Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Tamu Agung di Gubuk Reyot
Pagi hari setelah kejadian maling yang kaku jadi patung, suasana di gubuk Arjuna terasa sangat sejuk dan damai. Bau wangi melati masih tercium kuat dari kandang kambing kurusnya, seolah menutupi aroma kotoran hewan di sana. Siti Khumairoh sedang sibuk menyapu halaman, sedangkan Aminah Az-Zahra menyiapkan wedang jahe panas untuk suaminya.
Tiba-tiba, sebuah mobil putih sederhana berhenti di jalan setapak depan gubuk. Dari dalam mobil keluar seorang kiai sepuh berjubah putih bersih dengan wajah yang sangat teduh. Beliau adalah Kiai Hasan, ulama besar yang sangat disegani dari kota seberang karena kesalehannya yang luar biasa.
Siti dan Aminah langsung gemetar melihat tamu agung itu turun dari mobil. Mereka segera merapikan kerudung dan menunduk takzim karena rasa hormat yang mendalam. Namun, Arjuna justru sedang asyik tidur tengkurap di atas lincak bambu yang sudah reot sambil mendengkur sangat keras.
"Nyuwun sewu, Nduk. Punapa Gus Juna wonten ing griya?" (Mohon maaf, Nduk. Apakah Gus Juna ada di rumah?) tanya Kiai Hasan dengan suara yang sangat lembut dan sopan kepada Siti.
Siti Khumairoh merasa sangat malu melihat suaminya yang masih tidur dengan posisi tidak beraturan di depan ulama besar tersebut. Ia merasa Arjuna sangat tidak sopan kepada tamu sepenting itu.
"Kang Juna! Nyelenah ancene sampean niku! Niki wonten tamu agung kok malah ngorok banter sanget!" (Kang Juna! Memang aneh/nyeleneh Anda ini! Ini ada tamu agung kok malah mendengkur keras sekali!) bisik Siti sambil menyenggol bahu Arjuna berkali-kali.
Arjuna hanya menggeliat malas, lalu membuka mata kanannya sedikit sambil menguap lebar. Ia melihat Kiai Hasan yang sedang berdiri menunduk takzim di depannya tanpa ada rasa sombong sedikit pun meskipun beliau ulama besar.
"Walah! Kiai Hasan kok mriki? Ajeng njaluk susu wedhus kuru nggih?" (Walah! Kiai Hasan kok ke sini? Mau minta susu kambing kurus ya?) celetuk Arjuna sambil duduk dan menggaruk kepalanya yang sangat berantakan.
Aminah Az-Zahra hampir pingsan mendengar suaminya bicara begitu lancang kepada seorang kiai besar. Tapi anehnya, Kiai Hasan justru langsung bersujud syukur dan mencoba mencium tangan Arjuna yang masih penuh debu tanah itu.
"Mboten, Gus. Kulo namung sowan, kepingin ngalap barokah saking Wali sing pinter ndhelikake jati dhiri." (Tidak, Gus. Saya cuma berkunjung, ingin mengambil berkah dari Wali yang pintar menyembunyikan jati diri.) ucap Kiai Hasan dengan air mata yang menetes karena haru.
Siti dan Aminah hanya bisa melongo saling pandang melihat kejadian ajaib itu. Mereka tidak menyangka kiai yang dihormati ribuan santri itu justru sangat rendah hati di depan suami mereka yang sering dianggap gila oleh orang desa.
"Nyelenah temenan urip iki, Mbak Siti. Sing pinter dadi murid, sing dianggap gendheng malah dadi gurune." (Nyeleneh beneran hidup ini, Mbak Siti. Yang pintar jadi murid, yang dianggap gila malah jadi gurunya.) bisik Aminah sambil menahan napas karena takjub.
.
Arjuna tertawa konyol lalu mengajak Kiai Hasan duduk lesehan di tanah, bukan di kursi plastik yang sudah pecah di teras. Ia mengambil seember air dari sumur tua yang terlihat sangat keruh dan penuh lumut hijau.
"Kiai, mboten wonten teh larang neng kene. Niki banyu sumur mambu lumut, purun ngombe?" (Kiai, tidak ada teh mahal di sini. Ini air sumur bau lumut, mau minum?) tawar Arjuna dengan wajah polos tanpa dosa.
Kiai Hasan meminum air keruh itu dengan penuh khidmat seolah meminum air zam-zam. Anehnya, begitu air itu masuk ke tenggorokan beliau, rasanya melebihi madu yang paling murni. Wajah Kiai Hasan yang tadinya lelah langsung berubah menjadi segar dan bersinar terang benderang.
"Alhamdulillah... niki sanes banyu sumur biasa, Gus. Niki banyu saking telaga surga sing adhem sanget." (Alhamdulillah... ini bukan air sumur biasa, Gus. Ini air dari telaga surga yang sangat dingin dan segar.) puji Kiai Hasan sambil menangis bahagia.
Siti Khumairoh segera masuk ke dalam gubuk untuk mengambil sisa uang dari para pencuri tadi pagi. Ia berniat memberikan uang itu sebagai sedekah untuk pembangunan pesantren milik Kiai Hasan agar lebih berkah.
"Niki Kiai, wonten titipan soko donatur beras wau dalu. Mugi saged migunani kagem santri." (Ini Kiai, ada titipan dari donatur beras tadi malam. Semoga bisa berguna buat para santri.) kata Siti dengan tulus memberikan bungkusan uang.
