Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik layar
“Ha… ha… ha…”
Suara tawa Xavero menggema di ruangan pribadinya, rendah namun dingin. Senyum miring tak lepas dari wajahnya.
“Ardian… sebentar lagi kamu akan tersingkir dari keluarga Mahendra.”
Tatapannya mengarah lurus ke papan di dinding, tempat foto Ardian terpampang jelas di antara benang-benang merah yang saling terhubung.
“Ini saatnya kamu merasakan apa yang dulu aku rasakan,” gumamnya pelan.
Bayangan masa lalu kembali terlintas, bagaimana Ardian memperlakukannya dengan rendah, merendahkan martabatnya seolah ia tidak pantas berdiri sejajar.
“Bersiaplah…”
Xavero mengalihkan pandangannya, menatap seluruh ruangan yang kini dipenuhi layar monitor dan laptop yang tersusun rapi. Kabel-kabel menjalar, saling terhubung, menciptakan sistem yang kompleks namun terorganisir.
Senyum tipis terbit di bibirnya.
Tempat ini, adalah ruang kerja impiannya.
Ia melangkah mendekat ke arah dinding, tempat beberapa foto tersusun rapi. Satu per satu ia perhatikan, hingga langkahnya berhenti pada satu wajah.
“Arga Wijaya…”
Nada suaranya berubah lebih dalam.
“Kita memang tidak pernah kenal. Tapi… kamu hampir membuatku mati… hanya karena mengiyakan permintaan Liora.”
Tangan Xavero perlahan mengepal erat. Ia sudah tahu, di balik para preman yang hampir mengeroyoknya malam itu, ada Arga sebagai dalangnya.
“Kini giliranmu.”
Xavero berbalik, melangkah menuju deretan monitor yang menampilkan berbagai data tentang Arga. Jemarinya mulai bergerak lincah di atas keyboard, matanya fokus, dingin, dan tajam.
Beberapa detik berlalu…
Alisnya perlahan berkerut.
“Perusahaan dia… hampir bangkrut,” gumamnya pelan.
Senyum miring kembali terbit.
“Tanpa aku mengotori tanganku… kau sudah runtuh lebih dulu.”
Ia bersandar di kursinya, menatap layar dengan rasa puas yang samar.
“Tapi siapa yang membuat ini?”
Pertanyaan itu membuatnya kembali condong ke depan. Fokusnya kembali tajam. Jemarinya menari cepat, membuka lapisan demi lapisan data yang tersembunyi.
Hening.
Lalu—
Xavero berhenti.
Matanya menyipit, menatap sebuah kode yang muncul di layar.
“Ini…”
Napasnya tertahan sejenak.
“Tuan Nathan…”
Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Jadi, ini semua campur tangan Tuan Nathan.”
Beberapa detik ia terdiam, mencerna semuanya.
Lalu, senyum puas perlahan terbentuk di wajahnya.
“Kekuasaan Tuan Nathan memang tidak perlu diragukan lagi.”
Xavero terdiam sejenak.
Tatapannya tidak lagi sekadar dingin, kini penuh perhitungan.
“Tuan Nathan…” gumamnya pelan, nyaris seperti mencicipi nama itu di ujung lidahnya.
Ia menyandarkan tubuhnya perlahan, matanya tetap terpaku pada deretan data yang terus bergerak di layar.
“Menarik…”
Jarinya kembali bergerak di atas keyboard, membuka lebih dalam jejak-jejak yang tertinggal. Setiap celah, setiap pola, ia telusuri dengan teliti.
Semakin dalam ia masuk…
Semakin jelas satu hal.
Serangan ini bukan sekadar menjatuhkan.
Ini dirancang untuk menghancurkan perlahan.
Saham ditekan. Kepercayaan investor dirusak. Kerja sama diputus satu per satu.
Rapi. Terstruktur. Dan… kejam.
Sudut bibir Xavero terangkat tipis.
“Bukan gaya orang biasa,” gumamnya.
Ia berhenti sejenak, menatap layar dengan mata menyipit.
“Ini bukan cuma menjatuhkan Arga, ini seperti menghapusnya dari permainan.”
Hening.
Lalu, tanpa sadar, Xavero tertawa kecil.
Pendek. Pelan. Namun dingin.
“Terima kasih, Tuan. Anda benar-benar mempermudah pekerjaanku.”
Nada suara Xavero terdengar rendah, namun penuh arti.
“Tapi…” ia menjeda, tatapannya semakin dingin, “aku tidak suka menunggu. Aku ingin dia hancur… sehancur-hancurnya.”
Ia kembali fokus pada layar monitor di hadapannya. Jemarinya mulai menari cepat di atas keyboard, mengetik tanpa ragu, seolah setiap langkah sudah ia perhitungkan dengan matang.
Cahaya dari layar memantul di wajahnya yang datar, mempertegas aura dingin yang kini melekat.
Kali ini, tanpa banyak pertimbangan lagi, ia mulai menghancurkan perusahaan Arga Wijaya, tanpa menyisakan celah untuk bangkit.
Beberapa sistem mulai runtuh.
Data bergerak cepat.
Transaksi terganggu.
Dan semuanya, berjalan sesuai rencana.
Tak lama kemudian—
“Kehancuranmu… tinggal menunggu waktu.”
Xavero menyandarkan tubuhnya, menatap layar dengan puas atas apa yang baru saja ia lakukan.
Senyum tipis terukir di wajahnya.
“Kalau Tuan Nathan sudah turun tangan,” gumamnya pelan, “berarti ini bukan sekadar kebetulan.”
Matanya menajam, penuh pertanyaan yang mulai bermunculan.
“Apa tujuan Anda sebenarnya?”
°°
“Nico, apa hasilnya sudah keluar?”
Nico tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Xander dalam, lalu menyerahkan sebuah amplop berwarna putih.
“Gue mau lo lihat sendiri.”
Xander langsung mengambilnya. Tangannya mulai bergetar saat membuka amplop tersebut. Ia melakukannya perlahan, seolah takut dengan apa yang akan ia temukan.
Matanya menyusuri setiap baris dengan saksama.
“99%… positif.”