NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32 - Terciduk

Perjalanan pagi itu ternyata tidak menuju kawasan pusat kota seperti yang Gwen kira. Mobil Aga justru melaju ke bagian kota yang lebih tua, lebih hidup, dan terasa lebih nyata. Bangunan-bangunan ruko lama mulai terlihat. Pepohonan di pinggir jalan lebih rindang. Ada warung kopi, tukang bubur, kios bunga, dan pasar kecil yang baru buka.

Gwen menoleh beberapa kali, sedikit heran.

“Kita mau ke mana sih sebenarnya?”

Aga tidak langsung menjawab, hanya tersenyum tipis sambil memegang setir dengan satu tangan.

“Kalau kamu jawab rahasia lagi, aku lompat,” ancam Gwen.

Aga terkekeh rendah, suaranya dalam. “Nggak usah lompat, sayang. Celanamu kependekan banget. Nanti yang kelihatan malah paha mulus kamu, terus aku yang susah konsen nyetir.”

Gwen spontan menepuk pahanya sendiri dan menarik kaos itu ke bawah dengan kasar. “Kamu bisa nggak sih ngomong normal satu kali aja?!”

“Bisa,” jawab Aga santai, melirik sekilas ke arah paha Gwen dengan mata yang terang-terangan nakal.

“Tapi aku lebih suka kalau kamu panik gini. Lucu. Bikin aku pengin berhenti di pinggir jalan terus tarik kamu ke pangkuanku.”

Gwen mendengus keras, wajahnya sudah mulai memanas. “Aku serius, Aga!”

“Aku juga serius,” balas Aga, suaranya tiba-tiba lebih rendah dan tenang. “Aku mau bawa kamu ke tempat yang aku suka. Tempat yang cuma aku dan orang-orang penting yang boleh tahu.”

“Tempat fancy?” tanya Gwen curiga.

“Enggak.”

“Tempat mahal?”

“Enggak juga.” Aga memutar setir pelan memasuki jalan yang lebih sempit. “Tempat favorit kakekku. Dan sekarang… tempat yang bakal aku buat jadi favorit kamu juga.”

Pertanyaan berikutnya langsung tertahan di tenggorokan Gwen. Nada suara Aga berubah sangat sedikit, tapi cukup untuk membuatnya diam.

“Oh,” jawab Gwen pelan. “Kalian sering ke sana dulu?”

Aga mengangguk kecil. “Waktu aku masih kecil. Hampir tiap minggu. Sekarang aku mau bawa kamu. Biar kamu tahu bagian dari aku yang nggak boleh disentuh orang lain."

Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah makan tua di sudut jalan.

Bangunannya sederhana, cat dindingnya sudah sedikit pudar, papan namanya pun tak tampak baru. Dari luar saja aroma makanan hangat sudah tercium.

Gwen berkedip pelan sambil melihat ke arah papan nama. “Ke sini?”

Aga mematikan mesin. “Iya. Kenapa? Kamu kira aku cuma bisa makan di tempat yang pelayan-nya pake seragam?”

Gwen melihat lagi ke luar jendela. Bukan tempatnya yang membuatnya kaget, tapi fakta bahwa Aga terlihat begitu biasa berada di sini. Benar-benar nyaman.

Aga yang sudah turun dari mobil memutar ke sisi Gwen dan membuka pintunya dengan satu tangan, sementara tangan satunya langsung terulur.

“Ayo turun, princess. Atau mau aku gendong masuk? Biar semua orang tahu kamu milik aku pagi ini.”

Gwen menerima tangan itu dengan wajah sedikit merah. “Nggak perlu gendong-gendong.”

Begitu masuk ke rumah makan, seorang perempuan tua berkebaya sederhana langsung menoleh.

“Lho, Mas Aga? Sudah lama sekali nggak ke sini.”

Aga tersenyum kecil. “Pagi, Bu. Iya, sudah lama sekali.”

Mata perempuan itu pindah ke Gwen. Wajahnya langsung berbinar. “Ini pacarnya ya?”

Gwen hampir tersedak udara.

Aga justru santai sekali, bahkan menarik pinggang Gwen lebih dekat ke sisinya dengan gerakan posesif. “Calon istri, Bu. Doain aja biar cepet. Aku nggak sabar pengin resmiin dia sebagai milik aku sepenuhnya.”

“Aga!” desis Gwen pelan dengan wajah merah seketika, mencoba melepaskan pinggangnya tapi

Aga malah semakin erat.

Perempuan itu terkekeh hangat. “Aduh, cocok sekali. Cantik banget.”

Gwen makin salah tingkah, apalagi dengan kaos longgar milik Pandji dan sandal jepit yang terasa makin menghinanya.

