NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kejutan di Balik Apron

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela dapur, menerangi butiran debu yang menari di udara. Arumi terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Kesuksesan pidato Adrian di acara ulang tahun perusahaan kemarin masih menyisakan debar bangga di dadanya. Adrian tidak hanya membacakan kata-katanya dengan penuh penjiwaan, tapi ia juga secara terang-terangan memperkenalkan Arumi sebagai sosok di balik narasi indah tersebut.

"Ini istri saya, Arumi. Dialah hati dari pesan yang saya sampaikan malam ini," ujar Adrian di depan ratusan pasang mata.

Kalimat itu masih terngiang-ngiang, membuat Arumi tersenyum sendiri sambil menuangkan sereal ke dalam mangkuk. Namun, suasana dapur pagi ini terasa aneh. Biasanya, Adrian sudah rapi dengan kemeja slim-fit dan aroma kopi hitam yang tajam. Tapi pagi ini, kursi di meja makan itu kosong.

"Mas Adrian?" panggil Arumi pelan.

Tidak ada jawaban. Arumi berjalan menuju ruang kerja, namun ruangan itu kosong. Ia kemudian melangkah menuju taman belakang, dan di sanalah ia menemukan pemandangan yang hampir membuatnya menjatuhkan mangkuk serealnya.

Adrian Pramoedya, CEO yang disegani di dunia bisnis properti, sedang berdiri di depan kompor gas portabel yang biasanya mereka gunakan untuk barbeque kecil-kecilan. Pria itu mengenakan kaus oblong putih dan... apron berwarna merah muda motif bunga milik Arumi yang tampak sangat kekecilan di tubuh tegapnya.

Di tangannya ada sebuah spatula, dan di depannya, sebuah teflon berisi sesuatu yang tampak seperti gumpalan hitam yang berasap.

"Mas... apa yang Mas lakukan?" Arumi bertanya, menahan tawa yang sudah di ujung tenggorokan.

Adrian menoleh dengan wajah yang sedikit coreng-moreng oleh tepung atau mungkin abu.

Ekspresinya tampak sangat serius, seolah-olah ia sedang memecahkan krisis keuangan global.

"Aku sedang mencoba membuat pancake," jawab Adrian datar, meski ada nada frustrasi di suaranya. "Aku membaca di internet bahwa ini adalah menu sarapan paling sederhana. Tapi sepertinya internet berbohong."

Arumi mendekat, melihat "korban" kegagalan Adrian di atas piring. Ada tiga tumpuk benda bulat hitam yang lebih mirip arang daripada makanan.

"Mas, apinya terlalu besar," ujar Arumi lembut, mengambil spatula dari tangan Adrian. "Dan sepertinya Mas lupa mengoleskan mentega di teflonnya."

Adrian menghela napas panjang, melepas apron merah muda itu dengan sedikit kasar. "Ternyata mengelola ribuan karyawan jauh lebih mudah daripada membalikkan adonan tepung ini."

Arumi tertawa renyah, suara tawanya memenuhi taman belakang yang asri. "Mas tidak perlu melakukan ini. Aku suka memasak untuk Mas."

"Aku hanya ingin memberimu kejutan," gumam Adrian, tatapannya melembut. "Sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantuku dengan pidato itu. Kamu membuatku terlihat seperti pria yang punya perasaan di depan kolega-kolegaku."

"Mas memang punya perasaan," balas Arumi, menatap mata Adrian dalam-dalam. "Hanya saja Mas sering menyembunyikannya di balik jas mahal itu."

Setelah Arumi berhasil "menyelamatkan" sarapan mereka dengan membuat pancake yang layak makan, mereka duduk bersama di teras. Suasana sangat damai, sampai sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Arumi secara bertubi-tubi.

Itu adalah kiriman tangkapan layar dari akun gosip media sosial yang dikirim oleh temannya.

Di sana, terpampang foto Arumi dan Adrian saat acara perusahaan kemarin, disandingkan dengan foto lama Siska.

