NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Makam Sang Arsitek

​Deru mesin sekoci kecil itu terdengar seperti rintihan di tengah luasnya Selat Malaka yang tak berujung. Nadia duduk di kemudi, matanya yang tajam terus memantau radar, sementara Arga berada di belakang, menatap telapak tangannya. Pola parut luka bakar itu tidak lagi memerah; ia kini berwarna keperakan, berkilau samar setiap kali detak jantung Arga memuncak.

​"Mereka tidak akan membunuhnya, Arga," suara Nadia memecah kesunyian, mencoba mengusir bayangan kapal selam hitam yang menelan Elina. "Elina adalah aset terlalu berharga bagi Aegis. Tanpa dia, seluruh infrastruktur Project Horizon hanyalah tumpukan kode tanpa nyawa."

​"Tapi dia menderita, Nadia," Arga mengepalkan tangannya. "Setiap kali mereka menyentuh sistem itu, mereka menyentuh jiwanya. Dan sekarang, mereka tahu bahwa akulah kuncinya. Elina mengorbankan dirinya agar aku bisa menemukan Haris."

​Arga membuka kembali ponsel satelitnya. Koordinat di Kalimantan itu berkedip di tengah kegelapan hutan pedalaman yang tak terjamah. The Architect's Grave. Nama itu terdengar seperti sebuah akhir, namun Arga merasakannya sebagai sebuah awal yang mengerikan.

​Kalimantan, 22 Mei 2026.

​Setelah dua hari perjalanan melintasi sungai-sungai berarus deras dan menembus kanopi hutan yang begitu rapat hingga sinar matahari nyaris tak sampai ke tanah, Arga dan Nadia akhirnya sampai di titik koordinat tersebut. Namun, di sana tidak ada makam batu atau monumen megah. Yang ada hanyalah sebuah tebing kapur raksasa yang ditumbuhi lumut dan akar pohon purba.

​"Kita di sini," Nadia mengatur napasnya, memegang kompas digital. "Tapi tidak ada apa-apa selain dinding batu."

​Arga melangkah maju. Dia merasakan getaran aneh di telapak tangannya. Pola perak di kulitnya mulai berdenyut panas. Dia teringat kata-kata Elina di kapal kargo: Kau adalah biometrik hidup mereka sekarang.

​Arga menempelkan telapak tangannya ke permukaan dinding batu yang dingin.

​Bzzzt...

​Suara dengung frekuensi rendah terpancar dari balik batu. Lumut dan tanah mulai berguguran saat sebuah celah vertikal yang sangat presisi terbuka perlahan. Bukan pintu mekanis, melainkan teknologi pergeseran molekuler yang membuat batu itu seolah-olah mencair dan menyatu kembali.

​Di dalamnya, sebuah lorong futuristik dengan cahaya biru redup membentang ke bawah tanah. Dingin, steril, dan sangat kontras dengan hawa lembap hutan di luar.

​"Selamat datang di tempat di mana kebohongan dimulai," sebuah suara bergema dari kegelapan lorong.

​Haris muncul. Namun kali ini dia tidak mengenakan mantel lusuh seperti di Zakopane. Dia mengenakan seragam teknisi berwarna abu-abu dengan lambang Aegis yang dicoret dengan tanda silang merah di dadanya.

​"Haris! Di mana ayahku?!" Arga langsung menerjang, mencengkeram kerah baju pria tua itu. "Elina ditangkap! Dia bilang kau punya jawaban tentang ayahku!"

​Haris tidak melawan. Dia hanya menatap Arga dengan mata yang penuh penyesalan. "Ayahmu tidak pernah meninggal di Zurich, Arga. Itu adalah kebohongan yang dirancang untuk melindungimu... dan melindunginya."

​Haris membawa mereka masuk lebih dalam, menuju sebuah ruangan berbentuk kubah kaca. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah tabung kriogenik yang dialiri cairan biru bercahaya. Di dalamnya, seorang pria tampak tertidur lelap. Wajahnya sangat mirip dengan Arga, namun dengan beberapa helai uban di rambutnya.

​"Ayah...?" Arga menyentuh permukaan kaca tabung itu dengan tangan gemetar.

​"Namanya bukan hanya Adrian Adriansyah," Haris berbisik. "Di dalam sistem Aegis, dia dikenal sebagai The Architect Prime. Dialah yang sebenarnya menciptakan The Prime Logic, bukan Pak Broto. Kakekmu mencuri karyanya dan mencoba memodifikasinya menjadi senjata. Ayahmu melarikan diri dan menyembunyikan dirinya di sini, dalam keadaan stasis, untuk mencegah Pak Broto mengakses kunci terakhir."

​"Lalu siapa pria di kapal selam itu?" Arga teringat sosok yang dilihatnya melalui layar monitor sebelum melarikan diri. "Pria yang sangat mirip denganku?"

​Haris terdiam sejenak, wajahnya memucat. "Itu adalah proyek Gemini. Kakekmu tidak hanya membesarkanmu di Jakarta. Dia menciptakan klon dari DNA ayahmu saat kau masih bayi. Dia ingin memiliki pewaris yang tidak memiliki 'cacat emosional' seperti manusia. Dia menyebutnya... Arya."

​Arga mundur selangkah, napasnya tersengal. Jadi, selama ini dia memiliki "saudara" yang merupakan versi tanpa jiwa dari dirinya sendiri. Dan sekarang, Arya memimpin Aegis bersama Elina sebagai tawanannya.

​"Arya tidak butuh kau untuk membuka sistem, Arga," lanjut Haris. "Dia butuh darahmu untuk menggantikan ayahnya. Jika dia mendapatkanmu, dia akan melakukan sinkronisasi total. Seluruh penduduk bumi tidak akan lagi memiliki kehendak bebas. Mereka akan menjadi bagian dari satu jaringan pikiran yang dipimpin oleh Arya."

​Tiba-tiba, alarm di fasilitas bawah tanah itu meraung. Monitor di sekeliling mereka menampilkan citra satelit yang menangkap pergerakan cepat menuju lokasi mereka.

​"Mereka menemukan kita!" teriak Nadia, segera menyiapkan senjatanya.

​"Arga, dengarkan aku," Haris menarik tangan Arga. "Satu-satunya cara untuk menghentikan Arya adalah dengan membangunkan ayahmu. Tapi membangunkan ayahmu berarti menghancurkan kunci biometrik yang ada di tubuhmu. Kau akan kehilangan seluruh akses ke sistem Horizon. Kau akan menjadi manusia biasa lagi, tanpa perlindungan apa pun."

​Arga menatap ayahnya di dalam tabung, lalu teringat Elina yang kini berada di tangan "saudaranya" yang kejam.

​"Bangunkan dia," ucap Arga dengan tegas. "Aku tidak butuh menjadi dewa. Aku hanya ingin membawa Elina pulang."

​Tepat saat Haris memulai proses dekompresi tabung, langit-langit fasilitas itu meledak. Dari debu dan reruntuhan, sesosok pria melompat turun dengan sangat anggun. Dia mendarat di depan Arga, mengenakan setelan hitam yang sempurna.

​Wajahnya adalah cermin dari wajah Arga. Namun, matanya benar-benar kosong, tanpa binar kemanusiaan sedikit pun.

​"Halo, Saudaraku," ucap Arya dengan senyum yang sangat simetris. "Terima kasih sudah membawaku ke makam Ayah. Sekarang, berikan darahmu, atau aku akan menghapus Elina dari memori dunia dalam satu detik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!