NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Khusus Dewasa 📌

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Minggu pagi itu, Calista memutuskan untuk keluar sejenak dari suasana rumah Satrya yang selalu terasa formal. Ia ingin merasakan kembali kesederhanaan hidup yang dulu sering ia jalani. Tanpa pengawalan dan hanya mengenakan kaos santai serta celana training, ia berdiri mengantre di depan gerobak bubur ayam kaki lima yang cukup populer di sudut jalan perumahan elit.

Aroma kaldu ayam yang gurih dan uap panas dari panci besar bubur seolah memberikan ketenangan sesaat bagi pikirannya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Sebuah mobil sport mewah berwarna merah menyala berhenti tepat di sisi jalan, dan sosok pria yang sangat ia hindari melangkah keluar dengan penuh percaya diri.

Minho.

Pria itu mendekat dengan senyum miring yang selalu tampak meremehkan apa pun yang ada di sekitarnya. "Bubur ayam pinggir jalan, Calista? Sungguh tidak cocok dengan statusmu sebagai istri seorang Denis Satrya sekarang," ucap Minho sembari berdiri tepat di samping Calista, mengabaikan antrean orang lain yang menatapnya heran.

Calista tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke arah gerobak bubur. "Status tidak mengubah seleraku, Minho. Apa yang kau lakukan di sini?"

Minho tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering. Ia melangkah lebih dekat, hingga aroma parfum mahalnya menyaingi aroma kaldu bubur di udara. "Aku mencarimu. Aku tidak bisa membiarkan wanita sepertimu terus berpura-pura bahagia di dalam rumah yang kaku itu. Denis mungkin memberimu nama besar, tapi dia tidak bisa memberimu kehangatan yang kau butuhkan."

Minho merendahkan suaranya, mencoba memasang nada yang paling persuasif. "Datanglah padaku, Calista. Aku menjamin kebahagiaanmu. Aku bisa memberimu kemewahan yang lebih nyata, liburan ke pulau pribadi, dan yang terpenting, aku akan memperlakukanmu seperti ratu yang sesungguhnya. Datanglah ke pelukanku, dan kau tidak perlu lagi mengantre di pinggir jalan seperti ini untuk sisa hidupmu. Kau layak mendapatkan panggung yang lebih megah daripada sekadar menjadi bayangan di istana Satrya."

Minho menatap wajah Calista dengan intens, mencoba menemukan celah keraguan. "Bayangkan, Calista. Tidak ada lagi aturan kaku, tidak ada lagi tatapan sinis dari keluarga Satrya yang tidak menghargaimu. Bersamaku, kau akan memiliki segalanya tanpa harus mengemis otoritas."

Calista akhirnya menoleh, menatap Minho dengan pandangan yang dingin dan penuh kejijikan. "Kau pikir kebahagiaan bisa dibeli dengan tiket liburan dan pulau pribadi? Kau sama sekali tidak mengenalku, Minho. Dan sekali lagi kukatakan: aku tidak akan pernah datang ke pelukan pria yang hanya melihat wanita sebagai trofi untuk dipamerkan. Kemewahanmu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan harga diriku. Kebahagiaan yang kau tawarkan hanyalah sangkar emas yang lain, dan aku tidak tertarik menjadi burung hiasanmu."

"Sepertinya kau punya kebiasaan buruk mengganggu milik orang lain, Minho."

Sebuah suara bariton yang berat dan penuh otoritas memecah percakapan mereka. Dari arah belakang, Denis melangkah maju. Pria itu tampak sangat dominan meski hanya mengenakan pakaian santai. Matanya menatap Minho dengan sorot yang sangat tajam, seolah siap menerkam siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Calista sedikit terkejut melihat kehadiran suaminya di sana. Rupanya Denis menyadari kepergiannya atau mungkin memiliki insting kuat ketika istrinya sedang dalam situasi yang tidak menyenangkan. Kehadiran Denis yang tiba-tiba membuat suasana di sekitar gerobak bubur mendadak senyap, orang-orang seolah menahan napas melihat dua pria berpengaruh itu saling berhadapan. Denis tidak datang dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan ketenangan yang jauh lebih mengerikan bagi lawan-lawannya.

Denis berdiri tepat di antara Calista dan Minho, menciptakan barikade fisik yang tak tertembus. "Aku sudah memperingatkanmu tempo hari. Jangan pernah mencoba merayu atau bahkan mendekati istriku lagi. Kau tidak punya hak bicara soal kebahagiaannya, apalagi menawarkan hal-hal sampah di depannya."

Minho mendengus, mencoba menjaga sisa-sisa harga dirinya di depan umum. "Aku hanya menawarkan pilihan yang lebih baik, Denis. Kau tahu sendiri bagaimana caramu memperlakukannya selama ini. Apakah kau yakin dia benar-benar ingin bersamamu karena keinginan hatinya sendiri?"

