Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendiri bukan berarti salah
Rinjani semakin menundukkan kepalanya, hal yang susah paya ia hindari akhirnya tiba. Duduk berdua dengan sang ayah di dalam kamar.
Remasannya pada ponsel kian menjadi, apalagi benda pipih itu terus berdering di saat ayahnya berbicara serius.
"Ayah." Ponsel di tangannya di rebut secara tiba-tiba membuatnya mendongak di sertai bola matanya yang bulat
"Ayah tahu kepribadianmu bagaimana, apalagi jika apa yang kamu inginkan nggak sesuai harapan, tapi ... berhenti bersikap seenaknya. Kamu sudah menikah meski itu dadakan."
"Ayah nggak akan menghakimi karena ayah percaya padamu." Ucapan terjeda dan membuat Rinjani semakin penasaran, terlebih sebelum bicara kepadanya, sang ayah lebih dulu duduk berdua dengan Ikhram. Tidak ada yang tahu apa yang Ikhram bicarakan pada ayahnya.
"Tapi nggak ada yang bisa membuktikan apa yang terjadi di dalam kamar baik Ikhram sekalipun. Ini bukan kesalahan satu orang, tapi dua orang dengan kesadaran penuh."
"Kamu bukan satu-satunya korban di sini. Ikhram juga korban dan kamu nggak berhak memperlakukannya seolah dia yang paling bersalah."
"Ayah." Rinjani kembali berucap lirih karena ayahnya meletakkan kertas secara kasar.
Ia melirik kertas itu dan terkejut membaca deretan kata Dibebas tugaskan di sertai nama Ikhram di bawahnya.
"Mungkin bagimu yang besar di kota karir seperti ini nggak berarti. Tapi bagi Ikhram dan orang tuanya gelar PNS sangatlah membanggakan. Hari ini dibebas tugaskan, besok dan lusa mungkin akan dipecat sebab menyalahi aturan."
"Lalu kenapa ayah membicarakan ini pada Jani?"
"Karena ayah nggak suka sikapmu pada Ikhram yang kurang ajar tadi. Apa katamu tadi? Enyah? Benci? Bercerai?"
"Maaf." Rinjani tidak punya kuasa untuk membantah.
Benar, tadi setelah Ikhram berhasil membawanya ke hadapan keluarga. Dia bersikap begitu kurang ajar, tapi Ikhram sama sekali tidak marah dan hanya tersenyum.
"Ikhram kehilangan lebih banyak tapi nggak berisik sepertimu Nak."
"Kamu sudah menepati janji, gedung yang kamu minta sekarang menjadi milikmu."
Dari banyak ucapan ayahnya, terlinga Rinjani paling sigap menerima kalimat terakhir.
"Ayah serius? Sekarang Jani nggak perlu sewa kantor lagi buat usaha?"
"Kamu sudah menepati janji menikah sebelum usiamu 28 tahun, bukankah ayah seharusnya menepati janji pula?" Raut wajah yang semula galak kini kembali hangat.
Pria paruh baya itu berdiri dan memeluk putri satu-satunya erat. Mendaratkan bibirnya pada pucuk kepala Rinjani berulang kali.
"Meski dadakan cobalah menerima, Ikhram pria yang baik, itu kata nenek. Tau kan nenek nggak pernah salah menilai orang?"
"Tapi Jani nggak cinta."
"Cinta datang karena terbiasa. Sekarang temui Ikhram dan minta maaf."
"Ayah kapan ke kota? Besok aja soalnya pasti ayah sibuk banget."
"Iya besok."
"Akhirnya." Rinjani berseru dalam hati, setelah ini tidak akan ada yang mengaturnya lagi.
"Tapi ibu tetap tinggal sampai kamu benar-benar menjadi istri yang baik."
Senyuman di wajah Rinjani pun memudar, ternyata ayahnya akan meninggalkan mata-mata yang hebat.
"Memangnya ayah sanggup jauhan dari ibu? Ntar kalau malam kesepian lagi."
***
"Mau jalan-jalan?"
Rinjani menoleh ke sumber suara dengan alis terangkat. Ikhram baru tiba di kamar dan langsung menawarkan ajakan.
"Dari mana?"
"Bantu ibu jaga toko."
"Ouh, saya tadi nyariin mau minta maaf." Membuang muka ke jendela, apalagi Ikhram semakin mendekatinya.
"Saya maafiin."
"Memangnya tau saya minta maaf karena apa? Eh ya ampun." Refleks Rinjani memundurkan kursinya menyadari Ikhram sudah berdiri tepat di sampingnya.
Ikhram mengeleng. "Saya nggak tahu, soalnya saya merasa kamu nggak pernah berbuat salah kepada saya."
"Pendendam ya?"
Ikhram menatap Rinjani atas tuduhan tidak mendasar.
"Bi-biasanya orang pemaaf itu pendedam. Mainnya belakangan." Entah kenapa ia menjadi gugup ditatap oleh Ikhram. Ada rasa tidak asing retina itu menatapnya.
"Sakit Ikhram!" Memegang keningnya yang baru saja disentil oleh Ikhram, sebenarnya bukan karena sakit tapi malu.
"Kebanyakan nonton drama." Ikhram berdiri dan menarik napas panjang, aksinya tadi membuat jantungnya menggila. "Mau jalan nggak? Ada pasar malam di kampung sebelah."
"Memangnya kamu nggak malu sama warga? Udah diamuk, foto udah kesebar pas di hotel bareng perempuan. Apa kata mereka lihat kita keliatan bahagia."
Ikhram tertawa kecil, bersandar pada meja di mana laptop Rinjani berada. Bersedekap dada dan menatap pintu kamar.
"Memangnya kenapa kalau kita terlihat bahagia? Kita nggak bersalah, kita nggak melakukan apapun yang melanggar norma agama atau pun hukum. Kita menikah bukan karena tuduhan mereka benar, tapi demi menjaga nama baik orang tua."
"Malas, saya hilang respek sama warga. Mau cepat-cepat pulang." Memilih berbaring di ranjang dengan ponselnya. Tidak lagi mengidahkan keberadaan Ikhram di dalam kamar.
Toh dia tidak punya kuasa mengusir pria itu, atau dia sendiri akan terusir sebab orang tuanya ada di bawah.
"Jani."
"Hm."
"Kamu benar nggak ingat apapun tentang kampung ini 20 tahun yang lalu?"
"Nggak, dan nggak mau ingat."
.
.
.
Jani tuh orangnya temperamental tapi apa ya🤔
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,