NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Saat Semua Mulai Sadar

Pukul 08.01.

Masih sama.

Tidak berubah.

Jam di dinding tetap berhenti.

Detik tidak bergerak.

Namun—

di luar—

waktu berjalan seperti biasa.

Orang masih lewat.

Suara masih ada.

Hidup masih terlihat… normal.

Dan justru itu—

yang paling menipu.

Kinasih berdiri di tengah ruang tamu.

Diam.

Tidak mencoba lari.

Tidak mencoba melawan.

Karena—

ia sudah tahu.

Semua itu…

tidak ada gunanya.

Yang ia lakukan sekarang—

hanya satu.

Melihat.

Dan setiap kali ia melihat—

sesuatu bertambah.

Di lantai.

Di dinding.

Di udara.

Lubang-lubang kecil itu semakin banyak.

Namun—

anehnya—

semakin banyak—

semakin sulit dibedakan.

Seperti mata mulai terbiasa.

Mulai menerima.

Mulai menganggap itu… normal.

“Itu bagus…”

bisik suara itu.

“…adaptasi.”

Kinasih tersenyum kecil.

Lelah.

“Ini bukan adaptasi…”

bisiknya.

“…ini hilang.”

Sunyi.

Namun—

suara itu tidak menyangkal.

Karena—

itu benar.

Bukan dunia yang berubah.

Namun—

cara melihatnya.

Dan saat cara melihat berubah—

realitas ikut.

Di luar—

lebih banyak orang berhenti.

Lebih banyak yang menoleh.

Lebih banyak yang

memperhatikan hal kecil.

Lubang di trotoar.

Bayangan yang tidak sinkron.

Pantulan yang tidak sama.

Dan setiap kali—

ada yang melihat lebih lama—

lebih dalam—

lebih sadar—

sesuatu terjadi.

Tidak selalu langsung.

Tidak selalu terlihat.

Namun—

pasti.

Seorang ibu berhenti di depan

warung.

Ia melihat lantai.

Ada retakan kecil.

Di dalam retakan itu—

gelap.

Ia menatapnya.

Beberapa detik.

Lalu—

lebih dekat.

Dan—

itu cukup.

Matanya sedikit berkaca.

Seperti menangkap sesuatu yang tidak biasa.

“Aneh…”

bisiknya.

Lalu—

ia berdiri.

Dan berjalan lagi.

Namun—

langkahnya berubah.

Sedikit.

Lebih pelan.

Lebih… berat.

Dan di matanya—

ada sesuatu yang baru.

Sesuatu yang tidak bisa dihapus.

Di dalam rumah—

Kinasih merasakan semuanya.

Tanpa melihat langsung.

Namun—

ia tahu.

Satu lagi.

Satu lagi.

Dan satu lagi.

Seperti titik-titik yang menyala di dalam kepalanya.

Satu per satu.

Terhubung.

Menyatu.

“Kamu jadi pusatnya…”

bisik suara itu.

“…kamu bisa merasakan mereka.”

Kinasih menutup mata.

Dan—

ia benar-benar merasakannya.

Bukan suara.

Bukan gambar.

Namun—

kehadiran.

Banyak.

Sangat banyak.

Seperti—

ia tidak lagi sendiri.

Seperti—

ia berada di dalam sesuatu yang besar.

Dan—

ia bagian dari itu.

“Aku nggak mau ini…”

bisiknya.

Namun—

jawaban itu datang.

Lebih lembut.

Lebih… dekat.

“Sudah tidak penting mau atau tidak.”

Sekejap—

ia melihat lagi.

Bukan dengan mata.

Namun—

dengan kesadaran.

Jaringan itu.

Lubang-lubang kecil.

Di mana-mana.

Terhubung.

Seperti akar.

Seperti saraf.

Dan—

ia berada di tengahnya.

Sebagai inti.

Sebagai pusat.

Sebagai… sumber.

“Kamu bukan korban lagi…”

bisik suara itu.

“…kamu pintu.”

Kalimat itu—

menghantam.

Lebih dalam dari semuanya.

Karena—

ia tahu.

Ini bukan lagi sesuatu yang menempel.

Ini—

yang ia jadi sekarang.

Pintu rumah—

terbuka lagi.

Namun—

kali ini tidak pelan.

BRAK!

Kinasih menoleh.

Seseorang masuk.

Cepat.

Napasnya terengah.

Matanya panik.

“Kinasih!”

Ia mengenal suara itu.

Tetangga lain.

Namun—

yang ini berbeda.

Ia tidak tenang.

Ia takut.

“Ada yang aneh di luar!”

Ia mendekat.

Menatap Kinasih.

“Kamu juga ngerasa kan?!”

Kinasih diam.

Menatapnya.

Karena—

ia melihat sesuatu.

Di mata orang itu.

