Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Sebatas Cadangan
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Rendra membopong Nina menuju mobilnya yang ada di parkiran. Pria itu terlihat begitu cemas. Ia merasa gagal menjadi pelindungnya.
"Ah..., enggak perlu! Aku tidak apa-apa. Kita langsung pulang saja."
Nina yang paling alergi dengan rumah sakit langsung menolak. Ia tidak suka berurusan dengan dokter apalagi jarum suntik.
"Kamu terluka Nina, kita harus obati lukamu dulu, baru setelah itu kita pulang."
Rendra membuka pintu dan menghempaskan tubuh Nina perlahan di sisi kemudi. Ia yakin orang tuanya bakalan marah saat tahu kejadian buruk menimpa adik perempuannya.
"Kak, beneran aku nggak apa-apa. Kita nggak perlu ke rumah sakit. Kita langsung pulang saja."
Rendra pun akhirnya pasrah tak berhasil membujuknya. "Oke baiklah. Kita pulang sekarang."
Di perjalanan mereka saling diam. Rendra fokus menyetir mobilnya sedangkan Nina diam dengan pemikiran yang kalut. Sungguh dia sangat malu dipermalukan di tempat umum oleh wanita yang begitu hina di matanya. Untuk mencairkan suasana kembali, Rendra mulai berbasa-basi.
"Gimana kejadian awalnya? Kok kamu tiba-tiba didorong sama cewek itu?"
Nina menggeleng. "Aku sendiri juga tidak tahu. Dia tiba-tiba datang dan menangkis kue yang hendak aku makan," jawab Nina dengan suara lirih namun masih bisa didengar jelas oleh Rendra.
"Apa di antara kalian sudah saling mengenal?" Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Setiap masalah yang datang pasti ada penyebabnya.
"Dibilang kenal aku tidak mengenalnya jawab Nina tanpa menoleh. "Kalau dibilang tidak pernah ketemu itu juga mustahil. Kami memang pernah berurusan sebelumnya."
Sebenarnya Nina tidak ingin memperpanjang masalah mengenai perselingkuhan wanita itu dengan Bagas. Dia juga tidak lagi ingin berurusan dengan pria itu. Dia sudah melepaskan Bagas untuk siapapun yang mau berhubungan dengannya, tapi herannya wanita itu masih ingin menyerangnya, seolah-olah dia sudah dijadikan korban perselingkuhan.
"Berarti kalian pernah bermasalah. Kalau boleh tahu masalah apa memangnya? Apakah tentang masalah percintaan?"
Awalnya Nina tidak ingin semua orang tahu siapa yang menjadi selingkuhan Bagas, namun berhubung Maura sendiri terang-terangan menunjukkan taringnya, Ia tak ingin lagi menyembunyikan kebenarannya. Saat ini yang menjadi pelindung hanyalah keluarga, jika ia tidak ingin berbagi permasalahannya dengan keluarga terdekatnya, lantas siapa lagi yang akan melindunginya?
"Sebenarnya cewek itu selingkuhan Bagas. Dia yang udah tidur sama mantanku. Tapi anehnya dia malah menudingku sebagai pelakor."
Nina tak habis pikir, kenapa wanita itu menganggapnya sebagai perebut, bahkan di situ sudah jelas ia yang tengah dibohongi. Entah hal apa yang tengah direncanakan oleh Bagas.
"Kamu dituding sebagai pelakor?" Rendra terkekeh. "Memangnya sebelum pacaran sama kamu mantan kamu itu pernah deket sama siapa? Atau mungkin dia pacaran sama kamu tapi di tempat lain dia juga memiliki cadangan? Atau mungkin kamu yang dijadikan cadangannya?"
Tak terpikirkan olehnya. Di situ Nina seperti orang bodoh yang hanya bengong mencermati omongan Rendra. Mungkinkah apa yang dikatakan oleh pria itu benar adanya? Mungkinkah selama ini ia dipermainkan oleh Bagas dan dianggap sebagai cadangan?
"Cadangan? Jadi menurut kakak aku ini hanya dijadikan simpanannya?"
Rendra mengedikkan bahunya."Aku tidak tahu pasti, itu hanya pemikiranku saja. Kalau kamu ingin tahu kebenarannya, lebih baik tanya langsung sama itu cowok."
"Tanya sama dia?" Nina menaikkan ujung bibirnya. "Enggak!"
Rendra menoleh dengan terkekeh kecil. "Kenapa? Bukankah kamu ingin tahu kebenarannya?"
