NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: GERIMIS DI GUDANG TUA

Suara guntur menggelegar di langit Jakarta, seolah-olah alam sedang meneriakkan amarah yang terpendam selama sepuluh tahun. Hujan turun begitu deras, menciptakan tirai air yang mengaburkan pandangan. Di bawah guyuran air langit yang dingin itu, seorang wanita berpakaian serba hitam berlari menembus kegelapan. Gendis—atau Larasati—tidak peduli jika paru-parunya terasa terbakar karena napas yang memburu. Ia hanya peduli pada satu hal: kebenaran.

Ia sampai di depan sebuah bangunan tua yang terbengkalai di pinggiran kota. Gudang bekas pabrik tekstil milik ayahnya. Bangunan itu tampak seperti raksasa mati yang kesepian, dikelilingi oleh ilalang tinggi dan garis polisi yang sudah pudar warnanya. Papan nama "Hardianto Tekstil" masih menggantung miring di gerbang utama, berderit memilukan setiap kali tertiup angin kencang.

Gendis merogoh saku celananya, mengeluarkan liontin perak pemberian ibunya. Dengan tangan gemetar karena kedinginan, ia membuka liontin itu dan mengambil sebuah kunci kecil yang berkilau di bawah cahaya kilat.

"Ayah, beri aku kekuatan," bisiknya parau.

Ia menyelinap masuk melalui pintu samping yang engselnya sudah karatan. Di dalam, suasana sangat gelap dan pengap. Aroma debu, kain lapuk, dan kotoran tikus langsung menusuk hidungnya. Gendis menyalakan senter kecil dari ponselnya. Cahaya lampu itu menari-nari di dinding yang penuh dengan sarang laba-laba.

Ia melangkah menuju ruang kerja ayahnya yang berada di lantai dua. Setiap anak tangga kayu yang ia pijak mengeluarkan suara derit yang mengerikan, seolah-olah bangunan itu sedang memprotes kehadirannya. Begitu sampai di ruangan itu, Gendis melihat meja kerja ayahnya masih berada di sana, tertutup debu tebal. Kursi kebesaran ayahnya tampak kosong, seolah menunggu pemiliknya yang takkan pernah kembali.

Gendis berlutut di bawah meja kayu jati yang besar itu. Ia meraba-raba bagian bawah lantai yang sedikit longgar, seperti yang diinstruksikan oleh Pak Subrata. Benar saja, ada sebuah kotak besi kecil yang tertanam di sana. Ia memasukkan kunci kecilnya. Klik.

Di dalam kotak itu, terdapat sebuah map plastik kedap air. Gendis membukanya dengan tangan bergetar. Lembaran kertas audit yang asli. Di sana, tertulis dengan jelas tanda tangan Tuan Pratama—ayah Maya—yang melakukan manipulasi dana perusahaan secara sistematis, lalu mengalihkannya ke rekening pribadi sebelum akhirnya menjatuhkan seluruh kesalahan pada ayah Gendis.

"Ketemu..." Gendis memeluk map itu erat-erat ke dadanya. Air matanya jatuh, bercampur dengan sisa air hujan di pipinya. "Akhirnya, Ayah... namamu akan segera bersih."

Sementara itu, di rumah mewah Baskara, suasana tak kalah mencekam. Maya berdiri di dapur dengan wajah yang pucat namun matanya berkilat penuh dendam. Di tangannya, ada sebuah botol kecil berisi cairan bening.

"Nyonya Maya... apa yang sedang Nyonya lakukan?" tanya Bi Sumi yang tiba-tiba muncul dari arah ruang cuci.

Maya tersentak, hampir menjatuhkan botol itu. Ia segera menyembunyikannya di balik punggung. "Bukan urusanmu, Bi! Pergi sana, urus cucianmu!"

Setelah Bi Sumi pergi dengan wajah bingung, Maya segera menuangkan beberapa tetes cairan itu ke dalam teko berisi teh herbal yang baru saja disiapkan Gendis untuk Ibu Rahayu sebelum Gendis "pergi tidur". Cairan itu bukan racun mematikan, melainkan obat pencahar dosis tinggi yang bisa membuat orang tua seperti Ibu Rahayu jatuh sakit parah dan lemas seketika.

"Jika Ibu Rahayu jatuh sakit setelah minum teh buatanmu, Baskara tidak akan punya alasan lagi untuk membelamu, Gendis," desis Maya jahat.

Maya kemudian membawa nampan itu menuju kamar Ibu Rahayu. Ia ingin memastikan wanita tua itu meminumnya di depannya.

"Ibu... ini teh herbalnya sudah siap. Gendis tadi bilang dia sudah mengantuk, jadi saya yang membawakannya untuk Ibu," ucap Maya dengan nada yang pura-pura lembut saat masuk ke kamar mertuanya.

Ibu Rahayu yang sedang bersandar di tempat tidur sambil membaca buku, menatap Maya dengan curiga. "Tumben kamu mau repot-repot, Maya."

"Namanya juga menantu, Bu. Saya ingin berbakti," sahut Maya sambil menyodorkan cangkir itu.

Tanpa curiga, Ibu Rahayu meminum teh itu hingga tandas. Maya tersenyum puas. Siasatnya sudah berjalan. Kini, ia hanya perlu menunggu Gendis pulang dan tertangkap basah sebagai "penjahat" di rumah ini.

