NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Berlatih Bersama

Jam tiga malam di Lembah Batu Merah sangatlah dingin berbeda dari dinginnya laboratorium bawah tanah.

Laboratorium dingin karena tidak ada cahaya yang menghasilkan panas di sana, karena ruangan nya tertutup.

Lembah ini dingin karena hidup.

Kabut tipis mengambang di antara batu-batu merah yang menjulang seperti gigi raksasa di kedua sisi lembah sempit itu. Embun menempel di permukaan batu dan jatuh dalam tetes-tetes kecil yang terdengar seperti hujan yang sangat pelan. Di atas, langit masih ungu gelap dihiasi dengan satu dua bintang.

Wei Mou Sha tiba sepuluh menit sebelum waktu yang Chen Liang Huo perkirakan akan datang.

Ia berjalan menyusuri dasar lembah, memetakan tata letaknya. Batu-batu merah berukuran tidak seragam, beberapa setinggi dua orang, beberapa hanya sebatas lutut.

Tanah dasarnya keras dan tidak rata, ada beberapa titik di mana batu besar berbentuk formasi yang bisa dipakai sebagai penutup atau titik pijak dalam pertarungan.

Wei Mou Sha sudah memetakan tiga rute keluar dan enam posisi bertahan, ketika suara langkah kaki datang dari mulut lembah.

Chen Liang Huo datang tepat saat warna langit mulai menggeser dari ungu ke abu-abu.

Ia datang sendirian, seperti yang Wei Mou Sha duga. Membawa sebotol air dan tidak membawa senjata apa pun, Wei Mou Sha sudah cukup yakin bahwa Chen Liang Huo adalah jenis orang yang tidak terlalu membutuhkan senjata kalau tidak dalam kondisi darurat.

Chen Liang Huo melihat ia berdiri di tengah lembah dan tidak terlihat kaget.

"Kamu sudah cukup lama di sini?."

"Sepuluh menit."

"Memeriksa tempat ini?"

"Ya."

Chen Liang Huo tersenyum tipis, ia sudah menduganya. Ia kemudian meletakan botol airnya di atas batu datar di dekat dinding lembah dan berdiri di sisi yang berlawanan dari Wei Mou Sha.

"Aku tidak akan mengajari kamu teknik Aula Api Sejati," kata Chen Liang Huo langsung. "Pertama karena itu melanggar aturan sekte. Kedua karena teknik kami tidak akan cocok denganmu."

"Aku tidak meminta untuk diajarkan teknik apa pun."

"Tapi kamu butuh fondasi." Chen Liang Huo menatapnya. "Jadi aku tidak akan mengajari kamu cara menyerang. Aku akan menyerang kamu, dan kamu cari sendiri cara menghadapinya."

Wei Mou Sha mempertimbangkan ini.

"Baik."

Chen Liang Huo menyerang tanpa peringatan lebih lanjut.

Tidak ada kuda-kuda terlebih dahulu bahkan tidak ada isyarat apapun. Ia bergerak dari posisi santainya dan langsung menyerang dengan kekuatan penuh dalam waktu yang sangat singkat.

Wei Mou Sha mundur dua langkah, memiringkan tubuhnya, dan membiarkan kepalan tangan itu lewat tiga senti dari bahunya.

Panas yang dihasilkan dari energi qi-nya terasa di kulit bahunya meski tidak menyentuhnya.

Lebih cepat dari Feng Bai, catatnya. Dan panas qi-nya aktif bahkan tanpa teknik khusus.

Chen Liang Huo tidak berhenti di satu serangan. Ia melanjutkan dengan kombinasi yang tidak mengikuti pola biasa mana pun yang Wei Mou Sha sudah lihat di arena, tangan kanan, kaki kiri, siku kanan, lutut kiri, semua dalam urutan yang tidak bisa diprediksi dari gerakan sebelumnya.

Wei Mou Sha terus mundur, terus menghindar dan terus mencatatnya.

Dua menit pertama dihabiskan sepenuhnya seperti itu.

Lalu Chen Liang Huo berhenti. Bukan karena kelelahan, napasnya masih teratas dengan baik, bahkan Qinya tidak terkuras sama sekali. Tapi ia berdiri dan menatap Wei Mou Sha dengan ekspresi yang sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Kamu menghindar dengan sangat baik," katanya. "Tapi kamu selalu mundur. Tidak pernah menyamping dan tidak pernah maju ke dalam serangan."

"Mundur lebih aman."

"Mundur terus akan bikin kamu kehabisan ruang." Chen Liang Huo menunjuk ke arah dinding lembah di belakang Wei Mou Sha, jarak yang tersisa sekitar empat meter dari posisinya sekarang. "Di arena turnamen ruangnya terbatas. Orang yang tahu kamu selalu mundur akan memakai cara itu untuk memojokkan dirimu."

Wei Mou Sha menatap jarak empat meter itu. Fakta yang sangat akurat.

"Tunjukkan," katanya.

"Tunjukkan apa?"

"Bagaimana cara tidak mundur tanpa kena serangan."