"Apa pun yang terjadi di antara kami, itu bukan urusanmu," potong Denis dengan nada yang sangat rendah namun mengancam. "Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran dan memastikan bisnismu di kota ini tidak lagi memiliki masa depan. Aku tidak suka mengulang perintah yang sama dua kali, dan kau tahu aku bukan orang yang hanya menggertak."

Denis menatap lurus ke dalam mata Minho, memberikan tekanan mental yang membuat pria di depannya itu mulai merasa tidak nyaman. Otoritas yang terpancar dari Denis seolah menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun mengusik wilayah kekuasaannya.

Minho terdiam. Ia tahu bahwa Denis tidak pernah bermain-main dengan ancamannya. Dengan wajah yang mengeras karena malu dan marah, ia berbalik dan masuk kembali ke mobil sport-nya, lalu melesat pergi meninggalkan kepulan asap knalpot yang menyesakkan. Para pengantre bubur yang tadi sempat tegang kini kembali berbisik-bisik, menyadari mereka baru saja menyaksikan perselisihan kelas atas.

Denis mengalihkan pandangannya pada Calista. Kemarahan di matanya perlahan luruh, berganti dengan sorot mata yang sulit dibaca antara khawatir dan protektif. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosinya yang baru saja meluap akibat keberanian Minho mengusik istrinya di tempat umum.

"Kenapa kau keluar sendirian tanpa memberi tahu siapa pun? Kau tahu betapa bahayanya orang-orang seperti dia yang selalu mencari celah," tanya Denis sembari mengambil kantong bubur yang baru saja selesai disiapkan oleh pedagang.

"Aku hanya ingin bubur, Mas. Aku tidak ingin merepotkanmu dengan hal sepele seperti ini pagi-pagi sekali," jawab Calista pelan, merasa sedikit bersalah karena telah memicu ketegangan yang melibatkan Denis.

Denis meraih tangan Calista, menggenggamnya dengan erat di depan orang-orang yang masih memperhatikan mereka. Genggamannya begitu kokoh, seolah tidak akan pernah membiarkan Calista lepas lagi. "Kau tidak pernah merepotkanku, Calista. Keamananmu adalah prioritas utamaku melebihi pekerjaan apa pun. Lain kali, jika kau ingin bubur, katakan padaku. Aku akan menemanimu mengantre, atau aku akan membawa pedagangnya ke rumah agar kau bisa makan dengan tenang tanpa gangguan. Jangan biarkan serigala seperti Minho punya celah untuk mendekatimu, apalagi merayu dengan janji-janji murahan yang tidak akan pernah ia tepati."

Denis kemudian menuntun Calista menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Setiap langkah Denis menunjukkan kepemilikan yang kuat, seolah ia sedang memberitahu seluruh dunia bahwa Calista berada di bawah perlindungannya yang mutlak. Meskipun Calista baru saja menolak kemewahan yang ditawarkan Minho, ia menyadari satu hal: perlindungan yang diberikan Denis terasa jauh lebih nyata daripada semua janji kosong pria lain. Di mata Denis, ia adalah sosok yang layak dijaga dengan seluruh harga diri Satrya, dan itu jauh lebih cukup bagi Calista. Kehangatan tangan Denis yang menggenggamnya memberikan rasa aman yang tak bisa ditukar dengan pulau pribadi mana pun, sebuah bukti bahwa di balik sikap dinginnya, Denis memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar peduli.

1
Blu Lovfres
cinta sudah hadir cuman belum menyadari nya aja,baik denis maupun callista
Blu Lovfres
apa alasannya denis begitu lemah dn tetap diam, dgn kelakuan ibu tirinya dn adik tirinya
Blu Lovfres
semua novel mu sangat sangat bagus thor👍👍
Blu Lovfres
pemeran denis sangat col
Blu Lovfres
best banget denis
Blu Lovfres
tetaplah seperti itu callista
Blu Lovfres
tetap semangat thor 💪💪💪
Blu Lovfres
orang seperti callista jg berbahaya jg ,dgn kecerbohannya yg merasa, pede ,ga enakan,sok kuat sok baik dgn perasaan nya sendiri,
Blu Lovfres
siapa yg menabur orang itu sendiri yg menuainya😁
Blu Lovfres
ceyeeeee😁 kuncup putik bunga sudah mulai tumbuh di taman hati sang ceo😁😁😁
Blu Lovfres
👍👍👍💪
Blu Lovfres
so sweet 😘😘😘
Ainun Mahya
novel sebagus ini baru aku baca😍😍😍, tetap semangat menulis thor
Ainun Mahya
good
Blu Lovfres
👍👍💪
Blu Lovfres
good job callista 👍
Blu Lovfres
👍👍👍😘😘😘
Blu Lovfres
seharusnya callista tu bertemu denis suatu rejeki dn keberkahan
Blu Lovfres
sekalian aja tu susinya😁😁
Blu Lovfres
salah besar lo ,mengangap denis tidak tau apa-apa 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!