Satu jam kemudian, Gendis kembali ke rumah lewat balkon kamarnya dengan pakaian yang sudah ia ganti dengan piyama bersih. Ia menyembunyikan map dokumen itu di bawah tumpukan pakaian dalam di lemari yang paling dalam. Ia merasa lega, namun firasatnya mengatakan ada sesuatu yang salah.

Benar saja. Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah kamar Ibu Rahayu.

"Gendis! Baskara! Tolong!" suara Maya terdengar histeris.

Gendis segera berlari keluar kamar. Di lorong, ia bertemu dengan Baskara yang juga baru saja keluar dari ruang kerjanya dengan wajah panik. Mereka berdua bergegas masuk ke kamar Ibu Rahayu.

Di sana, Ibu Rahayu tampak memegangi perutnya dengan wajah yang sangat pucat. Keringat dingin mengucur di dahinya, dan ia berkali-kali merintih kesakitan.

"Ada apa ini?" tanya Baskara sambil memegang tangan ibunya.

"Ibu... Ibu tiba-tiba muntah dan diare parah, Mas," ucap Maya sambil menangis buaya. "Tadi setelah minum teh yang dibuat Gendis, Ibu langsung begini!"

Baskara menoleh ke arah Gendis dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh keraguan. "Gendis? Apa yang kamu masukkan ke dalam teh itu?"

Gendis terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap cangkir kosong di atas meja nakas. "Mas... aku tidak memasukkan apa pun. Itu teh yang sama dengan yang kubuat setiap hari untuk Ibu. Aku bahkan mencuci semua peralatannya sendiri."

"Bohong!" teriak Maya sambil menunjuk wajah Gendis. "Aku lihat sendiri tadi di dapur, kamu memasukkan sesuatu dari botol kecil ke dalam teko. Aku pikir itu pemanis, tapi ternyata... kamu ingin mencelakai Ibu!"

"Aku tidak melakukan itu, Mas! Demi Allah, aku menyayangi Ibu seperti ibuku sendiri!" bela Gendis, air matanya mulai mengalir. Kali ini, tangisannya bukan sandiwara. Ia benar-benar takut jika sesuatu terjadi pada Ibu Rahayu.

Baskara tidak mendengarkan. Ia segera menggendong ibunya menuju mobil. "Maya, siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang! Gendis, kamu tetap di rumah. Jangan pergi kemana-mana sampai aku kembali!"

Gendis terduduk di lantai saat melihat mereka semua pergi. Ia merasa dunia seolah runtuh. Siasat manis yang ia bangun dengan hati-hati kini berbalik menghantamnya. Maya benar-benar licik. Ia tidak menyangka Maya akan tega mengorbankan kesehatan Ibu Rahayu hanya untuk menjatuhkannya.

Bi Sumi mendekati Gendis, memegang bahunya dengan gemetar. "Non Gendis... tadi saya lihat Nyonya Maya di dapur sendirian sebelum beliau membawa teh itu ke atas. Beliau memegang botol kecil."

Gendis mendongak. Matanya yang basah kini memancarkan kilatan amarah yang luar biasa. "Bibi yakin?"

"Yakin, Non. Tapi saya takut bicara tadi..."

Gendis mengepalkan tangannya. Ia berdiri dan mengusap air matanya dengan kasar. "Terima kasih, Bi. Jangan katakan ini pada siapa pun dulu. Biarkan mereka bermain dengan api. Aku punya sesuatu yang jauh lebih besar untuk memadamkan api mereka."

Gendis masuk kembali ke kamarnya. Ia tidak lagi menangis. Ia mengambil map dokumen yang tadi ia ambil dari gudang. Dokumen ini adalah satu-satunya senjatanya sekarang. Ia tidak akan menunggu pesta ulang tahun perusahaan itu lagi. Ia akan membongkar semuanya besok, saat Baskara sudah tenang.

Namun, Gendis sadar. Maya pasti punya rencana lain. Pasti Maya akan memanggil polisi atau mengusirnya secara paksa malam ini juga jika ia tidak bertindak cepat.

Gendis mengambil ponselnya, ia mengirimkan pesan singkat kepada seseorang yang selama ini ia sembunyikan identitasnya—seorang pengacara muda yang merupakan teman masa kecilnya yang juga ingin membalas dendam pada keluarga Pratama.

“Rencana berubah. Maju lebih awal. Temui aku di rumah sakit besok pagi jam 8. Bawa semua berkas pendukung.”

Gendis menatap hujan yang mulai mereda di luar jendela. Malam ini adalah malam terpanjang dalam hidupnya. Ia tahu, di rumah sakit sana, Maya pasti sedang menghasut Baskara untuk membencinya. Tapi Gendis tidak takut lagi.

"Kamu ingin bermain Air Mata Pernikahan denganku, Maya?" gumam Gendis dingin. "Mari kita lihat, siapa yang akan benar-benar kehabisan air mata saat kebenaran tentang pengkhianatan ayahmu terungkap di depan suamimu."

Gendis duduk di tepi ranjang, menggenggam tas kecil berisi dokumen itu. Ia tidak tidur sedetik pun. Ia menunggu fajar menyingsing, menunggu saat di mana ia akan menjemput takdirnya. Bukan lagi sebagai istri kedua yang tertindas, tapi sebagai pewaris sah dari segala hal yang telah dicuri dari keluarganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!