Aga seolah membaca isi kepalanya. Ia menunduk perlahan, bibirnya hampir menyentuh telinga Gwen, napasnya yang hangat menyapu kulit sensitif di sana saat berbisik dengan suara rendah yang dalam dan penuh godaan.

“Mau pakai karung sekalipun, kamu tetap cantik sekali di mataku. Tapi… jauh lebih cantik lagi kalau nanti tanpa sehelai benang pun. Hanya kulitmu yang lembut, hanya tubuhmu yang sempurna—polos dan terbuka sepenuhnya untukku. Biar setiap kali kamu bergerak, aku ingat bahwa yang boleh memandang, menyentuh, dan memiliki kamu..cuma aku.”

Wajah Gwen langsung panas seluruhnya. Ia buru-buru masuk lebih dulu agar perempuan itu tak melihat reaksinya terlalu jelas.

“Duduk di tempat biasa saja, Mas?” tanya si ibu.

Aga mengangguk. “Kalau masih kosong. Meja pojok itu. Yang dulu biasa aku duduk sama kakek. Sekarang aku mau duduk di sana sama calon istriku.”

Ia membawa Gwen ke meja pojok dekat jendela besar yang menghadap jalan. Tempatnya tenang, sedikit terpisah dari meja lain.

Begitu mereka duduk, Gwen menatap sekeliling lagi.

Tempat itu hangat, penuh bekas hidup.

Aga membuka menu seadanya, meski ia bahkan tidak membutuhkannya. “Aku pesan dua porsi soto ayam, perkedel, sate usus, es teh manis satu, teh hangat satu.

Gwen mengangkat alis. “Kamu nanya aku dulu kek.”

Aga mendengus pelan, santai menyandarkan tubuh sambil menatap Gwen dengan sorot mata yang sulit ditebak.

“Kalau nggak suka, aku yang habisin,” ucapnya ringan. “Tapi aku yakin kamu suka. Kamu tipe yang butuh makanan hangat kalau perut kosong.”

Gwen mengerucutkan bibir, menatap mangkuk itu sejenak sebelum akhirnya duduk.

“PD banget,” gumamnya.

Aga tersenyum tipis, hampir tak terlihat. “Bukan PD,” ucapnya pelan. “Aku cuma mencari tahu tentang kamu. Supaya nanti aku tahu persis cara bikin kamu leleh di bawah aku.”

Wajah Gwen langsung berubah. “Aku nanya beneran!”

“Aku juga jawab beneran,” balas Aga sambil tersenyum nakal. “Dan aku nggak bohong. Aku suka banget lihat kamu tersipu malu gini. Bikin aku pengin cium bibir kamu sampai bengkak.”

Tak lama kemudian, ponsel Gwen bergetar. Pandji menelepon.

Gwen menunjukkan layar ke Aga. “Angkat?”

Aga menggeleng tegas. “Jangan. Biar dia panik dulu. Kamu lagi sama aku sekarang. Nggak ada yang boleh ganggu.”

“Kasihan, dia adikku.”

"Aku Tahu," Aga tersenyum tipis. “Tapi aku nggak suka kalau kamu terlalu fokus ke orang lain.”

Ia mengulurkan tangan. “Sini ponselnya.”

Dengan curiga Gwen menyerahkan ponselnya.

Aga mengangkat panggilan dan langsung menyalakan speaker.

Suara Pandji meledak. “MBAK! LO DICULIK?!”

Gwen langsung tertawa.

Aga bersandar santai, satu tangannya malah meraih tangan Gwen di atas meja dan menggenggamnya erat, posesif. “Iya, dicuri. Dan gue nggak berniat balikin dalam waktu dekat.”

“ANJIR! BALIKIN MBK GUE!”

“Nanti. Sekarang dia lagi makan sama gue. Lo ganggu aja, nanti gue tambah lama bawa dia pergi.”

Pandji menarik napas kasar. “Lo di mana sekarang?”

Aga melirik Gwen dengan senyum mesum. “Tempat makan yang enak. Yang nggak ada lo. Dan yang paling penting… tempat di mana gue bisa godain mbak lo tanpa gangguan.”

“Setan! Mbak, kalau dia aneh-aneh, jambak aja!”

Aga melirik Gwen dari ujung mata, jarinya mengusap punggung tangan Gwen pelan. “Kalau dia jambak aku, aku malah senang. Bisa-bisa aku balas dengan gigit pelan di lehernya.”

“Mesum lo!” teriak Pandji.

“Sudah ya,” kata Aga tenang, lalu memutus panggilan tanpa menunggu jawaban lagi.