Chen Liang Huo menatapnya sebentar. Lalu ia menyerang lagi, tapi kali ini lebih lambat, seperempat kecepatan yang tadi ia keluarkan, cukup pelan untuk Wei Mou Sha bisa lihat detail gerakannya.

"Ketika aku menyerang dari kanan, tubuhku terbuka di kiri selama sepersekian detik, di sini." Ia tunjuk titik di bawah tulang rusuk kirinya. "Bukan karena aku lemah di sana. Tapi karena momentum serangan kanan menarik berat tubuhku ke kanan. Kalau kamu maju ke dalam serangan, bukan mundur, kamu bisa pakai itu sebelum aku punya waktu untuk menutupnya."

Wei Mou Sha mencatat itu.

"Coba."

Kali ini Wei Mou Sha yang menyerang duluan.

Mereka berlatih selama dua jam.

Tidak ada percakapan yang tidak perlu, hanya serangan, penghindaran, koreksi. Chen Liang Huo ternyata guru yang tidak sabar dalam hal menjelaskan, tapi sangat sabar dalam hal menunggu Wei Mou Sha menemukan jawaban nya sendiri.

Beberapa kali Wei Mou Sha tidak berhasil menghindar, dapat tekanan di bahu, pukulan di pergelangan tangan dan satu tendangan di tulang kering yang meninggalkan memar yang akan ia rasakan sampai besok. Setiap kali itu terjadi ia berhenti sebentar, menganalisa di mana kalkulasinya yang salah, lalu melanjutkan lagi.

Chen Liang Huo tidak berkomentar setiap kali itu terjadi.

Hanya menyerang lagi.

Langit sudah sepenuhnya cerah dan kabut lembah sudah hilang ketika mereka berhenti.

Wei Mou Sha duduk di atas batu datar, memeriksa memar di tulang kering kanannya dengan tatapan yang sama objektifnya seperti ia memeriksa informasi apa pun.

Chen Liang Huo duduk di batu lain, meminum air dari botolnya.

"Kamu belajar dengan cepat," kata Chen Liang Huo. Bukan pujian. "Tapi ada sesuatu yang aneh."

"Apa?"

"Qi-mu." Chen Liang Huo menatapnya dengan ekspresi yang mencoba mengidentifikasi sesuatu. "Setiap kultivator punya pola aliran qi yang bisa dirasakan saat bertarung, seperti sidik jari. Feng Bai punya pola Pedang Langit Utara yang khas. Aku punya pola Aula Api Sejati." Ia berhenti sebentar.

"Kamu tidak punya pola yang bisa kuidentifikasi. Qi-mu seperti ada tapi tidak ada. Hadir tapi tidak mengalir ke mana-mana."

Wei Mou Sha tidak menjawabnya.

"Itu bukan tidak punya qi," lanjut Chen Liang Huo. "Itu qi yang dibatasi sesuatu dari dalam."

Keheningan terjadi selama beberapa detik di antara mereka.

"Kamu sangat observatif," kata Wei Mou Sha akhirnya.

"Aku selalu bertarung dengan banyak orang. Belajar membaca apa yang dimiliki lawan." Chen Liang Huo tidak mendesak untuk penjelasan lebih lanjut, ia hanya menyimpan informasi itu di suatu tempat dan menutupnya. "Besok jam tiga malam, di lembah yang sama."

Ia bangkit dan berjalan keluar lembah.

Wei Mou Sha masih duduk di batunya sebentar lebih lama setelah Chen Liang Huo pergi.

Qi yang dibatasi sesuatu dari dalam.

Ia meninggal kan lembah menjelang siang, mengambil jalan yang berbeda dari yang tadi, melewati distrik tengah kota, deretan toko artefak dan apotek kultivasi yang sudah ia lewati beberapa kali sebelumnya.

Kakinya berjalan dengan ritme yang sudah terbiasa, pikirannya terus memproses latihan tadi, ia benar benar tidak memperhatikan sekelilingnya.

Karena itu ia hampir tidak bisa menghindari tabrakan. Bahu orang itu menyerempet lengan kirinya saat lewat, dan beberapa gulungan kertas yang dibawa orang itu jatuh berhamburan ke tanah.

Orang itu berhenti. Kemudian menoleh.

Wei Mou Sha menatap wajah yang melihat ke arahnya.

Seorang perempuan yang usia nya tidak jauh beda darinya, mungkin sedikit lebih muda. Rambut hitam panjang yang dikepang setengah dan dibiarkan jatuh bebas di punggung, dengan beberapa helai terlepas di sekitar wajahnya karena terburu buru.

Mata ungu gelap yang saat ini menatap balik dengan campuran antara kaget, dan sesuatu yang lain yang tidak langsung ia identifikasi.

Di tangannya masih ada beberapa gulungan yang tidak jatuh, beserta kipas kecil berukir teratai merah yang ia pegang.

Seragam putih dengan aksen hijau muda dan bordir kecil berbentuk bunga di kerah. Sekte Bunga Abadi.

Perempuan itu menatapnya selama dua detik.

Lalu ia berjongkok dan mulai mengumpulkan gulungan-gulungan yang berserakan di tanah dengan gerakan yang cepat dan terbiasa.

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!