NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: MELANGGAR GARIS BATAS

Suasana di dalam mobil masih menyisakan sisa-sisa ketegangan dari kafe tadi.

Deru mesin sedan mewah itu adalah satu-satunya suara yang mengisi ruang kabin, sementara lampu-lampu jalanan Jakarta yang temaram berkelebat di wajah mereka secara bergantian.

Laluna masih bisa merasakan panas dari sentuhan tangan Reihan di wajahnya tadi, sebuah sensasi yang kini meninggalkan debar jantung yang tak kunjung tenang.

Reihan kembali memacu mobilnya, namun kali ini ia tidak menuju apartemen. Ia membelokkan kemudi ke arah jalan lingkar luar, menjauh dari hiruk-pikuk pusat kota.

"Kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang," tanya Laluna pelan, sambil mengusap sisa air mata di pipinya.

"Kita butuh udara yang tidak terkontaminasi oleh kebodohan Saka Ardiansyah," sahut Reihan pendek.

Suaranya sudah tidak sekeras tadi, namun masih ada nada otoritas yang kaku.

Mereka berhenti di sebuah area lookout yang sepi di pinggiran kota, tempat di mana kerlip lampu kota terlihat seperti hamparan berlian yang tumpah di atas kain beludru hitam.

Reihan mematikan mesin, namun ia tidak turun. Ia hanya menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan.

"Kenapa kau membantuku?" Laluna akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Maksudku, kau bisa saja membiarkan Saka menghancurkan reputasiku dan menggunakan itu sebagai alasan untuk menceraikanku lebih cepat tanpa membayar sisa hutang ayahku."

Reihan menoleh perlahan.

Cahaya bulan masuk melalui kaca jendela, memberikan efek dramatis pada garis-garis wajahnya yang tegas.

"Kau pikir aku pria pengecut yang menggunakan skandal murahan untuk membatalkan kontrak? Aku adalah pria yang memegang kata-kataku, Laluna. Dan di atas kertas, kau adalah istriku. Menghancurkanmu sama saja dengan menghina seleraku sendiri."

Laluna tersenyum pahit.

"Jadi ini semua hanya soal selera dan reputasi?"

"Apalagi yang kau harapkan? Cinta di pandangan pertama seperti di novel-novel picisan yang kau baca?" Reihan mendengus, namun matanya tidak melepaskan pandangan dari Laluna.

"Dengarkan aku. Aku tahu kau mulai menjalankan bisnismu secara serius. Aku melihat caramu bekerja di dapur. Kau... kau memiliki gairah yang jarang kulihat pada orang-orang di kantorku."

Laluna tertegun. Ini adalah pujian paling tulus yang pernah keluar dari mulut Reihan.

"Gairah itu berharga, Laluna. Dan aku tidak akan membiarkan orang seperti Saka menginjak-injaknya hanya karena dia merasa memiliki masa lalu denganmu," lanjut Reihan.

Ia kemudian merogoh sesuatu dari saku jasnya, sebuah ponsel baru dengan model terbaru.

"Gunakan ini untuk urusan 'Khay'. Semua enkripsinya sudah diatur oleh tim IT-ku. Jangan gunakan ponsel pribadimu lagi untuk menerima pesanan. Itu terlalu mudah disadap."

Laluna menerima ponsel itu dengan tangan yang gemetar.

"Kau benar-benar memikirkan segalanya, ya?"

"Aku dibayar untuk berpikir, bukan untuk merasa," sahut Reihan dingin.

Namun, saat Laluna hendak memasukkan ponsel itu ke tasnya, jemari mereka bersentuhan.

Kali ini, Reihan tidak menarik tangannya. Ia justru menggenggam tangan Laluna, membalik telapak tangannya, dan memperhatikan bekas luka bakar kecil di ujung jari telunjuk Laluna, mungkin akibat terkena loyang panas tadi sore.

"Ini harganya?" bisik Reihan.

Suaranya mendadak berubah menjadi lembut, sebuah nada yang belum pernah Laluna dengar sebelumnya.

"Ini bukan apa-apa. Ini tanda bahwa aku benar-benar bekerja," jawab Laluna, berusaha menahan napasnya yang mulai tidak teratur.

Reihan mengusap bekas luka itu dengan ibu jarinya. Sentuhannya terasa seperti aliran listrik ringan yang menjalar ke seluruh tubuh Laluna.

Jarak di antara mereka di dalam mobil yang sempit itu tiba-tiba terasa menghilang. Udara di sekitar mereka mendadak menjadi panas.