Gwen menutup wajah dengan kedua tangan sambil tertawa. “Ya ampun… Kamu tuh bener-bener musuh alami Pandji.”

“Bukan musuh,” koreksi Aga sambil menarik tangan Gwen turun agar bisa melihat wajahnya. “Aku saingan utamanya."

Gwen menurunkan tangan perlahan. “Saingan dalam hal apa?”

Aga menatapnya lurus, tatapannya gelap dan posesif. “Dalam hal memiliki kamu. Tadi aku sudah bilang. Aku nggak suka berbagi kamu dengan siapa pun. Bahkan adik kamu sekalipun. Kamu milik aku pagi ini. Dan aku mau kamu fokus cuma ke aku.”

Jantung Gwen tersentak halus.

Makanan datang beberapa menit kemudian. Kuah soto mengepul tipis. Aroma kunyit dan bawang goreng langsung memenuhi meja.

Gwen mengambil sendok, lalu berhenti sebentar setelah suapan pertama. Matanya membesar. “Enak banget.”

Aga tersenyum kecil, tapi matanya tidak lepas dari bibir Gwen yang basah oleh kuah. “Tuh kan. Aku nggak akan bawa kamu ke tempat jelek. Aku mau kamu cuma dapet yang terbaik… termasuk dari aku.”

Gwen menatap mangkuknya lagi. Lalu tanpa sadar berkata pelan, “Dulu aku pernah ngajak seseorang ke tempat kayak gini.”

Aga tidak langsung menyela. Ia cuma menunggu, tapi tangannya sudah meraih tangan Gwen lagi di atas meja.

“Dia nolak,” lanjut Gwen sambil mengaduk kuah pelan. “Katanya kotor. Banyak kuman.”

Sunyi kecil jatuh.

Aga menaruh sendoknya. Nada suaranya datar tapi tegas, dengan sentuhan jail, “Berarti dia bodoh. Orang yang nolak duduk sama kamu di tempat kayak gini cuma karena takut kuman… pasti nggak tahu apa yang dia lewatin. Kalau aku, aku rela duduk di mana saja asal bisa lihat kamu makan sambil bayangin nanti malam aku yang bikin kamu ‘puas’ dengan cara lain.”

"Dasar mesum!"

“Hanya padamu, Baby.” Aga menatap sekeliling tempat itu. “Tempat kayak gini nggak pernah masalah. Yang masalah itu orang yang pikir dirinya terlalu tinggi buat duduk di kursi plastik… dan terlalu bodoh buat menghargai cewek sebaik kamu.”

Kalimat itu masuk lurus ke dada Gwen.

Gwen menatap pria itu lebih lama sekarang.

Perasaan kagum yang muncul terasa jauh lebih berbahaya.

“Kamu sering bikin orang malu, ya?” tanya Gwen pelan.

Aga mengangkat alis. “Karena aku ngomong begitu?”

Gwen menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke mangkuk di depannya sejenak sebelum kembali menatap Aga.

“Bukan,” jawabnya pelan. “Karena kamu selalu yakin sama apa yang kamu omongin.”

Aga terdiam sebentar, lalu menyandarkan punggungnya lebih santai.

“Kalau aku nggak yakin, aku nggak akan ngomong.”

Gwen mendengus kecil, nyaris seperti tertawa. “Itu yang bikin kamu nyebelin.”

Aga menatapnya, kali ini sedikit lebih lama dari tadi.

“Tapi kamu tetap di sini,” ucapnya ringan.

Gwen mengalihkan pandangannya ke mangkuknya lagi, seolah kalimat itu tidak terlalu berpengaruh padanya—padahal jelas tidak.

“Jangan kepedean,” gumamnya akhirnya.

Aga tersenyum tipis, hampir tak terlihat. “Aku nggak lagi pede.”

“Terus apa?”

“Aku cuma bilang fakta.”

Gwen mendengus pelan lagi, tapi kali ini suaranya lebih lirih. “Kamu tuh… ngomongnya selalu bikin orang nggak bisa santai.”

Aga mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatapnya.

“Kamu tahu nggak?” bisiknya pelan. “Kamu cantik banget pas lagi tersipu gini. Apalagi pakai baju begini,” katanya sambil matanya turun sekilas ke kaos oversize yang dipakai Gwen, lalu kembali ke wajahnya dengan ekspresi terlalu tenang.

“Bikin aku susah fokus makan. Susah fokus apa pun selain pengin lepasin kaos itu pelan-pelan nanti.”

Wajah Gwen langsung memerah sampai ke telinga.

“Aga!”

