NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Langkah Agus terasa semakin menyeret saat ia meninggalkan lorong Instalasi Gawat Darurat yang terang benderang. Setiap sentuhan kayu penyangganya pada lantai keramik rumah sakit yang licin menimbulkan bunyi tek... tek... yang menggema, seolah-olah sedang mengumumkan kehadirannya sebagai orang asing di gedung megah ini. Pergelangan kakinya yang bengkak kini bukan lagi sekadar nyeri, sensasinya sudah berubah menjadi rasa panas yang membakar, seolah ada cairan timah panas yang disuntikkan ke dalam sendinya.

Ia harus sampai ke kantin. Satpam di depan tadi bilang, di sana mungkin ada tempat untuk mengisi daya ponsel. Bagi orang lain, mencari colokan listrik adalah hal sepele, namun bagi Agus malam ini, itu adalah misi penyelamatan martabat. Ponsel dengan layar retak di sakunya adalah satu-satunya jembatan menuju dunia luar satu-satunya alat yang mungkin bisa menghubungkannya dengan bantuan, atau sekadar memberinya keberanian melalui pesan-pesan lama dari Nor Rahma.

Agus melewati taman tengah rumah sakit yang sunyi. Aroma bunga sedap malam yang tertanam di sana sesekali tercium, namun segera kalah oleh bau keringat dan debu semen yang masih melekat erat di pori-pori kulit Agus. Ia berjalan menunduk, menghindari tatapan beberapa perawat yang melintas cepat dengan membawa botol infus. Di bawah lampu taman yang temaram, Agus terlihat seperti bayangan yang tersesat, seorang kuli panggul yang salah memasuki istana kesehatan.

Setelah berjalan hampir sepuluh menit yang terasa seperti berjam-jam, ia sampai di area kantin. Sebagian besar lapak sudah tutup, hanya menyisakan satu kedai kopi dan makanan ringan yang buka dua puluh empat jam. Di sana, beberapa keluarga pasien tampak duduk dengan wajah-wajah lelah, menyeruput kopi hitam untuk mengusir kantuk dan kesedihan.

Agus mendekati meja kasir dengan ragu. "Permisi, Mbak... boleh saya numpang ngecas HP? HP saya mati, saya butuh hubungi keluarga untuk urusan administrasi Bapak saya di IGD," ucap Agus dengan suara yang serak dan hampir habis.

Wanita penjaga kasir itu melirik Agus. Matanya tertuju pada kaos Agus yang kusam dan bercak-bercak putih semen di lengannya. Ia tampak ragu sejenak, namun saat melihat kaki Agus yang dibalut perban kusam dan kayu penyangga di bawah ketiaknya, gurat ketegasan di wajahnya sedikit melunak.

"Di pojok sana ada colokan, Mas. Tapi kursinya cuma satu. Pakai saja, asal jangan lama-lama ya," jawab wanita itu sambil menunjuk ke arah sudut ruangan yang agak gelap, dekat dengan mesin pendingin minuman yang berdengung keras.

"Terima kasih banyak, Mbak. Terima kasih," Agus mengangguk berkali-kali, seolah wanita itu baru saja menyelamatkan nyawanya.

Ia menyeret kakinya menuju pojok tersebut. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan kabel charger dari tas kainnya. Ia duduk di kursi plastik yang sudah agak goyang, lalu mencolokkan ponselnya. Agus menatap layar gelap itu dengan harapan yang meluap-luap. Beberapa detik berlalu tanpa tanda-tanda kehidupan. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut ponselnya benar-benar rusak setelah terjatuh di gudang tempo hari.

Bzzz...

Getaran pendek terasa. Logo produsen ponsel muncul di layar yang retak, diikuti dengan ikon baterai berwarna merah yang mulai terisi. Agus mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding kantin yang terasa dingin. Sambil menunggu daya terisi, ia memejamkan mata.

Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan wajah Nor Rahma muncul kembali. Ia teringat bagaimana Rahma menatapnya di taman kota tempo hari tatapan yang penuh kekaguman, bukan belas kasihan. Agus benci fakta bahwa malam ini, jika ia menghubungi Rahma, tatapan itu mungkin akan berubah menjadi rasa iba. Ia tidak ingin menjadi laki-laki yang berhutang nyawa bapaknya pada wanita yang ingin ia jadikan pendamping hidup. Namun, angka dua juta rupiah uang muka rumah sakit terus menghantuinya.

Setelah sepuluh menit, baterai ponselnya terisi lima persen. Agus segera menyalakannya. Saat layar utama terbuka, belasan notifikasi langsung menyerbu masuk. Pesan-pesan dari Nor Rahma yang ia abaikan sejak sore tadi menumpuk seperti tagihan yang menuntut penjelasan.

Nor Rahma (22.15): "Mas Agus, aku benar-benar sedih. Kamu tidak membalas satupun pesanku. Apa ini caramu mengakhiri pertemuan kita kemarin? Jika ada masalah, katakan saja, jangan membuatku menebak-nebak."

Nor Rahma (23.45): "Mas, aku sudah bilang ke Ayah soal rencanamu ingin buka usaha. Ayah sebenarnya tertarik ingin mendengar lebih lanjut. Tapi kalau kamu menghilang begini, aku tidak tahu harus bilang apa pada mereka."

