Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyombongkan diri
Tarikan napas Rinjani semakin panjang melihat Ardian duduk di sofa dimana biasa ia menerima klien. Sebelum menghampiri ia mengkode Zira dan Meli agar segera keluar. Ini masalahnya dan dia akan membereskan tanpa melibatkan siapapun.
Ruangan yang di desain senyaman mungkin kini malah terasa mencekam akibat hadirnya pria masa lalu yang hampir tergantikan dihatinya.
"Berhenti bersikap seenaknya dan membuat karyawan aku nggak nyaman," ucapnya sebelum duduk.
"Kita impas sekarang."
"Impas?" Alis Rinjani terangkat. Apa yang pria dihadapannya ini bahas?
"Ya kita impas. Aku selingkuh kamu juga begitu. Sekarang kita mulai dari awal. Kamu tahu kan aku sangat mencintaimu Jani? Kamu nggak ingat kenangan indah tentang kita?"
"Tapi aku nggak selingkuh, jadi ...." Rinjani mengahan napas saat Ardian beranjak, bertumpu tangan di atas meja dan tubuhnya condong ke depan. Bergerak sedikit saja bibir mereka bersentuhan.
....
Ikhram baru saja turun dari mobil, dan saat akan memasuki gedung dia berpapasan dengan Meli dan Zira di ambang pintu.
Keduanya terkejut, begitu pun dengan Ikhram. Bukankah Rinjani buru-buru ke kantor karena ada pekerjaan? Tetapi kenapa karyawannya berkeliaran.
"Selamat siang pak Ikhram." Zira menyapa lebih dulu. "Bu Jani kedatangan tamu jadi bapak bisa menunggu lebih dulu."
"Klien?"
"Itu ...."
"Kata kak Zira mantan pacarnya pak."
Dan detik itu juga Meli mendapatkan cubitan di lengannya. Berbeda dengan Ikhram-pria itu melenggang tanpa bertanya. Alih-alih mengantri di lift pada jam-jam sibuk seperti ini, ia berbelok pada tangga darurat.
Mengayungkan langkah lebarnya secara terburu-buru. Tiba di depan kantor Rinjani, ia menarik napas dalam.
Memegang handel pintu dan membukanya sangat pelan.
"Jani ...."
"Ikhram." Rinjani langsung mendorong Ardian agar menjauh darinya. "Apa yang kamu lihat ...."
"Ponselmu ketinggalan." Ikhram menyerahkan benda pipih ditangannya. "Jadwa penerbangan saya dimajukan jam 5 sore."
"Sekarang banget? Masih ada waktu untuk ...'
"Meminimalisir keterlambatan." Ikhram tersenyum, menyibak rambut panjang Rinjani, menyampirkan anak rambut di belakang telingan tanpa peduli pada keberadaan Ardian.
Ikhram sadar pria yang berdiri tidak jauh darinya sudah mengepalkan tangan. Mungkin saja kesal dengan sikapnya. Tapi, siapa peduli? Rinjani istrinya tidak akan ada yang melarang. Lagi pula dia sudah mendapatkan izin dari wanita itu sendiri.
"Saya juga ada urusan di tempat lain, jadi mungkin nggak sempat lagi berpamitan. Sampaikan permintaan maaf saya pada ibu dan ayah karena pergi sebelum mereka datang."
"Hati-hati." Rinjani mengangguk. "Saya akan menyusul secepatnya."
"Hm." Sebelum benar-benar meninggalkan kantor itu, Ikhram mendaratkan sebuah kecupan di kening dan mengelus tipis pinggang Rinjani.
Dan ketika dirinya membuka pintu, dia menemukan karyawan Rinjani berdiri, menatapnya heran? Tentu ... sebuah pertanyaan akan menghinggapi kepala dua perempuan tersebut. Terkait hubungan mereka seperti apa? Pengakuan nya yang telah memiliki istri lalu ... sepupu Rinjani?
Di dalam taksi online menuju bandara sekalian bertemu seseorang di sana. Sesekali Ikhram memeriksa arloji di pergelangan tangannya. Bukan-bukan khawatir oleh waktu, melainkan menunjukkan kegelisahan dalam tenangnya.
Dari banyaknya gestur menunjukkan kegelisahan, kebiasan Ikhram jatuh pada berulang kali memandangi jam tangan sampai dia benar-benar tenang.
"Anda buru-buru?" tanya sopir taksi.
"Tidak, menyetirlah seperti biasa pak," jawan Ikhram. Mungkin sang driver bertanya akibat tingkahnya yang terus melihat jam.
Tiba di bandara dan baru saja menjejalkan kaki pada lantai marmer yang mengkilap. Seorang pria melambai padanya dari kejauhan. Senyumnya melebar dan mereka menyapa dengan cara bertos dan menepuk punggung masing-masing.
"Kenapa baru mengabari saat kamu mau pulang?" protes sahabat Ikhram yang sudah lama menetap di jakarta. "Aku jadi penasaran apa yang membuat Ikram ke jakarta selain bertemu denganku."
Merasa pembicaraan mereka akan sangat panjang, Ikhram mengajak sahabatnya jd Coffee yang ada dalam bandara. Aroma kopi yang hangat langsung terasa begitu mereka masuk, perpaduan antara biji kopi yang baru digiling dan susu yang dikukus lembut.
Suasana di dalamnya terasa hidup, tapi tetap nyaman. Cahaya lampu yang hangat berpadu dengan desain interior modern, didominasi kayu dan sentuhan industrial, menciptakan kesan santai namun tetap elegan.
Dari beberapa sudut, terlihat penumpang dengan koper di samping kursi, sesekali melirik jam atau papan informasi penerbangan. Di tengah hiruk-pikuk bandara, tempat ini seperti ruang jeda.
Mereka duduk di sana, ditemani segelas ekspresso sembari menunggu Boarding.
"Bagaimana kabar cinta pertamamu?" tanya Restu.
"Menurutmu?"
"Menurutku sampai bumi hancur kamu nggak bakal bisa mendapatkannya dilihat sikapmu yang cukup pengecut?" Tentu itu sebuah ledekan untuk Ikhram yang semasa kuliahnya hanya menjaga dalam senyap.
"Sepertinya bumi sebentar lagi hancur." Ikhram meraih gelas kopinya dengan tangan kiri, bukan karena kidal tetapi ....
"Kamu sudah menikah dan nggak ngasih tau aku?" Tepat sasaran, maksud memamerkan cincin pernikahan ditangkap jelas oleh Restu.
"Karena aku berhasil mendapatkanya." Senyum itu ... senyum tengil Ikhram sekali ketika mengejek lawan bicaranya.
.
.
.
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,