Komentar-komentarnya beragam. Ada yang memuji kecantikan Arumi yang "adem", namun tak sedikit yang mencibir.

“Lho, bukannya tunangannya yang model itu ya? Kok ganti?”

“Ini adiknya, kan? Wah, pelakor dalam keluarga nih?”

“Kasihan Siska, posisinya direbut adik sendiri.”

Wajah Arumi memucat. Ia meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar. Adrian menyadari perubahan raut wajah istrinya. Tanpa bertanya, ia meraih ponsel Arumi dan membaca apa yang ada di sana.

Rahang Adrian mengeras. "Jangan baca ini, Arumi. Mereka tidak tahu apa-apa."

"Tapi Mas, mereka menyebutku perebut posisi kakak sendiri. Bagaimana kalau Ibu dan Ayah melihat ini? Mereka pasti sedih," bisik Arumi.

Sebelum Adrian sempat menjawab, ponselnya sendiri berbunyi. Itu dari asisten pribadinya.

"Ya, tutup semua akses komentar di akun resmi perusahaan. Kirim surat teguran pada akun gosip tersebut. Jika mereka tidak menghapus unggahannya dalam satu jam, siapkan tim hukum," perintah Adrian dengan suara dingin yang biasa ia gunakan di ruang rapat.

Ia menutup telepon dan kembali menatap Arumi.

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu dengan kata-kata murah seperti itu. Kamu bukan pengganti yang mencuri, Arumi. Kamu adalah penyelamat yang datang saat Siska membuang segalanya."

"Tapi Siska..." Arumi ragu.

"Siska sedang menuai apa yang ia tanam. Jangan biarkan rasa bersalahmu menghancurkan kebahagiaan yang baru saja kita mulai bangun," ujar Adrian tegas namun penuh kasih.

Sore harinya, saat Arumi sedang mencoba fokus pada Bab 15 novelnya, bel rumah berbunyi. Arumi mengira itu adalah kiriman paket, namun saat ia membuka pintu, sosok Siska berdiri di sana.

Kali ini Siska tidak tampak berantakan seperti minggu lalu. Ia mengenakan gaun cantik, meski wajahnya dipulas riasan tebal untuk menutupi mata yang sembap.

"Boleh aku masuk?" tanya Siska tanpa basa-basi.

Arumi ragu, namun ia mempersilakan kakaknya masuk ke ruang tamu.

"Aku melihat berita itu, Rum," ujar Siska sambil duduk dan menyilangkan kakinya. "Hebat ya kamu. Dalam waktu singkat sudah bisa mengambil hati Adrian. Sampai-sampai dia memujimu di depan umum. Padahal dulu, saat bersamaku, dia jarang sekali bicara soal perasaan."

"Kak, ini bukan soal mengambil hati—"

"Tentu saja ini soal itu!" potong Siska sinis.

"Kamu pasti senang, kan? Akhirnya bisa keluar dari kamarmu yang membosankan itu dan jadi nyonya besar di rumah mewah ini. Memakai gaun mahal, dipuji banyak orang. Kamu selalu iri padaku, kan, Rum?"

Arumi menatap kakaknya dengan tatapan sedih. Ia menyadari bahwa Siska tidak berubah.

Kakaknya masih melihat dunia sebagai kompetisi di mana ia harus selalu menjadi pemenangnya.

"Aku tidak pernah iri pada Kakak," ujar Arumi tenang. "Aku hanya ingin Kakak bahagia. Tapi Kakak membuang kebahagiaan itu sendiri. Aku di sini karena aku diminta untuk membereskan kekacauan yang Kakak buat."

"Dan sekarang aku mau kekacauan itu selesai!" Siska berdiri, suaranya meninggi. "Laki-laki yang membawaku kabur itu ternyata hanya menginginkan uangku. Sekarang aku sadar, Adrian adalah pilihan terbaik. Aku ingin kembali, Rum. Tolong bicara pada Adrian. Bilang kalau ini semua hanya salah paham. Kita bisa bilang pada publik kalau kemarin itu hanya... pemeran pengganti sementara."

