NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Ibu!

Tiba-tiba Jadi Ibu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Susiajaaa

"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Keesokan paginya, aktivitas Melisa berubah total.

Dulu, pagi hari selalu menjadi waktu tenang baginya—ia bisa menyempatkan diri membaca materi kuliah sebentar sebelum bersiap ke kampus. Tapi kini, pagi miliknya sudah penuh oleh suara tangisan dan rengekan dua bayi mungil bernama Evan dan Ethan. Meski awalnya sempat kewalahan, Melisa mulai terbiasa. Tangan dan hatinya kini lebih cekatan menghadapi tangisan tanpa sebab, popok basah, atau botol susu yang ditolak.

Kemarin sore, sepulang dari daycare, Diana dan Riki sempat membawanya ke toko perlengkapan bayi. Mereka membeli segala kebutuhan penting dari baju-baju hangat, botol susu, tisu basah, hingga perlengkapan mandi dan mainan kecil. Bahkan susu formula pun mereka borong beberapa kotak. Melisa benar-benar merasa tidak enak—pengorbanan mereka terasa terlalu besar, sementara ia hanya bisa menerima tanpa banyak bisa membalas. Namun, Diana dan Riki tampak sama sekali tidak keberatan.

Pagi ini, setelah memandikan dan memakaikan baju bersih pada kedua bayi, Melisa mengecek ulang tas perlengkapan yang akan dibawa ke daycare. Botol susu sudah diisi, popok cadangan tersedia, dan baju ganti pun masuk semua ke dalam ransel besar yang sudah hampir penuh.

“Kalian berdua bakal kakak titip sebentar, ya. Jangan rewel, jangan bikin repot orang,” bisiknya pelan sambil mencium kening Ethan dan Evan bergantian. Kedua bayi itu hanya menatap kosong—belum mengerti dunia, tapi cukup peka dengan sentuhan hangat Melisa.

Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar dari luar kamar kos.

Melisa buru-buru keluar, dengan sedikit kesulitan menggendong dua bayi sekaligus. Ia membuka pintu, dan mendapati Diana sudah berdiri di depan, langsung sigap menyambut salah satu bayi dari pelukannya.

“Sini, gue gendong satu. Bisa keseleo lo bawa dua-duanya sekaligus tiap pagi,” ucap Diana sambil meraih Evan dari pelukan Melisa.

“Makasi ya, Na. Padahal aku udah bilang, nggak usah jemput,” ujar Melisa sedikit sungkan.

“Udah lah, Mel. Nggak usah banyak mikir. Gue ikhlas kok,” balas Diana sambil tersenyum, lalu menoleh ke arah Riki yang berdiri dengan gaya santai di sisi mobilnya.

“RIKI! Woy, bantuin bawa tas! Jangan berdiri aja kayak patung pancoran!!” seru Diana, ekspresinya berubah galak seketika.

Riki malah tertawa, santai berjalan ke arah mereka.

“Santai dong, Ma. Jangan marah-marah, nanti cepat tua,” godanya sambil mencolek dagu Diana, membuat gadis itu refleks menepis dan mendelik tajam. Ekspresinya seolah ingin melemparkan sandal tapi tangannya sibuk menggendong bayi.

Melisa hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah dua sahabatnya itu. Di tengah segala kepusingan, mereka tetap bisa membuat hari-harinya terasa lebih ringan.

Hidup Melisa memang berubah drastis, tapi ia tahu—dengan adanya Evan, Ethan, dan dua manusia gila tapi tulus seperti Diana dan Riki di sisinya, ia tidak sendirian di sini.

Setelah urusan penitipan Evan dan Ethan selesai, ketiganya langsung melanjutkan perjalanan menuju kampus. Hari itu langit cerah dan angin pagi berembus lembut—membuat suasana terasa sedikit lebih ringan. Melisa pun merasa jauh lebih tenang. Setidaknya, ia tahu dua bayi mungil itu sekarang berada di tempat yang aman dan nyaman. Kini, fokusnya beralih ia harus mulai mencari tahu siapa sebenarnya orang tua kandung Evan dan Ethan.

