Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RITUAL DI ATAS TANAH MERAH
Debu-debu Jakarta yang menempel di jas Raka terasa enggan lepas, meski guyuran air sumur di sudut pekarangan rumah Yogyakarta yang dingin perlahan meluruhkannya. Setelah kembali dari seminar nasional yang menghadirkan diskusi tajam dan jaringan lintas bidang, hari-hari Atelier Aksara dipenuhi kesibukan baru. Tawaran proyek terus berdatangan, membanjiri kotak masuk surel mereka dengan berbagai permintaan membangun vila mewah di tengah perbukitan, menciptakan gedung perkantoran modern nan megah, hingga sejumlah proyek komersial lainnya yang menggoda.
Namun, di antara deretan proposal yang sering kali mirip satu sama lain, ada satu pesan yang menyentuh hati Raka dan Alana. Bukan sekadar karena isinya yang berbeda, tetapi juga kenangan yang tiba-tiba menyeruak dari masa lalu mereka. Pesan itu datang dari warga Dusun III di Desa Sukamaju, tempat kecil yang tak asing bagi keduanya. Di desa itulah mereka pernah berlindung dari hujan deras di sebuah gubuk tua, dengan suara gemercik air hujan dan aroma tanah basah yang masih tergambar jelas di benak mereka hingga hari ini.
Isi pesan tersebut sederhana tetapi penuh makna. Warga dusun meminta Atelier Aksara untuk membantu membangun sebuah balai warga—bukan hanya sekadar ruang pertemuan biasa, tapi sebuah bangunan yang sekaligus akan berfungsi sebagai pusat mitigasi bencana. Mereka mengungkapkan keprihatinan mendalam akan kondisi geografis dusun mereka yang rentan terhadap tanah longsor. Permintaan itu seakan membawa Raka dan Alana masuk kembali ke lorong nostalgia, ke masa ketika mereka sempat merasakan kehangatan sambutan warga dan belajar mengenai tantangan hidup di desa terpencil tersebut.
Dengan nada yang penuh kerendahan hati, pesan itu mengandung harapan besar, seolah warga mengulurkan tangan penuh keyakinan kepada Raka dan Alana untuk membantu mewujudkan mimpi kolektif masyarakat yang mendambakan keamanan dan kenyamanan. Di sinilah titik awal perjalanan baru mereka—bukan sekadar untuk membangun bangunan, tetapi untuk menyulam ikatan emosional antara manusia, alam, dan arsitektur yang bermakna.
"Ini proyek yang tidak akan memberimu untung besar secara materi, Raka," Alana mengingatkan saat mereka duduk di beranda rumah mungil mereka.
Raka tersenyum, jarinya menelusuri kunci kalung kecil di leher Alana. "Tapi ini proyek yang akan memberiku tidur nyenyak, Lan. Dan aku ingin kita melakukannya sebelum kita benar-benar menjadi satu."
Raka memutuskan bahwa proyek di Sukamaju akan menjadi persembahan terakhirnya sebagai seorang pria lajang. Ia mengajak Alana kembali ke desa itu, bukan untuk KKN, melainkan sebagai tim profesional yang mandiri.
Di sana, gubuk tua tempat mereka berteduh dulu sudah diperbaiki oleh warga, namun esensinya tetap sama. Raka berdiri di sana, menatap hamparan ladang jagung yang kini mulai menghijau.
"Alana," panggil Raka.
Alana yang sedang mencatat aspirasi ibu-ibu desa menoleh. "Ya?"
"Aku tidak ingin pesta di hotel Jakarta. Aku tidak ingin ada lampu gantung kristal atau karpet merah yang mahal," ucap Raka dengan nada serius namun lembut. "Aku ingin kita menikah di sini. Di bawah atap balai warga yang akan kita bangun bersama. Aku ingin saksi pernikahan kita adalah orang-orang yang melihat kita tumbuh dari dua mahasiswa yang saling diam menjadi dua orang yang saling menguatkan."
Alana tertegun. Matanya memandang ke sekeliling dusun. Tidak ada kemewahan, hanya ada ketulusan. "Tapi Raka, orang tuamu... apa mereka akan setuju?"
"Ayahku sudah melihat 'Rumah Aksara'. Dia tahu kebahagiaanku tidak lagi diukur dari kemegahan acara. Dia akan mengerti," jawab Raka yakin.
Dua bulan berikutnya adalah masa paling sibuk sekaligus paling indah. Sembari mengerjakan desain balai warga, mereka mempersiapkan pernikahan yang paling tidak lazim bagi seorang mantan direktur firma besar dan penulis novel best-seller.
Alana merancang undangannya sendiri sebuah kartu dari kertas daur ulang yang berisi petikan puisi tentang meja nomor 15. Sementara Raka, ia benar-benar turun ke lapangan. Ia ikut mengaduk semen, menyusun bata, dan memastikan setiap sambungan kayu di balai warga itu presisi.
