Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Cahaya matahari musim semi di Los Angeles menembus tirai tipis penthouse, menciptakan garis-garis emas di atas sprei sutra yang berantakan. Di tengah keheningan pagi yang tenang, sebuah ponsel di atas nakas mendadak menjerit histeris. Bunyi dering standar yang melengking itu merobek kedamaian kamar, berulang-ulang tanpa henti seolah sedang terjadi keadaan darurat nasional.
Nyx, yang kepalanya masih terkubur di bawah bantal, mengerang frustrasi. Ia merasakan tangan kekar Knox masih melingkar protektif di pinggangnya, seolah suara bising itu hanyalah angin lalu bagi pria itu.
"Knox... angkat teleponmu," gumam Nyx dengan suara serak khas bangun tidur. "Berisik sekali, kepalaku mau pecah."
Knox hanya bergumam tidak jelas, bukannya meraih ponsel, ia justru semakin merapatkan tubuhnya ke punggung Nyx, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. "Kau saja yang angkat, Sayang... aku masih sangat mengantuk. Mataku rasanya seperti dilem..."
"Ini ponselmu, bodoh!" Nyx mencoba menyikut lengan Knox, namun pria itu justru mengeratkan pelukannya seolah Nyx adalah bantal guling favoritnya.
"Angkat saja... bilang aku sedang 'sibuk'..." igau Knox pelan.
Karena dering itu mulai masuk ke panggilan kelima, Nyx akhirnya menyerah. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel itu dan menekan tombol hijau tanpa melihat layar. Belum sempat Nyx mengucapkan kata "Halo", sebuah suara wanita meledak dari seberang sana dengan volume yang cukup untuk menggetarkan kaca jendela.
"KNOX LAMBERT RICCARDO! APA KAU SUDAH MATI?! KENAPA LAMA SEKALI MENGANGKAT TELEPON MOMMY?!"
Nyx tersentak, hampir menjatuhkan ponsel mahal itu. Knox, yang mendengar suara melengking ibunya, langsung terduduk tegak di ranjang seolah baru saja tersengat listrik. Matanya yang tadi terpejam rapat kini terbuka lebar dengan ekspresi panik layaknya anak kecil yang ketahuan mencuri kue di dapur.
"M-Mom?" Knox menyambar ponsel itu dari tangan Nyx dengan gerakan kilat.
"MOMMY BARU MENDAPAT KABAR DARI ZACK KALAU MOTOR BMW-MU TERBAKAR! BAGAIMANA BISA, KNOX?! KAU SUDAH TUJUH HARI TIDAK KE MANSION DAN SEKARANG MOTOR MAHAL ITU JADI ABU?!"
Knox meringis, menjauhkan ponsel itu sedikit dari telinganya. "Maaf, Mom... itu... itu kecelakaan. Putung rokok seseorang mengenai tangki motorku saat aku parkir, makanya meledak. Aku tidak sengaja, sungguh!" Knox berbohong demi menyelamatkan nyawanya dari amukan sang ibu soal taruhan tinju ilegal.
"BOHONG! Mommy tidak akan mengirimkan uang bulanan minggu ini kalau kau tidak pulang ke mansion sekarang juga! Daddy-mu sudah menunggumu untuk makan siang!"
"Mom! Jangan begitu! Penjualan bengkel bulan lalu saja Mommy yang pegang, aku sama sekali tidak ambil bagian dari keuntungan itu!" protes Knox, suaranya kini terdengar merengek—sisi yang sangat jauh dari imej petarung gahar.
"Daddy-mu merindukanmu, Knox. Kau kalau sudah di apartemen pasti lupa punya Mommy dan Daddy. Pulang sekarang atau Mommy blokir semua kartu kreditmu!"
"Iya, iya, Mom... aku pulang siang ini. Janji. Bye, Mom. Love you."
