NovelToon NovelToon
Antara Pagar Dan Detak Jantung

Antara Pagar Dan Detak Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dalgichigo

Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.

Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.

Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.

Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.

Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Horas

Di balik tawanya yang menggelegar dan hobi "intel" kompleknya, Vino menyimpan sebuah rahasia yang ia tutup rapat dengan candaan. Warga Griya Visual hanya tahu Vino itu iritnya minta ampun tipe orang yang rela jalan kaki ke minimarket depan demi selisih harga seribu rupiah, atau orang yang selalu punya stok kupon promo buy 1 get 1 di dompetnya.

Kenyataannya, Vino bukan pelit untuk dirinya sendiri. Setiap bulan, hampir 80% penghasilannya sebagai fotografer dikirimkan ke Medan. Di sana, ada adik perempuannya yang sedang menempuh pendidikan kedokteran yang biayanya tidak sedikit.

"Tak apa aku makan mie instan tiap akhir bulan, yang penting uang semesteran si adek aman," gumamnya sambil menatap layar ATM yang menunjukkan saldo sisa seratus ribu rupiah.

Vino tidak pernah bercerita pada siapa pun. Baginya, harga diri seorang abang adalah memastikan adiknya sukses tanpa harus tahu betapa kerasnya hidup di perantauan. Ia lebih memilih dicap "pelit" daripada harus dikasihani.

Satu-satunya orang yang samar-samar menyadari "kemiskinan terencana" Vino adalah Sarah. Hubungan mereka itu unik kalau bertemu selalu bertengkar. Sarah sering mengejek gaya berpakaian Vino yang itu-itu saja, atau pilihan tempat makannya yang selalu warteg.

"Vino! Muka lu udah kusam banget kayak ban serep, ayo ikut gue ke mall! Gue mau beli skincare, ntar lu gue traktir makan siang. Kasihan gue liat lu, pasti di rumah cuma makan kerupuk pake kecap kan?" semprot Sarah dengan pedasnya.

Vino biasanya membalas dengan sengit. "Sombong kali kau Sarah! Aku ini lagi diet sehat, bukan tak punya uang!"

Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Vino tahu itu adalah cara Sarah untuk membantunya tanpa melukai harga dirinya. Sarah sering sengaja memesan porsi makan yang terlalu besar lalu berkata, "Duh, gue kenyang banget, Vin. Bantuin abisin napa, sayang daripada dibuang mubazir!"

Seringkali, kebaikan Sarah terselubung dalam drama di grup WhatsApp agar tidak ada warga lain yang curiga.

[Grup WA Warga Guweh]

Sarah: Woy @Vino ! Gue barusan salah pesen Go-Food, malah kepencet porsi jumbo 3 kotak. Lu mau nggak? Daripada gue kasih ke kucing komplek, mending buat lu yang perutnya kayak karung goni! Kemari cepetan ke rumah gue!

Vino: Ceroboh kali kau jadi perempuan, Sar! Ya sudah, daripada mubazir, sini kubantu habiskan. Tapi jangan kau tagih aku ya, kau sendiri yang salah pesen!

Adit: Wih, si Vino dapet rejeki nomplok mulu dari Sarah. Kok gue nggak pernah salah pesen ke arah rumah gue sih, Sar?

Pernah suatu malam, kamera utama Vino rusak tepat saat ada deadline klien besar. Vino terduduk lemas di studionya, memikirkan biaya servis yang setara dengan jatah uang saku adiknya di Medan.

Tak lama, Sarah muncul membawa kopi dan sebuah kotak lensa mahal. "Vin, nih pake lensa cadangan punya temen gue dulu. Dia lagi nggak pake. Dan ini... ada sedikit fee dari temen gue yang butuh jasa foto, dia minta lu yang ambil. Bayarannya di muka, katanya."

Vino menatap Sarah lama. Ia tahu itu bukan proyek temannya, melainkan cara Sarah meminjamkan uang tanpa membuatnya merasa berutang.

"Makasih ya, Sar. Kau memang cerewet macam burung beo, tapi hatimu... lumayanlah," ucap Vino tulus.

"Dih! Jangan baper lu! Buruan kerjain, ntar malem traktir gue cilok sebagai bunga!" balas Sarah sambil ngacir pergi.

Vino tersenyum. Di Griya Visual, ia mungkin dikenal sebagai Vino yang irit dan suka ikut campur, tapi baginya, memiliki teman seperti Sarah adalah kekayaan yang tidak bisa diukur dengan saldo ATM.

Siang itu, Sarah sedang berdiri di depan garasinya dengan wajah ditekuk. Ia ada janji temu dengan salah satu brand kosmetik untuk urusan kerjasama, tapi mendadak supir langganan keluarganya izin pulang kampung. Mau pesan ojek online, cuaca Jakarta lagi panas-panasnya bisa luntur make-up seharian dalam lima menit.

Matanya melirik ke arah mobil mini cooper miliknya yang terparkir rapi tapi berdebu. Sarah memang punya mobil, tapi nyalinya buat nyetir di tengah kemacetan Jakarta masih selevel pemula yang takut lihat lampu merah.

