Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Satu Arah dan Bayang-Bayang Jakarta
Layar ponsel yang masih menyala di tengah kegelapan asrama London menampilkan wajah Ziva yang tertidur pulas. Perbedaan waktu lima jam membuat Arkan sering kali terjaga hanya untuk memandangi wajah istrinya lewat video call yang dibiarkan tersambung hingga pagi. Setelah badai gengsi di Episode 33 mereda, Arkan menyadari bahwa mendengar suara napas Ziva jauh lebih berharga daripada memenangkan argumen apa pun.
Namun, sekadar menatap layar tidak lagi cukup. Rindu yang sempat membeku kini mencair dan meluap menjadi urgensi yang tak tertahankan.
Rencana Rahasia di London
Pagi itu, Arkan duduk di depan laptopnya di perpustakaan LSE. Bukannya membuka jurnal makroekonomi, ia justru membuka situs maskapai penerbangan. Jarinya bergerak lincah mencari jadwal penerbangan weekend panjang mendatang.
"New York lagi?" suara Elena tiba-tiba terdengar dari belakang, dingin dan penuh selidik.
Arkan tidak menoleh. Ia tetap fokus mengisi data paspornya. "Iya. Ada masalah?"
Elena duduk di kursi sebelah Arkan, melipat tangannya di dada. "Julian sudah resmi dipecat dari dewan etik Columbia, Arkan. Kamu sudah menang. Kenapa masih harus mengejarnya ke sana? Kamu punya presentasi besar di firma magang minggu depan. Ayahku mengharapkanmu ada di sana."
Arkan mengklik tombol Confirm Payment dengan mantap. Ia baru saja menghabiskan sisa gaji magang bulanannya untuk tiket ekonomi menuju JFK.
"Kemenangan di atas kertas nggak ada artinya kalau aku nggak ada di samping istriku saat dia butuh penguatan pasca-trauma Julian," Arkan menoleh, menatap Elena dengan tatapan yang sangat tegas. "Dan kasih tahu ayahmu, aku tetap akan kirim presentasiku lewat email. Aku nggak akan membiarkan karierku—atau kamu—menghalangi jalanku pulang ke Ziva lagi."
New York: Kejutan yang Terendus
Di New York, Ziva sedang berada di tengah kesibukan luar biasa. Kantor berita tempatnya magang memberinya tugas besar: meliput konferensi tahunan PBB tentang isu lingkungan di markas besar UN. Ini adalah pembuktian diri yang ia impikan.
Ziva sedang merapikan kameranya saat sebuah pesan masuk dari Gibran di Jakarta.
Gibran: Ziv, lo lagi sama Arkan?
Ziva: Enggak, dia di London. Kenapa?
Gibran: Gue baru dapet kabar dari asisten bokapnya. Pak Wijaya lagi di New York buat urusan bisnis. Dan denger-denger, beliau nggak suka Arkan nekat mau nyusul lo lagi minggu ini.
Jantung Ziva mencelos. Arkan mau ke sini? Tanpa bilang-bilang? Dan Pak Wijaya sudah ada di Manhattan?
Pertemuan Tak Terduga di Fifth Avenue
Ziva memutuskan untuk mencari udara segar di Fifth Avenue sebelum memulai liputannya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan gedung perkantoran tinggi. Sosok yang sangat ia kenal keluar dari sana—Pak Wijaya.
Bukannya menghindar, Ziva justru memberanikan diri mendekat. Ia harus tahu apa rencana mertuanya kali ini.
"Om," panggil Ziva.
Pak Wijaya berbalik, tampak sedikit terkejut namun tetap mempertahankan wajah datarnya. "Ziva. Aku baru mau menyuruh orang mencarimu."
"Om mau hentikan Arkan ke sini lagi?" tanya Ziva tanpa basa-basi.
Pak Wijaya menghela napas, ia mengajak Ziva duduk di sebuah bangku taman di pinggir trotoar. "Ziva, Arkan mengabaikan kontrak magangnya di London hanya untuk menemuimu. Sebagai pengusaha, aku melihat ini sebagai kerugian. Tapi..." Pak Wijaya terdiam sejenak, menatap keramaian New York. "Sebagai ayah, aku melihat dia mulai memiliki kegigihan yang sama dengan pelaut di Selayar itu. Dia tidak peduli pada badai, asal tujuannya tercapai."
Pak Wijaya menyerahkan sebuah amplop kecil pada Ziva. "Ini kunci apartemen keluarga Wijaya di Upper East Side. Pakai itu selama Arkan di sini. Asrama kamu terlalu kecil untuk kalian berdua, dan aku tidak mau putraku tidur di sofa lagi."
Ziva tertegun. Kali ini, tawaran Pak Wijaya tidak terasa seperti intimidasi, melainkan sebuah pengakuan yang canggung.
Sang Penjaga Gerbang
Di Sydney, Revan yang mengetahui rencana nekat Arkan segera menelepon Gibran. "Gib, pastiin Arkan mendarat dengan aman. Gue dapet info Julian masih punya beberapa teman 'liar' di New York yang mungkin mau balas dendam soal kasus dewan etik itu."
"Tenang, Van. Gue udah minta temen-temen kita yang kuliah di NY buat standby di JFK," jawab Gibran.
Revan tersenyum, menatap bola basket di tangannya. "Bagus. Biar kali ini drama mereka berakhir di pelukan, bukan di ruang pengadilan."
Malam di JFK
Pesawat Arkan mendarat pukul sembilan malam. Ia keluar dari pintu kedatangan internasional dengan wajah lelah namun mata yang mencari-cari. Di balik barisan penjemput, ia melihat sosok mungil mengenakan jaket denim kesayangannya, memegang kertas bertuliskan: "POIN PELANGGARAN: TERLALU NEKAT."
Arkan tertawa lepas. Ia berlari dan langsung memeluk Ziva erat, menghirup aroma New York yang kini terasa seperti aroma rumah karena ada Ziva di dalamnya.
"Kenapa nekat banget sih, Ar?" bisik Ziva di pelukannya.
"Karena samudra terlalu luas buat cuma dipandang lewat layar, Ziv," Arkan mencium dahi Ziva. "Dan kali ini, aku ke sini bukan buat nyelametin kamu. Aku ke sini karena aku butuh kamu buat nyelametin aku dari rasa sepi di London."
Di kejauhan, dari dalam mobil hitamnya, Pak Wijaya melihat momen itu. Ia tidak memerintahkan sopirnya untuk mendekat. Ia hanya menatap putranya yang tampak jauh lebih bahagia daripada saat ia memenangkan kompetisi saham di London.