Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELUKAN DI BALIK KABUT TRAUMA.
Alarm alami dalam diri Assel berdering tepat saat fajar belum menyingsing. Ia tersentak, segera bangkit dari ranjang besar yang semalaman memberikan aroma khas Maheer ke dalam mimpinya. Setelah menyucikan diri, Assel menghamparkan sajadah di tengah kamar luas itu. Di bawah langit Australia yang masih gelap, ia bersujud dalam tahajud yang panjang.
"Ya Rabb, berikanlah kesembuhan untuk suamiku dan lindungilah keluarga kami dari segala marabahaya," bisiknya dengan suara parau. Ia tahu, setiap helai nafas yang ia hirup saat ini adalah bagian dari ujian-Mu, dan ia hanya memohon kekuatan untuk melaluinya tanpa harus kehilangan lagi.
Setelah menyelesaikan dzikir dan shalat Subuh, Assel tidak kembali tidur. Ia melangkah menuju dapur mansion yang modern dan luas. Para pelayan yang sudah bersiaga di sana terkejut melihat nyonya rumah mereka sudah memegang pisau dan talenan.
"Nyonya, biarkan kami yang menyiapkannya. Anda pasti masih lelah," cegah salah satu koki dengan sopan.
Assel menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Terima kasih, tapi saya sudah terbiasa memasak untuk keluarga saya sendiri. Firasat saya mengatakan suami saya sudah sadar pagi ini, jadi saya ingin dia memakan bubur dan sup iga buatan saya."
Melihat keteguhan Assel, para pelayan hanya bisa berdiri di samping untuk membantu menyiapkan bahan. Aroma gurih kaldu iga segera memenuhi dapur, membangkitkan selera siapa pun yang menghirupnya. Tak lama, Razka turun dengan wajah segar dan pakaian santainya.
"Mama, Azka sudah siap!" seru bocah itu.
"Sarapan dulu, Sayang. Baru kita berangkat," ujar Assel lembut.
Tepat saat mereka sedang menyantap sarapan, Archie muncul di depan pintu. Assel langsung menyuruhnya ikut duduk. Archie sempat ragu dan merasa segan, namun Assel memberikan pilihan yang sulit ditolak.
"Ikut sarapan di sini, Archie, atau aku akan naik taksi sendiri ke rumah sakit?" ancam Assel tenang namun mematikan.
Archie terkekeh pasrah. "Baiklah, Nyonya. Saya tidak berani membiarkan Anda naik taksi sendirian di kota ini."
Sesampainya di rumah sakit, firasat Assel terbukti benar. Di dalam ruang rawat, Maheer sudah bersandar pada bantal dengan mata terbuka lebar. Wajahnya tampak bercampur aduk antara senang dan cemas saat melihat Assel masuk. Maheer senang karena wanita yang ia cintai ada di sana, namun ia cemas karena kehadirannya justru menjadi titik lemah yang paling empuk bagi musuh-musuhnya yang masih berkeliaran.
Saat Assel berpamitan ke kamar mandi untuk mengambil air hangat, Maheer segera memberikan isyarat pada Hans dan Archie untuk mendekat. Wajahnya yang semula tampak lemas berubah menjadi sangat dingin dan otoriter.
"Perketat keamanan di sekitar Assel dan Razka. Jangan biarkan mereka lepas dari pengawasan kalian sedetik pun," perintah Maheer dengan suara rendah yang tegas. "Dan Archie, cari bukti kejahatan Hudson secepatnya. Aku ingin dia membusuk di penjara sebelum dia sempat menyentuh seujung rambut istriku."
"Dimengerti, Tuan," jawab Archie dan Hans serempak.
Begitu pintu kamar mandi berderit terbuka, Maheer segera memberi kode agar anak buahnya mundur. Dalam hitungan detik, ekspresi wajahnya berubah total. Dari singa yang siap menerkam, ia berubah menjadi bayi besar yang tampak sangat tidak berdaya saat melihat Assel membawa baskom air dan kain lap.
"Assel... tubuhku terasa lengket sekali," keluh Maheer dengan nada manja yang dibuat-buat.
Assel mendengus, merasa geram dengan perubahan sikap Maheer yang begitu drastis. Namun, melihat balutan perban di kepala dan bekas operasi di punggung suaminya, Assel tetap diam dan mulai membersihkan tubuh Maheer dengan penuh kesabaran. Setelah mengganti pakaian suaminya, ia mulai menyuapkan bubur hangat.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Maheer? Kenapa mobilmu bisa sampai menabrak truk?" tanya Assel sambil menyodorkan sendok.
