Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: SIMFONI DI ATAS PAPAN CATUR YANG RETAK
Jakarta menyambut kepulangan tim kecil ini dengan langit yang mendung, seolah-olah awan kelabu sedang menyiapkan panggung bagi babak terakhir yang paling menentukan. Jika Bali adalah tempat mereka mengambil kembali potongan masa lalu, maka Jakarta adalah tempat mereka harus mempertaruhkan masa depan.
Ian, yang kini tampil dengan turtleneck hitam dan jas panjang (long coat) berwarna senada, melangkah keluar dari jet pribadi Diningrat Grub. Wajahnya yang berusia 31 tahun memancarkan aura dingin yang mutlak—tipe pemimpin yang tidak lagi meminta rasa hormat, melainkan mendapatkannya melalui ketakutan dan wibawa. Di sampingnya, Rhea berjalan dengan langkah yang lebih mantap. Jas putih dokter yang ia sampirkan di bahu memberikan kesan bahwa ia bukan lagi sekadar "gadis kontrak", melainkan pilar kekuatan bagi Ian.
"Yusuf, bagaimana kondisi di klinik Sentul?" suara Ian memecah kesunyian di dalam limusin yang melaju menuju pinggiran kota.
"Tuan Muda Vier melaporkan bahwa kondisi Nara stabil, namun secara psikologis ia mulai tertekan," jawab Yusuf sambil menatap layar tabletnya. "Ia tahu ayahnya dalam bahaya. Dan satu lagi, Tuan Muda... ada pergerakan dari faksi militer lama yang dulunya merupakan kaki tangan Pradikta. Mereka mulai mengepung area luar Sentul."
Ian mengepalkan tangan di atas lututnya. "Mereka tidak tahu kapan harus berhenti."
Sentul: Pelarian yang Terkepung
Klinik pribadi di Sentul tampak seperti sebuah mahakarya arsitektur minimalis yang menyatu dengan alam. Dinding kaca besarnya menghadap ke lembah hijau, namun di balik keindahan itu, terdapat sistem keamanan tingkat tinggi yang sedang bekerja ekstra keras.
Vier berdiri di samping tempat tidur Nara, memegang tangan gadis itu yang dingin. Di usia 26 tahun, Vier menyadari bahwa mencintai seseorang berarti bersedia berbagi rasa takut yang sama.
"Nara, Kak Ian sudah kembali," bisik Vier lembut. "Dia membawa dokumen dari Bali. Segalanya akan segera berakhir."
Nara menoleh, matanya yang besar tampak sayu namun penuh dengan kecerdasan yang tajam. "Vier, ayahku tidak akan bicara hanya karena dokumen itu. Dia butuh jaminan bahwa sejarah tidak akan terulang lagi. Dia butuh jaminan bahwa kakekmu tidak akan 'bangkit' kembali melalui tangan kakakmu."
Vier tertegun. Kata-kata Nara adalah belati yang menusuk langsung ke jantung identitas keluarga Diningrat. Sebelum ia sempat membalas, pintu kamar terbuka. Ian masuk, diikuti oleh Rhea.
Suasana seketika berubah. Pertemuan antara Ian dan Nara adalah pertemuan antara dua kutub sejarah yang berbeda. Anak dari sang penindas dan putri dari sang korban.
"Aku memiliki dokumennya, Nara," ucap Ian tanpa basa-basi. Ia meletakkan map hitam di atas meja kecil. "Tapi ayahmu adalah kunci untuk membuka pintu penjara bagi mereka yang masih berkeliaran di luar sana."
Nara menatap Ian dengan berani. "Kenapa aku harus mempercayaimu, Adrian? Kamu memakai nama Diningrat. Darah yang mengalir di tubuhmu adalah darah yang sama dengan orang yang menghancurkan masa kecilku."
Ian mendekat, berdiri tepat di depan Nara. "Karena aku juga korban dari nama ini, Nara. Jika kamu ingin melihat nama Diningrat runtuh dari dalam, bantulah aku. Aku tidak ingin menjadi raja di atas tumpukan mayat. Aku hanya ingin berhenti berlari."
Rhea melangkah maju, memecah ketegangan antara Ian dan Nara. "Nara, sebagai dokter, aku tahu kamu lelah. Tapi sebagai wanita, aku tahu kamu ingin ayahmu pulang. Berikan kami cara untuk menghubunginya."
Komedi di Balik Ketegangan: Strategi Mbok Yem
Di dapur klinik yang super canggih, Mbok Yem dan Pak Totok sedang melakukan "operasi" mereka sendiri. Di tengah ketegangan yang bisa meledak kapan saja, Mbok Yem bersikeras bahwa "perut yang kenyang adalah kunci kemenangan".
