Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WARISAN JIWA YANG TERSEGEL
Cahaya putih itu perlahan membentuk sosok seorang ksatria tua yang bijak. Ia menatap Fang Han dengan rasa terima kasih yang mendalam.
"Terima kasih, anak muda. Kau telah membebaskanku dari ribuan tahun penderitaan," ucap jiwa tersebut dengan suara yang menenangkan.
"Aku melihat kau membawa kutukan Nirwana di dalam darahmu. Itu adalah pedang bermata dua yang akan menelanmu sebelum kau mencapai tujuanmu. Sebagai tanda terima kasih, aku akan memberikanmu teknik rahasia klan jiwaku."
Jiwa itu menyentuh dahi Fang Han. Seketika, ribuan informasi mengalir masuk ke dalam otak Fang Han. Sebuah teknik bernama "Segel Inti Sukma".
"Gunakan teknik ini untuk melapisi jiwamu. Ia akan bertindak sebagai filter. Kau bisa menggunakan kekuatan kehampaanmu tanpa harus mengorbankan kesadaranmu. Ia akan mengurangi beban pada wadah fisikmu hingga kau benar-benar siap menguasai Nirwana sejati."
Fang Han merasakan kehangatan yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya. Luka-lukanya mulai menutup, dan rasa dingin yang mematikan dari energi abu-abunya perlahan mulai bisa dikendalikan.
Jiwa ksatria itu pun perlahan menghilang ke langit, meninggalkan Fang Han yang kini merasa lebih kuat dan lebih tenang dari sebelumnya.
Fang Han berbalik untuk menolong Mu Chen, namun ia mendapati Si Penelan Cahaya sudah berdiri di depannya dengan tatapan yang sepenuhnya berbeda. Tidak ada lagi kehangatan palsu. Yang ada hanyalah rasa lapar yang purba.
"Kerja bagus, Han-er," ucap Si Penelan Cahaya, suaranya kini terdengar berat dan bergema.
"Kau mendapatkan teknik Segel Inti Sukma. Itu akan membuat proses transfer ini menjadi jauh lebih sempurna. Aku tidak perlu khawatir jiwamu hancur sebelum aku sempat menempati tubuhmu."
Fang Han membeku. "Tetua... apa maksudmu? Apa yang kau katakan?"
Si Penelan Cahaya tertawa, suara tawa yang membuat petir di langit seolah berhenti menyambar.
"Kau pikir aku membantumu karena belas kasihan? Kau pikir aku melatihmu karena aku ingin melihatmu sukses? Bodoh!"
"Lihatlah tubuhku ini, Fang Han! Ia sudah tua, busuk, dan mulai hancur karena penggunaan Nirwana Sunya selama ratusan tahun. Aku butuh wadah baru. Wadah yang masih murni, yang memiliki kompatibilitas tinggi dengan kehampaan. Dan kau... kau adalah karya seni terbaik yang pernah kutemukan."
Fang Han mundur selangkah, namun ia menyadari bahwa kakinya sudah tidak bisa digerakkan. Ternyata, selama perjalanan tadi, Si Penelan Cahaya telah menanamkan benih energi "Penghisap Hidup" di setiap jalur pendakian yang mereka lalui bersama.
"Kau telah menipuku sejak awal..." desis Fang Han, giginya bergeletuk karena marah.
Si Penelan Cahaya melangkah mendekat, tangannya mulai bersinar dengan aura abu-abu yang jauh lebih pekat dan lebih jahat daripada milik Fang Han.
"Bukan menipu, Han-er. Aku hanya sedang memanen hasil tanamanku. Kau harus bangga. Tubuhmu akan digunakan olehku untuk menaklukkan dunia ini. Namamu mungkin akan hilang, tapi kekuatanmu akan abadi bersamaku."
Mu Chen tersadar dari pingsannya dan melihat situasi itu. "Kakek tua! Kau benar-benar iblis! Han-er, lari!"
Si Penelan Cahaya hanya melambaikan tangan, dan sebuah tekanan energi menjepit Mu Chen ke dinding tebing, membuatnya tidak bisa bicara.
"Sssttt... jangan berisik, alkemis kecil. Kau akan menjadi pelayan pribadiku setelah aku mengambil alih tubuh bocah ini. Aku butuh pengetahuanmu untuk merawat tubuh baruku nanti."
Si Penelan Cahaya berdiri tepat di depan Fang Han. Ia meletakkan tangannya di dada Fang Han, dan proses Pertukaran Sukma pun dimulai.
"Sekarang, berikan tubuhmu padaku, Fang Han! Biarkan jiwamu yang lelah itu tidur selamanya di dalam kehampaan!"