Maheer menelan buburnya lalu menjawab dengan enteng, "Tidak ada apa-apa, Sel. Aku hanya ingin menguji apakah tubuhku ini cukup kuat atau tidak. Ternyata masih lumayan, kan?"
Cubit!
"Aduh! Ampun, Sel! Sakit!" teriak Maheer saat jari-jari Assel mendarat tepat di lengan atasnya yang tidak diperban.
"Jangan bercanda dengan nyawamu, Maheer!" bentak Assel dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ingat, kau hidup bukan hanya untuk dirimu sendiri. Jangan buat Razka kehilangan pegangan hidupnya untuk kedua kali. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau ceroboh lagi."
Maheer terdiam melihat amarah yang bercampur dengan rasa takut di wajah Assel. Ia menatap lekat mata istrinya. "Bagaimana dengan dirimu, Assel? Apakah kau juga takut kehilangan aku?"
Pertanyaan itu membuat Assel membeku. Lidahnya terasa kelu. Ia teringat suara benturan keras yang ia dengar melalui jam pintar Razka kemarin, suara yang membuatnya merasa dunianya seakan runtuh. Namun, ia terlalu gengsi untuk mengungkapkannya secara terang-terangan.
"Aku... aku hanya ingin bertanya tentang foto-foto di mansion itu," Assel mengalihkan pembicaraan dengan gugup. "Kenapa banyak sekali foto aku dan Razka di sana? Apa maksudmu sebenarnya?"
Maheer tersenyum tipis, melihat usaha istrinya untuk berkelit. "Memangnya tidak boleh ya seorang suami memotret istri dan anaknya diam-diam? Tidak ada undang-undangnya, kan? Jadi terserah aku dong, itu kan istriku sendiri."
Assel semakin gemas. Ia kembali mencubit pinggang Maheer, membuat pria itu kembali menjerit kesakitan. Razka yang sejak tadi hanya diam menonton sambil memakan apel, akhirnya menggelengkan kepala.
"Mama, kenapa sih dari tadi Mama cubit Papa terus? Padahal kemarin Mama menangis kencang sekali waktu dengar Papa kecelakaan," celetuk Razka tanpa dosa.
Mata Maheer langsung berbinar penuh rasa ingin tahu. "Benarkah, Jagoan? Mama menangis hebat kemarin?"
"Iya benar! Mama sampai tidak bisa berdiri dan terus memanggil nama..."
"Razka! Diamlah dan makan apelmu!" potong Assel cepat dengan wajah yang sudah memerah padam seperti kepiting rebus.
Maheer tertawa kecil, meskipun punggungnya masih terasa nyeri. Ia menatap Assel dengan tatapan yang menuntut jawaban jujur. "Kenapa harus menyangkalnya, Assel? Katakan saja kalau kau memang takut kehilangan aku."
Assel menunduk, meremas kain lap di tangannya. Akhirnya, dengan suara yang sedikit ketus namun sarat akan emosi, ia menjawab, "Iya! Aku menangis karena aku takut! Aku takut kehilanganmu karena aku masih trauma dengan kepergian Mas Muzammil! Aku tidak mau ada orang lain lagi yang pergi dari hidupku dengan cara seperti itu!"
Mendengar kejujuran yang menyakitkan itu, Maheer tidak lagi tertawa. Ia segera menarik tangan Assel dengan lembut namun bertenaga, membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Meskipun tubuhnya masih lemah, Maheer mendekap Assel erat-erat di atas ranjang rumah sakit.
"Maafkan aku, Acel... maafkan aku sudah membuatmu takut," bisik Maheer di telinga Assel, tangannya mengusap punggung istrinya dengan penuh kasih. "Aku berjanji, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi kehilangan itu lagi. Aku akan tetap di sini, menjagamu dan Razka seumur hidupku."
Assel terisak pelan di bahu Maheer. Di dalam pelukan itu, rasa dingin yang menyelimuti hatinya selama seminggu terakhir perlahan mencair. Trauma akan masa lalu memang masih ada, namun kehadiran Maheer yang nyata di pelukannya memberikan sebuah harapan baru yang mulai ia akui. Romansa yang sempat terkubur di bawah bayang-bayang masa lalu kini mulai bersemi kembali di tengah dinginnya udara Australia, menyisakan satu janji bahwa mereka akan menghadapi badai Hudson bersama-sama.