buku pelajaran nya. Memasukkan buku-buku pelajaran untuk besok pagi kedalam tasnya.
Tok, tok, tok.
"Jay, bibi masuk ya!" Suara Aida terdengar dari luar setelah mengetuk pintu. Dan wanita itu masuk begitu saja sebelum Jay menyahut nya dari dalam.
"Ce klek." Terdengar suara kunci pintu.
"Ada apa bi?" Tanya Jay pelan, Tiba-tiba saja bibinya itu masuk dan langsung mengunci pintu kamar nya. Mengabaikan itu dengan santai dia duduk di sisi ranjang sambil merenggangkan tangannya yang terasa sedikit kaku.
Aida menghampiri nya dengan ekspresi wajah cemberut. "Kalau udah berduaan gini, jangan panggil bibi lagi dong." Rengeknya sambil memeluk lengan kiri Jay di dadanya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, jantung Jay berdegup kencang. Perasaan takut menjalar di sekujur tubuhnya. Heran dengan sikap Aida yang begini, padahal anak-anaknya sekarang ada dirumah. Dan bisa saja mereka terpergok berduaan didalam kamar ini.
"Nanti yang lain tau loh, kalau kamu disini." Ucap Jay lembut, mengingat kan Aida agar tidak gegabah dalam hubungan mereka yang baru saja terjalin sore tadi.
"Mereka udah tidur, aku juga udah mengunci pintu kamar pribadi ku." Aida memperlihatkan kunci kamarnya di depan Jay.
"Jadi, kamu berencana tidur disini sayang?" Goda Jay sembari merapikan sebagian rambut yang menutupi wajah cantik Aida kebelakang daun telinga wanita dewasa itu.
Mata Aida berbinar cerah, menganggukkan kepala nya untuk membenarkan ucapan Jay. "Boleh kan sayang?" Tanya nya penuh harap.
"chup."
Jay mengecup bibir Aida sebagai jawabannya, tidak keberatan kalau wanita dewasa itu tidur bersamanya malam ini.
"Mau main lagi?" Tangan Jay mulai menjalar di punggung Aida. Sementara tangan nya yang lain merayap diatas gundukan payu dara wanita itu.
Aida dengan cepat menggeleng. "Masih perih sayang." Jawab Aida memandang ke arah kerang abalon nya sendiri, dengan canggung dia menolak ajakan pemuda itu. Namun, dia juga tak mungkin berbohong dengan keadaan kerang abalon nya saat ini.
Jay terkekeh pelan. "Kalau gitu kita tidur aja yuk!" Jay melepaskan baju kaosnya, dan melampirkan nya di sandaran kursi belajar nya. Kemudian naik ke atas ranjang dengan posisi menelentang.
Aida yang sudah sering melihat tubuh Jay tak pernah merasa bosan. Kekaguman selalu membuat nya terpana melihat pahatan sempurna pada tubuh pemuda itu. Tanpa sungkan lagi, dia melepaskan satu-satunya gaun malam yang di kenakannya itu, membiarkan nya teronggok di lantai begitu saja.
Jay semakin terkekeh saat Aida memeluk nya dengan begitu erat, merasakan kekenyalan payu dara wanita dewasa itu tanpa perantara apapun. "Kamu nakal banget Aida.!" Ucap Jay mencubit pelan hidung Aida yang mancung.
"Biarin! Sekarang kan kamu itu suami ku." Aida balas mencubit hidung Jay.
'Peringatan! Member lain terdeteksi mendekati Host!'
*****