Fang Han merasakan serangan mental yang luar biasa. Jiwa Si Penelan Cahaya mulai merangsek masuk ke dalam meridiannya, mencoba menghancurkan kesadaran asli Fang Han. Rasanya seperti ada ribuan jarum panas yang menusuk otaknya secara bersamaan.
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU!" teriak Fang Han di dalam pikirannya.
Namun, Si Penelan Cahaya terlalu kuat. Pengalamannya selama ratusan tahun membuatnya mampu menekan Fang Han dengan mudah.
"Jangan melawan, Nak! Ini adalah takdirmu! Menjadi bagian dariku adalah sebuah kehormatan!"
Saat kesadaran Fang Han mulai meredup, ia tiba-tiba teringat teknik Segel Inti Sukma yang baru saja ia dapatkan dari jiwa ksatria tadi. Dengan sisa-sisa kemauannya, ia mengaktifkan teknik tersebut.
Sebuah pelindung emas muncul di dalam pusat jiwanya, menahan laju energi abu-abu milik Si Penelan Cahaya.
"Apa ini?! Teknik segel itu... ia menolakku?!" teriak Si Penelan Cahaya kaget.
"Ini bukan tubuhmu, kakek tua!" balas Fang Han. Suaranya kini terdengar ganda—suara fisiknya dan suara jiwanya yang beresonansi.
"Kau bilang aku adalah wadah? Benar! Aku adalah wadah kehampaan yang akan menelanmu bulat-bulat!"
Fang Han membalikkan aliran energinya. Alih-alih menahan serangan Si Penelan Cahaya, ia justru "membuka pintu" dan menarik energi kakek tua itu masuk lebih dalam, namun langsung mengarahkannya ke dalam Segel Inti Sukma untuk dimurnikan.
Si Penelan Cahaya menyadari ada yang salah. Ia mencoba menarik kembali jiwanya, namun ia terjebak. Ia sekarang terikat pada tubuh Fang Han bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai sumber energi yang sedang dihisap.
"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan, bocah gila?! Jika kau menghisapku, kau akan meledak!"
Fang Han tidak peduli. Matanya kini bersinar dengan perpaduan warna abu-abu Nirwana dan emas dari Segel Inti Sukma.
"Kau ingin tubuh muda? Rasakanlah betapa beratnya memikul beban dua nyawa!"
Dengan satu teriakan yang menggetarkan seluruh Puncak Menangis, Fang Han melepaskan seluruh kekuatan Segel Inti Sukma. Sebuah ledakan energi murni menghantam jiwa Si Penelan Cahaya yang sedang berada di antara dua tubuh.
"BOOOOOOMMMMM!"
Tubuh tua Si Penelan Cahaya seketika hancur menjadi abu, terbang terbawa angin badai. Jiwanya yang jahat berteriak ketakutan sebelum akhirnya hancur berkeping-keping, ditelan oleh kehampaan yang ia bangga-banggakan selama ini.
Fang Han jatuh berlutut, napasnya tersengal. Seluruh tubuhnya terasa pegal, namun ia merasa lebih "utuh" dari sebelumnya. Teknik Segel Inti Sukma telah menyelamatkannya, sekaligus memberinya pemahaman baru tentang bagaimana menggunakan Nirwana Sunya tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Mu Chen merangkak mendekati Fang Han, matanya membelalak tidak percaya. "Kau... kau benar-benar membunuhnya? Si Penelan Cahaya yang legendaris itu... kau menghapusnya?"
Fang Han menatap tangannya yang kini memancarkan cahaya abu-abu yang tenang.
"Dia bukan legenda, Mu Chen. Dia hanyalah seorang pria ketakutan yang tidak mau menerima kematiannya sendiri."
Fang Han berdiri, menatap ke arah puncak gunung yang kini tinggal beberapa ratus meter lagi. Badai petir merah mulai mereda, seolah-olah gunung itu sendiri mengakui kekuatan baru yang lahir di lerengnya.
"Kita harus bergerak. Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi kita."
Mu Chen mengangguk, ia mengagumi keteguhan hati pemuda di depannya. "Ayo, Han-er. Bunga Hati Langit sudah di depan mata. Pamanmu akan selamat."
Mereka berdua berjalan mendaki tangga batu terakhir. Fang Han tidak lagi merasa berat. Meskipun ia baru saja dikhianati oleh orang yang ia anggap guru, ia tidak merasa kosong. Ia membawa harapan pamannya, bantuan dari jiwa ksatria, dan kekuatan yang kini benar-benar miliknya.
Pemandangan Fang Han dan Mu Chen yang mencapai gerbang puncak gunung, di mana sebuah cahaya putih cemerlang dari Bunga Hati Langit mulai terlihat menembus kabut, menandakan bahwa akhir dari perjalanan panjang ini sudah sangat dekat.
"Apapun yang menanti di puncak sana... aku siap," bisik Fang Han saat ia melangkah masuk ke dalam cahaya itu.