Kiai Hasan menerima uang itu dengan tangan yang gemetar hebat. Beliau tahu uang itu adalah hasil dari karamah Arjuna yang bisa mengubah niat jahat orang menjadi sebuah kebaikan yang nyata untuk agama.
"Matur nuwun, Nduk. Sampean pancen dadi pendamping sing kuat nggo ngadepi Wali sing paling nyelenah niki." (Terima kasih, Nduk. Kamu memang jadi pendamping yang kuat buat menghadapi Wali yang paling nyeleneh ini.) doa Kiai Hasan sambil berpamitan pulang.
Setelah mobil Kiai Hasan pergi, Arjuna kembali berbaring di lincak sambil menarik sarung lusuhnya untuk menutupi seluruh wajahnya dari sinar matahari yang mulai menyengat.
"Wis, Nduk. Ojo ndelok mobil terus selak mripatmu rusak. Gek ndang resik-resik kandhang, wedhuse selak luwe." (Sudah, Nduk. Jangan lihat mobil terus nanti matamu rusak. Cepat bersih-bersih kandang, kambingnya keburu lapar.) teriak Arjuna dari balik sarungnya.
Siti dan Aminah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang sangat tidak terduga itu. Mereka sadar bahwa di balik gubuk tua ini, tersimpan rahasia langit yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang-orang sombong di desa tersebut.
Setelah Kiai Hasan pergi, suasana di gubuk kembali seperti semula. Namun, Siti Khumairoh dan Aminah Az-Zahra masih merasa takjub dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Mereka berdua duduk di samping Arjuna yang masih asyik menutup wajahnya pakai sarung di atas lincak.
"Kang, sampean niku asline sinten? Kiai Hasan wae nganti nyium tangan sampean ngeten." (Kang, Anda itu aslinya siapa? Kiai Hasan saja sampai mencium tangan Anda begini.) tanya Siti Khumairoh sambil mencoba menarik sarung yang menutupi wajah Arjuna.
Arjuna hanya mendengkur pelan, pura-pura tidak dengar. Tapi Siti tidak menyerah, ia mencubit pelan pinggang suaminya sampai Arjuna melonjak kaget.
"Aduh! Nyelenah ancene sampean, Nduk! Wong lagi nunggu wangsit kok dicubiti." (Aduh! Nyeleneh beneran Anda, Nduk! Orang lagi nunggu petunjuk/wangsit kok dicubiti.) protes Arjuna sambil nyengir konyol.
Aminah Az-Zahra ikut tertawa melihat tingkah suaminya. Ia kemudian menyodorkan segelas wedang jahe yang aromanya sangat wangi.
"Niki diombe dhisik, Kang. Ben pikirane mboten ngglundung mrono-mrene. Kulo nggumun, kok saged Kiai Hasan ngendika banyu sumur niku banyu surga?" (Ini diminum dulu, Kang. Biar pikirannya tidak lari kemana-mana. Saya heran, kok bisa Kiai Hasan bilang air sumur itu air surga?) tanya Aminah dengan mata berbinar penasaran.
Arjuna meminum jahe itu dengan nikmat, lalu menatap kedua istrinya dengan tatapan yang sangat dalam dan teduh.
"Nduk, kabeh sing ning dunya iki mung dadi hijab. Nek atimu resik, banyu sumur wae saged dadi madu. Nek atimu srakah, madu wae saged dadi racun." (Nduk, semua yang di dunia ini cuma jadi penutup/hijab. Kalau hatimu bersih, air sumur saja bisa jadi madu. Kalau hatimu serakah, madu saja bisa jadi racun.) jawab Arjuna dengan nada bicara yang tiba-tiba berwibawa.
Siti dan Aminah terdiam seribu bahasa. Mereka merasa beruntung bisa mendampingi lelaki yang oleh orang desa dianggap gila, padahal dialah samudera ilmu yang sesungguhnya.
"Terus niku dhuwit saking maling wau, opo mboten dadi haram nek diwenehne Kiai?" (Terus itu uang dari maling tadi, apa tidak jadi haram kalau dikasihkan Kiai?) tanya Siti yang masih sedikit bingung.
Arjuna tertawa kecil sambil mengusap kepala Siti. "Dhuwit iku wis dadi 'dhuwit tobat' pas maling kuwi nangis neng kandhang. Gusti Allah kuwi Maha Bolak-balikne kahanan." (Uang itu sudah jadi 'uang tobat' saat maling itu menangis di kandang. Gusti Allah itu Maha Membolak-balikkan keadaan.)
Malam pun tiba, angin semilir masuk melalui celah-celah dinding bambu gubuk mereka. Arjuna mengajak kedua istrinya untuk salat berjamaah di tengah ruangan yang hanya beralaskan tikar pandan tua.
"Ayo podo ruku' lan sujud. Ojo lali dongo nggo wong-wong sing isih podo ngece awake dhewe." (Ayo semua rukuk dan sujud. Jangan lupa doa buat orang-orang yang masih suka mengejek kita.) ajak Arjuna lembut.
Saat Arjuna mulai takbiratul ihram, ruangan gubuk yang gelap itu tiba-tiba terang benderang oleh cahaya keemasan yang keluar dari tubuh Arjuna. Siti dan Aminah menangis dalam sujudnya, merasakan kedamaian yang tidak pernah mereka temukan di dunia mana pun.
"Nyelenah temenan sampean, Kang. Ning mburimu, kabeh beban dunya kok keroso ilang." (Nyeleneh beneran Anda, Kang. Di belakangmu, semua beban dunia kok terasa hilang.) bisik Aminah di dalam hatinya yang paling dalam.