“Jujur doang,” balas Aga sambil terkekeh pelan. “Kamu yang pakai kaos cowok lain, celana pendek, rambut berantakan… terus berharap aku tetap suci pikirannya? Mustahil, sayang. Aku malah makin pengin tandain kamu sebagai milik aku.”

“Ini kaos adikku!”

“Justru itu. Aku jadi makin pengin beliin kamu baju sendiri. Baju yang pas di badan kamu. Supaya kalau kamu pakai baju oversize di depan aku lagi, itu pasti punyaku. Dan aku bisa lepasin kapan pun aku mau.”

Gwen menatapnya tak percaya. Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang langsung keluar.

Aga malah tertawa rendah dan kembali makan dengan santai seolah ia tidak baru saja membuat Gwen kehilangan fungsi otak.

Beberapa detik kemudian, suara Aga terdengar lagi, kali ini lebih lembut tapi tetap posesif. “Aku bawa kamu ke sini bukan cuma buat makan, Gwen.”

Gwen mengangkat mata perlahan.

Aga tidak main-main sekarang. “Dulu waktu kakek masih ada, ini salah satu tempat favoritnya. Dia selalu ngajak aku ke sini waktu aku capek. Sekarang aku bawa kamu… karena aku tahu kamu lagi capek.

Dan aku nggak mau hari ini kamu jadi versi dirimu yang harus siap terus. Aku mau kamu rileks… sama aku. Cuma sama aku.”

Dada Gwen menghangat penuh.

“Kamu nggak pernah setengah-setengah ya, kalau niat bikin orang luluh?” tanya Gwen pelan.

Aga tersenyum sangat tipis, matanya gelap. “Soal kamu, enggak. Aku mau kamu luluh total. Sampai nggak ada ruang buat orang lain di kepala kamu selain aku.”

Mereka habis makan lebih lama dari yang seharusnya. Setelah membayar, Aga mengajak Gwen keluar lewat sisi samping ke halaman kecil dengan pohon tua dan bangku semen.

Gwen menatap sekeliling. “Bagian ini lucu.”

Aga berdiri di sampingnya, lalu tiba-tiba menarik pinggang Gwen mendekat. “Dulu aku sering duduk di sini. Kakek merokok, aku makan kerupuk. Sekarang aku mau duduk di sini sama kamu."

Gwen tertawa kecil. “Romantis sekali.”

“Kalau kamu mau, aku bisa bikin versi lebih romantis,” bisik Aga di telinganya. “Misalnya… aku duduk, kamu di pangkuanku, terus aku cium leher kamu pelan-pelan sampe kamu minta lebih.”

“Kamu memang nggak bisa hidup tanpa ngomong mesum ya?”

Aga memandangnya lama, lalu mendekat satu langkah lagi sampai jarak mereka hampir hilang.

“Bisa. Tapi kalau sama kamu, aku lebih suka lihat kamu yang tersipu malu. Suka banget. Bikin aku pengen terus godain kamu… sampe akhirnya kamu nggak bisa nolak lagi.”

Gwen menelan ludah. “Kamu menikmati penderitaanku ya?”

“Sedikit,” jawab Aga jail. “Atau banyak. Terserah.”

“Gila.”

“Tapi kamu suka kan si gila ini?” ucapnya santai, sementara tangannya masih terasa hangat melingkar di pinggang Gwen.

Gwen menahan senyum. “Sombong.”

Aga mengangkat tangan, lalu dengan gerakan ringan membenarkan satu helai rambut Gwen. Jarinya menyapu pelipisnya sangat singkat, tapi cukup untuk membuat napas Gwen tertahan.

“Aga…” suaranya turun tanpa sengaja.

“Hm?” Aga menunduk, tatapannya berpindah singkat ke bibir Gwen.

“Pagi tadi… kamu sebenarnya tahu dari mana soal meeting Raymond Tan?”

Aga tersenyum tipis. “Feeling aja.”

“Bohong.”

“Galak,” goda Aga sambil mendekat lebih lagi. “Kamu tahu masalahnya apa? Kalau kamu tatap aku begini, aku susah jadi orang baik. Susah banget buat nahan diri nggak langsung cium kamu di sini.”

Wajah Gwen kembali panas. “Aga!"

“Aku jujur, Baby.”

“Aku lagi gak bercanda?”

Aga mengembuskan napas kecil. “Bisa tolong kasih aku waktu? Karena kalau aku mulai cerita sekarang… kamu bakal tahu kalau aku nggak sesederhana yang selama ini kamu lihat. Dan jujur… aku belum siap kalau nanti kamu malah kabur.”

“Dan kalau aku tetap mau tahu?”

