Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 5: Ten'i Ryū
Pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena cahaya matahari—ia tetap menembus daun seperti biasa.
Bukan karena angin—ia tetap berhembus lembut di antara batang-batang pohon tua.
Melainkan karena sesuatu yang lebih halus.
Lebih… terarah.
Di depan gubuk, Purus berdiri.
Tidak bergerak.
Namun kehadirannya terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Lebih tajam.
Lebih fokus.
Seperti permukaan air yang biasanya tenang… kini menjadi cermin yang tidak tergoyahkan.
Grachius yang baru saja keluar dari gubuk langsung berhenti.
Ia memperhatikan.
“...kenapa melihatku begitu?”
Purus tidak menjawab.
Ia hanya membungkuk sedikit, mengambil dua ranting kayu dari tanah. Keduanya hampir sama panjang, lurus, cukup kuat untuk tidak langsung patah.
Satu dilemparkan ke arah Grachius.
Anak itu menangkapnya dengan sedikit terlambat.
“Untuk apa ini?”
Purus mengangkat rantingnya sendiri.
“Pegang dengan benar.”
Grachius memiringkan kepala.
“Ini… permainan?”
Tidak ada jawaban.
Purus melangkah maju.
Dan dalam satu gerakan—
rantingnya mengayun.
Tanpa aba-aba.
“—Eh?!”
Grachius terkejut. Refleksnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Ia mengangkat rantingnya, menahan serangan itu dengan kasar.
Tak!
Benturan kayu terdengar tajam.
Tangannya bergetar.
Kakinya bergeser sedikit ke belakang.
Ia berhasil menahan—
namun hampir kehilangan keseimbangan.
Purus sudah mundur kembali.
Tidak tergesa.
Tidak memberi jeda.
Grachius menatapnya, mata sedikit melebar.
“Itu bukan permainan…”
“Tidak.”
Jawaban Purus singkat.
Serangan kedua datang.
Lebih cepat.
Lebih halus.
Grachius mencoba mengangkat rantingnya lagi—
terlambat.
Pak!
Ranting Purus mengenai bahunya.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuatnya meringis.
“Ah—!”
Ia mundur satu langkah, memegangi bahunya.
“Kenapa tidak bilang dulu?!”
“Karena aku sudah mulai.”
Nada suara Purus tetap datar.
Grachius mengernyit.
Lalu menggertakkan gigi.
“Baiklah…”
Ia mengangkat rantingnya lagi.
Kali ini lebih siap.
Atau setidaknya… mencoba terlihat siap.
Purus mengamati.
“Ini adalah Ten'i Ryū.”
Nama itu diucapkan tanpa penekanan.
Namun terasa.
Grachius mengedip.
“Ten… apa?”
Tidak ada jawaban.
Hanya gerakan.
Serangan berikutnya datang lagi.
Kali ini dari arah samping.
Grachius mengangkat rantingnya—
menahan.
Tak!
Namun kali ini, ia tidak goyah.
Tidak terlalu.
“Bagus.”
Purus mundur setengah langkah.
Grachius sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka akan mendapat pengakuan sekecil itu.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa—
serangan berikutnya datang.
Lebih cepat.
Lebih dekat.
Grachius mencoba menahan—
gagal.
Pak!
Ranting mengenai lengannya.
Ia meringis lagi.
“Kenapa jadi lebih cepat?!”
“Karena kau mulai mengerti.”
Jawaban itu tidak masuk akal.
Namun juga… tidak sepenuhnya salah.
Grachius menghela napas.
“Ten'i Ryū itu apa sebenarnya?”
Purus berhenti.
Untuk pertama kalinya sejak latihan dimulai.
“Bukan kekuatan.”
Ia mengangkat rantingnya sedikit.
“Bukan kecepatan.”
Ia menatap Grachius.
“Keselarasan.”
Grachius mengernyit.
“Dengan apa?”
Purus tidak langsung menjawab.
Ia melangkah maju.
Namun kali ini—
tidak menyerang.
Hanya bergerak.
Perlahan.
Rantingnya bergerak mengikuti tubuhnya, seperti bagian dari dirinya, bukan alat yang terpisah.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada paksaan.
Namun tetap… tepat.
Grachius memperhatikan.
Matanya mengikuti.
“Kalau kau mencoba melawan...”
“...kau akan selalu terlambat.”
Ia berhenti tepat di depan Grachius.
“Kalau kau mencoba mengikuti… kau akan selalu tertinggal.”
Grachius diam.
“Lalu harus bagaimana?”
Purus mengangkat rantingnya lagi.
“Jangan lakukan keduanya.”
Dan serangan datang.
Grachius bergerak.
Bukan karena ia tahu harus melakukan apa.
Melainkan karena tubuhnya… bereaksi.
Rantingnya bertemu dengan milik Purus.
Tak.
Tidak sekeras sebelumnya.
Tidak seberat sebelumnya.
Namun—
lebih tepat.
Purus tidak berhenti.
Serangan berikutnya datang.
Grachius bergerak lagi.
Masih kasar.
Masih tidak sempurna.
Namun tidak sepenuhnya salah.
Untuk beberapa detik—
mereka bergerak.
Saling bertukar ayunan.
Tidak cepat.
Tidak lambat.
Namun—
ada ritme.
Dan untuk pertama kalinya—
Grachius tidak merasa ia sedang “melawan”.
Ia hanya… bergerak.
Sampai—
Pak!
Ia kembali terkena.
Grachius terhuyung.
“...hah…”
Napasnya mulai berat.
Purus mundur.
Latihan berhenti.
Untuk sementara.
“Kenapa tadi bisa… lalu hilang?”