"Kamu arsitek atau tukang, Raka?" goda Bram yang datang berkunjung bersama Dinda untuk membantu persiapan.
"Aku sedang membangun altar pernikahanku sendiri, Bram. Harus sempurna," jawab Raka sambil menyeka peluh di dahinya.
Dinda merangkul Alana. "Lan, aku nggak nyangka. Dari cuma bisik-bisik di meja perpustakaan, sekarang kamu benar-benar jadi 'mandor' hidupnya Raka."
Hari di Mana Suara Menyatu
Hari pernikahan itu akhirnya tiba. Langit Sukamaju sangat cerah, seolah-olah awan kelabu yang dulu memerangkap mereka di gubuk telah sepakat untuk menyingkir.
Balai warga itu sudah berdiri. Arsitekturnya unik; menggunakan material lokal namun dengan sentuhan modern yang fungsional. Alana berjalan menuju altar darurat yang dihiasi bunga-bunga liar dari hutan sekitar. Ia mengenakan kebaya putih sederhana dengan kain batik motif Sido Mukti simbol harapan akan kehidupan yang penuh kebahagiaan.
Di ujung sana, Raka menunggu. Tidak ada jas biru tua dari Jakarta. Ia mengenakan beskap putih dengan keris di pinggangnya. Saat mata mereka bertemu, gema kesunyian selama tiga tahun di kampus seolah-olah menguap, digantikan oleh melodi syukur yang tak terdengar namun terasa kuat.
Prosesi ijab kabul berlangsung khidmat di bawah atap kayu jati yang dikerjakan Raka sendiri. Saat saksi meneriakkan kata "Sah!", air mata Alana jatuh bukan karena sedih, tapi karena ia menyadari bahwa naskah hidupnya jauh lebih indah daripada plot novel mana pun yang pernah ia susun.
Perjamuan Rakyat
Malam harinya, tidak ada makanan katering hotel berbintang. Yang ada adalah nasi tumpeng, urap, dan ayam bakar buatan ibu-ibu dusun. Warga desa menari, anak-anak berlarian di ruang perpustakaan mini yang ada di sudut balai.
Ayah Raka datang, duduk di bangku kayu bersama Ayah Alana. Keduanya tampak asyik mengobrol tentang filosofi bangunan dan masa depan pendidikan di desa. Kehadiran Ayah Raka di sana adalah bentuk rekonsiliasi total. Ia akhirnya melepaskan ambisinya dan menerima bahwa putranya telah menemukan "arsitektur" hidupnya sendiri.
"Selamat, Lan," sebuah suara lembut terdengar dari arah pintu.
Alana menoleh dan menemukan Maudy. Ia datang dengan pakaian yang jauh lebih sederhana, tanpa riasan yang mencolok.
"Terima kasih sudah datang, Maudy," Alana menyambutnya dengan tulus.
"Aku hanya ingin melihat 'balai warga' yang membuat Raka rela menolak kontrak miliaran rupiah itu," Maudy tersenyum pahit namun tulus. "Sekarang aku mengerti. Tempat ini punya sesuatu yang tidak dimiliki kantorku: nyawa. Selamat menempuh hidup baru, Penulis Meja Nomor 15."
Maudy pergi setelah memberikan sebuah kotak kecil berisi pena emas untuk Alana. Sebuah isyarat bahwa persaingan itu benar-benar telah usai.
Halaman Baru yang Sesungguhnya
Malam semakin larut. Raka dan Alana duduk di teras balai warga, menatap bintang-bintang yang tampak begitu dekat.
"Kita sudah melakukannya, Lan. Kita membangun fondasi ini dari nol," bisik Raka, merangkul bahu Alana.
Alana membuka buku catatannya yang selalu ia bawa. Di bawah cahaya lampu templok, ia menuliskan baris terakhir untuk Bab 22:
"Dulu aku menulis untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa aku mencintaimu dalam diam. Malam ini, aku menulis untuk merayakan kenyataan bahwa suaramu adalah rumahku. Kita tidak lagi membutuhkan meja nomor 12 dan 15. Karena mulai detik ini, setiap meja yang kita tempati adalah meja nomor satu dalam hidup kita."
Raka mengambil pena dari tangan Alana dan menambahkan satu kalimat pendek di bawahnya:
"Dan setiap bangunan yang aku rancang, akan selalu memiliki ruang untukmu menulis."
hembusan angin gunung yang membawa aroma tanah dan janji yang telah ditepati. Perjalanan mereka mungkin masih akan menghadapi tantangan lain, namun malam ini, di atas tanah merah Sukamaju, mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah lagi berjalan sendirian dalam sunyi.
jadi nostalgia😍
cerita yang bagus