Sudut bibir Aga bergerak tipis. “Berarti aku makin bahaya.” Ia berhenti sejenak, tatapannya dalam. “Tapi sebelum itu… aku klaim kamu dulu. Lebih kuat lagi.”

Gwen hanya memutar bola mata malas. Ia bahkan tidak repot-repot menanggapi, memilih diam dengan ekspresi datar.

Aga menunduk sedikit. “Kalau aku terus di sini, aku bakal ngelakuin sesuatu yang bikin kamu ngamuk."

“Apa?” bisik Gwen.

Senyum Aga muncul sangat tipis. “Cium bibir kamu. Sampai kamu lupa kita lagi di tempat umum.”

Gwen benar-benar habis. “Aga!”

“Aku suka banget liat kamu tersipu.”

Aga mundur setengah langkah, wajahnya tampak sangat puas melihat reaksi Gwen.

Tiba-tiba terdengar suara langkah. “NAH! KETEMU.”

Pandji berdiri di ambang pintu samping dengan napas memburu.

Gwen langsung memejamkan mata. “Pandji…”

Aga berdiri lebih tegak, wajahnya datar tapi jelas tidak senang momen indahnya di rusak. Satu tangannya masih melingkar di pinggang Gwen, tidak mau lepas.

“Lo tracking kita?” tanya Aga datar.

“Lo pikir gue nggak bisa? Mbak gue dibawa kabur pagi-pagi, ya gue kejar lah.”

“Siapa yang dibawa kabur?” Gwen mengerutkan kening. “Aku ikut sendiri.”

Pandji mendelik. “Mbak, tolong jangan membela pelaku mesum ini.”

Aga mengembuskan napas pendek, tapi senyum jailnya muncul lagi. “Lebay.”

“Dan lo—” Pandji maju satu langkah lagi, masih siap nyerocos, lalu mendadak berhenti. Ekspresinya berubah. Bukan hilang kesal.

Lebih seperti sadar ia tidak datang sendirian.

Gwen mengikuti arah pandang adiknya. Dan seketika tubuhnya membeku.

Di belakang Pandji, beberapa langkah dari pintu samping rumah makan, berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan kemeja lengan panjang warna gelap yang digulung sampai siku. Wajahnya tenang seperti biasa.

Terlalu tenang.

Sorot matanya lurus ke arah mereka dengan ketajaman yang tak pernah benar-benar bisa diabaikan.

Ayah.

Gwen langsung menegang.

Pandji otomatis minggir sedikit, memberi jalan tanpa diminta. Sementara di samping Gwen, Aga tidak bergerak. Namun Gwen bisa merasakan jelas perubahan di udara—cara sikap santainya menghilang dalam sekejap.

Cipto melangkah maju sekali. Tapi entah kenapa, halaman kecil di belakang rumah makan itu langsung terasa sempit.

Gwen cuma bisa berdiri kaku. Dengan kaos kebesaran, celana pendek santai, dan sandal jepit pinjaman Pandji, ia jelas tidak siap untuk situasi ini. Jantungnya berdetak cepat, berisik sendiri. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Gwen bingung harus mulai ngomong dari mana.

1
mitha
Si aga sial banget 🤣
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ke apartemen kan
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hubungan pernikahan iparan yang akur
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
🤣seperti anak kecil yang merajuk pada mamanya karena AC rusak...duh Aga ada-ada aja deh tingkahnya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ada-ada aja idenya Ga
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kalau belum sah, masih kalah starvsama ayahnya Gwen Agaaaa
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
wihhhh dah dapat yang diinginkannya si Aga, jadi so sweet
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
waduhhhh Aga
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
benar-benar si Aga, cari mati kayaknya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
duhhh dunia pergosipan di kantor, kejam bener
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
nahhh iyaaa betul pakk
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
agak canggung tepatnya jadinya mendengar kalimat itu kan
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Aga tipenya kamu Gwen, tinggi dan agak kalem mungkin
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
antara terharu dikasih cheese cake ataukah terharus dengan suasana romantis antara mereka
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
OMG adek jangan kasih tahu dulu dek sama nadhine, sakit nanti dia dengernya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
OMG adek jangan kasih tahu dulu dek sama nadhine,csakit nanti dia dengernya
Patrish
kompak nih sama calon mertua...mantab Gwen
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
menjadi dewasa tidak seindah yg dibayangkan oleh masa kanak-kanak
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
perasaan sayang itu terlihat nyata dari psical touch lelaki itu bukan
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
tiba-tiba jadi pengen nyanyi pas baca paragraf ini.
kau yang merajai hatiku, jiwa ragaku hanya untukmu..🎼🎼❤️‍🩹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!