Grachius bertanya, masih terengah.
“Karena kau menyadarinya.”
Jawaban itu datang tanpa jeda.
Grachius menatapnya.
“Memangnya itu salah?”
“Tidak.”
Purus menggeleng.
“Namun kesadaran yang kau paksa… akan mengganggu.”
Grachius mengingat sesuatu.
Meditasi.
Qi.
Hal yang sama.
Ia menunduk.
“...jadi ini juga sama.”
Purus tidak menjawab.
Namun ia tidak perlu.
...—...
Latihan berlanjut.
Serangan.
Benturan.
Langkah.
Jatuh.
Bangkit.
Berulang.
Grachius jatuh lebih dari sekali.
Tangannya mulai terasa pegal.
Kakinya mulai berat.
Napasnya tidak lagi teratur.
Namun ia tidak berhenti.
Setiap kali ia jatuh—
ia berdiri lagi.
Kadang cepat.
Kadang sedikit lebih lambat.
Namun tetap berdiri.
Dan setiap kali ia berdiri—
gerakannya berubah sedikit.
Tidak drastis.
Namun cukup.
Siang datang.
Latihan berhenti sementara.
Grachius duduk di tanah, berkeringat, napasnya masih berat.
“Kenapa ini lebih sulit dari meditasi…”
Purus berdiri di dekatnya.
“Karena tubuhmu belum belajar diam.”
Grachius mendesah.
“Tubuh juga harus diam?”
“Kadang.”
Jawaban itu sederhana.
Namun Grachius tidak membantah.
Ia hanya menatap ranting di tangannya.
Masih sama.
Namun terasa berbeda.
...—...
Hari-hari berikutnya mulai memiliki pola.
Pagi—
Grachius masih berlari ke sungai.
Masih hampir jatuh.
Masih tertawa sendiri.
Namun kini, sebelum ia melompat ke air—
ia berhenti.
Sejenak.
Merasakan.
Siang—
ia membantu Purus.
Memotong kayu.
Mengumpulkan ranting.
Masih ceroboh.
Masih salah.
Namun tidak sebanyak sebelumnya.
Sore—
latihan.
Ten'i Ryū.
Benturan kayu.
Langkah yang terus diperbaiki.
Jatuh yang semakin jarang.
Malam—
meditasi.
Qi yang semakin mudah dirasakan.
Lebih stabil.
Tidak lagi hilang secepat dulu.
Dan di antara semua itu—
sesuatu mulai terhubung.
Gerakan.
Napas.
Aliran di dalam dirinya.
Dan sesuatu di luar.
Tidak jelas.
Namun ada.
...—...
Suatu sore—
Purus menghentikan latihan lebih cepat dari biasanya.
Grachius masih berdiri, napasnya berat, namun tidak terengah seperti sebelumnya.
“Kenapa berhenti?”
“Karena sudah cukup.”
Grachius mengerutkan kening.
“Aku masih bisa lanjut.”
“Ya.”
Purus menatapnya.
“Namun tidak perlu.”
Grachius menurunkan rantingnya.
“...Aku bertahan lebih lama, bukan?”
Purus mengangguk sekali.
Grachius tersenyum.
Tidak lebar.
Namun cukup.
“Besok aku akan lebih lama lagi.”
Purus tidak menjawab.
Namun tatapannya tetap.
Mengamati.
Tidak hanya gerakan.
Namun sesuatu yang lebih dalam.
Qi dalam tubuh Grachius—
tidak lagi acak.
Masih lemah.
Namun mulai… terstruktur.
Seperti aliran kecil yang mulai menemukan jalannya.
“...Terlalu cepat.”
Gumam itu hampir tidak terdengar.
Grachius tidak menyadarinya.
Ia sudah berjalan menjauh, memutar ranting di tangannya seperti mainan.
Namun langkahnya—
tidak lagi sepenuhnya seperti anak kecil.
Ada sesuatu yang berubah.
Tidak terlihat jelas.
Namun nyata.
...—...
Malam itu—
Grachius tidak langsung tidur.
Ia duduk di luar gubuk.
Sendirian.
Ranting di tangannya.
Ia mengangkatnya.
Lalu mencoba bergerak.
Pelan.
Mengingat.
Tidak meniru.
Tidak memaksa.
Hanya… mencoba.
Gerakannya masih kasar.
Namun tidak sepenuhnya salah.
Ia berhenti.
Menarik napas.
Lalu mencoba lagi.
Tanpa disuruh.
Tanpa diawasi.
Purus berdiri di dalam bayangan.
Memperhatikannya.
Diam.
Anak itu…
tidak hanya belajar.
Ia mulai… mencari.
Dan itu—
lebih berbahaya.
Atau mungkin…
lebih penting.
Purus menatap langit.
Cahaya itu masih ada.
Lebih redup.
Namun tidak hilang.
Dan entah karena apa—
ia merasa…
sesuatu di luar sana—
mulai melihat kembali.
Bukan dunia.
Bukan manusia.
Sesuatu yang lebih jauh.
Lebih lama.
Lebih… sabar.
Tatapannya kembali ke Grachius.
Anak itu masih berlatih.
Masih mencoba.
Masih salah.
Namun terus bergerak.
“Perjalananmu…”
Purus bergumam pelan.
“Masih panjang.”
Angin malam berhembus.
Api kecil di dekat gubuk bergoyang pelan.
Dan di tengah keheningan itu—
sebuah langkah kecil terus berlanjut.
Menuju sesuatu yang bahkan belum ia pahami.
Namun sesuatu itu—
telah mulai menyadarinya.
...A Novel By Franzzz...