Tiba-tiba, otaknya menangkap sebuah ide cemerlang. "Ah! Si Abang Irit!"

Sarah langsung melipir ke pagar rumah Vino. Dilihatnya sang fotografer sedang asyik membersihkan lensa kamera di teras sambil menyesap kopi hitam yang sisa setengah.

"Vin! Woy, Abang Medan!" teriak Sarah tanpa salam.

Vino tersentak, hampir menjatuhkan lensanya. "Astaga! Terkejut aku, Sar! Bisa tak kau ketuk pagar dulu? Macam penagih hutang kau datangnya!"

"Sttt! Jangan banyak protes. Lu lagi gabut kan? Nih, kunci mobil gue," Sarah melempar kunci mobil ke arah Vino yang langsung ditangkap dengan bingung. "lu bisa bawa mobil kan” tanya sarah, Vino sontak membalas “kenapa pula kau tak bisa, sopir lintas sumatra ini rupanya” “Kalo gitu yaudah, Lu anterin gue ke daerah Jakarta Selatan. Habis itu terserah, mobil gue lu pake sepuasnya buat jalan-jalan atau lu mau pake buat nyari objek foto juga boleh. Bensin gue isi full, makan siang lu gue tanggung di resto mana pun yang lu mau!"

Vino menatap kunci di tangannya, lalu menatap Sarah. "Kau serius? Tak kau tagih aku uang sewanya nanti?"

"Gratis, Vino! Anggap aja gue lagi pengen healing tapi males nyetir. Lu juga butuh healing kan? Muka lu udah mirip sensor kamera yang banyak debunya, butuh penyegaran!"

Vino akhirnya setuju. Bagi Vino, ini adalah kesempatan emas. Kapan lagi bisa keliling Jakarta pakai mobil nyaman tanpa mikirin biaya bensin dan parkir?

Di dalam mobil, suasana yang biasanya penuh adu mulut mendadak agak santai. Vino menyetel lagu-lagu lama yang bikin suasana jadi nostalgia, sementara Sarah sibuk memperbaiki lipstiknya.

"Kau tau Sar, baru kali ini aku naik mobil senyaman ini. Biasanya aku naik motor sampai pinggangku rasanya mau patah," seloroh Vino sambil memegang setir dengan mantap.

"Makanya, kerja yang bener! Biar bisa beli mobil sendiri," sahut Sarah pedas seperti biasa. Tapi kemudian suaranya melembut. "Tapi ya... sesekali nikmatin hidup lah, Vin. Lu juga butuh napas."

Vino terdiam sejenak, matanya fokus ke jalanan. Ia tahu Sarah sedang menyentil rahasianya secara halus. "Iya, Sar. Makasih ya. Kau memang mulutnya macam mercon, tapi niatmu... bisalah kuterima."

Tentu saja, momen Vino membawa mobil Sarah tak luput dari pantauan warga komplek saat mereka baru keluar gerbang.

[Grup WA Warga Guweh]

Adit: WADUH! Gue nggak salah liat?! @Vino nyetir mobilnya Sarah?! Gaya bener lu, udah kayak supir pejabat atau emang udah beralih profesi jadi asisten pribadinya Sarah nih? 🕺🚗

Kula: Wih, Bang Vino naik kasta! Biasanya cuma liat lu dorong motor gara-gara kehabisan bensin, sekarang bawa mobil mewah. @Sarah hati-hati Sar, ntar mobil lu dibawa kabur ke Medan! 😂

Vino: Diam kau Es kul kul! Ini namanya sinergi antar tetangga. Si Sarah butuh supir yang handal dan ganteng, ya aku orangnya! 🦁

Sarah: Berisik lu semua! Gue cuma lagi kasih sedekah pengalaman buat si Vino biar tau rasanya nyetir pake AC, bukan pake angin knalpot bus!

Hani: Ciyee... Sarah sama Vino makin lengket aja nih. Hati-hati ya kalian, jangan sampe 'healing'-nya malah berlanjut ke pelaminan! 😍✨

Vino: macam mana pula kak hani! Jangan kau doakan begitu, bisa darah tinggi aku tiap hari dengeri omelan dia!

Vino tertawa lebar di balik kemudi. Biarpun Sarah terus mengejeknya sepanjang jalan, tapi bagi Vino, siang itu adalah salah satu momen paling santai yang ia rasakan di perantauan. Ia bisa sejenak melupakan beban biaya semesteran adiknya dan menikmati dinginnya AC mobil sambil ditemani sahabatnya yang paling cerewet namun paling peduli.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dalgichigo: siaapp💪
total 1 replies
Jumi Saddah
👍👍👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹
Dalgichigo: 🫰🏻🫰🏻🫰🏻
total 1 replies
Juli Idyawati
menarik ceritanya
Dalgichigo: Makasihh Kak Juli <3, jangan lupa lanjutin baca ya, karena ceritanya bakal makin menarik nihh
balas
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!