Arumi tertegun mendengar logika kakaknya yang tidak masuk akal. "Kak, ini pernikahan nyata. Ada dokumen hukum, ada janji di depan Tuhan. Kakak pikir ini syuting sinetron?"

"Apapun itu, aku mau hakku kembali!"

"Hak apa, Siska?"

Suara berat Adrian terdengar dari arah tangga. Pria itu berdiri di sana dengan tangan bersedekap, menatap Siska dengan tatapan yang sangat tajam—jauh lebih tajam dari saat ia menatap Pandu kemarin.

Siska seketika berubah. Wajah sinisnya hilang, digantikan oleh raut wajah memelas yang dibuat-buat. "Adrian... sayang... aku tahu aku salah. Aku khilaf. Tolong beri aku kesempatan kedua. Aku jauh lebih mengenalmu daripada Arumi."

Adrian berjalan mendekat, namun ia tidak berhenti di depan Siska. Ia berjalan melewati Siska dan berdiri di samping Arumi, merangkul pundak istrinya dengan erat.

"Kamu benar, kamu mengenalku," ujar Adrian dingin. "Tapi kamu tidak pernah mencintaiku.

Kamu hanya mencintai apa yang bisa kuberikan padamu. Sedangkan Arumi... dia mencintaiku bahkan saat aku bersikap paling dingin padanya."

Arumi mendongak, terkejut mendengar kata-kata Adrian. Dia tahu aku mencintainya?

"Pergi dari sini, Siska," lanjut Adrian. "Jika kamu datang lagi untuk mengganggu istriku, aku tidak akan segan-segan menggunakan pengaruhku untuk memastikan kamu tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di lingkaran sosial mana pun di kota ini. Ini peringatan terakhir."

Siska ternganga. Ia melihat kemantapan di mata Adrian yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dengan geram, ia menyambar tasnya dan keluar dari rumah dengan langkah menghentak.

Keheningan kembali menyelimuti rumah. Arumi merasa kakinya lemas. Ia duduk kembali di sofa, air mata mulai menetes.

"Maafkan aku, Mas. Karena aku, Kak Siska jadi begini," isak Arumi.

Adrian duduk di sampingnya, menarik Arumi ke dalam pelukannya. "Jangan minta maaf untuk kesalahan orang lain, Arumi. Siska adalah orang dewasa yang harus menanggung akibat perbuatannya."

Adrian mengusap air mata di pipi Arumi. "Dan soal apa yang kukatakan tadi... tentang kamu mencintaiku..."

Arumi menahan napas, wajahnya merona merah.

"Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak," ujar Adrian lirih, menatap mata Arumi dengan kejujuran yang murni. "Tapi aku tahu... aku mulai merasakannya untukmu. Dan itu menakutkan, sekaligus melegakan."

Malam itu, di tengah konflik ringan yang melibatkan kecemburuan publik dan drama keluarga, sebuah pengakuan besar telah terucap. Arumi menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar istri pengganti. Ia adalah wanita yang berhasil mencairkan gunung es terbesar di Jakarta.

Ia kembali ke laptopnya, membuka draf novelnya. Ia menghapus kata "Mungkin" di judul bab terbarunya dan menggantinya dengan "Pasti". Karena di antara kekacauan dan rencana manusia yang gagal, takdir punya caranya sendiri untuk menuliskan akhir cerita yang bahagia.

"Mas," panggil Arumi saat Adrian hendak kembali ke ruang kerjanya.

"Ya?"

"Terima kasih untuk sarapan gosongnya tadi pagi. Itu adalah makanan termanis yang pernah kumakan."

Adrian tersenyum—senyum tulus yang mencapai matanya. "Besok aku akan mencoba membuat omelet. Siapkan pemadam api kalau-kalau aku gagal lagi."

Arumi tertawa, dan malam itu, sangkar emas mereka terasa seperti surga paling nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!