Agus meremas ponselnya. Setiap kata dari Rahma terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya. Di satu sisi, ada peluang emas yang ditawarkan oleh Pak Hadi melalui Rahma. Di sisi lain, ia sedang duduk di pojok kantin yang bau, kakinya hancur, dan bapaknya sedang meregang nyawa karena ia tidak punya uang dua juta.

Ia ingin mengetik balasan, namun ia melihat tangannya sendiri yang kusam di bawah lampu kantin. Ia merasa sangat tidak layak. Laki-laki macam apa yang sedang membicarakan rencana usaha dengan seorang wanita berkelas, sementara untuk membayar administrasi rujukan ayahnya saja ia harus berhutang pada Pak RT dan Pak Kumis?

Agus mengabaikan pesan Rahma sejenak. Ia mencari nama Pak Jono di daftar kontaknya. Dengan keberanian yang dikumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya, ia menekan tombol panggil.

Panggilan tersambung. Tut... tut...

Satu kali, dua kali, hingga panggilan kelima, barulah suara berat dan serak menyahut dari seberang sana.

"Siapa ini? Malam-malam telepon orang tidur!" suara Pak Jono terdengar sangat ketus.

"Pak Jono... ini Agus, Pak. Maaf mengganggu jam istirahat Bapak," ucap Agus cepat-cepat.

"Agus? Kurang ajar kamu! Berani-beraninya telepon jam satu pagi! Kamu sudah bikin kacau di gudang tadi siang, kabur sebelum truk selesai. Jangan harap kamu bisa balik kerja lagi!"

"Pak Jono, tolong... saya minta maaf soal tadi siang. Bapak saya kritis di RSUP, Pak. Saya butuh pinjaman uang muka dua juta rupiah. Tolong potong upah saya selama enam bulan ke depan juga tidak apa-apa, Pak. Saya mohon dengan sangat," suara Agus bergetar, air matanya mulai menetes melewati pipinya yang kotor.

Hening sejenak di seberang sana. Agus bisa mendengar napas Pak Jono yang berat melalui lubang speaker ponselnya.

"Dua juta? Kamu pikir aku ini bank?" Pak Jono mendengus kasar. "Gus, kamu itu cuma kuli harian. Kontrak gudang ini saja mau habis. Kalau aku kasih pinjam dua juta, lalu kamu besok-besok nggak masuk karena ngurus bapakmu, siapa yang rugi? Sudah, cari pinjaman ke tempat lain saja. Jangan hubungi aku lagi!"

Klik.

Sambungan terputus. Agus menatap layar ponselnya yang kembali meredup. Harapan terakhirnya dari tempat kerja telah musnah. Pak Jono benar-benar menutup pintu untuknya. Di titik ini, Agus merasa seolah-olah seluruh dunia sedang mendorongnya masuk ke dalam lubang yang dalam dan tidak berdasar.

Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya yang kasar. Di sudut kantin yang sepi itu, suara dengung mesin pendingin minuman seolah menjadi latar belakang bagi kesunyian jiwanya. Ia teringat kata-kata Pak RT, "Kamu laki-laki, harus punya rencana yang jelas. Jangan cuma gali lubang tutup lubang."

Rencana apa? Agus bertanya pada dirinya sendiri dalam hati. Di dunia yang ia tinggali, rencana seringkali kalah oleh tagihan rumah sakit. Rencana seringkali tewas oleh kenaikan harga beras.

Agus kembali melihat ponselnya. Baterainya sudah sepuluh persen. Ia menatap pesan terakhir dari Rahma yang masuk beberapa detik lalu.

Nor Rahma: "Mas Agus, aku lihat kamu sedang online. Kenapa pesan-pesanku masih tidak dibalas?"

Agus menutup matanya rapat-rapat. Ia tahu ia tidak bisa lagi bersembunyi. Tapi ia juga tahu, jujur pada Rahma malam ini berarti ia akan memperlihatkan luka borok kemiskinannya yang paling dalam. Dan di hadapan wanita sesempurna Nor Rahma, Agus merasa luka itu akan membuatnya terlihat menjijikkan.

Dengan jempol yang gemetar, Agus mulai mengetik sesuatu di layar retaknya. Sesuatu yang mungkin akan mengubah arah hidupnya dan hubungannya dengan Rahma selamanya. Namun, sebelum ia sempat mengirimkan pesan itu, seorang petugas keamanan rumah sakit tiba-tiba menepuk pundaknya dengan keras.

"Mas, jangan tidur di sini. Kalau mau tidur, di ruang tunggu sana. Di sini tempat makan," ucap satpam itu dengan nada yang tidak ramah.

Agus tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselnya. Ia mendongak, melihat wajah satpam yang tampak galak itu. Ia tidak marah. Ia terlalu lelah untuk marah. Ia hanya bisa mengangguk, mencabut kabel charger-nya, dan mulai berdiri dengan bantuan kayu penyangganya.

Ia melangkah keluar dari kantin, kembali menuju lorong-lorong rumah sakit yang dingin dan berbau karbol. Setiap langkahnya kini terasa lebih berat, karena ia membawa satu kenyataan pahit tambahan: ia benar-benar sendirian dalam menghadapi angka dua juta rupiah tersebut. Di atas sana, langit kota mulai menunjukkan semburat biru gelap pertanda fajar segera tiba, namun bagi Agus, malam yang gelap seolah tidak akan pernah berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!