Setelah sambungan terputus, Knox menghela napas panjang dan melempar ponselnya ke ujung ranjang. Ia kembali menjatuhkan tubuhnya ke bantal, menatap langit-langit dengan wajah frustrasi.
Di sampingnya, Nyx terdiam. Ia mendengarkan seluruh percakapan itu—pertengkaran kecil yang penuh kasih, ancaman uang bulanan yang sebenarnya hanya bentuk kerinduan, dan bagaimana Knox memanggil "Mommy" dengan nada manja.
Ada rasa iri yang mendadak menusuk ulu hati Nyx. Selama sembilan belas tahun hidupnya, percakapan telepon dengan orang tuanya hanya berisi instruksi, cacian, atau keheningan yang dingin. Ia tidak pernah tahu rasanya memiliki ibu yang mengomel karena motornya terbakar, atau ayah yang menunggu di meja makan hanya karena ingin melihat wajah anaknya.
Tanpa sadar, Nyx kembali merapatkan tubuhnya pada Knox. Ia memeluk pinggang pria itu dari samping, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Knox yang hangat. Ia ingin menyerap sedikit saja kehangatan dari "keluarga" yang dimiliki Knox. Air mata mulai menggenang di sudut matanya saat ia menyadari betapa hampa dunianya sendiri selama ini.
Knox, yang merasakan perubahan suasana hati Nyx, menunduk. Ia menyeringai nakal, mencoba mencairkan suasana seperti biasanya.
"Hey, Sayang... jangan menggodaku sepagi ini. Nanti 'dia' terbangun," bisik Knox mesum, merujuk pada gairah paginya. Ia membalas pelukan Nyx dengan erat. "Kau sedang pengen, ya? Hm? Kau ingin merasakannya sebelum aku pulang ke mansion?"
Namun, seringai Knox mendadak hilang saat ia merasakan getaran di bahu Nyx. Ia mendengar isakan kecil yang tertahan. Knox tertegun. Ia melepaskan candaannya dan mengelus rambut pendek Nyx dengan sangat lembut.
"Menangislah, Sayang... keluarkan saja," bisik Knox, suaranya kini tulus dan dalam. Ia tahu Nyx sedang memikirkan luka-lukanya yang tidak pernah ia ceritakan. "Suatu saat, aku doakan kau punya keluarga yang bahagia. Kau akan punya anak-anak yang menyayangimu, dan seorang suami yang akan mencintaimu setiap detik seumur hidupnya."
Nyx mendongak dengan mata yang basah dan kemerahan. Ia menatap mata biru Knox yang kini penuh dengan perlindungan. "Terima kasih, Knox... aku benar-benar beruntung memilikimu di saat seperti ini."
Knox terdiam sejenak, menatap wajah cantik Nyx yang rapuh. Ia mengecup kening gadis itu lama, lalu kembali pada mode menyebalkannya agar Nyx berhenti menangis.
"Tentu saja kau beruntung," ujar Knox sambil menyeringai lebar. "Istriku juga akan sangat beruntung nanti memilikiku. Aku akan menjadi suami yang hebat... aku akan membuatnya kesulitan berjalan setiap pagi karena aku tidak akan memberinya istirahat di atas ranjang."
Nyx tersentak, ia langsung memukul dada Knox dengan bantal. "OH! DASAR MESUMMMM!"
Knox tertawa terbahak-bahak, berguling menghindari serangan bantal Nyx. "Apa? Itu namanya ekspresi cinta yang intens, Nyx! Kau harus bersiap kalau nanti suamimu itu adalah aku!"
"Dalam mimpimu, Riccardo!" teriak Nyx, namun kali ini ia tertawa. Isak tangisnya berganti dengan tawa jengkel yang hangat.
Pagi itu, di tengah ejekan mesum dan ancaman blokir kartu kredit dari sang ibu, Nyx menyadari bahwa meskipun ia tidak memiliki keluarga yang sempurna, ia memiliki Knox. Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