"Ya, tapi nggak harus tanya sama dia juga kan?" Gadis itu membantah. "Setidak masih ada cara lain buat mengungkap kebenarannya." Nina berniat untuk meminta bantuan pada Sania. Terkadang gadis itu bisa diandalkan, dia cukup handal menjadi detektif rahasia. "Hubunganku dengan Bagas sudah berakhir. Kalau aku tanya sama dia disangkanya aku masih berharap ingin balikan. Aku tak ingin memungut sampah yang sudah kubuang."
Hampir setengah jam perjalanan akhirnya mereka tiba di rumahnya. Di teras didapati sepasang paruh baya yang tengah mengobrol santai. Mereka memang sengaja menunggu kedatangan anak-anaknya.
"Ini dia mereka datang."
Rendra langsung menuju garasi. Ia juga membantu Nina untuk keluar dari mobil. Tangan Nina terluka, untuk sekedar membuka pintu agak kesusahan.
"Kok cepet banget nyampainya? Apa mereka nggak nunggu sampai acaranya kelar?"
Widya mengedarkan matanya ke arah garasi. Dia tercengang melihat kedekatan Rendra yang memberikan perhatian pada putrinya. Ia tak menyangka, mereka bisa sedekat ini, bahkan Rendra menerimanya begitu baik.
"Kalian kok sudah pulang? Apa pestanya sudah selesai?" tanya Hermawan berbasa-basi.
"Pestanya orang kejam. Tahu gitu kami nggak datang," bantah Rendra.
Hermawan maupun Widya saling bertatapan dengan alis tertaut. "Maksud kamu apa?" Pria berusia enam puluh tiga tahun itu meminta penjelasan darinya.
"Maksudnya keluarga pemilik pesta itu toxic, aku kecewa sudah datang memenuhi undangan mereka."
Rendra marah. Andai saja ayahnya tidak membujuknya untuk datang mungkin kejadian buruk itu tidak akan dialami oleh Nina. Ia bersumpah tidak akan memaafkan orang yang sudah meninggalkan bekas luka di kulit ataupun di hati wanita yang dicintainya.
"Ayo kalian duduk, ceritakan perlahan-lahan, apa yang sudah terjadi di sana?"
Rendra mengangkat tangan Nina menunjukkan pada ayahnya. "Lihatlah, ini perlakuan mereka. Keponakan dari Om Wiryo telah melakukan pembulyan terhadap Nina. Dia menyakitinya saat aku tinggal menerima telepon dari papa."
"Apa?" Sepasang suami istri itu membelalak terkejut bukan main. Ditatapnya tangan anak gadisnya yang dipenuhi dengan darah yang mulai mengering.
Widya langsung beranjak dan berniat untuk membantunya. "Nina, apa yang terjadi padamu. Kenapa kamu mendapatkan perlakuan buruk dari mereka. Apa kamu membuat ulah di sana?"
Tangan Widya gemetar. Dia kebingungan untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan membersihkan luka di tangan anak gadisnya.
"Nina, ayo ceritakan sama Papa. Memangnya apa yang terjadi di sana sampai kamu mengalami perundungan seperti ini. Kamu nggak perlu takut nak, Papa akan selalu ada di pihakmu."
Dengan menangis Nina menceritakan apa yang dialaminya. "Pa, aku tadi didorong sama Maura. Awalnya aku nggak tahu di situ ada Maura. Secara tiba-tiba saja dia menangkis kue yang hendak aku makan, setelah itu dia mendorongku hingga terjatuh dan membuat seisi meja berantakan. Kalau tahu seperti ini aku nggak mau datang ke sana."
Widya ikut tergugu. "Ya ampun nak, malang sekali nasibmu."
"Maura? Siapa itu? Apakah anaknya Pak Wiryo?" tanya Hermawan.
"Dia keponakannya Om Wiryo, tepatnya jalang yang sudah tidur dengan Bagas, mantan pacarnya Nina." Rendra yang memberinya penjelasan. Seketika itu emosi Hermawan memuncak. Nafasnya tersengal-sengal tak bisa mengendalikan amarahnya.
Dengan tangan mengepal dia bangkit dari tempat duduknya. "Kurang ajar! Berani sekali mereka menyakiti putriku. Aku tidak akan biarkan orang-orang itu lolos dari genggamanku." Tatapannya beralih pada anak laki-lakinya dengan mata memerah. "Rendra, cepat hubungi manager kita. Suruh blacklist perusahaan Roya Grup sekarang juga!"