Laluna bisa melihat pupil mata Reihan membesar. Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya.

Laluna tahu ia seharusnya menghindar, ia tahu kontrak mereka melarang adanya kontak fisik yang tidak perlu.

Namun, tubuhnya seolah tidak mau patuh pada logika. Ia merindukan kehangatan di tengah istana es yang selama ini ia tempati.

Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, ponsel Reihan berdering keras.

Drt... Drt...

Nama Clarissa muncul di layar dashboard.

Momen itu hancur seketika.

Reihan menarik diri dengan cepat, seolah baru saja tersengat api. Ia berdehem, merapikan jasnya, dan mengangkat telepon itu dengan nada bicara yang kembali formal dan dingin.

"Ya, Clarissa? ... Aku tahu. Aku akan meninjau laporan itu besok pagi. Jangan hubungi aku di jam seperti ini kecuali ada darurat medis."

Reihan mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban. Ia menghidupkan mesin mobil kembali.

"Kita pulang," ucapnya tanpa menatap Laluna.

Sesampainya di apartemen, suasana kembali menjadi canggung. Laluna langsung menuju dapur, merasa perlu menyibukkan diri agar tidak memikirkan kejadian di mobil tadi.

Ia mulai menata bahan untuk pesanan besok pagi, namun pikirannya melayang.

Ia menyadari bahwa garis batas yang tertulis di dalam kontrak mereka mulai kabur. Reihan bukan lagi sekadar "pria dingin" yang memberinya tumpangan hidup, pria itu mulai menjadi seseorang yang ia cari keberadaannya saat ia merasa terancam. Dan itu adalah hal yang berbahaya.

Laluna sedang mengayak tepung saat ia mendengar langkah kaki di belakangnya. Ia mengira itu Reihan yang hendak mengambil air, namun langkah itu berhenti tepat di belakang punggungnya.

"Laluna," panggil Reihan.

Laluna berbalik dan mendapati Reihan berdiri tanpa jas, hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan, memberikan kesan liar yang sangat berbeda dari penampilannya di kantor.

"Ya?"

"Tentang di mobil tadi..."

Reihan menjeda, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

"Lupakan saja. Itu adalah kesalahan teknis akibat kelelahan. Jangan memasukkannya ke dalam hati."

Laluna merasakan nyeri yang tajam di dadanya, namun ia memaksakan sebuah senyuman.

"Tentu saja, Tuan Arta Wiguna. 'Kesalahan teknis'. Aku mengerti. Lagipula, aku terlalu sibuk dengan donat-donatku untuk memikirkan hal lain."

Reihan menatap Laluna selama beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, namun ia hanya mengangguk kecil dan berbalik pergi.

Namun, sebelum Reihan benar-benar masuk ke kamarnya, Laluna memanggilnya.

"Reihan! Tunggu."

Laluna berjalan menghampirinya, membawa sebuah wadah kecil berisi krim khusus untuk luka bakar. Ia meraih tangan Reihan tangan yang sama yang tadi mengusap jarinya, dan meletakkan wadah itu di sana.

"Gunakan ini pada tanganmu. Aku lihat kau sempat tergores saat menarik pintu kafe tadi. Jangan biarkan 'aset' berhargamu terluka hanya karena masalah sepele," ucap Laluna, membalas kata-kata Reihan tadi.

Reihan menatap wadah krim itu, lalu menatap Laluna.

Sebuah kilatan aneh muncul di matanya. Bukan amarah, bukan pula kedinginan. Itu adalah sesuatu yang lebih mirip dengan rasa lapar yang tertahan.

Tanpa berkata apa-apa, Reihan menarik tangan Laluna, membuat gadis itu tertarik masuk ke dalam ruang kerjanya yang gelap. Ia menutup pintu dengan satu tendangan kaki, lalu mengunci mereka berdua di dalam.

"Kau tahu, Laluna..." bisik Reihan di telinga Laluna, sementara tubuh gadis itu terhimpit di antara pintu dan tubuh besar Reihan.

"Aku paling benci jika ada orang yang menggunakan kata-kataku untuk melawanku."

Di dalam kegelapan ruang kerja yang hanya diterangi oleh cahaya lampu kota dari balik jendela, aturan kontrak nomor tiga tentang kontak fisik secara resmi dilanggar untuk pertama kalinya.

Dan malam itu, Laluna menyadari bahwa bermain api dengan sang Ice King mungkin akan menghanguskannya, namun ia tidak lagi peduli.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!