Dalam perjalanan, suasana mobil Riki seperti biasa penuh dengan celoteh dan saling ledek.

“Guys, kalian turun di depan gerbang aja ya. Gue gak bisa nganter sampe fakultas,” ucap Riki santai sambil melihat kaca spion.

“Hah? Ngapa lo? Mau jemput gebetan lo yang mana lagi?” tanya Diana, nadanya setengah menggoda.

“Yoi dong, biasa lah. Orang Ganteng emang banyak urusan,” jawab Riki dengan percaya diri melambung tinggi, seolah-olah doi baru menang kontes model kampus.

“Ganteng darimana? Muka lo tuh mirip kambing conge. Sumpah. Bukan yang lucu—tapi yang ngeselin!” timpal Diana dengan ekspresi jijik dibuat-buat, membuat Melisa cekikikan di jok belakang.

“Ehhh, jangan iri dong. Lo aja yang gak bisa menghargai estetika wajah laki-laki berkharisma,” balas Riki, masih asyik dengan rasa percaya dirinya yang nggak ada matinya.

“Udah, udah... Riki, makasih banget ya udah nganterin,” potong Melisa menengahi, seperti biasa jadi penetral kalau dua sahabatnya mulai ribut kayak kucing sama anjing rebutan kardus.

“Nah tuh! Lo dengerin tuh! Ini baru calon istri kedua yang penuh kasih, penuh hormat. Contoh lah!” kata Riki penuh kemenangan, menoleh sambil senyum bangga.

“APAAN?! Siapa juga yang mau jadi istri lo? Bahkan kambing conge yang gue miripin tadi aja mungkin ogah kawin sama lo!” seru Diana sambil pura-pura mau buka pintu mobil pakai dengkul.

Tak lama kemudian, mobil pun berhenti di depan gerbang utama kampus. Meski jarak dari gerbang ke gedung fakultas hukum tidak terlalu jauh, tapi tetap saja cukup bikin ngos-ngosan kalau ditempuh dengan jalan kaki, apalagi cuaca mulai panas.

1
Evi Lusiana
knp melisa gk lgsg tlp diana dn riki bwt njlasin k ortuny
Lisa
Wah berarti 2 baby itu diculik seseorang yg mungkin punya dendam pada 2 keluarga itu
Lisa
Sekarang Ethan & Evan aman di daycare..utk Melisa semangat kuliah lg y Mel 😊👍
Lisa
👍👍 persahabatan yg indah..rukun selalu y kalian bertiga
Lisa
😊 duo heboh dtg nih..
Lisa
Kasihan Meli jadi dituduh dia yg membuang anak itu..
Lisa
Bersyukur Melisa diangkat jadi karyawan tetap yg diperhatikan oleh managernya juga..semangat y Melisa,kerja lbh rajin lg y 😊👍
Lisa
Siap² y ortunya Melisa utk surprise dr Melisa😊
Lisa
Melisa udh menganggap Evan & Ethan anaknya..semangat terus y Melisa..moga aj ortu kandung mereka g bisa menemukan mereka.
Lisa
Gimana nih kelanjutannya..siap² y Melisa utk mengatakan pd ortumu.
Evi Lusiana
jd ethan dn evan anak² dr dua kluarga berpengaruh y thor
Susiajaaa: bisa jadi sih🤔🤭
total 1 replies
Anto D Cotto
gak sabar nungguin kelanjutan ceritanya
Lisa
Semangat y Meli
Lisa
Awal yg bagus nih
Lisa
Aku mampir Kak
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: mantap 👍
total 2 replies
Evi Lusiana
bagus thor,pling suka crita tntang wanita cerdas dan mandiri,tegas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!