"Pak Totok, tolong iris bawang merahnya jangan terlalu tebal! Ini mau buat sambal matah buat Tuan Muda, bukan mau buat umpan pancing!" gerutu Mbok Yem.
Pak Totok, yang mengenakan rompi antipeluru di bawah kemeja batiknya (atas perintah Yusuf), hanya bisa menghela napas. "Sabar, Mbok. Ini saya juga sambil jagain radar. Tadi Yusuf bilang ada motor aneh lewat depan gerbang."
"Halah! Motor aneh itu paling cuma mau tanya alamat. Yang penting ini rendang harus empuk. Biar kalau Tuan Muda marah-marah, mulutnya sibuk mengunyah, jadi nggak jadi marah," balas Mbok Yem dengan logika desanya yang tak terbantahkan.
Tiba-tiba, Yusuf masuk ke dapur dengan wajah panik. "Mbok! Pak Totok! Matikan kompor! Kita ada gangguan frekuensi!"
"Gangguan frekuensi apa, Mas Yusuf? Ini rendangnya baru mau meresap!" protes Mbok Yem.
Yusuf merebut sutil dari tangan Mbok Yem. "Musuh menggunakan gelombang elektromagnetik untuk melumpuhkan sensor. Mereka sudah ada di hutan belakang!"
Pak Totok langsung sigap. Ia mengambil sapu lidi yang bagian ujungnya sudah ia modifikasi dengan besi tajam (entah sejak kapan ia melakukannya). "Mbok, masuk ke ruang bawah tanah. Biar saya yang urus tikus-tikus hutan itu."
Adu Strategi dan Pengakuan yang Menyakitkan
Di ruang utama, lampu mulai berkedip-kedip. Ian segera menarik pistol dari balik jasnya, sementara Vier melindungi Nara dengan tubuhnya.
"Mereka di sini," desis Ian.
Sebuah suara terdengar dari pengeras suara luar yang diretas. "Adrian Diningrat! Serahkan gadis itu dan dokumen Bali, atau kami akan meratakan tempat ini dalam lima menit!"
Ian tersenyum sinis. Ia mengambil mikrofon komunikasi. "Katakan pada Baron dan sisa-sisa Pradikta, jika mereka berani melangkah satu inci saja ke area ini, data transaksi luar negeri mereka akan terunggah otomatis ke server Interpol. Aku tidak bermain dengan senjata api, aku bermain dengan masa depan kalian."
Rhea berdiri di samping Ian, tangannya menggenggam lengan Ian. Di saat genting seperti ini, ia menyadari bahwa cinta mereka adalah satu-satunya hal yang nyata di tengah simulasi kekuasaan yang kejam ini.
"Ian, ada cara lain," bisik Rhea. "Nara baru saja memberiku kode koordinat ayahnya melalui sketsa yang ia buat. Ayah Nara tidak bersembunyi di hutan... dia ada di dalam Jakarta. Di gedung galeri nasional lama, tempat kita pertama kali bertemu."
Ian menatap Rhea dengan takjub. Musuh mencari ke pelosok negeri, sementara sang saksi kunci ada di jantung kota, di tempat yang paling tidak disangka.
"Vier, tetap di sini bersama tim Yusuf. Mbok Yem dan Pak Totok akan mengalihkan perhatian mereka dengan kembang api sinyal," perintah Ian. "Rhea, ikut denganku. Kita akan menjemput kebenaran."
Menuju Titik Nol
Limusin Ian melesat menembus barikade musuh yang belum siap dengan serangan balik mental Ian. Di dalam mobil, Ian menggenggam tangan Rhea.
"Rhea, jika malam ini segalanya berubah... jika aku kehilangan segalanya demi menjatuhkan mereka, apakah kamu akan tetap di sini?" tanya Ian, matanya menatap dalam ke mata Rhea.
Rhea tersenyum, sebuah senyuman yang lebih terang dari lampu jalanan Jakarta. "Ian, aku mencintaimu bukan karena kamu seorang Diningrat. Aku mencintaimu karena pria yang mau belajar menyeduh kopi pahit demi aku. Kehilangan harta bukan berarti kehilangan aku."
Mobil mereka berhenti di depan gedung galeri yang gelap. Di sana, seorang pria tua dengan kamera tua di lehernya sudah menunggu di balik bayang-bayang pilar.
Namun, di kejauhan, sebuah titik merah dari laser penembak jitu (sniper) mulai bergerak di atas kemeja putih Ian.
"Ian! Awas!" teriak Rhea.
DUAR!
Bukan suara tembakan, melainkan suara pintu galeri yang diledakkan dari dalam. Sosok misterius muncul dari balik asap—sosok yang Siluetnya belum nampak jelas.
Sempat mengira itu adalah cansu yang akan kembali dengan gebrakan baru untuk kembali beraksi jahat lagi.