Pantulan.

Dan di dalam pantulan itu—

lubang kecil.

Sudah ada.

Namun—

belum sepenuhnya terbuka.

“Kamu lihat apa…”

bisik Kinasih.

Orang itu menggeleng.

“Aku nggak tahu… tapi kayak—”

Ia berhenti.

Karena—

ia melihat lantai.

Lubang-lubang itu.

Lebih jelas sekarang.

Lebih nyata.

“Apa itu…”

Ia melangkah mundur.

Namun—

tidak bisa berhenti melihat.

Matanya terpaku.

Dan—

itu kesalahan.

Karena—

ia mulai sadar.

Lebih dalam.

Lebih jauh.

“Jangan lihat…”

bisik Kinasih.

Namun—

terlambat.

Orang itu sudah berlutut.

Menatap lebih dekat.

Tangannya gemetar.

“Ini… bergerak…”

Dan saat itu—

terjadi.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Namun—

sesuatu berpindah.

Dari lubang itu.

Ke matanya.

Masuk.

Pelan.

Namun—

pasti.

Orang itu membeku.

Beberapa detik.

Lalu—

ia tertawa kecil.

Tipis.

Sama seperti yang lain.

“Kamu benar…”

bisiknya.

“…ini indah.”

Kinasih memejamkan mata.

Karena—

ia tahu.

Satu lagi.

Sudah ikut.

Orang itu berdiri.

Menatap Kinasih.

Namun—

bukan sebagai orang.

Lebih seperti…

bagian.

“Kita lihat hal yang sama sekarang…”

Kinasih tidak menjawab.

Karena—

ia tidak punya kata lagi.

Orang itu tersenyum.

Lalu—

berbalik.

Keluar.

Seperti yang lain.

Tanpa penjelasan.

Tanpa perlawanan.

Hanya—

menerima.

Dan pergi.

Sunyi.

Namun—

tidak benar-benar.

Karena—

suara itu sekarang banyak.

Sangat banyak.

Berbisik.

Serempak.

Tidak jelas.

Namun—

terasa.

“Kita bertambah…”

“…lebih cepat…”

“…lebih luas…”

Kinasih memegang kepalanya.

Karena—

ia mendengar semuanya.

Sekaligus.

Tanpa jeda.

Tanpa henti.

Dan—

itu tidak menyakitkan.

Namun—

melelahkan.

Sangat melelahkan.

“Aku capek…”

bisiknya.

Sunyi.

Lalu—

suara itu menjawab.

“…tidak apa.”

“…kamu tidak perlu lagi sendiri.”

Kinasih menunduk.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak menangis.

Karena—

ia tidak merasa sendiri lagi.

Dan itu—

yang paling menakutkan.

Karena—

ia mulai nyaman.

Dengan sesuatu yang seharusnya ia lawan.

Di luar—

lebih banyak orang berhenti.

Lebih banyak yang melihat.

Lebih banyak yang sadar.

Dan setiap kali—

satu lagi terbuka—

jaringan itu semakin kuat.

Semakin luas.

Semakin hidup.

Dan tidak ada yang sadar—

bahwa semuanya berubah.

Karena—

tidak ada yang berubah secara drastis.

Semua tetap berjalan.

Hanya—

dengan sesuatu yang baru di dalamnya.

Kinasih berdiri.

Pelan.

Menatap cermin.

Pantulannya ada.

Namun—

tidak sendiri.

Di belakangnya—

tidak ada sosok.

Tidak ada bayangan.

Namun—

ia tahu.

Mereka ada.

Semua.

Di dalam dirinya.

Di dalam dunia.

Terhubung.

Menunggu.

“Sekarang apa…”

bisiknya.

Sunyi.

Lalu—

jawaban itu datang.

Pelan.

Namun—

pasti.

“…sekarang kita tunggu.”

Kinasih mengernyit.

“Tunggu apa…”

Dan untuk pertama kalinya—

suara itu terdengar…

senang.

“…sampai semua melihat.”

Sunyi.

Dan kalimat itu—

menggantung.

Berat.

Karena—

itu bukan ancaman.

Itu—

kepastian.

Dan di luar—

seseorang berhenti lagi.

Melihat sesuatu.

Kecil.

Tidak penting.

Namun—

cukup.

Dan satu lagi—

dibuka.

Tok.

Satu ketukan.

Dan—

dibalas.

Tok.

Tok.

Tok.

Banyak.

Serempak.

Dari mana-mana.

Dan dunia—

perlahan—

tidak lagi sama.

Bukan karena sesuatu datang.

Namun—

karena semua mulai melihat.

Dan saat semua melihat—

tidak ada lagi yang bisa menutup.

Tidak ada lagi yang bisa kembali.

Karena—

yang sudah dibuka…

tidak pernah benar-benar tertutup lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!